Cerpen #115: “SIAPA YANG HARUS SAYANG IBU BUMI ?”

Aku teringat kembali kepada keadaan 5 tahun yang lalu, berada di sebuah kota kecil yang saat ini masih kukunjungi, yang selalu menjadi lokasi pilihan aku ayah, ibu, dan adikku untuk menghabiskan waktu melepas penat. Kota yang memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa, dikelilingi oleh danau yang sangat luas dengan airnya yang berwarna biru, serta terdapat puluhan ribu pohon yang rindang serta faunanya yang lucu yang akan menyambut kita.

 

Saat itu pada saat 5 tahun yang lalu, aku ingat aku melihat Adikku sedang bermain di pinggir Danau dari pendopo mess kantor Ayahku. Lokasi mess kantor Ayahku ini tepat berada di pinggir danau. Sungguh nyaman lokasinya… Aku hendak menghampiri Adikku agar sekaligus bisa menjaganya. Untuk bisa ke Danau, aku harus menurunin tangga dari mini pendopo. Akhirnya aku berjalan dengan santai menurunin tangga sambil merasakan tiupan angin yang sejuk dan ketika langkahku sudah sampai ke anak tangga terakhir, air danau menghampiriku dan membasahi kakiku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan berhenti sesaat.. karena aku merasa kedinginan. Aku kalah dengan Adikku, karena seluruh tubuhnya sudah basah dan tidak merasa kedinginan. Mungkin karena aku juga sudah tua sedikit. Tapi tidak juga, aku masih termasuk muda, pikirku saat itu.

 

Baiklah, mari kita melanjutkannya. Setelah berada di Danau, aku ingat aku berjalan dan duduk di bebatuan pinggir Danau sambil memandangi keadaan sekitar dengan lebih dekat. Air yang dingin, ikan mas, ikan gurami kecil berenang, ada anak-anak yang sedang menangkap udang air tawar kecil dengan perangkap yang dijual oleh pedagang dengan harga 2500 rupiah. Sungguh asri dan tenang rasanya saat itu. Danaunya bersih dan sangat sedikit limbah, paling hanya 1-2 kemasan yang “tidak sengaja” terjatuh.

 

******

Sesaat kemudian Adikku datang dan menghampiriku di ruang tengah Mess Ayahku. Disitu ada Ayahku juga yang sedang menonton.

“Kakak!” panggil adik kecilku sambil memegang tangaku.

Oh, akhirnya aku kembali dari nostalgiaku 5 tahun lalu yang masih terekam dengan jelas.

“Iya Dek?” jawabku lembut kepada adikku.

“Kak, kakak tau ngga kenapa hanya kami anak SD saja yang disuruh untuk sayang sama Bumi? Kenapa orang-orang besar tidak disuruh juga ya ?”, tanya adikku dengan membawa buku bacaannya. Dia masih SD dan ada salah satu pelajaran yang materinya tentang menjaga lingkungan dari pemanasan global. Di buku itu memang hanya digambarkan sekumpulan anak-anak SD yang sedang gotong royong membersihkan lingkungan. Tidak ada gambar orang besar.

Sejujurnya saat itu aku sempat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Adikku. Sebuah pertanyaan yang tampak sederhana namun ternyata sulit juga. Kenapa tidak ada gambar orang besarnya ya? Tapi aku harus segera merespon pertanyaan Adikku, dan akupun segera menjawab :

“Ngga kok, Dek. Semua orang itu harus sayang sama Bumi. Bukan hanya anak SD seperti kamu aja. Kakak sayang kok sama Bumi. Ayah dan Ibu juga sayang sama Bumi.”, jawabku dengan lembut dan meyakinkan Adikku. “Kenapa kamu nanya begitu Dek?” tanyaku kembali kepadanya.

“Menurut adik, Orang-orang besar yang lain sepertinya tidak sayang Kak sama Bumi. Tadi pas Adik lagi main, aku lihat ada orang besar yang buang sampah di dekat Pohon, padahal ada tempat sampah yang warna-warni di dekat situ, tapi orang besarnya gak buang kesitu Kak”, jawab Adikku sambil bercerita.

 

Di saat aku masih berpikir, kemudian Ayahku merespon cerita dari Adikku dengan bertanya, “Adik kalau lihat ada orang yang buang sampah sembarangan, harusnya melakukan apa?”.

Adikku berpikir sejenak dan akhirnya Dia menjawab pertanyaan Ayahku,

“Mmm, Adik harusnya mengingatkan orang besar itu. Tapi Adik tapi takut dimarahin. Jadi, tadi Adik ambil sampahnya lalu buang ke tempat sampah warna-warni. Tapi Adik ngga tahu buang ke tempat sampah warna apa, jadi Adik masukin ke tempat warna hijau aja” jawab adikku.

“Bagus itu Dek. Kamu sudah tahu harus melakukan apa. Dan harusnya itu juga yang dilakukan sama orang besar. Jadi pas yang tadi Kakak kamu bilang, bukan Adik yang anak SD saja yang harus sayang sama Bumi”, apresiasi dari Ayahku untuk Adikku.

 

Tetapi Adikku tiba-tiba jadi murung dan menjawab

“Ayah sama Kakak ikut Adik ke Danau yuk.. ada yang mau Adik kasih tahu”

“Ayuk. Adik mau kasih tau apa?” balas Ayahku kepada Adikku sambal bersiap untuk berdiri.

“Ada sesuatu di Danau, Ayah”, jawabnya sambil berlari untuk mengambil sepatunya, sendal Ayahku, dan sendalku. Agar segera bisa kami pakai dan bergegas jalan menuju Danau.

 

Tidak perlu waktu lama, karena dari mess ke Danau kurang dari 1 menit, akhirnya kami sampai di pinggir Danau. Namun, secara tiba-tiba aku teringat dan merasakan ada kondisi yang berubah. Kembali lagi ke 5 tahun yang lalu. Di saat itu, seperti yang kuceritakan.. ketika aku melangkah dari anak tangga terakhir, kakiku pasti sudah basah karena terkena air danau yang sedang pasang atau beriak serta dingin,  Tapi sekarang ini tidak. Kakiku masih kering dan aku harus berjalan lagi sekitar 10-15 langkah agar kakiku terkena air danau itupun saat air riak. Kalau lagi tenang aku harus lebih jauh lagi berjalannya. Apakah kalian mengerti hal yang kumaksud?

****

“Ayah… ini airnya kok seperti surut ya?” tanyaku langsung kepada Ayahku yang sudah sering ke kota ini.

“Iya Kak, ini karena telah terjadi perubahan iklim. Disini jadi berdampak ke curah hujan, jadinya terganggu, akhirnya tinggi muka airnya setiap tahunnya jadi menurun. Kamu bisa merasakan dampaknya yang sangat cepat kan?” jawab Ayahku.

“Iya Ayah, baru beberapa tahun saja air Danaunya sudah berkurang seperti ini ya..” jawabku kembali dengan nada shock dan dahi berkerut.

Ayahku hanya bisa tersenyum, seakan Ayahku juga tidak nyangka akan perubahan yang terjadi. Sangat cepat dan sungguh berubah kondisinya.

 

*******

Disaat aku masih melihat keadaan pinggir Danau yang sudah sangat berubah, Adikku langsung memanggi kami untuk memberitahukan hal yang Dia maksud

“Ayah, Kakak lihat… itu sampahnya banyak kali.. Terus ada juga ikan yang mati. Adik harusnya ambil sampahnya supaya bersih, tapi Adik takut karena tidak bisa berenang” katanya dengan murung sambal menunjuk ke pinggir Danau.

Ternyata Danau yang indah ini sudah semakin banyak sampahnya, tidak seperti 5 tahun yang lalu. Didominasi dengan sampah anorganik seperti plastik, bungkus makanan, dan botol. Selain sampah anorganik, ada juga busa, minyak, serta sampah makanan yang tergenang. Tak lain tak bukan merupakan tindakan sembarangan dari orang sekitar termasuk turis. Sampah itu tertumpuk dan membentuk banyak spot di lokasi yang berbeda.

 

Aku dan Ayah jadi bingung juga harus berbuat apa. Karena lokasi sampahnya berada di area danau yang cukup dalam. Namun, Ayahku hanya bisa meyakinkan Adikku dengan menjawab :

“Oh iya Dek. Tidak apa-apa kalau Adik tidak bisa ambil, nanti biasanya ada orang atau petugas yang akan mengambil sampah itu. Jadi, Danaunya bisa bersih”.

“Berarti apakah betul Ayah, kalau orang besar itu tidak sayang sama bumi? Kenapa mereka membuang sampahnya ke Danau… kan kasian Danaunya kotor terus ikan-ikannya jadi sakit karena makan sampah. Nanti ikannya gak bisa dimakan lagi Ayah” tanya Adikku kembali dengan penasaran.

“Ya. mungkin ada beberapa orang yang tidak sayang sama bumi Dek. Mereka tidak mau ngertiin bumi dan mereka tidak mau menjaga bumi. Tapi seharusnya semua orang tanpa terkecuali harus sayang sama Bumi” jawab Ayahku.

“Kenapa ada orang yang seperti itu Ayah? Apakah mereka tidak diajarin sama Gurunya untuk jaga Bumi?” tanya Adikku kembali kepada Ayah dengan raut penasaran.

“Pasti diajarin, Dek. Kalau tidak dari Guru, mungkin ada media pengajaran lainnya. Contohnya mungkin Adik sering lihat kan gambar yang ada tulisan “sayangi bumi”, “jaga bumi”, “buang sampah pada tempatnya”, “Stop Global Warming”, atau ada sosialisasi dari warga setempat agar tempat tinggalnya nyaman dan bersih, Itu kan juga diajari Dek artinya” jawab Ayahku menjelaskan dengan sabar kepada Adikku.

“Berarti mereka memang tidak sayang dan tidak peduli ya Ayah ? Padahal mereka sudah tahu harus sayang sama Bumi. Kalau banyak yang tidak sayang, Bumi nanti bisa sedih lalu jadi sakit kan Ayah?”, tanya Adikku kepada Ayahku kembali..

“Makanya itu Adik. Pertama Adik harus tahu ya, kalau Bumi itu sayang sama manusia, dia selalu jaga kita. Bumi itu sayang sama Adik. Bumi itu berharap sama Adik, supaya Adik bisa sayang dan jagain Bumi. Jadi, Bumi tidak sedih dan tidak sakit” jawab Ayahku dengan tersenyum.

“Kalau Adik ada lihat orang yang tidak sayang sama Bumi, Adik harus bisa tunjukin ke mereka kalau Adik adalah salah satu orang yang sayang sama Bumi. Contohnya kayak tadi yang Adik ceritakan, kalau ada yang buang sampah sembarangan, Adik harus kasih contoh dengan mengambil sampahnya dan buang pada tempatnya atau Adik juga bisa mengingatkan. Mudah-mudahan orang yang tidak sayang sama Bumi tadi, kalau melihat tindakan yang Adik lakukan mereka bisa jadi mengerti.” Lanjut jawab ayahku dengan perumpamaan sederhana.

“ Iya Ayah,  Adik tidak mau Bumi jadi marah,  tidak mau Bumi jadi sedih, dan tidak mau Bumi jadi sakit” jawab Adikku dengan semangat dan tersenyum.

Andai generasi seusiaku Adikku diajari seperti ini untuk sayang dan peduli sama Bumi, melalui orang-orang yang memang peduli sama lingkungan, mungkin beban Bumi bisa sedikit berkurang, pikirku.

 

Setelah selesai berdiskusi mengenai pertanyaan Adikku, aku jadi teringat untuk menanyakan suatu hal kepadanya,

“Adik, kamu masih ingat tidak, beberapa tahun lalu kita kesini. Danaunya masih bersih, airnya masih tinggi Dek.. kamu main disitu tuh” kataku sambil menunjuk ke lokasi tempat dia bermain air 5 tahun yang lalu.

“Ngga kak.. Adik lupa itu kapan” jawabnya murung “Kakak dulu ada fotoin Adik ngga pas lagi main-main di Danau?”, tanya adikku kembali.

“Ada kok Dek, ntar kakak cari ya..” jawabku langsung kepada Adikku.

Lalu kami berjalan untuk kembali ruang depan Mess dan menikmati pemandangan Danau yang sudah cukup banyak perubahannya.

 

Aku terdiam sesaat dan merenung sambil bertanya di dalam hati “Masa iya Adikku gak akan pernah bisa lagi lihat keadaan seperti  5 tahun yang lalu? Masa iya dia bakal ingatnya kalau Danau ini banyak sampah, banyak orang yang sembarangan ke lingkungan?”.

 

Ternyata kita manusia ini sudah sangat egois ya kepada Bumi dan generasi selanjutnya. Bumi serta isinya telah memberikan yang terbaik kepada kita secara cuma-cuma, tetapi kita untuk menjaganya dengan hal kecil saja sudah merasa sulit dan berat. Padahal sampai kita mati nanti, kita bakal tetap berada di Bumi dan kita juga akan punya generasi selanjutnya yang akan hadir ke dunia, tepatnya di Bumi ini. Kehidupan berlanjut dan tidak berhenti di generasi saat ini saja kan?

 

Aku berpikir, bahkan Adikku yang masih satu generasi denganku dan hanya beda beberapa tahun saja, sudah harus melihat kondisi bumi yang sangat cepat perubahannya dan itu perubahan yang tidak baik.

Masih belum bisa terbayangkan, bagaimana kehidupan generasi selanjutnya? Tidak perlu jauh-jauh, cukup generasi setelahku, generasi anakku nantinya.. Bakal seburuk apa kondisi Bumi kalau kita tidak sayangi dari sekarang? Apa yang akan generasi kita selanjutnya lihat atau rasakan nantinya? Apakah nanti mereka akan hidup di Kota yang penuh sampah? Kota yang sangat panas? Kota yang krisis air? Atau kota buruk lainnya? Akupun melihat kondisi sekarang juga sudah mengeluh.. Apalagi sudah banyak isu lingkungan akan masa depan yang sangat buruk.. Mulai dari krisis iklim yang semakin parah, kota yang akan tenggelam, dan banyak lagi.

 

Aku kembali sadar, Kataku saja aku sayang sama Bumi. Tapi aku jadi koreksi diri lagi, hal apa saja yang sudah kulakukan untuk sayangi dan jaga Bumi ya?

Dari dulu aku sudah punya tekad untuk sayangi bumi, ya walaupun masih melalui hal kecil seperti mematikan lampu jika tidak digunakan, mencabut colokan listrik, mengurangi pemakaian plastik, membawa tumbler, membawa kotak makan sendiri, dan tidak membuang-buang makanan. Ya ini hal kecil sehari-hari saja dulu yang mau dijalankan, tapi tidak tahu juga mengapa susah sekali untukku untuk konsisten akan hal tersebut. Jadi kepikiran, apakah sebenarnya aku ini termasuk “orang besar” yang tidak sayang sama Bumi seperti pertanyaan Adikku tadi ya? Apakah aku perlu diajarin lagi seperti Adikku diajari Gurunya tentang bagaimana cara menyayangi Bumi dengan sederhana?

 

Terlalu bertele-tele rasanya kalau aku berharap generasiku atau generasi kita selanjutnya bisa melihat kondisi Bumi kembali baik seperti dulu. Bagaimana bisa mereka merasakan hal itu, kalau konon Ibu, Ayah atau Nenek Moyangnya saja plin-plan untuk menyayangi Bumi saat ini? Siapa yang mau diharapkan lagi untuk sayang sama Bumi? Sungguh banyak pertanyaan dan pengakuan bersalah dalam diriku saat ini.

Akhirnya, langit di Kota ini pun sudah mulai gelap. Sambil memandang danau yang mulai surut dari ruang tengah mess kantor Ayahku, aku hanya bisa berharap pada diriku sendiri, “Semoga aku bisa komit untuk sayang kepada Ibu Bumiku,. Berharap bisa mengurangi penyakitnya yang salah satunya adalah krisis iklim yang juga tak lain tak bukan disebabkan karena kesalahanku dan kelalaianku. Pokoknya harus bisa komit dan konsisten think green sampai akhir hidupku, demi generasiku selanjutnya. Jadi siapa yang harus sayang sama Ibu Bumi? Yang jelas salah satunya adalah aku. Atau mungkin dimulai dari aku saja dulu yang komit untuk sayang sama Ibu Bumi. Cepat sembuh Ibu Bumi… Aku minta maaf”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *