Cerpen #112: “100 Tahun Lagi, Jangan Berubah”

Kicau burung dan suara ayam berkokok membangunkanku, semburat matahari juga tak ingin kalah menyelinap dari celah jendela kayu yang sudah mulai keropos. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, saatnya aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Oh iya, namaku Intan aku duduk di kelas 3 SMA. Aku bukan siswa yang pintar di kelas, aku bukan bintang kelas. Kegiatanku di sekolah hanya seperti siswa biasa yang berangkat, bermain, dan pulang tanpa mengikuti kegiatan apapun di sekolah. Aku juga sangat suka jam kosong, pergi ke kantin adalah rutinitasku ketika guru berhalangan hadir.

“Intan, ayo cepat berangkat ke sekolah nanti kamu telat!” Seru Ibuku. Malaikat tanpa sayap yang berwujud manusia itu tidak pernah lelah mengingatkanku, tidak pernah menyerah mendidikku. “Iya bu, ini tinggal pakai sepatu.” Jawabku sembari meraih sepatu hitam dari rak tempatnya diletakkan. Setelah menggunakan sepatu aku bergegas berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena memang jarak antara rumah dan sekolahku tidak terlalu jauh.

“Bu, Intan pergi dulu ya.” (Bersalaman)

“Hati-hati di jalan ya Tan, ingat belajar yang rajin.” Pesan Ibuku

Di sepanjang jalan aku melangkah santai sambil menghirup udara yang segar karena masih cukup banyak pepohonan, tidak lupa jika bertemu tetangga aku juga menyapa atau hanya sebatas tersenyum canggung karena tidak tahu ingin berkata apa. Di ujung jalan aku melihat Bu Warsih sedang membakar sampah yang menumpuk bagai gunung, aku pun menyapa.

“Pagi Bu Warsih, bakar sampah ya bu?”

“Eh Intan, iya nih sampahnya banyak banget, nggak tahu yang buang sampah di sini     siapa.”

“Loh memangnya itu bukan sampah Bu Warsih?”

“Bukan, Ibu hanya bakar sampahnya karena numpuk dan bau banget.”

“Oalah ya sudah bu, semangat ya bu bakar sampahnya Intan pergi sekolah dulu” Jawab ku sambil cengengesan meledek Bu Warsih.

Setelah sampai di sekolah aku duduk di bangku kayu pojok belakang di dekat jendela. Bukan tanpa alasan aku memilih tempat ini, yang pertama aku bisa tidur, yang kedua aku bisa makan, dan yang ketiga aku bisa mengawasi pacarku. Iya aku punya seseorang yang spesial selain keluargaku, namanya Dani. Dia memang bukan laki-laki yang sempurna tapi dari sekian banyak laki-laki, hanya dia yang mampu menerima aku apa adanya. Kami sudah saling membersamai sejak Kami duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Selamat pagi anak-anak.”

“Pagi Buuuuu.”

“Hari ini kita akan belajar tentang keadaan bumi.”

Akhirnya setelah 2 jam berlalu pelajaran pun berakhir tapi seperti biasa selalu diberi tugas. Tugas kali ini adalah tugas kelompok, sebenarnya aku tidak cukup bersemangat jika tugasnya dilakukan secara berkelompok karena jika pergi ke rumah teman ku aku harus menemui banyak orang baru, dan diluar kendaliku aku bisa melihat sekilas masa depan mereka. Entah ini kelebihan atau kekurangan yang jelas aku merasa kurang nyaman dengan kemampuanku ini. Melihat masa depan orang lain merupakan beban, karena terkadang ada cuplikan yang memperlihatkan kemalangan mereka.

“Intan ngerjain tugasnya di rumahku aja ya.” Kata Heni

“Oh boleh Hen, kapan dan jam berapa?”

“Hari Sabtu jam 8 pagi, bisa nggak?”

“Oke, bisa kok.”

Tiba lah hari Sabtu, aku bangun seperti biasa pukul 6 pagi, aku membantu ibuku, membereskan rumah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bisa aku lakukan. Hari ini aku meminta Dani untuk mengantarkanku ke rumah Heni. Dani sudah tahu alasannya, setiap pergi ke tempat baru aku pasti selalu meminta Dani menemani. Jika ada pertanyaan apakah aku bisa melihat masa depanku sendiri, jawabannya tidak. Jangan tanya kenapa, karena aku juga bingung kenapa aku hanya bisa melihat masa depan orang-orang yang tidak aku kenal atau tidak dekat denganku.

Sekitar pukul 7.30 pagi, Dani tiba di rumahku. Sembari menunggu aku bersiap-siap Dani duduk di ruang tamu ditemani oleh ibuku. Sayup-sayup aku mendengar dari balik dinding kamarku ibuku berpesan kepada Dani untuk tetap menemani dan menjagaku, seketika aku tersenyum kecil di dalam kamar. Setelah selesai bersiap aku pun segera keluar dari kamar, sebelum Dani dihujani pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya lebih sulit dari soal ujian. Motor berwarna hitam kami melaju membelah jalanan kami sangat menikmati perjalanan ini, bahkan tidak ada keheningan selalu ada saja yang membuat kita terkekeh meskipun begitu kami tetap berhati-hati. Di sepanjang perjalanan yang lumayan jauh ini aku melihat banyak sekali orang berlalu lalang dengan segala keriuhannya. Aku bisa melihat sepenggal kisah yang akan datang dalam hidup mereka, walau tak jarang aku melihat masa-masa yang kelam, bahkan tragis. Tentu saja aku tidak menceritakan apa yang aku lihat kepada Dani, walaupun Dani sudah tahu akan kemampuanku ini tapi aku tidak bercerita lebih spesifik tentang hal-hal yang aku lihat, apalagi untuk cerita-cerita yang kelam dan tragis aku menyimpannya sendiri dan cukup aku doakan semoga apa yang aku lihat salah.

Sesampainya di rumah Heni aku melihat teman-teman yang lain sudah berkumpul, beberapa teman datang bersama dengan pacarnya sehingga Dani tidak bingung harus berbincang santai dengan siapa. Kami pun mulai membahas berbagai soal yang harus kami selesaikan. Untuk menyelesaikan soal-soal ini kami pun dianjurkan untuk menonton video pembelajaran yang telah diberikan kepada kami. Seperti biasa video pembelajaran memang tidak ada yang asik, selalu membosankan tapi sayangnya menonton ini bukan pilihan namun keharusan. Setelah selesai ternyata kami masih memiliki banyak waktu untuk sekadar bermain atau menonton film karena di kelas kami jarang berkumpul seperti ini. Akhirnya kami memilih untuk menonton film tentang kiamat. Sebenarnya aku sedikit ngeri tapi ya sudahlah toh aku juga penasaran dengan film ini, karena walaupun film ini sudah lama dirilis namun aku belum pernah menontonnya karena memang filmnya agak mengerikan.

“Kita nonton film kiamat ini aja ya?” Tanya Riana

“Wah boleh juga tuh, aku belum pernah nonton soalnya.” Timpal Heni

Aku pun mengangguk saja tanda bahwa aku setuju. Film yang berdurasi 2 jam ini pun mulai diputar, sembari menonton kami juga disuguhi berbagai camilan oleh Heni, katanya agar tidak terlalu tegang. Ditengah-tengah pemutaran film, tiba-tiba listrik padam dan alhasil sambungan wifi pun terputus, mau tidak mau kita harus berhenti menonton film ini.

“Yahhhhh, kenapa listriknya harus padam sih.” Gerutu Heni yang tadinya sangat bersemangat untuk menonton.

“Iya nih bapak PLN nya nggak seru banget.” Dukung Riana yang tak kalah dongkol

“Udah-udah jangan emosi, mungkin  ada perbaikan.” Sahut ku menenangkan, padahal aku lega karena jujur saja film nya terlalu memberikan gambaran yang jelas tentang akhir dari bumi ini.

Setelah menyelesaikan tugas dan gagal nonton film akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Tapi berhubung hari ini hari Sabtu aku ingin pergi jalan-jalan dulu dengan Deni. Aku mengajak pergi mencari camilan, dan sekadar nongkrong ngobrol santai.

“Kita cari cilok sama gulali yuk, biasanya kalau hari Sabtu gini di deket stadion ada PKL banyak.” Ajakku kepada Deni

“Kalau nggak ada cilok berarti langsung balik?” Goda Deni sambil tersenyum

“Ihhh iya nggak dong, kalau nggak ada cilok kita cari jajanan yang lain, terus nanti kalau udah dapet cilok nya kita cari tempat buat ngobrol-ngobrol gitu.”

“Iya iya bawelku.” Ucap Deni sambil terkekeh

Kami pun segera bergegas menuju stadion untuk memburu jajanan. Sesampainya kami di stadion aku mulai kebingungan memilih apa yang harus aku beli yang semula aku merencanakan membeli cilok aku jadi berpikir ulang karena banyak sekali pilihan jajanannya.

“Hayohh kamu tadi katanya mau beli cilok sama gulali, lhah kok malah bengong?” Ucap Deni

“Iya nih kok jajannya banyak banget aku jadi bingung.” Jawab ku sambil tersenyum malu

“Yaudah beli aja apa yang kamu mau.”

“Makasih sayang.” Jawabku girang

Setelah puas melihat-lihat dan menimbang-nimbang apa yang harus aku beli, akhirnya aku memutuskan untuk membeli gulali, cilok, cireng, telur gulung dan manisan mangga. Cuaca hari ini cukup berawan sehingga kami bergegas mencari tempat untuk ngobrol. Setelah berdiskusi cukup singkat akhirnya Deni mengajak ke sebuah plaza yang memang tempatnya nyaman dan view nya cukup bagus.

“Tempatnya nyaman, enak buat ngobrol atau ngerjain tugas.” Ucapku

“Iya kan, pilihanku emang nggak pernah salah tau.” Jawab Deni dengan percaya diri

Drrrttt….drrrrt….drrrrt…drrrrt

Tiba-tiba telponku berdering, tenyata ibuku yang menelpon.

“Halo, ada apa bu?”

“Halo, kalau udah selesai cepet pulang ya soalnya udah mau hujan.”

“Iya bu sebentar lagi.”

“Iya hati-hati ya.”

‘Iya bu.”

Akhirnya aku pun segera menghabiskan makananku dan mengajak Deni segera pulang. Di sepanjang perjalanan kami melihat banyak orang dari arah yang berlawanan sudah mengenakan jas hujan, padahal di sini masih belum hujan. Mungkin efek dari global warming sehingga menyebabkan cuaca menjadi tidak menentu dan turunnya hujan juga tidak merata. Untung saja sampai di rumah kami tidak kehujanan. Deni berpamitan pulang dan aku pun langsung mandi, ganti baju dan makan. Singkat cerita setelah belajar, pukul 20.00 aku bergegas tidur karena sudah sangat ngantuk sekali..

Antara sadar dan tidak sadar aku merasa memasuki satu dimensi waktu yang tidak sama dengan apa yang ada di dunia ku. Di sana aku melihat keadaan tanah yang aku pijak sangat gersang dan tidak ada tumbuhan sama sekali. Manusia nya juga sangat individualis dan cenderung merasa hidup hanya tentang diri sendiri. Tidak ada keramahan seperti di kehidupanku, tidak ada canda tawa bersama orang-orang sekitar. Namun aku melihat tidak ada lagi motor yang melintas di darat, teknologinya sudah semakin canggih dan sangat mendukung kehidupan yang individualis.

Aku melihat ada satu orang yang berpapasan denganku, ia berlalu begitu saja tapi karena aku kebingungan inngin memastikan apakah ini mimpi atau memang aku sedang melihat masa depan aku pun menyapa dan bertanya kepada orang itu.

“Permisi Pak, maaf saya ingin bertanya ini tahun berapa ya?”

“Tahun 2121.” Jawab orang itu dengan tatapan sinis dan kemudia berlalu begitu saja

Aku terdiam dan terkejut, tenyata begini penampakan bumi ku 100 tahun lagi. Aku sadar aku sedang bermimpi, Namun mimpi ini sangat terlihat nyata dan memang sesuai dengan keadaan yang aku alami dengan kehidupanku yang nyata. Dalam kehidupan ku saja banyak sekali masalah-masalah yang mulai muncul, es di kutub mencair, debit air laut yang tiba-tiba meningkat, banjir di mana-mana, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan bencana lain yang tidak kalah mengerikan.

Karena sangat pensaran aku melihat-lihat lebih jauh, dan ternyata keadaan memang sangat parah, bahkan aku tidak melihat satu pun binatang. Kehidupan mulai punah, memang benar teknologi semakin canggih namun selalu ada yang dikorbankan untuk mendapatkan itu, yaitu kehidupan. Tidak aku lihat aktivitas seperti pada kehidupanku yang nyata, bahkan aku tidak melihat ada orang yang tersenyum, semua orang yang aku temui wajahnya muram. Sungguh memprihatinkan, manusia yang hidup seperti robot hanya melakukan apa yang menjadi kebiasaannya dan tanpa ada interaksi dengan makhluk hidup lain. Dan satu hal lagi yang membuat aku sangat tercengang bahkan sebelumnya tidak pernah aku bayangkan, makanan yang ada tidak dapat disentuh secara fisik namun anehnya bisa membuat kita kenyang, bagaimana itu terjadi? Aku sangat heran dan tidak habis pikir.

Belum habis rasa penasaranku, aku terus menyusuri jalan tapi tak ku dapati kendaraan-kendaraan seperti pada kehidupanku. Semua transportasi darat sekarang bisa terbang, bahkan tidak ada lagi pesawat yang membawa penumpang karena mobil saja sudah bisa terbang. Tidak dapat dipungkiri dan memang layak diakui teknologi terus berkembang bahkan sampai pada titik dimana hal-hal yang tak pernah kita bayangkan bisa terjadi. Meskipun tidak ada sampah yang berserakan karena makanannya transparan, tapi bumi sudah terlanjur hancur.

kringggg….kringggg….kringggg

Seketika aku terkejut bukan main, alarm ku berbunyi jam menunjukkan pukul 06.00 artinya saatnya aku bangun. Tapi aku masih memikirkan mimpiku semalam, rasanya takut jika harus menghadapi keadaaan yang mengerikan seperti itu. Aku ingin menceritakan mimpiku ini kepada banyak orang, aku ingin menyadarkan orang-orang jika keadaan bumi sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Kita tidak boleh egois, kita harus memikirkan keadaan bumi kita karena bumi yang kita pijak adalah tanah yang menghidupi kita. Meskipun aku tahu tidak akan mudah menyadarkan orang apalagi hanya dengan mimpi yang pada dasarnya tidak memiliki bukti yang bisa dilihat. Bahkan dengan keadaan yang usdah ada saja manusia masih belum sadar, entah apa yang bisa membuat manusia sadar. Menjaga bumi bukan hanya menjadi tanggung jawab segelintir orang, menjaga bumi itu tanggung jawab semua orang. Bagaimana bisa kita hidup dengan keadaaan yang menyedihkan berdampingan dengan segala macam bencana. Kita harus bisa menjaga apa yang kita miliki, merawat dan melestarikannya, Aku harap setelah membaca cerita pendek ini, kalian memiliki keinginan “Aku ingin hidup 100 tahun lagi.” Aku ingin kalian menjaga bumi ini dan lalu hidup 100 tahun lagi, aku ingin 100 tahun lagi aku, kamu, kita bisa melihat keadaan bumi membaik dan teknologi pun tidak berhenti berkembang. Aku, kamu dan kita harus mampu menyadarkan orang-orang yang tidak peduli, mengajak orang yang ragu, dan bersama memperbaiki apa-apa yang rusak, mengembalikan apa-apa yang tidak berada pada tempatnya. Aku ingin melakukan itu bersama kalian. Mari bergandengan tangan menciptakan lingkungan yang sehat sehingga tercapai keadaan bumi yang penuh kedamaian.

One thought on “Cerpen #112: “100 Tahun Lagi, Jangan Berubah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *