Cerpen #117: “Fenomena Krisis Iklim”

“mak, kenapa bangunan depan rumah kita terendam air ya?” Gilang bertanya  pada ibunya

Gilang adalah seroang anak lelaki yatim. Dia hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya meninggal ketika  Gilang masih dalam kandungan karena kecelakaan di laut sewaktu mencari ikan. Mereka tinggal di rumah dekat dengan pantai.

Sewaktu Gilang belum lahir rumah di depan Gilang masih ditinggali penghuninya terdapat juga sebuah surau yang biasanya tempat beribadah. Akan tetapi saat ini bangunan-bangunan itu telah terendam air setinggi lutut orang dewasa bahkan ketika laut sedang pasang bisa lebih tinggi.

Sore menjelang bola matahari meluncur lebih rendah suasana hangat yang menyelimuti Gilang bersama ibunya yang sedang duduk di depan rumah sambil memandang air laut yang menggenangi bangunan-bangunan di depan rumah mereka.

“iya, dulu bangunan itu ramai oleh anak-anak seusiamu berlarian untuk berangkat mengaji di surau itu” ibu Gilang menjawab

Gilang menoleh “iya mak, kenapa bisa seperti itu?”

“mungkin karena penghuni laut ingin mengambil sebagian tanah dari kampung kita”

“ooh jadi gitu ya mak”

Gilang hanya mengangguk sambil masih memandangi pemandangan bangunan yang terendam di depan rumahnya. Anak lelaki yang masih berumur 10 tahun itu masih belum percaya dengan jawaban ibunya. Dia berkeinginan suatu saat dia mengetahui kenapa bisa air laut bisa menggenangi bangunan-bangunan di depan rumah mereka.

Delapan tahun kemudian Gilang selepas lulus dari sekolah menengah dia mendapatkan beasiswa untuk bisa mengambil kuliah sesuai jurusan yang dia inginkan. Dia mengambil jurusan tentang alam dia masih penasaran dengan fenomena yang ada di depan rumahnya. Bangunan bisa tenggelam. Benarkah apa yang diakatakan ibunya bahwa penghuni laut ingin mengambil tanah mereka.

Pemikiran Gilang mulai penasaran. Seperti tidak mungkin jika penghuni laut ingin mengambil tanah mereka. Dia merasa ada fenomena lain yang membuat bangunan di depan rumahnya tergenang air laut. Pemikirannya akankah bisa bertambah ketinggian air itu. Kalau memang bisa berarti rumahnya kelak juga bisa tenggelam.

Pada kegiatan kuliah sudah dimulai dia bertanya pribadi kepada dosennya. Ketika kegiatan kuliah selesai dia menemui dosennya

“pak, permisi bolehkah saya bertanya?” Gilang meyapa dosennya dengan menunduk

Prof Han menghentikan langkah lalu menoleh “iya Gilang ada apa?”

“saya mau bertanya pak, jadi selama beberapa tahun saya penasaran kenapa beberapa bangunan di depan rumah saya bisa terendam air, kalau kata ibu saya katanya penghuni laut ingin mengambil tanah kami”

Prof Han tersenyum, dia menepuk pundak Gilang “saya suka sama mahasiswa yang kritis seperti kamu, tapi maaf untuk sekarang saya sedang ada kelas, kita akan berdiskusi lain waktu ya”

“baik pak” Gilang mengangguk, dia melihat Prof Han yang berlalu meninggalkannya di lorong kampus.

Dia berjalan menyusuri lorong, melihat mahasiswa yang berlalu lalang untuk berkuliah atau sedang menunggu waktu kelas di mulai ada yang sedang bersenda gurau bersama temannya. Tiba-tiba ada seorang dari kejauhan memanggil Gilang di tengah kerumunan.

“Gilaanngg”

Gilang menoleh, dia melihat Alan memanggilnya

“kamu tadi kemana aja sih setelah kelasnya Prof Han aku nyariin kamu” Alan tersengal-sengal mengejar Gilang

“tadi aku ngejar Prof Han soalnya mau ada yang aku tanyakan” Gilang melangkah kembali bersama Alan

“nanya apaan sih serius amat” Alan terkekeh

Gilang tidak menjawab dia hanya terus berjalan keluar dari gedung kampus. Di depan gedung ternyata hujan sedang mengguyur. Di musim kemarau ini hujan masih saja turun.

“loh hujan” Gilang terheran dengan memandang langit

“iya krisis iklim yang makin parah nih jadi musim kemarau masih hujan aja” Alan menjawab

Gilang terdiam. Dia menjadi teringat bangunan rumah depan rumahnya. Apakah ini berhubungan dengan krisis iklim. Sejenak dia berfikir Alan memotong lamunan Gilang

“hey, hujan malah ngelamun” Alan menyenggol lengan Gilang

Gilang terkejut dia kemudian mengajak Alan untuk lari menuju ke kantin untuk beristirahat. Gilang memesan mi instan sedangkan Alan memesan bakso.  Gilang masih terlihat termenung sambil melihat gemercik air hujan di luar kantin. Memang seharusnya sudah memasuki musim kemarau tapi masih juga turun hujan.

“eh lang. Kamu kenapa sih dari tadi diem saja seperti kesambet saja” Alan bertanya

“tidak apa-apa sih cuma aku bingung saja masih hujan aja di musim kemarau ” Gilang terheran

“halah gitu saja kamu fikirkan. Ini sudah biasa kan kita udah memasuki krisis  iklim jadi ini sudah biasa terjadi ” Alan menjelaskan

Ditengah obrolan mereka dengan melihat hujan tidak lama ada seorang yang berlari ke arah mereka dengan melawan hujan. Dia Linggo asisten dosen dari Prof Han.

“kamu Gilang kan.  Kamu diminta ke ruang Prof Han sekarang ” nafas yang tersengal-sengal

Gilangpun meninggal kan mangkok mi instan nya diikuti oleh Alan yang ikut bersama nya.  Setelah membayar pesanan mereka, dengan segera mereka menuju ke ruang Prof Han. Didepan ruang Prof Han mereka merapikan baju yang basah terkena air hujan. Setelah itu Gilang mengetuk pintu.

“tok tok tok”

Prof Han menoleh. “oh ya silakan masuk” Prof Han mempersilakan Gilang dan Alan untuk masuk. “silakan duduk”

Gilang dan Alan duduk di kursi tamu diruang Prof Han kursi sofa berisi 3 orang. Mereka duduk dan Alan bingung kenapa Gilang di panggil keruang dosen yang cukup sibuk dan terkenal tidak memiliki waktu banyak untuk ngobrol. U ntuk konsultasi tugas akhir pun itu cukup susah

“yah. Jadi bagaimana Gilang pertanyaan kamu tadi? ” Prof Han memulai berdiskusi

“iya pak saya penasaran kenapa bangunan – bangunan di depan rumah saya terendam air laut. Padahal kata ibu saya dulu bangunan itu terdapat penghuni juga diantara bangunan itu ada surau yang dulunya digunakan tempat beribadah” Gilang bercerita

Alan menoleh. Dia heran dengan teman nya itu.

Prof Han tersenyum “iya kamu tau tentang krisis iklim?”

“saya tadi dengar dari teman saya ini” Gilang menujuk Alan

“iya jadi salah satu penyebab dari depan bangunan rumah kamu yang terendam air laut itu salah satu akibat krisis iklim, jadi para ilmuwan mencatat pencarian es di kutub terjadi lebih cepat dikarenakan pemanasan global. Sehingga air laut naik” jelas Prof Han

Gilang mengangguk “apa berarti rumah saya juga akan bisa ikut terendam air pak? ”

“ya bisa” ptof han mengangguk “jika suhu bumi makin naik bahkan tidak mungkin es di kutub juga akan mencair bukan?  Kalau tidak ke laut maka airnya kemana lagi”

Gilang termenung sejenak dia membayangkan bahwa rumah peninggalan ayahnya akan terendam air laut beberapa tahun kemudian

“pak apakah musim hujan kemarau yang seharusnya sekarang ini tetapi masih hujan apakah juga pengaruh krisi iklim?” Gilang bertanya

“iya. Memang fenomena yang seperti ini sangat bisa terjadi”

“kalau ini terjadi maka langkah apa yang biaa  kita lakukan untuk memerangi krisis iklim yang terus terjadi pak?” Alan bertanya

“secara bertahap kita tidak menggunakan bahan bakar fosil karena bahan bakar fosil akan mengahasilkan limbah gas CO2 yang menyebabkan radiasi infra merah dari bumi kembali ke permukaan bumi yang pasti akan terjadi pemanasan global yang tidak terkendali. Selain itu untuk menambah kesadaran pada siswa dan mahasiswa diperlukan  materi tentang perubahan iklim agar Kedepannya generasi kita bisa menerapkan ilmu yang lebih baik dari sekarang. Tidak kecil kemungkinan bahwa teknologi masa depan akan bisa menjadi ramah lingkungan karena para generasi saat ini sadar tentang lingkungan yang baik. Bisa diterapkan nya bahan bakar yang berasal dari biogas yang ramah lingkungan serta diterapkan nya untuk skala dunia tidak untuk skala kecil saja. ” Prof Han menerangkan

Gilang dan Alan yang dari tadi mendengarkan penjelasan Prof Han menjadi mengerti tentang fenomena-fenomena yang terjadi.

Mereka berterimakasih kepada Prof Han karena sudah meluangkan waktu emasnya untuk berdiskusi tentang hal-hal yang cukup krusial saat ini. Gilang berpamitan kepada Prof Han dan meninggalkan ruang nya. Gilang akhirnya mengerti mengapa bangunan di depan rumah nya terendam air dan bahkan biaa saja rumahnya akan terendam juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *