Cerpen #116: “Semua Yang Ada di Negeriku adalah Rakyatku”

Sembari membawa cangkir di tangannya ibu melangkahkan kaki menaiki tangga bersama dengan kaki kecil anaknya. Mereka menuju kamar karena saat ini sudah malam waktunya anak laki-laki itu mendengar kisah sebelum ia ada didalam dunia tidurnya.

Lihatlah anak laki-laki itu begitu semangat merebahkan tubuh diatas kasur sambil menarik selimut biru tuanya yang bertemakan luar angkasa, tema yang begitu banyak disukai banyak anak pada umum nya.

“Ibu akankah kau mulai bercerita, mengapa engkau lambat sekali lihat aku sudah siap di posisiku sekarang” ucap anak laki-laki itu.

“Kau ini sungguh anak ibu yang luar biasa, bahkan untuk cerita pengantar tidurpun kau begitu antusiasnya” ibu.

“Ayolah ibu aku sudah tidak sabar” anak laki-laki.

Ibu pun duduk dengan manis di kursi khusus tempat ia bercerita sepanjang malam disetiap harinya, setelah meletakkan cangkir itu di meja kecil dekat lampu tidur ibu mulai bercerita.

“Baiklah kita mulai, pada masa itu dunia tak lagi sama setiap yang ada rasanya bertahan untuk tidak hancur, bumi sudah tidak lagi muda ia seperti pesakitan, padahal bumi tidak melakukan hal yang membuatnya sakit”ibu.

“Ibuuu ayolahh, jangan seperti itu aku ini anak-anak kata-katamu terlalu aneh ibu”.

“Hahahha kau ini, baiklah” ibu.

Ya kala itu pelangi bersama keluarganya sedang berada didalam mobil, mobil itu melaju dengan kencang membelah kota dan udara yang begitu buruknya. Sang ayah begitu sibuk berbicara ditelpon wajahnya merah, cemas, dan penuh keragu-raguan. Disebelahnya ada seorang supir dengan wajah harapnya terus berusaha melajukan mobil dengan cepat di situasi kota yang riuh bukan lagi karena udaranya tapi juga karena masyarakatnya, lalu ibu ia termenung matanya seperti ingin menangis, ntah hal apa yang membuatnya seperti itu. Lantas apa yang dilakukan pelangi ia hanya bermain bersama kucingnya yang bernama moza ya kucing itu memanglah bukan kucing persia ataupun kucing anggora, ia hanya kucing jalanan yang bahkan warna bulunya adalah orange. Kucing itu ditemukan pelangi dipinggir jalan rasa-rasanya moza lebih cocok menjadi kucing garong dibandingkan menjadi kucing peliharaan namun anehnya ia sangat penurut kepada pelangii, ya karena mungkin ia tau bahwa pelangi adalah anak gadis yang baik.

“Ibuu mengapa banyak sekali orang berkerumun di sana, bukankah ibu bilang udara saat ini tidak baik mengapa mereka ada di luar?” tanya pelangi kepada ibunya.

 

“Pelangi mereka, mereka hanya sedang berusaha agar bisa pergi dari kota ini” mona nama untuk ibu pelangi.

“Lalu kenapa mereka tidak mulai naik mobil saja ibu atau naik kendaraan lain, atau mungkin kita bisa mengajak mereka ibu, lihat truk barang-barang dibelakang kita masih kosong itu bisa membawa mereka ibu” tanya pelangi.

“Tidak pelangi, itu tidak bisa dilakukan”mona.

“Tapi kenapa ibu, kita hanya tinggal mengajak mereka saja, mereka pasti mau”pelangi.

“Sudah, apa yang kau lakukan mona berusaha menjelaskan pada anak kecil, mereka takan paham sebaiknya kau diam, dan kau pelangi tak usah banyak tanya, sampai kita menaiki kapal di dermaga kau jangan banyak bicara, mengerti?” suara ayah pelangi yang bernama dandi.

Pelangi hanya bisa berwajah musam ia tak bisa apa-apa bahkan ia tak mengerti apapun, yang ia lihat hanyalah asap yang begitu pekat di luar kaca mobilnya para masyarakat berada di pinggir jalan sambil berteriak keadilan, pelangi membaca terdapat tulisan “selamatkan nyawa kami” ia tak mengerti bahkan untuk apa para masyarakat turun kejalan. Padahal pengumuman satu bulan yang lalu memerintahkan agar masyarakat tetap dirumah karena kabut asap yang sudah lama tak kunjung reda membuat banyak penyakit datang tak bisa dihindarkan, harusnya mereka tetap dirumah lihat bahkan ada yang hanya memakai sehelai masker, pelangi tak bisa membayangkan seberapa pengapnya berada diluar sana, karena selama ini ia ada di dalam rumah yang aman dan jauh dari kabut asap, bahkan kabut tidak akan pernah berhasil masuk kedalam rumahnya karena teknologi canggih yang telah ayahnya hadirkan dirumahnya. Kondisi kota saat itu sangat kacau bahkan pelangi melihat ada banyak yang membawa tas ransel dan anak dalam gendongan, serta kakek nenek yang berusaha berjalan meninggalkan tempatnya, sebenarnya ada apa ini mengapa semuanya seperti ini, bisik pelangi didalam hatinya.

Lantas bukannya ia mendapatkan ketenangan saat sampai di dermaga ia malah dihantui oleh banyak orang yang berusaha menghentikan mobilnya, mengetuk-ngetuk jendela kaca mobil sambil berkata.”Bawa kami, bawa kami, kami pun ingin pergi tolong”bahkan agar suaranya terdengar jelas mereka rela melepaskan masker pelindung mereka, ya walau bisa dilihat udara di pesisir pantai tidak seburuk udara di tengah-tengah kota tapi itu tak membuat mereka bisa selamat dari buruknya udara yang ada.

Lantas petugas di depan dengan lantangnya berbicara “kalian harap minggir penumpang kami akan segera lewat, atau tidak kepada pak supir tancap saja gasnya biarkan orang-orang itu terlindas jika mereka memaksa tetap menghalangi jalannya”petugas.

Pak supir pun menurut ia menggerungkan mobilnya seperti singa yang takut akan ular, warga pun secara terpaksa menyingkir dengan perlahan mobil pun melaju melintasi warga yang termenung bahkan menangis, karena tidak bisa meninggalkan kota ini.

Lalu pak supir membuka sedikit jendelanya, petugas berkata “apakah kau akan membawa serta mobilmu pak?” ya petugas itu bertanya pada ayah pelangi bukan pada pak supir.

“Haruskah kau bertanya lagi, bahkan aku akan membawa truk itu sekalian tanpa memindahkan barang-barangku” ayah pelangi berkata dengan sinisnya.

“Baiklah pak, apa kau akan membawa supir ini juga bersamamu atau kau akan membiarkanku menyetir mobilmu dan membawakannya ke kapal?” tanya petugas sambil menyeringai.

“Hei apa yang kau katakan, aku tentu saja ikut. Aku dibutuhkan oleh keluarga ini” saut pak supir.

“Sungguh? Kurasa mereka tak membutuhkan orang seperti mu disini ahhaha” petugas.

“Kurasa apa yang dikatakan petugas itu ada benarnya kau tak lagi dibutuhkan disini” ayah pelangi.

“Apa yang tuan katakan, aku..aku akan sangat berguna tuan aku akan menjadi penjaga nona pelangi tuan?” suara pak supir sedikit bergetar.

“Apa kau bodoh untuk apa ibunya jika kau menjaga pelangi” ayah.

“Kalau begitu biarkan saya menjadi pelayan tuan dikapal tuan, bahkan jika nanti sampai ditujuan, tuan akan membutuhkan saya untuk mengangkut barang-barang itu tuan”pak supir hampir menangis mengatakan hal itu.

“Baiklah kau memang benar, kau berguna juga bahkan untuk nanti menurunkan barang-barang, lagian tak ada orang sepertimu dikapal ini yang nanti ku bisa suruh-suruh selain petugas-petugas ini” ayah berkata begitu tanpa sedikitpun melihat ke arah mereka.

“Yaa sudahlah kau bisa saja supir bodoh, bawa masuk mobilnya ke dalam kapal segera” petugas.

Mobil Pun melaju kearah bagasi kapal, sejauh mata memandang yang ada hanyalah mobil-mobil mewah yang bahkan harganyaa… sudah tidak usah memikirkan harganya hanya saja bagasi ini begitu luas, ada puluhan mobil disini yang bahkan mobil ini bisa ditinggalkan dan bagasi diisi oleh orang-orang yang tadi berusaha untuk masuk. Pelangi masih meringkuk di pelukan ibunya ia masih teringat kejadian yang membuatnya seperti itu. Seorang ibu, seorang ayah, seorang kakek, dan nenek,  rela berhimpitan dan merengek meminta agar mereka diikutsertakan sebenarnya apa yang terjadi, lagi-lagi pelangi tidak mengerti.

“Nak kau baik-baik saja, kita sudah sampai kita turun yaa” mona ibu pelangi.

“Baik ibuu” pelangi.

Perlahan ia membuka pintu mobil melangkahkan satu kakinya sambil menengok kanan kirinya ia tak melihat lagi kerumunan orang, yang ia lihat sekarang hanyalah puluhan mobil yang berderet rapi tak lupa dengan setianya moza ada didekapannya seolah-olah pelangi ini adalah malaikat pelindung moza yang siap mendekapnya dalam keadaan apapun.

“Ibuu kitaa akan pergi kemana sekarang?” tanya pelangi.

“Sayang kita akan pergi ke kabin kapal, kita akan menuju kamar kita setelah itu kau istirahat disana yaa, pelangi sepertinya kau melupakan ranselmu” ibu.

“Kau benar ibu, aku akan mengambilnya” pelangi.

Saat sudah sampai tangga menuju kabin, pelangi lupa tas ranselnya ia pun kembali menuju mobil, saat ia mencari pak supir untuk membuka pintu mobil dan mengambilkan ransel yang ada di kursi belakang, tapi yang pelangi lihat pak sopir sedang membuka bagasi belakang dan ia melihat seorang wanita dan anak yang sepertinya dia hampir dewasa, pelangi seolah tau dan ikut bahagia ia hanya tersenyum dan mendatangi mereka lantas menyalami wanita itu serta orang yang terlihat seperti kakak baginya, dan berkata

“Aku senang tante dan kakak disini setidaknya ada yang ikut bersama kami” pelangi.

Mereka hampir menangis mendengar apa yang dikatakan pelangi, pak supir lantas mendekat dan mensejajarkan tubuhnya dengan pelangi

“Nak apa kau akan mengatakan ini pada ayah dan ibumu?”

“Untuk apa pak? Aku tau mereka akan marah dan nanti akan menghukum bapak, tante serta kakak, aku berjanji tidak akan mengatakannya” sambil mengacungkan jari kelingkingnya lantas dibalas oleh pak supir sambil berurai air mata.

Pelangi kembali dengan tas ranselnya dan ia meminta ibunya mengembalikan moza ke dalam dekapannya, ibunya menanyai kenapa ia lama sekali. Pelangi hanya bilang tadi pak supir membantu orang dulu jadi dia sedikit lama membukakan pintu mobilnya.

Sesampainya di kamar pelangi terlihat senang karena kamar itu cukup luas lihat bahkan ada dua tempat tidur disini satu untuknya dan satu untuk ibu serta ayahnya. Dan sekarang ayahnya bahkan terlihat seperti orang tersibuk di dunia.

“Ibuu apakah aku boleh bertanya? Bukankah sekarang aku sudah sampai di dalam kapal?” pelangi.

“Silahkan sayang apakah kau sudah menahannya sejak tadi?” ibu.

“Ibu sebenarnya kita ini akan pergi kemana dan mengapa kita tidak mengajak ferrel ibu?” pelangi.

“Nak kita akan pergi ketempat yang membuat kita aman okei, tidak ada lagi polusi udara dan kau disana bisa bermain di luar tanpa harus selalu didalam rumah, kau senang bukan?” ibu.

“Tapi ibu mengapa ibu tidak mengajak ferrel dia teman baikku ibu, jika aku tidak bermain bersamanya aku akan bermain dengan siapa?” tanya pelangi.

“Nakk kau ini bagaimana, kau bisa menemukan banyak teman disana bahkan kau pergi keluar saat ini dan kau akan menemukan anak seusiamu disini” ibu.

“tapii ibuu….” pelangi.

“Sudah-sudah kau mau istirahat atau memberi makan moza lihat dia sepertinya lapar” ibu.

“Kau benar ibu, aku akan memberi makan moza saja” pelangi.

“Ouh iyaa nak jangan jauh-jauh ya kapalnya akan segera berangkat, ibu takut terjadi kericuhan di luar, setelah kapalnya melaju dengan baik, baru kau boleh bermain” ibu.

“Baik ibuu” ucap pelangi berteriak sambil membawa makanan kucing menuju moza yang sedang terlentang diruang tamu kamar itu.

Setelah kapal berjalan cukup jauh dari dermaga pulau, sesuatu terjadi, ayah dihubungi oleh pihak petugas wajahnya langsung merah padam mendengar kabar yang diberitahukan oleh petugas itu, ayah pun bergegas meninggalkan kabin kapal dan menuju tempat lain. Ibu yang melihatnya langsung mengajakku ikut turut bersama ayah di belakangnya.

Setelah sampai kami pun melihat disana ada pak supir yang terduduk dengan lutut sambil memohon-mohon pada sang petugas, lantas ayah datang dan langsung menampar pak supir itu ayah juga melihat seorang wanita dan remaja dewasa, ya mereka adalah tante dan kakak yang pelangi lihat saat itu. Pelangi tak mengerti kejadian saat itu yang ia lihat ayahnya hampir terus memukul supir itu ia memaki sejadi-jadinya. Lantas tidak beberapa lama kapal kami berseberangan dengan kapal barang. Setelah jembatan penghubung kapal diterapkan ayah langsung menendang kasar pak supir serta anak laki-lakinya untuk segera pindah kapal, tante itu pun turut serta pindah ke kapal barang. Lantas ayah kembali melancarkan aksinya yang pelangi dengar saat itu ayahnya berkata,

“Kau tak pantas ada di kapal sana, kau pantas disini kau pantas mati” ayah.

“Mona cepat selesaikan urusanmu kapal ini tak bisa selalu beriringan jika kau ingin selamat” ayah berkata dengan lantang pada istrinya.

“Baik dandi sebentar” ibu.

Itu pertama kalinya ibu memanggil nama ayah dihari ini, wajah ibu sedikit ceria tak lagi khawatir ia langsung bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang. Lantas pelangi kehilangan moza yang sejak tadi ia bawa dari kabin kamarnya dan melihat ternyata moza ada diatas kapal barang ntah apa yang moza cari disana.

“Kau sudah mendapatkan barangmu?” tanya ayah.

“Sudah suamiku akhirnya harta berharga kita aman bersamaku, kau ini bagaimana? ini merupakan harta terbesar kita. Bagaimana kau bisa meninggalkan ini begitu saja bersama barang-barang sampah itu?” ibu.

“Kau memang benar aku juga cemas jika barang itu dicuri di sana, atau tenggelam bersama barang-barang lainnya” ayah.

“Tapi suamiku aku tetap kesel pasti supir sialan itu membawa istri dan anaknya di dalam bagasi kita, barang-barang yang cukup pentingmu aku tak tau dia menyimpannya dimana?” ibu.

“Sudahlah paling disatukan di barang sana, kau tak usah pikirkan itu tidak terlalu penting, yang penting adalah harta kita yang satu ini” ayah.

“Lalu dimana pelangi?” tanya ayah.

“Tadii ia disini bersama moza kurasa dia sedang berkeliling akan aku cari dia sekarang”.

“Baiklah aku kembali ke kamar” ayah.

Setelah mencari hampir diseluruh kapal dan ibu pun meminta bantuan petugas untuk mencari pelangi, sampai akhirnya mereka bertemu dengan salah satu petugas yang pernyataannya membuat ibu hampir pingsan ia tertunduk lemas memegang kedua kakinya. Sembari dibantu oleh petugas ia kembali ke kamar dan menemui ayah.

“Cepat putar balik kapal dan segera menuju kapal barang”. Perintah ayah kepada sang petugas kapal utama, ia telah hampir memanggil semua petugas agar mau menuruti perintahnya, berbalik arah menuju kapal barang dimana putrinya berada.

Lantas petugas utama atau bisa dibilang petugas kepala, berhasil meyakinkan bahwa kita harus menuju pulau selanjutnya terlebih dahulu untuk menjemput  penumpang VIP, ayah dan ibu hanya tertunduk mereka tak bisa memaksa lagi soal urusan penumpang VIP pun mereka tak bisa mengelak dan membantah karena atas kerendahan hati penumpang VIP lah keluarga pelangi bisa berada di kapal ini, kapal yang dibuat untuk penyelamatan.

“Tapi kau tenang saja tuan, kami akan menghubungi kapal barang dan berusaha agar mereka memperlambat laju kapal, setelah kita menjemput penumpang VIP kapal ini, aku berjanji akan melajukan kapal ini dengan kecepatan maksimal dan merapatkan dengan kapal barang, setelah itu kau bisa bertemu dengan anakmu kembali” petugas kepala berkata demikian.

Ayah dan ibu hilang sedikit keraguannya, dan setelah menunggu satu jam kapal belum sampai dipulau tujuan bahkan kabar buruknya petugas memberitahu bahwa kapalnya tidak bisa berkomunikasi dengan kapal barang, sepertinya karena gangguan cuaca bisa dilihat bahwa awan di atas kapal sudah menghitam tapi tidak pekat, para nahkoda mulai keheranan karena seharusnya badai tidak datang didaerah ini, mereka hanya bisa meyakini bahwa awan ini tercipta karena adanya badai besar di sekitar mereka, dan mereka menduga bahwa prediksi mereka benar arah menuju pulau yang aman yang mereka tuju telah terjadi badai dan kemungkinan besar kapal barang sudah hanyut bahkan ter compang-camping karena badai yang begitu besarnya, badai terbesar sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

Ayah dan ibu sudah terlihat seperti hilang semangat hidup ketika mendengar kabar itu, putri mereka satu-satunya, berada di kapal barang, bagaimana ini bisa terjadi ibu menyalahkan dirinya karena kecerobohannya. Akan tetapi wajah hilang semangat itu berganti menjadi wajah yang sangat tegang, kapal terombang-ambing dengan dahsyatnya menghentakkan semua barang yang ada di kamar itu ibu dan ayah terpelanting dengan tajam, tubuh mereka meliuk seperti ular tanpa sadar tanpa bisa untuk berusaha melindungi diri mereka sendiri.

“Kakek apakah aku tidak bisa melihat mereka lagi” tanya pelangi kepada kakek tua.

“Pelangi kita tidak pernah tau apa yang terjadi disana yang kita lihat sekarang hanyalah gumpalan awan hitam, kita tunggu saja semoga mereka kembali dan lekas menemuimu lagi” jawab kakek tua.

“Tapi apakah mereka mencemaskanku kakek?” tanya pelangi.

“Pasti nak seperti apapun mereka, orang tua akan selalu mencemaskan anaknya” kakek.

“Sudah-sudah lihat mozamu sudah meraum dari tadi, mau kakek bantu carikan makanannya?” tanya kakek.

“Kau benar kakek, aku membutuhkanmu untuk menemukan makanan kucing” pelangi.

Kau tau kapal yang ditumpangi oleh ayah dan ibuku yang katanya kapal penyelamat mereka pergi ke arah yang salah, mereka tidak selalu memprediksi keadaan hingga akhirnya kapal mereka yang tenggelam, maksudku kau tau sendiri bukan lima belas tahun yang lalu cuaca bisa berubah dengan cepatnya segala badai apapun itu harus dipantau tanpa mengedipkan mata, lihat prediksi manusia saja yang kepercayaannya masih diragukan, mereka sudah berusaha meyakini padahal mereka sebenarnya tidak tau apapun yang terjadi. Alam selalu menampakkan wujud aslinya, ahhh maksud ku begini kau tau mengapa ada kapal barang padahal kami bisa menggunakan satu kapal yang sangat besar lantas memuat barang sekaligus di dalamnya, ya karena kapal barang adalah kapal korban, kapal itu selalu berada di depan berjarak 1000 km sejauh mata memandang agar kapal para penumpang dapat melihat apakah di jarak tersebut terdapat badai atau perubahan cuaca, sehingga jika itu terjadi kapal penumpang akan dengan mudah dan cepat mengalihkan haluannya, ya aku tau ini jahat mereka sama saja membunuh orang-orang didalamnya tapi ya apa daya, bahkan isi kapal barang pun tak ternilai bagi mereka, kau tau beruntung kami memiliki si kakek di kapal, ia seperti bajak laut handal yang sudah berpengalaman berpuluh-puluh tahun lamanya. Ia bisa memprediksi angin bahkan ia hampir tahu setiap keadaan di setiap daerahnya, padahal kau tau sendiri bukankah ayahku yang seorang terpelajar dan memiliki banyak kolage yang sibuk telepon sana sini hanya demi memastikan keadaan setiap wilayahnya lihatlah kurasa ayahku yang bodoh. Dan kau tahu aku menghabiskan lima belas tahun hidupku belajar bersama sang kakek kurasa aku sudah menjadi seorang ahli cuaca sekarang, aku hidup seperti biasa aku tak memilih tinggal bersama pak supir dan keluarganya, aku memilih ikut sang kakek, semua barangku yang terlampau banyak mereka semua yang bawa, aku hanya membawa seperlunya, kau jangan salah kawan keluarga itu menjadi keluarga yang sangat kaya raya sekarang. Karena mereka berbisnis properti dan pakaian dari awal kapal itu dilandaikan. Lucu bukan mereka masih sangat menyayangiku dan terus membagiku uang yang sangat banyak kurasa itu berlebihan, mereka menganggap orang tuaku adalah malaikat penyelamat mereka. Bahkan pak supir melebih-lebihkan andai dulu ayahku mematahkan satu tangannya atau kedua kakinya ia rela, karena itu tidak setimpal dengan apa yang ia dapatkan setelahnya ia mendapat kehidupan dan kesejahteraan. Sudah banyak yang berlalu bukan, bagaimana kabarmu ferrel?

“Ceritamu sungguh menarik dan menyayat hati pelangi aku turut berduka atas kematian kedua orang tuamu, aku juga bersyukur karena hari ini kau kembali ke kota ini dengan keadaan selamat, ku lihat kau juga sehat dan cantik pelangi” Ucap ferrel.

“Kau ini bisa saja, ya tapi memang aku cantik terbukti semua orang mengatakannya termasuk kau ferrel” ucap pelangi mereka berdua pun tertawa bersama.

“Tapi ferrel setelah banyak hal yang terjadi lima belas tahun ini memang masa yang sulit bukan, cuaca dan iklim dunia berubah total, manusia tak bisa lagi memprediksi. Akibatnya ulah kita sendiri bukan, bahkan kau ingat saat kita kecil asap sudah dimana-mana?” pelangi.

“Ya kau benar bahkan, aku sudah lupa bagaimana bentuk hutan” ferrel.

“Apa? Kau pasti bohong bukan usia kita hanya terpaut lima tahun kau melihat hutan saat kau kecil? Kau curang sekali ferrel” pelangi.

“Kau bahkan lebih curang pelangi kau ada disana saat hutan itu sedang terus tumbuh diatas krisis iklim saat ini” ferrel.

“Oh iya kau benar kau pernah bilang kau bukan berasal dari kota ini, jadi kau berasal dari indonesia ferrel, kau dan aku beruntung ya, kita bisa merasakan hutan yang bisa dibilang itu hampir punah, eits tapi tidak sekarang pelestarian berusaha dibangkitkan lagi, aku dan kakek ikut turut serta disana, lihat bahkan aku membawa dua truk kontainer tanaman untuk ditanam di kota ini” pelangi.

“Kau luar biasa pelangi” ferrel.

“Tidak ferrel yang luar biasa adalah keluargamu, disaat indonesia menjadi pulau yang kehabisan hutan pertama kalinya, disaat itu kalian berusaha menghidupkan kembali nyawa disana, lihat hasilnya sekarang saat semua hutan hilang dari dunia ini, hutan indonesia yang ada dan telah menyelamatkan bumi kita sekarang” pelangi.

“Kau benar pelangi 15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk bumi menggoncangkan isinya dengan iklim yang ekstrim, ya meski belum sepenuhnya bumi ini pulih, tapi aku yakin kita pasti bisa”.

“Ouh bukan seperti itu pelangi maksudku adalah warga bumi ini akan mampu menghidupkan bumi ini lagi” ferrel.

“Sudahlah ferrel kau ini bisa saja, dari tadi aku saja yang bercerita, aku ingin tahu bagaimana kau dan sebagian masyarakat kota ini bisa bertahan dari krisis iklim selama lima belas tahun ini”.

“Kurasa kalian lah manusia luar biasa yang sebenarnya” pelangi.

“Kau salah pelangi lagi-lagi semua ini berkat orang tuamu, lab yang dia ciptakan, teknologi canggih rumahmu, semua adalah inspirasi yang ayahku dapatkan pelangi, sejak saat itu ditengah badai sekalipun setelah berhasil menyelamatkan kota ini, ayah pergi ke penjuru bumi untuk memberitahu seperti apa baiknya untuk kita bisa bertahan ditengah krisis iklim ini, yang tentu masih harus kita lakukan sampai saat ini” ferrel.

“Yaa dari dulu ayahmu memang hebat ferrel aku mengaguminya ia begitu cerdas, dan kurasa kecerdasannya itu tidak menurun padamu” pelangi.

“Apa yang kau katakan pelangi kau sedang menghinaku?” ferrel dengan wajah masamnya.

“Tidak ferrel yang ku katakan memang benar ayahmu tidak mewariskan kecerdasan karena kecerdasan diwariskan oleh ibumu, sedangkan ayahmu mewariskan ketampanan padamu” Ucap pelangi sambil tersipu malu.

“Lihat gadis dewasa ini, sekarang ia mulai berani menggoda tapi aku malah melihat ia tersipu karena godaannya sendiri” ferrel.

“Sudahlah aku ingin mendengar kisahmu sejak aku pergi dari rumah saat itu, meninggalkanmu, ayahmu dan ibu serta para pekerja. Tidak-tidak bukan pekerja tapi para keluarga, bagaimana kalian bertahan hidup sejak saat itu ferrel?” pelangi.

“Kau tau aku selalu cemas, karena ku dengar hampir di seluruh bumi ini cuaca tidak stabil, dan hanya indonesia yang cuacanya tidak terlalu buruk, sungguh aku bersyukur sekaligus sedih” pelangi.

“Baiklah akan ku ceritakan sekarang, sebaiknya kau siapkan kopi agar tidak mengantuk” ferrel.

“Apakah kau sudah tertidur aktar?”

“Bagaimana aku bisa tertidur ibu ceritamu membuatku membulatkan mata sekaligus berpikir, dan ada beberapa bagian yang tidak aku mengerti, tapi aku sama sekali tidak mengantuk sekarang ibu” aktar.

“Tapi ini sudah jam sepuluh lewat tiga puluh aktar, ibu tidak ingin kau bangun kesiangan oke” ibu.

“Tapi cerita ibu menggantung ibu, ibu belum bercerita tentang kak ferrel yang bertahan hidup ibu”aktar.

“Kau tau ibu sengaja menggantungkannya karena ibu akan melanjutkannya besok oke, sekarang kau minum air madu ini lihat air ini sudah dingin sayang”ibu.

“Baik ibu, aku rasa setelah meminum ini aku takan mengompol lagi bukan begitu ibu?” tanya aktar.

“Ibu mana tau, kau sendiri yang mengompol, bukan?” ibu.

“Ibu sebelum kau pergi apakah aku boleh bertanya?” aktar.

“Apa sayang” ibu.

“Ibu mengapa saat itu kota banyak sekali asap, dan apa penyebab terjadi krisis iklim ibu? Tapi ibu selain karena hilangnya hutan ya bu, aku harap ibu menjelaskannya dengan singkat aku mengantuk ibu, dan satu lagi ibu mengapa kak ferrel dan kak pelangi saling menggoda bagian itu tidak aku mengerti ibu, kenapa ibu membuat cerita seperti itu untukku” aktar.

“Baiklah ibu akan ceritakan besok saja bagaimana?” ibu.

“Tidak ibu aku ingin sekarang” aktar.

“Baiklah singkatnya begini sayang, saat alam tidak lagi berkesinambungan atau seperti ini saat alam tak mampu bekerjasama lagi dengan baik, dengan apa yang ada didalamnya ntah itu tumbuhan, hewan, manusia bahkan serangga sekalipun jika salah satunya merusak maka akan berimbas pada yang lainnya, bahkan pada laut itu sendiri sayang pasti kau sudah tau bukan 2/7 bumi ini adalah lautan lihat bagaimana jika lautan disakiti, lihat bagaimana jika lapisan pelindung bumi kita disakiti apa imbasnya bagi puluhan tahun yang akan datang, ya sayang itu akan sangat berimbas ditambah alam yang besar seperti hutan sudah tidak banyak lagi, maka bumi akan marah, karena mereka tidak berkesinambungan, mereka tidak bisa bekerjasama dengan baik lagi. Untuk ferrel dan pelangi nanti kau juga akan mengerti sayang” ibu.

“Lalu ibuu…” aktar.

“Iyaa sayang?” ibu.

“Kau masih ingat dengan cita-citaku?” aktar.

“Iyaa sayang kau ingin menjadi pemimpin negri ini bukan?” ibu.

“Ya kau benar ibu, tapi setelah mendengar kisah ini, aku akan menjadi pemimpin yang sangat besar ya bu” aktar.

“Kenapa begitu sayang” Tanya ibu kepada aktar.

“Ya karena rakyatku bukan hanya manusia ibu, tumbuhan, hewan, serangga dan semua yang ada dinegriku adalah rakyatku” Aktar mengatakan itu sambil tersenyum.

“Boleh ibu tau dibalik perkataanmu itu?” ibu.

“Iya ibu, aku akan membuat mereka hidup harmonis dan tidak saling menghancurkan agar dimasa depan kita akan tetap hidup saling menjaga, bukankah seperti itu benar ibu?” aktar.

“Kau memang anak ibu yang luar biasa sayang, kita lanjutkan kisahnya esok ya”.

“Baiklah kau sekarang tidur  karena besok kau harus bangun agar bisa menjadi pemimpin nanti, selamat tidur sayang” ibu mengecup kening aktar mematikan lampu melangkah menuju pintu dan menutupnya, saat menuruni tangga ibu tak lupa membawa cangkir yang akan ia simpan di dapur, ibu pun tak lupa untuk memikirkan kelanjutan kisah yang ia buat sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *