Cerpen #113: “Langit Memerah di Atas Hutan Jati”

Desaku sangat pelosok. Bayangkan, letaknya hampir dua puluh satu kilo dari kota kabupaten. Untuk sampai ke desaku harus melewati jalan pegunungan yang naik turun, belum lagi harus masuk jalan lintas yang panjang sekali, yang baru saja dibangun pemerintah dengan mengor bankan puluhan hektar kebun dan sawah para petani. Untuk sampai ke desaku juga harus melewati tiga hutan jati. Bayangkan, setiap hutannya ribuan hektar luasnya, dengan pohon jati yang nampak sangat tinggi dan angkuh, juga daun-daun jatinya yang lebat, lebar, dan tentu saja gatal bila terkena kulit. Bulu-bulu lembut dari daun jati sangat kuhapal rasanya bila terkena tanganku, atau lidahku, saat membeli pecel di Mbah Rus. Ya ya, satu-satunya alat pembungkus di desaku ya daun pohon jati itu.

Aku sendiri baru sekitar tiga bulanan bersama istriku Neng Ramisah dan anakku yang masih balita Romli pindah ke desa itu. Juragan tempat aku ngamplas selama ini memindahkan aku ke desa Itu. Kaji Toifur, pemilik perusahaan mebel yang kuikuti itu membuka cabang di jalan yang menuju desa itu. Karena satu-satunya perkampungan penduduk ada di desa itu, maka aku dan keluargaku harus pindah ke desa baru kami tersebut.

“Kalau mau tetap ngamplas di tempatku ya, pindah. Kalau nggak mau ya terserah kamu,” kata Kaji Toifur saat itu. Aku hanya diam mengiyakan. Mau protes? Mana aku berani? Aku hanya seorang tukang amplas yang setiap harinya biasa dimaki-maki. Ya, sebenarnya itu hal biasa di kotaku. Bukankah sebagian upah yang diberikan majikan kepada buruhnya sudah termasuk upahnya untuk dimaki-maki?

Karena itulah, hanya demi alasan mempertahankan hidup, kuboyong anak dan istriku dari rumah mertuaku ke desa Itu. Dengar-dengar, di perusahaannya yang di kota kabupaten, Kaji Toifur bekerjasama dengan orang Amerika. Dan “londo” itu menolak mempekerjakan buruh untuk mengamplas mebel. Katanya semuanya memakai mesin amplas, yang bunyinya bisa memekakkan telinga mereka yang tak biasa mendengar. Dan hasil kerja sama dengan orang asing Itu sebagian dibelikan Kaji Toifur gudang, atau kami biasa menyebutnya Brak di desa baruku itu. Karena di desa itu belum ada listrik, maka Kaji Toifur masih memerlukan tenaga tukang amplas sepertiku. Dan entah aku tak tahu bagaimana nasibku, apabila listrik sudah ada di desaku.

Sebagai seorang tukang amplas, hampir dipastikan aku jarang bicara. Bagaimana bisa bicara, dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore aku harus memakai penutup mulut yang mirip dengan Pak Dokter saat mengoperasi. Orang-orang menyebutnya masker. Karena jika tidak, dada ini semakin sesak, terkena debu dan kayu yang aku amplas. Sembilan jam aku jarang bicara sepanjang harinya. Jadinya saat sampai di rumah dengan  tubuh yang lelah, aku pun jadi enggan bicara dengan Neng Ramisah maupun Romli.

Karena desaku dikelilingi oleh hutan, maka orang-orang di desaku menjadi terbiasa melihat binatang buas. Salah satunya dengan jumlah yang sangat banyak adalah harimau loreng. Kalau ada yang menyatakan bahwa populasi harimau sudah hampir punah di Indonesia, maka orang-orang desaku tak ada satu pun yang percaya. Sebab hampir setiap saat kami bisa melihat sendiri bahwa jumlah mereka di hutan desaku masih sangat banyak. Setiap hari kami bisa saja berpapasan dengan mereka. Karena sering pada waktu siang atau malam mereka dengan santainya berlenggang masuk ke desa. Dan tradisi di masyarakat kami menunjukkan, harimau adalah simbol kemakmuran dan penjaga hutan yang menyediakan air dan udara segar bagi kehidupan masyarakat.

Pertama kali melihat harimau, aku takut bukan kepalang. Toh aku diam saja, tak bersuara sedikit pun. Dengan sesama manusia saja aku jarang bicara, apalagi dengan harimau yang jelas-jelas adalah binatang buas.

Suatu malam, saat aku sedang duduk di depan rumahku, sembari menikmati malam yang sedemikian sunyi dan nglangut, ditambah dengan suara daun-daun jati dari arah hutan yang berdesir, macam sebuah nyanyian. Tiba-tiba seekor haimau, melintas. Aku bergidik, tapi aku diam saja. Sedikit demi sedikit, harimau itu mendekati balai tempatku bersila. Ia melangkah pelan, dan berhenti tepat di depanku. Toh aku pun tak mengeluarkan suara sedikit pun. Aku hanya diam, karena memang hal itu yang sekarang aku bisa. Aku hanya menikmati pemandangan menakjubkan yang saat itu ada di depan mataku.

Berbeda dengan harimau loreng yang biasa aku lihat, harimau di depanku itu tampak lebih besar, lebih gagah, dengan sorot mata yang entah, rasanya sorot mata binatang itu tampak lain. Tiba-tiba ia bersimpuh di ujung kakiku. Lagi-lagi, aku hanya diam. Menikmati semua itu dalam kediamanku, tiba-tiba Neng Ramisah membuka pintu depan, dan ia menjerit kaget. Melihat Neng Ramisah, harimau itu pergi, menjauhiku.

“Oalah, Pak, kamu ini gimana sih? Lha wong ada harimau kok malah diam. Bersuara sedikit, dia pasti pergi, Pak.”

“Biarkan,” jawabku singkat.

“Tapi dia itu harimau Pak, kalau Bapak tiba-tiba dimakan ya, aduuuh…,” Neng Ramisah terus saja menyesali kediamanku.

Aku diam saja. Rasanya enggan sekali untuk bicara. Toh harimau itu nyatanya juga tidak menerkamku.

Malam harinya, entah karena aku masih terbawa dengan harimau yang baru tadi bersimpuh di kakiku, aku sepertinya bermimpi bertemu dengannya. Kukatakan sepertinya bermimpi, karena harimau itu sepertinya sangat jelas berdiri di sebelah balai-balaiku. Aku terkejut bukan kepalang, tapi toh aku hanya diam saja.

Tiba-tiba ia bicara, “Kenapa kau tak pemah bicara?” tanyanya dengan suara berat. Sungguh, aku sangat terperangah.

“Kalau kau diam terus, dari mana kita bisa bicara? Ayo, bicaralah. Bicara apa saja. Aku gemas melihatmu yang hanya selalu diam. Bisa-bisa aku menerkammu, karena tak pernah mengeluarkan suara sama sekali. Seperti kursi, almari, bufet, yang selalu kamu amplas setiap harinya. Benda mati!”

Aku menghela napas. “Asal kau tahu harimau, pembicaraan yang berlebihan, kebanyakan justru akan merugikan orang lain,” batinku dalam hati..

“Maaf, bukannya aku tak mau bicara. Tapi apa yang ingin kubicarakan, sepertinya sudah dibicarakan orang lain, banyak orang. Aku cukup jadi pendengar saja. Toh sembilan jam aku ngamplas dengan mulut disumbat, bagaimana mau bicara banyak?” Kali ini aku keluarkan suaraku, meski sangat lirih.

“Nah, kau sudah mulai bicara sekarang. Yah, kau harus bicara. Bicara tentang  tenagamu yang tak sebanding dengan gaji yang kamu dapatkan. Ayo bicara pada juraganmu! Bicara juga kalau makian-demi makiannya itu telah merendahkan harga dirimu sebagai manusia. Juga bicara bahwa ia telah menumpuk kekayaan Iewat container demi containernya, sedangkan kamu tetap melarat seperti ini.”

“Kalau aku bicara, dengan mudah mesin amplas akan menggantikan aku. Dan mau kukasih makan apa anak dan istriku?”

Harimau itu tertawa. Giginya yang besar dan tajam terlihat. Tapi aku biasa saja menatapnya. Tak terbersit rasa takut sedikitpun seandainya gigi-gigi itu melumat kepalaku.

“Makanya, belajarlah untuk bicara, bicara apa saja. Dengan banyak bicara, kau bisa meraih banyak pula keuntungan. Tukang seminar, penyiar, provokator, penipu, politikus… ”

“Huz, sudahlah, kau jangan paksa aku untuk bicara. Lalu kenapa kau menemui aku?”

“Karena kau tak suka bicara. Padahal sebenarnya kau orang pintar.  Orang lain pasti akan bangga dan bicara kemana-mana. Tak pernah ku temui orang seperti dirimu ini. Dan kau beda. Besok aku ke sini lagi. Ingat, bicaralah apa saja, agar kau tak menyesal suatu saat karena tak suka bicara.” Lalu harimau itu berkelebat pergi. Aku tergagap. Bagai mimpi saja rasanya. Tapi mengapa terasa nyata? Ah, entahlah. Kembali kubaringkan tubuhku. Di luar terdengar suara kesiur angin mempermainkan daun-daun jati. Srek srek… Bunyinya seperti mengiris-iris hatiku.

Esok malamnya, saat aku berbaring di balai-balai, kembali harimau itu datang lagi. Aku juga Iagi-lagi tak jelas, apakah aku bermimpi atau tidak. Sepertinya sangat jelas di depan mata.

“Aku datang lagi. Aku hanya ingin meyakinkan padamu, bahwa kau harus banyak bicara. Setidaknya agar kau tampak pintar, hingga tak mudah diinjak-injak.”

Aku diam saja.

“Aku heran denganmu. Sebenarnya banyak hal yang kau ketahui, tapi kau selalu diam saja. Kau tahu kan, salah satu hal yang bisa memperburuk keadaan adalah ketika kita mengambil sikap berdiam diri?”

Aku tetap diam saja. Mencoba mencerna kata-kata sang Harimau.

“Aku hanya ingin mengingatkan kau dan seluruh warga kampungmu ini, mereka dengan sesuka hati menebang pohon-pohon jati tempat tinggalku dan kawan-kawanku. Kalian sadar tidak? Tempat tinggal kami semakin sempit, dan bahaya sedang mengancam kalian semua.”

Aku terperangah. “Bahaya?”

Harimau itu tertawa sinis. “Kalian sedang diancam bencana besar. Sebentar lagi hutan tempat tinggalku akan terbakar. Kamu tahu kan, sisa ranting dan dahan yang ditinggal seenaknya setelah kalian menebangi pohon-pohon itu membuat kebakaran meluas dengan cepat dan tidak terkontrol. Besarnya api pada kebakaran hutan diperparah dengan embusan angin yang bisa memusnahkan lahan dan hewan di dalamnya dalam hitungan menit. Dan si jago merah akan merembet di kampungmu ini. Semua akan habis tak tersisa… Hahaha…”

Aku bergidik mendengarnya. “Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Kamu itu sebenarnya tahu. Tapi mulutmu telah disumbat oleh masker dan debu kayu amplasanmu itu. Hai kamu itu tahu kan, terdapat dua macam penyebab kebakaran hutan, yaitu akibat ulah manusia serakah seperti kalian itu, dan kejadian alam. Sebesar 90 persen kebakaran disebabkan oleh ulah manusia. Bilang sama bosmu dan orang-orang asing itu, berhenti menebangi pohon dengan liar. Ulah mereka yang serakah itu mengancam hidup mereka sendiri.”

“Tapi mana aku berani?”

“Itulah kau, benar kan aku bilang, mulutmu sudah disumbat debu-debu kayu amplasanmu yang membuat udara kotor dan membuat dada sesak dan otak membusuk!”

Kemudian harimau itu pun berkelebat pergi.

Esok malamnya ia pun datang lagi, datang lagi, sampai hampir setiap malam harimau itu mengunjungiku. Sampai suatu malam, rumahku didatangi puluhan orang. Kutahu semuanya adalah warga desaku. Mereka berteriak-teriak menyuruhku keluar. Di dalam, aku hanya diam saja, tak tahu apa maksud mereka, sedang Neng Ramisah dan Romli menangis menjerit-njerit. Mereka kemudian dengan paksa masuk ke dalam rumahku. Lalu dengan kasar menyeret aku keluar.

“Ayo ngaku, kamu ini dukun santet, kan?” tanya mereka kasar.

“Ngaku sajalah, kamu ini harimau jadi-jadian, yang setiap malam keluar dari rumahmu, keliling desa, lantas menyebarkan penyakit. Ayo ngaku nggak?!” kata yang lainnya lagi sembari menempeleng mulutku, menghajar tubuhku, dan menginjak-injak kepalaku.

Saat itu aku ingin sekali bicara, menjelaskan kepada mereka, apa yang sebenarnya terjadi, dari mana harimau yang setiap malam mengunjungiku. Tapi entahlah aku juga cuma diam saja. Sampai kemudian mereka terus menghajarku, aku juga tetap diam saja.

Di tengah kucuran darah di sekujur tubuhku, kulihat mereka menyeret Neng Ramisah dan Romli yang menangis menjerit-jerit.

“Bakar! Bakar saja ketiganya!” teriak mereka bersaut-sautan.

“Tidaaaaaakkkkkk!” aku menjerit. Mereka semua terdiam. Saat itu aku teringat sosoknya, sang Harimau. Ya, mulai sekarang aku harus bucara.

“Dengar semuanya, kampung kita sebentar lagi akan tertimpa bencana. Langit menerah di atas hutan jati yang mengelilingi kampung kita ini. Dan kita semua akan terkena bahaya! Sebentar lagi hutan jati kita ini akan terbakar! Semuanya karena kita telah menjadi manusia serakah. Memotong pohon dengan membabi buta. Hentikan semua ini. Hentikan!” teriakku

Orang-orang yang mendengar kata-kataku, malah tertawa terbahak-bahak.

“Hai bodoh, sejak kapan kau pandai bicara? Sejak jadi harimau jadi-jadian ya?”

“Sejak dulu kita di sini sudah menebang pohon di hutan jati itu. Karena itu milik alam. Kita bebas menggunakannya!” sambung yang lain.

Aku semakin berteriak. “Benar, itu milik alam. Karena itu harus kita jaga sebaik-baiknya. Bukan kita saja yang berhak menggunakan kekayaan alam. Ada makhluk lain di sekitar kita yang butuh makanan, butuh tempat tinggal, butuh berkembang biak!”

Mendengarku, mereka tambah bersahut-sahutan menghinaku.

Aku sudah lelah, teriakanku tak mereka dengarkan. Melihatku terduduk lemas, satu-persatu meninggalkan halaman rumahku.

Pagi harinya, seusai subuh, kubawa istri dan anakku meninggalkan desa itu. Kami akan kembali ke rumah orang tua istriku. Tekadku sudah bulat, aku akan kembali mengajar di pondok pesantren orang tua Neng Ramisah. Kami harus secepatnya keluar dari desa itu. Bukan hanya aku memang harus menata kehidupan yang baru. Tapi kata-kata sang Harimau terus melekat di kepalaku. Aku harus menyelamatkan buah hatiku.

Setelah naik mobil angkutan berupa mobil bak terbuka, kami sampai di ujung desa. Tiba-tiba, orang-orang yang semobil dengan kami berteriak. Dari kejauhan, kami melihat langit di atas desa kami berwarna merah membara.

“Hutan jati dan kampung di sekitarnya terbakar!” teriak mereka.

Aku bergidik. Dari kejauhan, kulihat langit desaku dipenuhi warna merah membara.

“Neng, hutan dan kampung kita terbakar,” kataku lirih pada Neng Ramisah yang terkantuk-kantuk sambil memangku Romli.

Neng Ramisah memegang lenganku kuat, air matanya berjatuhan di lengan bajuku.

“Semoga mereka semua selamat…,” kata Neng Ramisah lirih.

Aku menghela napas panjang. Entahlah, yang ada di benakku justru sang Harimau yang terus berputar-putar di kepala.

Sementara, mobil bak terbuka yang membawa kami terus melaju. Dari jauh kutatap langit memerah di atas desaku. Aku berdoa lirih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *