Cerpen #114: “MELAWAN UTOPIA”

Walaupun hari masih pagi, bunyi derit dan desis kerap memenuhi ruangan ini. Tangan kiriku sedari tadi sibuk membuka setiap laci yang ada, sedangkan tangan lainnya sibuk mencari sesuatu di dalamnya.

“Ugh, dimana sih?”, keluhku.

Padahal sebelum cuti, aku yakin telah menyusun barang-barang di kantorku ini dengan rapi. Tetapi, kenapa aku belum juga menemukan sarung tanganku-

Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari arah pintu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyuruhnya masuk. Sesosok pria kemudian masuk. Ia merupakan rekan kerjaku. Ia memintaku untuk memeriksa desain proyek yang sedang dikerjakannya.

Setelah itu, kami pergi ke laboratoriumnya. Di sana, beberapa orang tampak sedang menguji sebuah prototipe. Tak jauh dari mereka, sebuah tumpukan kertas tampak berada di atas meja. Kertas-kertas itu berisikan data-data yang harus aku periksa. Setelah memeriksanya, aku menemukan suatu kejanggalan dan menjelaskan kepadanya tentang kejanggalan tersebut.

Namun, tiba-tiba, suara derakan menggaung di ruangan itu. Dalam sekejap, tatapanku berpaling ke sumber suara, yang berasal dari prototipe yang sedang diuji. Orang-orang yang sedari tadi fokus dengan pengujian, kini, tatapan mereka mengarah kepadaku. Di saat yang sama, jari-jemari tanganku terasa perih. Dengan segera, rekanku itu mengantarku ke sebuah rumah sakit kecil yang berada tidak jauh dari tempat ini.

Perkenalkan, namaku Luci. Aku hanyalah seorang insinyur yang cukup mahir melihat kekurangan-kekurangan dari sebuah desain rancangan. Maka dari itu, aku ditempatkan di bagian analisis kegagalan. Tugasku hanyalah membantu rekan-rekanku dengan memeriksa desain mereka. Namun, di bidang ini, aku tidak sendirian. Ada Jake, temanku yang satu ruangan denganku-

Tiba-tiba aku teringat sesuatu sebelum aku mengambil cuti beberapa hari yang lalu.

“Gue pinjam ini ya!”, ucap Jake sambil mengenakan sepasang sarung tangan.

Jelas sekali, sarung tanganku belum dikembalikan olehnya sejak saat itu! Jika saja ia sudah mengembalikannya pagi ini, mungkin saja kecelakaan baru saja dapat dihindari.

Namun, berkat kecelakaan itu, aku bisa kembali bertemu ‘dengannya’.

Kini, kedua mataku menatap sosok tersebut, sesosok pria yang kedua bibirnya tampak tersenyum masam di depanku sambil melilitkan sebuah perban pada beberapa jariku yang terluka.

“Kenapa aku nggak kaget lagi ya sama rekam medismu.”, ucapnya.

“Pff. Aku kan kangen sama kamu~”, jawabku dengan nada manja.

Ia pun menghela napas panjang, “Iyain dah.”.

Orang di depanku ini adalah Luno, seorang dokter umum yang bekerja di rumah sakit ini. Kebetulan, hari ini ia sedang bertugas menjadi dokter jaga di UGD.

Kemudian, siang itu, aku kembali ke kantor. Sesampainya di ruanganku, aku merasa ada yang berbeda dengan mejaku. Sarung tangan yang kucari masih belum terlihat, tetapi ada sepucuk surat yang berada di atas meja. Namaku tertulis padanya.

Aku segera membuka dan membaca surat tersebut. Di dalamnya, tertulis sebuah organisasi yang bernama Proyek Utopia, memintaku untuk bergabung dengan mereka. Namun, aku segera mengabaikan surat tersebut, karena pekerjaanku masih menumpuk.

Setelah bekerja hingga petang, akhirnya aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung mencari tahu tentang Proyek Utopia di internet.

Proyek Utopia adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang keteknikan. Di dalamnya tergabung beberapa perusahaan ternama di negara ini. Jika aku bergabung dengan organisasi tersebut, itu artinya, aku harus mengundurkan diri dari perusahaanku yang sekarang. Organisasi itu akan menempatkanku pada perusahaan yang baru.

Hmm… menurutku, ini bukan suatu masalah yang besar-

Tiba-tiba aku menemukan suatu hal yang menarik perhatianku. Proyek Utopia ini bertujuan untuk menghadirkan solusi dari pemanasan global yang sedang melanda bumi ini.

Aku memang pernah mendengar sebelumnya tentang pemanasan global dan semacamnya. Akan tetapi, sejujurnya, aku belum begitu paham tentang hal tersebut.

Kini, selain Proyek Utopia, aku juga mencari tahu tentang pemanasan global. Akan tetapi, setelah membaca begitu banyak artikel dan jurnal, perasaanku menjadi tidak nyaman.

Karena kegundahanku ini, esok paginya, aku berangkat ke tempat kerja dan mengajukan izin cuti kembali kepada perusahaan.

Kemudian, setelah aku pulang ke rumah, ponselku bergetar. Tampak nama ‘Jake’ pada layar ponsel. Aku pun menjawab telpon dari rekanku itu.

“Lu kenapa sih ambil cuti lagi?”, tanya Jake dengan nada jengkel.

“Sarung tanganku mana?”, tanyaku dengan nada yang tak kalah kesal. Walaupun begitu aku hanya berpura-pura marah kepadanya.

“AH ELAH! SARUNG TANGAN DOANG LU SAMPAI CUTI!”, seperti biasa, ia menjawabku dengan suara meledak-ledak. Mendengar itu, membuatku tak bisa menahan tawa.

Aku membalasnya setelah puas tertawa, “Bercanda kok. Aku cuma sedang-“.

“Jangan-jangan lu mau pindah?”, selanya.

“…”, aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. Proyek Utopia, nama itu kembali terbesit dalam pikiranku, membawa perasaanku menjadi semakin suram.

“OI! LUCI!”, teriakan dari Jake baru saja mampu membawaku kembali dari lamunan.

“A-anu.. sudah dulu ya Jake! Dah~”, balasku menyudahi panggilan.

Di pojok layar ponselku itu, tampak jam menunjukkan pukul 08:45. Sebentar lagi, organisasi itu akan menghubungiku.

Benar saja, jam sembilan tepat, ponselku bergetar kembali. Nomor yang tidak dikenal, tampak pada layar ponsel tersebut. Dengan segera, aku menjawab panggilan itu.

Suara bernada rendah dapat kudengar setelahnya, “Selamat pagi, Nona Luci.”, ucapnya dengan ramah.

Pria ini pun memperkenalkan dirinya. Beliau adalah salah satu pengurus Proyek Utopia. Pagi ini, beliau menghubungiku untuk menanyakan kesanggupanku secara langsung.

“Sebelumnya, apakah ada yang ingin Anda tanyakan mengenai organisasi kami?”, tanyanya.

“Itu…”, jawabku sembari mengingat-ingat berbagai pertanyaan yang ingin kutanyakan, “…apakah tujuan organisasi ini memang untuk mengatasi pemanasan global-“.

“M-maksud saya, apakah benar Proyek Utopia akan merefleksikan cahaya matahari dan mengimplementasikan DAC untuk menyaring karbon dioksida di masa mendatang?”, ralatku segera untuk mendapat informasi yang lebih detil.

Aku juga menanyakan soal implementasi AI untuk memprediksi perubahan iklim di masa depan, karena itu merupakan salah satu proyek-proyek besar dari Proyek Utopia yang tadi malam kubaca.

Pria tersebut menjawab dengan tenang, “Itu semua benar.”.

“Tetapi, bukankah merefleksikan cahaya matahari ke ruang angkasa memiliki dampak buruk? Begitu juga dengan DAC yang mana memiliki efisiensi rendah? Lalu soal AI-”, tanpa terasa suaraku menjadi semakin keras dan menekan, mengikuti emosiku.

Aku terdiam, mencoba menenangkan diriku dengan menghirup napas dalam-dalam. Lantas, aku melanjutkan perkataanku, “Bukankah AI… menjadi salah satu penyebab pemanasan global?”.

“Itu semua benar. Tetapi, dampak buruk seperti itu memang tidak dapat dipungkiri.”, jawabnya.

“Sebagai insinyur, kami berusaha untuk terus membenahi rancangan kami dengan teori-teori yang telah ada maupun yang didapatkan dari kegagalan.”, lanjutnya.

“…”, aku membisu, sedangkan pikiranku terus menimbang pernyataan pria itu baru saja.

“Percayalah, Nona Luci.”, suaranya terdengar pelan namun menekan, “Tujuan kami ini adalah tujuan yang baik.”.

“…”

“Baik… saya mengerti.”, jawabku dengan suara lirih.

Tanpa sadar, aku mengungkapkan hal yang mengganjal dalam hatiku dengan suara lirih, “Tetapi… bagaimana kalau kegagalan itu fatal? Bagiamana… jika kemajuan teknologi itu akhirnya terhambat… karena alam sudah tidak mendukung-”.

“M-maaf, saya terlalu banyak bicara yang tidak-tidak.”, ucapku dengan segera, setelah tersadar.

Suara tawa terdengar menyahutku sekejap, tak berselang lama suara pria itu kembali menjawabku, “Kami memang tidak salah memilih Anda.”.

Pria itu akhirnya memberiku waktu untuk memikirkan keputusan yang akan kuambil. Ia berkata untuk segera menghubunginya bila aku telah memutuskan pilihan yang kupilih, entah itu bergabung dengan mereka atau menolaknya.

“Pada awal percakapan, Anda bertanya tentang tujuan organisasi ini, bukan?”, tanya pria itu tiba-tiba.

“Proyek Utopia tidak bertujuan untuk mengatasi pemanasan global…”, kemudian suaranya berubah menekan, “…melainkan kami bertujuan untuk memberikan solusi dari pemanasan global.”.

Pada akhir percakapan, pria itu berpesan, “Saya dan Nona Luci adalah seorang insinyur, bukan tuhan.”

“Tugas insinyur bukan untuk mengubah manusia, tetapi, melayani mereka.”, lanjutnya.

Setelah pembicaraanku dengan pengurus Proyek Utopia usai, hatiku kini menjadi semakin gundah. Kurasa, aku perlu ke tempat ‘itu’.

Srak! Desis tirai terdengar tersingkap. Sesaat setelah itu, suara yang kunanti terdengar, “Luci, ini tempat tidur untuk pasien.”.

Masih dengan posisi berbaring menghadap ke dinding, aku berkata dengan pelan, “Pasien adalah orang yang sakit. Luci sedang sakit hati. Maka dari itu, ini tempat tidur Luci.”

Suara tawanya pun terdengar, “Pff. Mau konsul?”, tanya Luno.

Aku segera bangun dari posisiku dan menjawabnya, “MAU!”.

“Kalau ada pasien datang, kamu keluar dulu ya!”, pesannya.

Yang kumaksud dengan tempat ‘itu’ adalah ruangan praktiknya Luno. Karena dengan pergi ke tempat ini, aku bisa mengobrol dengan Luno tentang masalah yang memberatkan hatiku. Termasuk obrolan pagi ini dengan pengurus Proyek Utopia.

“Para insinyur berlomba untuk memberikan solusi mengenai pemanasan global.”, ucapku.

“Tetapi, menurutku, solusi itu bukanlah dengan berkawan dengan alam, melainkan mengontrolnya.”, lanjutku dengan suara yang semakin lirih.

Contohnya seperti merefleksikan sebagian cahaya matahari ke ruang angkasa. Apakah itu hal yang aman? Apakah metode itu tidak akan menyebabkan dampak buruk lainnya ke bumi maupun ke benda-benda antariksa?

Begitu juga dengan DAC. Mengambil karbon dioksida dari udara itu memang ide yang bagus. Tetapi, walaupun begitu, DAC masih membutuhkan listrik, yang mana mayoritas berasal dari batu bara. DAC akan diimplementasikan salah satunya dalam bentuk pohon imitasi. Daripada membuat pohon imitasi yang hanya bisa menangkap karbon dioksida, kenapa tidak menanam pohon asli yang dapat menghasilkan oksigen?

Lalu soal AI, memang AI dapat membantu manusia memprediksi perubahan iklim di tengah pemanasan global ini. Tetapi, energi listrik yang digunakan untuk melatih satu AI itu tidak sedikit. Jika sumber tenaga listrik tersebut masih berasal dari bahan bakar fosil, bukankah itu seperti menggali lubang, menutup lubang?

Seiring perkembangan zaman, teknologi memang dituntut untuk semakin maju. Padahal manusia memiliki keterbatasan. Begitu juga dengan bumi ini. Lalu… untuk apa sebenarnya teknologi dibuat dan dikembangkan? Untuk… memudahkan manusia?

“Ataukah… untuk memenuhi keserakahan mereka?”, ucapku dengan pelan, mengakhiri curahan hatiku.

Tiba-tiba, tanganku terasa hangat. Luno menggenggam tangan kiriku dengan kedua tangannya.

Sontak, aku langsung menyadari apa yang baru saja kulakukan, “Maaf… aku terlalu berlebihan.”.

“Kamu tuh mohon maaf mulu. Santai saja.”, balas Luno dengan nada santai.

Luno berkata kalau dia sebenarnya setuju dengan pengurus Proyek Utopia. Sama seperti insinyur, dokter juga hanya melayani manusia dalam bidang kesehatan, bukan mengubahnya.

“Aku pernah dengar dari dokter senior tentang orang yang punya penyakit diabetes tipe dua.”, ucap Luno, tatapannya tampak teralih ke bawah.

Tugas dokter hanya memberi obat sesuai kondisi tubuh pasien. Dokter juga bisa menyarankan pasien untuk mengubah gaya hidup dan pola makannya. Namun, keputusan untuk berubah itu ada di tangan pasien.

“Ah!”, dua matanya kini menatapku kembali, “Luci juga jangan lupa cek gula darah rutin ya!”.

Kata Luno, walaupun aku masih muda, itu tidak memungkiri aku bebas dari penyakit tersebut. Itu karena, penyakit ini disebut ‘Pembunuh dalam Senyap’. Pada awalnya, penyakit tersebut bahkan hampir tidak memiliki gejala. Padahal pada saat itu, penyakit ini sudah mulai merusak organ secara perlahan.

“Aku khawatirnya kalau sudah parah, baru ketahuan. Padahal organ yang sudah rusak, tidak bisa disembuhkan.”, lanjut Luno, “Kalau sudah begitu, kita hanya bisa menjaga organ itu supaya tidak semakin parah.”.

Tiba-tiba, sesuatu terbesit dalam pikiranku.

“Luci paham, kan?”, tanya Luno.

Aku mengangguk paham.

Luno pun melanjutkan, “Lalu-“.

Tiba-tiba, seorang suster memberitahu Luno bahwa ada pasien yang baru saja datang. Tanpa berlama-lama, aku segera pamit undur diri, “Terima kasih konsultasinya ya Pak Dokter~”, ucapku sambil melambaikan tanganku.

“Tunggu! Luci!”, aku memang mendengar suara Luno yang memanggilku, tetapi aku menghiraukannya dan segera membayar biaya konsultasi.

Sambil menunggu taksi, kata-kata Luno menghantuiku kembali.

Dalam sebuah mesin, mungkin kita masih bisa mengganti bagian yang rusak dengan onderdil. Tetapi, bagaimana dengan organ manusia? Jumlahnya hanya satu, maka dari itu, segala upaya dilakukan untuk tetap menjaganya supaya tidak semakin parah.

Bukankah itu juga sama dengan bumi ini? Bumi ini hanya satu. Sebelum kerusakan bumi akibat pemanasan global semakin parah, kita harus mencegahnya!

Aku memang seorang insinyur, tetapi memaksa alam bukanlah cara yang tepat. Aku memilih untuk berkawan dengan alam. Tetapi, misi ini tak bisa kujalankan sendiri. Ini membutuhkan kerja sama antar manusia supaya hasilnya signifikan. Itu semua akan dimulai dari… lingkungan tempat tinggalku.

Sore itu, aku mengajak teman dekatku yang bernama Grema untuk makan malam bersama di sebuah warung makan yang letaknya hanya di seberang rumah kami. Grema ini adalah tetanggaku.

“Aseek. Makan gratis.”, ucap pria itu begitu kami duduk pada bangku yang tersedia.

Setelah memesan makanan, aku menceritakan keinginanku untuk mengajak warga di sekitar rumah memulai hidup bersahabat dengan alam.

“Jadi… lu bayarin gue makan, buat nyogok gue?”, tanya Grema, “Gue dukung, cuma gue ogah ikut campur.”.

“Enggak! Bukan begitu.”, jawabku. Aku berkata kepadanya kalau aku hanya memintanya menemaniku ke rumah Ketua RT esok pagi. Aku yang akan menyampaikan sendiri kepada beliau tentang rencanaku ini. Grema pun akhirnya menyanggupi permintaanku.

Setelah itu, esok paginya, ditemani Grema yang menungguku di depan rumah Ketua RT, aku menyampaikan maksud dan tujuanku kepada beliau. Beliau pun menyambut baik keputusanku dan memintaku untuk segera berkoordinasi dengan warga.

Dengan ini, kampanye mengatasi pemanasan global, yang kunamakan Misi ‘Melawan Utopia’, dimulai!

Setelah mengobrol dengan Luno kemarin, aku langsung mencari tahu usaha-usaha yang dapat dilakukan warga untuk memerangi pemanasan global. Pertama-tama yang paling mudah untuk dilakukan adalah mengganti semua lampu dengan lampu LED!

Hari pertama, yaitu hari ini, aku mendatangi setiap rumah warga dan memeriksa jenis lampu yang mereka miliki. Setelah tercatat jumlah lampu yang harus diganti, aku segera pergi ke toko lampu untuk membeli lampu-lampu tersebut, kemudian membagikannya kepada warga.

“BUSET! Banyak amat!”, ucap Grema yang menemaniku berbelanja, “Lu ngerampok apa beli?”.

Aku pun tertawa mendengar ucapannya.

Namun tak berhenti di situ. Selain membeli banyak lampu LED, aku juga membeli beberapa serbet, botol-botol minuman beserta kotak tempat makan, dan tas-tas kain yang berukuran cukup besar. Serbet itu digunakan untuk mengurangi penggunaan tisu, sedangkan botol minuman, kotak tempat makan, dan tas kain digunakan untuk mengurangi penggunaan plastik.

Hari kedua, aku mendata pekerjaan seluruh warga serta lokasi kerja dan sekolah mereka. Begitu juga dengan jam kerja dan jam sekolah mereka. Aku meminta kepada mereka untuk mematikan sebagian listrik yang tidak diperlukan, terutama pada rumah-rumah yang kosong, karena penghuninya sedang bekerja atau bersekolah.

Mereka juga disarankan untuk mencabut benda-benda elektronik yang jarang digunakan. Temperatur untuk penggunaan AC juga disarankan pada suhu di sekitar 25°C.

“Wah, saya pergi pagi buta, pulang petang itu Dik.”, jawab seorang warga ketika aku datang ke rumahnya dan menyampaikan permintaanku.

Bapak itu melanjutkan, “Anu Dik, apa saya titip kunci cadangan saja, biar Adik bisa matikan-“.

“Nggak usah Pak.”, jawabku sambil mengangkat kedua tanganku.

“Bapak berangkat jam berapa biasanya? Saya akan ingatkan nanti sebelum Bapak berangkat.”, lanjutku.

Selain itu, aku juga meminta warga di sini untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

“Tapi kerja saya di luar kota, Neng. Rutenya susah pakai kendaraan umum.”, balas sesosok pemuda ketika aku menghampirinya saat ia akan berangkat kerja dengan mobilnya.

Warga yang memang tidak bisa menghindari kendaraan pribadi karena lokasi kerja dan sekolahnya, masih tetap diperbolehkan menggunakan kendaraannya. Namun, warga yang lokasinya bisa dijangkau oleh kendaraan umum, dianjurkan untuk menggunakan transportasi umum. Beberapa warga yang memang tidak begitu jauh lokasi kerja dan sekolahnya juga bisa menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Karena lingkungan di sini cenderung sepi, jadi aman untuk digunakan bersepeda maupun berjalan kaki.

Lalu, hari ketiga sampai keempat digunakan untuk evaluasi kebijakan sebelumnya. Salah satunya, evaluasi kebijakan untuk menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Para orang tua di sini khawatir kalau anak mereka yang masih SD harus berjalan kaki ke sekolahnya sendiri. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengantar anak-anak mereka. Kebetulan tujuan anak-anak mereka satu arah.

Saat aku pulang dari mengantar anak-anak, aku bertemu dengan Grema di sebuah warung soto.

“Eh buseet! Lu habis dari mana pagi-pagi gini geh?”, tanya Grema.

Aku pun memesan sarapan, kemudian mengambil bangku di sebelah Grema.

Setelah mengatur napasku yang terengah-engah, aku menjawabnya, “Habis nganter anak-anak sekolah-”.

“Anak siapa? Anak kita?”, celetuk Grema.

“Pff. Bukaan!”, jawabku.

Kemudian, akhirnya sampailah di hari kelima. Pada hari ini, aku menyelenggarakan sebuah acara bersama warga di sebuah lahan yang berdekatan dengan danau. Karena hari ini hari libur, jadi banyak warga yang berpartisipasi dalam acara ini.

Acara ini dimulai dengan pemberian arahan kepada warga tentang daur ulang barang-barang yang sudah tidak terpakai. Setelah itu, kami bersama-sama melakukan penanaman pohon di lahan ini.

Lahan ini sebenarnya lahan milik orang. Tetapi, aku sudah menghubungi pemilik lahan dan meminta izin kepada beliau untuk menanam bibit-bibit pohon di lahan ini.

“Terus, pemiliknya bolehin aja, gitu?”, tanya Grema setelah aku menceritakan hal-hal yang telah kulakukan beberapa hari ini.

“Iya!”, jawabku.

Sambil kami menanam bibit-bibit pohon, aku melanjutkan ceritaku kepada Grema tentang rencanaku kedepannya.

Setelah hari kelima ini, aku berencana untuk meminta warga menyediakan lahan kecil di rumahnya untuk menumbuhkan berbagai tanaman yang dapat dikonsumsi. Selain itu, warga juga akan diajarkan teknik pengomposan dari sisa makanan dan sampah-sampah organik.

Di samping itu, ada beberapa hal yang ingin kuterapkan, tetapi mungkin tidak bisa dalam jangka pendek. Pertama, penerapan penggunaan energi matahari. Akan tetapi, fokus utama bukan pada rumah-rumah warga, melainkan ke fasilitas umum seperti lampu jalan yang mana biayanya dapat dimasukkan dalam anggaran pemerintah. Kemudian, barang-barang yang lama, termasuk mesin-mesin juga seharusnya diperbarui, khususnya yang sudah sering rusak. Hal ini karena barang-barang tersebut lebih boros dari barang yang baru. Terakhir, yang mungkin paling susah untuk dikerjakan adalah mengaplikasikan green building. Namun, cara ini hanya digunakan untuk warga yang memiliki rencana renovasi atau membangun sebuah rumah yang baru.

Setelah mendengar rencanaku kedepannya, Grema berkata, “Rencana lo bagus sih, tapi-“.

“Anu.. Maaf Mbak Luci…”, tiba-tiba seorang warga datang menghampiriku.

Ia mengingatkanku bahwa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Karena aku sudah berjanji kepada warga untuk menyelesaikan acara ini sebelum tengah hari, aku memutuskan untuk mengakhirinya sekarang.

“Gue ikutan cabut ya.”, ucap Grema setelah aku mengakhiri acara. “Sorry banget, gue mulai sibuk ini.”.

Sebelum Grema pergi, aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah membantuku selama ini. Ia membalasku dengan mengacungkan jempolnya.

Grema menjadi orang terakhir yang pergi dari tempat acara. Tempat ini sekarang kosong, hanya tinggal aku sendiri. Tak perlu banyak waktu untuk beres-beres sebenarnya, karena barang-barang yang digunakan tidak banyak, hanya peralatan untuk menanam pohon dan beberapa barang contoh produk daur ulang.

Walaupun begitu, masih ada beberapa bibit pohon yang belum tertanam. Aku memutuskan untuk menyelesaikan penanaman bibit-bibit tersebut dahulu, sebelum berberes.

Ketika aku baru menanam satu bibit pohon, tiba-tiba suara yang tak asing memanggilku, “Oi! Luci!”.

Suara itu berasal dari… Jake. Ia datang menemuiku. Dia bilang dia tahu aku berada di sini dari Grema.

Kemudian, Jake duduk berjongkok di bawah pohon rindang yang berada tak jauh dariku.

“Lu ngapain aja sih. Cuti ga balik-balik.”, ungkapnya dengan nada jengkel.

Setelah mengusap keringat di keningku, aku menceritakan kepada Jake apa yang telah terjadi sampai sekarang.

Setelah itu, ia pun mengernyitkan alisnya. “Terus, lo langsung percaya aja gitu, sama yang namanya global warming?”, tanyanya dengan nada tidak percaya. Tak berselang lama, tawanya menggema di tempat ini.

“Hadeeh. Khayal itu mah.”, ucapnya.

Sambil meneruskan menanam bibit, aku mendengar Jake berkata, “Gue jadi inget, film-film kiamat distopia futuristik gitu.”.

Tawanya kembali terdengar sebentar, kemudian ia melanjutkan, “Itu kan cuma karangan doang, cuy. Ga logis!”.

Memang benar, beberapa cerita tersebut tidak logis, tetapi, “Bukankah itu semua media untuk menyampaikan suara pembuatnya? Bahwa menjaga lingkungan itu penting?”, tanyaku.

“Masalahnya gini, kalau lo masih anak kecil, mungkin lo bisa terpengaruh sama film-film kek gitu.”, jawabnya.

Jake berkata, ketika anak kecil itu telah tumbuh menjadi dewasa, belum tentu cerita seperti itu mempengaruhi mereka. Itu karena, orang dewasa telah memiliki kepercayaan dan ideologinya masing-masing. Tidak mudah untuk mengubah cara pandang mereka.

“Gini nih, kek gue. Gue lihat film, baca komik, baca cerita, cuma buat hiburan aja, coy!”, lanjut Jake, “Udah pecah pala gue sama kerjaan gue. Ngitung teros.”.

Aku pun menghela napas panjang. Setelah itu, aku baru membalasnya, “Bagaimana dengan jurnal-jurnal dan banyak penelitian yang mengkaji tentang pemanasan global?”.

“Ya… tiap orang kan punya kepercayaannya masing-masing.”, jawab Jake.

Jake berkata bahwa manusia itu berpegang teguh dengan hal yang dipercayainya. Mereka pasti akan membuktikan kepercayaannya dengan mengaitkan hal apapun itu yang membenarkannya.

Aku setuju dengan sebagian pernyataan Jake. Termasuk yang baru saja dikatakannya, karena contoh itu adalah dirinya sendiri. Tak ada gunanya aku berdebat dengan Jake. Karena kepercayaan kita berbeda, dia akan terus menyangkalnya.

Setelah menyiram bibit ini dengan air, aku kembali mengambil bibit lainnya.

Saat aku kembali dan meletakkan bibit yang baru, sebuah bayangan tiba-tiba menutupi bibit tersebut. Sebuah suara terdengar setelahnya, “Tapi… lu emang kuat di luar panas-panas gini?”, tanya Jake.

Jake pun melanjutkan, “Di kantor aja lu harus sedia kipas angin atau AC-“.

“Kuat kok!”, tanpa sengaja aku menjawab Jake dengan nada marah.

Ah..! Aku yang tersadar dengan perbuatanku barusan, langsung bangkit dan menunduk, lalu meminta maaf kepada Jake.

Aku tahu, Jake memang menyebalkan. Ditambah, saat ini, aku sudah merasa lapar dan pusing. Tapi… perbuatanku barusan itu salah. Seharusnya, aku bisa menahan emosiku.

Pasti tadi Jake terhentak. Bagaimana… kalau setelah ini, aku dan dia akan menjadi canggung-

“Santai. Gue cuma kuatir sama elu.”, jawab Jake dengan suara yang lebih halus.

Ia lalu bertanya kepadaku tentang masa cutiku. Aku menjawabnya bahwa aku izin selama sebulan. Perusahaan sudah mengetahui tentang ajakan Proyek Utopia yang ditujukan kepadaku. Karena itu, aku meminta waktu untuk memikirkannya. Aku juga meminta kepada perusahaan untuk tidak membayar gajiku sama sekali untuk bulan ini… dan bulan depan, jika aku masih bekerja di sana. Itu karena… aku tidak nyaman jika harus menerima uang tersebut.

Dengan suara membentak, Jake berkata, “Lu gila?! Ini manfaatnya buat elu apaan sih?!”.

“Duit kaga, capek iya, buang-buang tenaga iya. Kalau emang lu gamau gabung sama tu organisasi, balik aja dah!”, sambung Jake.

Tiba-tiba nada bicaranya berubah, “Anak-anak tuh, kangen sama elu.”.

Suaranya kini terdengar lebih halus dan lirih, “Ruangan gue… juga jadi sepi-”.

“Jadi ‘sepi’..?”, kodeku sambil menahan tawa.

Jake menatapku sebentar dengan tanya. Aku menunjuk sarung tanganku sebagai kode tambahan.

“IYAAA!! GUAA BALIKIIN SARUNG TANGAN ELUUU!!”, teriak Jake.

Setelah itu, Jake berpamitan kepadaku. Sebelum ia pergi, ia berpesan, “Inget ye. Jangan sok kuat. Lu kan lemah.”.

Yang dikatakan Jake memang benar. Aku… memang lemah. Tetapi, beberapa tahun kemudian, setelah hari itu, bumi menjadi lebih hijau. Semangat hijau itu akhirnya tersebar. Orang-orang akhirnya mau menjaga bumi. Proyek Utopia dibubarkan. Lalu-

Ah! Tiba-tiba sebuah tangan kecil menggandeng tangan kiriku. Anak kecil yang berada di sampingku ini tersenyum kepadaku. Seakan, Lulu mengatakan bahwa ia bahagia dengan ini semua. Setelah itu, semua orang hidup bahagia selamanya.

“Tamat.”, ucapku mengakhiri gambaranku tentang masa depan. Pria yang ada di depanku ini hanya menampakkan senyum hangatnya sedari tadi, sambil mendengarkan celotehanku.

Setelah Jake pulang, beberapa saat kemudian, Luno datang untuk membantuku menanam bibit yang tersisa. Berkat Luno kini hanya tinggal satu bibit lagi yang harus ditanam-

“Oh iya, Luci! Aku mau ngomong sesuatu.”, ucap Luno tiba-tiba.

“…”, ia terdiam beberapa saat.

“Tunggu… anak yang namanya Lulu itu siapa..?”, tanyanya.

Aku terdiam mendengar pertanyaanya. Jantungku berdebar kencang, napasku menjadi semakin cepat.

“Luci, mukamu merah.”, ucap Luno.

“Ah.. Anu… aku ambil bibit dulu.”, aku langsung mencari alasan untuk segera pergi dari Luno, sebelum aku tenggelam dalam rasa malu.

Aku berjalan menuju bibit terakhir yang belum kutanam. Tetapi, kepalaku mulai terasa semakin pusing. Badanku juga terasa lemas. Sepertinya, ini karena aku menunda makan siang terlalu lama.

Tetapi, aku harus menahannya sedikit lagi. Karena aku yakin… sebentar lagi… masa depan akan seperti yang kugambarkan.

Bibit terakhir ini… adalah salah satu kuncinya menuju masa depan yang cerah. Masa depan… dimana manusia berkawan dengan alam… dan Proyek Utopia dibubarkan-

“LUCI!”

Luno tiba-tiba berteriak, sekejap kemudian ia sudah merangkulku dari samping.

Anehnya, Luno membawaku menjauhi bibit tersebut. Jauh… dan semakin jauh.

Luno mebawaku sampai ke sebuah pohon yang rindang. Setelah itu, Luno membaringkan tubuhku di bawah pohon tersebut dan melepas sarung tangan serta sepatuku. Kemudian, ia pergi meninggalkanku.

Tak berselang lama, Luno kembali dan aku mulai tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi. Yang aku tahu hanyalah Luno pergi ke sana-kemari dan badanku mulai terasa dingin di beberapa bagian.

Aku mencoba bertanya kepadanya, “Lu.. no..?”, namun suaraku terdengar sangat lemah.

Luno hanya membalasku dengan senyum khasnya sambil menggenggam tanganku yang terkulai. Namun, tangan Luno terasa dingin… seperti karet. Sekejap kemudian, wajahnya kembali menjadi serius dan rasa dingin itu lenyap dari tanganku.

Beberapa saat kemudian, yang aku tahu, aku sudah berada di sebuah rumah sakit besar di kota ini.

Luno yang menungguku, berpesan kepadaku, “Kamu istirahat dulu ya beberapa hari di sini.”.

“Tapi… aku mau istirahat di rumah.”, rengekku.

Luno pun menghela napas panjang, “Yang kamu maksud rumah itu, ‘rumah’, kan?”, tanyanya.

Luno menjelaskan kepadaku bahwa aku terkena sengatan panas. Katanya, kondisi tubuhku sedang diperiksa saat ini. Jika pemeriksaan telah usai dan aku dinyatakan baik-baik saja, aku baru boleh pulang.

“Syukur sih, aku sudah menyiapkan pertolongan pertama di mobilku, sebelum berangkat tadi siang.”, jelas Luno.

“…”

“Luno..”, aku memanggil Luno sambil sedikit menarik lengan bajunya, “Apakah warga tahu tentang kondisiku sekarang?”, tanyaku.

Luno terdiam beberapa saat, kemudian membalasku, “Kayaknya… enggak.”.

Mendengar jawaban Luno, membuatku sangat lega. Itu karena, jika warga desa tahu tentang kondisiku, aku tak tahu akan menjadi seperti apa Misi Melawan Utopia ini. Kemungkinan besar, misi ini akan gagal, karena mereka akan merasa berat hati denganku.

Akhirnya, selama beberapa hari ini, aku dirawat di rumah sakit. Misi Melawan Utopia sementara aku serahkan kepada Grema. Karena ia mulai sibuk dengan pekerjaannya, aku hanya memintanya untuk memantau warga. Tak lupa, aku memintanya menanam bibit terakhir yang belum sempat tertanam dan membereskan peralatan di sana.

Tiga hari kemudian, aku dinyatakan dalam kondisi baik oleh dokter yang menanganiku. Itu artinya, Misi Melawan Utopia kembali berlanjut…

…atau tidak.

Saat aku sampai di rumah, Ketua RT tiba-tiba menemuiku dan memberitahuku tentang sebuah kabar yang tidak menyenangkan.

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya, Mbak Luci. Saya banyak mendapat laporan dari warga atas kampanye Mbak kemarin.”, ucap Ketua RT.

Ternyata, warga keberatan dengan kebijakan-kebijakan yang telah kubuat. Karena itu, Ketua RT akhirnya menghentikan kampanye ini.

“Teman dekat Mbak juga sudah setuju dengan ini.”, lanjut beliau.

Teman dekat..? Jangan-jangan itu…

Setelah Ketua RT pamit, aku langsung pergi ke rumah Grema. Aku melihatnya sedang merokok di atas motornya.

“Grema!”, aku memanggilnya dengan nada kesal sambil mendekatinya. Setelah itu, aku mulai memarahinya.

Bisa-bisanya Grema setuju untuk menghentikan kampanye ini. Setidaknya Misi Melawan Utopia masih bisa berlanjut dengan menyesuaikan beberapa kebijakan. Kalau diberhentikan begini, bukankah semuanya menjadi-

“Sia-sia.”, jawab Grema setelah menyebul asap rokoknya.

Aku yang tidak kuat dengan bau asapnya pun terbatuk-batuk.

“Ah, sorry.”, ucapnya lalu mematikan rokok miliknya.

“Gini, menurut gue ini semua sia-sia.”, jelas Grema.

Ia berkata, ia yang memohon Ketua RT sendiri untuk datang ke rumahku dan menyampaikan secara langsung tentang penghentian kampanye milikku.

“Gue sering denger warga nyacat elu sama tu kampanye.”, lanjut Grema.

Grema berkata, setiap malam, saat ia nongkrong bersama warga, ia sering mendengar percakapan mereka. Dari situ, ia mengetahui kalau tak banyak dari warga yang paham dengan pemanasan global. Sekalipun mereka paham, sebagian dari mereka memiliki alasan tersendiri kenapa mereka tidak melakukannya.

Grema juga berkata, selama aku tidak ada, warga tidak menjalankan kebijakan tersebut. Mereka hanya akan menjalankan kebijakan itu saat aku hadir untuk ‘mengawasi’ mereka.

“Emang lu mau selamanya jadi pengawas mereka?”, tegas Grema.

Grema pun mengenakan helmnya, “Menurut gue, selama ini lu cuma buang-buang tenaga sama duit.”.

“Mending urusin idup lu sendiri. Kerja lagi sono.”, pesannya sebelum ia pergi.

Kata-kata Grema barusan… membuatku tersadar akan sesuatu.

Kurasa, hatiku kembali sakit. Salah satu obat yang bisa menyembuhkannya adalah, dengan konsultasi kepada’nya’.

“Pak Dokter sibuk, kah? Mau konsul :(.”, pesanku kepada Luno.

Namun… pesanku itu tak kunjung dibalas olehnya. Bahkan, sampai larut malam, balasan darinya tak kunjung datang.

Akan tetapi, tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari arah pintu.

Luno… ia tampak berdiri di balik pintu dengan napas yang terengah-engah.

Melihat itu, aku baru menyadari sesuatu. Aku… adalah orang yang egois, karena aku tak memikirkan kondisi Luno yang lelah.

“A-aku udah baikan kok Luno.”, ucapku.

Aku pun menundukkan kepalaku, “Maaf ya… merepotkan Luno.”.

Masih dengan napasnya yang ngos-ngosan, Luno membalas, “Gitu ya.”.

Tiba-tiba, tubuhku tertarik ke depan. Luno memelukku.

“Maaf ya, kamu nunggu lama.”, suaranya terdengar lirih dan menenangkan, “Aku yang salah.”.

Sekejap, napasku pun menjadi sesak. Suara isakan pun keluar dari mulutku. Kedua pipiku menjadi basah. Aku… tak bisa menyembunyikan rasa sedihku lebih lama lagi.

Sebagai insinyur… aku merasa bersalah kepada bumi ini. Aku merasa seperti bertanggung jawab atas kerusakan alam. Akan tetapi, walaupun aku berusaha untuk mengadakan perbaikan, usaha yang kulakukan, semuanya sia-sia.

Itu karena… semua ini diperlukan kerja sama, sedangkan aku…

Kata-kata pengurus Proyek Utopia, Jake, dan Grema pun terbesit dalam pikiranku.

Aku… tak berdaya… untuk mengubah manusia.

Beberapa saat kemudian, setelah aku lebih tenang, kami duduk berdua di teras rumah. Kemudian, sesi ‘konsultasi’ pun dimulai.

Setelah aku menceritakan kepada Luno tentang hal yang mengganggu pikiranku, Luno menjawab, “Yang penting… dimulai dari diri sendiri, kan?”.

Luno berkata, dengan memulai dari diri kita sendiri, yang lain akan turut mencontohnya.

Selain itu, ada hal lain yang perlu dibicarakan Luno. Sebenarnya, sewaktu aku terakhir konsultasi dengan Luno di rumah sakit, masih ada yang ingin disampaikan Luno, tetapi aku buru-buru pergi saat itu.

“Aku mau membahas soal perkembangan teknologi.”, jelas Luno.

Menurut Luno, memang, perkembangan teknologi itu dapat memberikan dampak yang buruk. Akan tetapi, perkembangan teknologi itu tak sepenuhnya buruk. Bahkan, mungkin ada yang dampak buruknya sangat kecil, sehingga penggunaannya lebih aman.

“Otak manusia itu ada batasnya.”, kedua mata Luno kini menatapku, “Asal niatnya baik dan berusaha semaksimalnya, Tuhan pasti akan memberi hasil yang terbaik, kan?”, tanyanya.

Luno pun melanjutkan, “Coba, bayangin deh, kamu ingat diabetes tipe dua, kan?”.

Ia berkata, mungkin di masa depan nanti, akan ada cadangan untuk organ-organ yang telah mengalami kerusakan.

“Ah iya!”, sahutku.

“Tetapi, material yang dibutuhkan harus aman untuk manusia dan tahan lama. Selain itu, mungkin sebelum mengimplementasikan material itu, kita harus merencanakan daur ulang dari material tersebut dan keamanannya bagi lingkungan-”

“Ah…!“, tiba-tiba aku tersadar bahwa aku telah masuk ke dalam duniaku sendiri, sedangkan Luno hanya terdiam menatapku sambil tersenyum.

“Maaf…”, ungkapku sambil menunduk.

“Pff. Kamu tuh kalau memang suka desain, kenapa kamu nggak terima saja ajakan Proyek Utopia?”, tanyanya.

Aku pun membalas, “Tapi, organisasi tersebut-”

“Luci yang Luno kenal itu… orang yang sensitif, yang memikirkan sesuatu sampai detil.”, ucap Luno.

“Aku yakin, itu alasannya kenapa Luci diundang Proyek Utopia. Karena Luci bisa menyelamatkan mereka dari kegagalan fatal.”, lanjut Luno, diakhiri oleh senyum khasnya.

“…”, aku terdiam. Kata-kata Luno barusan, telah membuka pikiranku.

Selain itu, ucapannya itu, bisa mengobati hatiku, dan menambah kekagumanku kepadanya, “Luno itu… memang keren-”.

“Iya iyaa, Luno memang keren. Luno memang hebat.”, sahutnya disertai senyum percaya diri.

“Pfff.”, aku tak bisa menahan tawaku melihat Luno yang seperti itu.

Esok paginya, aku menerima pesan dari Luno, “Semangat yak 🙂 Maapin, ku sibuk banget seharian ini :’(.”.

Semangat juga Luno… dan terima kasih untuk semuanya. Karena Luno, aku sudah menentukan keputusanku.

Aku mencari sebuah nomor telpon yang tak bernama, yang menghubungiku sekitar seminggu yang lalu. Kemudian, setelah tersambung, aku pun berkata, “Selamat pagi, ini dengan Nona Luci.”.

Dengan ini, keputusanku sudah bulat, “Saya, telah memutuskan… untuk bergabung dengan Proyek Utopia.”, tegasku.

Karena aku adalah seorang insinyur, tugasku bukan untuk mengubah manusia, tetapi untuk melayani mereka… dan membuat perkembangan teknologi dapat berkawan dengan alam.

Ini usahaku sebagai insinyur untuk bumi ini, bagaimana dengan usahamu?

3 thoughts on “Cerpen #114: “MELAWAN UTOPIA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *