Cerpen #111: “TETESAN YANG DIRINDUKAN”

Tak terkira bahagia dirasa, saat tetesan cairan bening jatuh menimbulkan suara gemercik di atas genteng-genteng rumah warga. Mata yang tadinya hendak terlelap walau hanya sekejap, membatalkan niat. Perintah otak yang tak mau ketinggalan masa. Tubuh bangkit dari rasa malas. Kaki berlari kencang menyambut awan-awan hitam yang menumpahkan isinya. Bibir terukir senyum lebar yang tentunya tak bisa dikalahkan oleh iklan pasta gigi merek apa pun itu. Diri yang kini telah berdiri di teras merasakan energi baru mengalir masuk bersama oksigen yang menyegarkan dari titik-titik air yang terpantul jatuh di permukaan dedaunan hijau dari tanaman halaman rumah. Tangan yang sudah tak sabar terulur menjangkau air pemberian Tuhan dari pinggir atap teras. Lembutnya sapuan air itu mengenang di atas cekungan kecil dari telapak tangan. Terasa menyegarkan. Sungguh! Sungguh menyegarkan!

Segerombolan anak kecil berteriak sambil bersenandung senang. Suka cita memang yang dirasakan, saat hujan turun dengan derasnya. Tak ada satu pun manusia di sini yang mengutuk hujan. Walau harus tak pergi ke ladang atau pun ke kebun untuk menoreh getah dari pohon karet. Tak ada yang peduli. Tak ada yang mempermasalahkannya. Bahkan anak-anak pun ikut tak pergi ke sekolah. Tapi hari itu, hari minggu. Memang tak ada yang bersekolah. Memang hujan-lah yang membahagiakan hati seperti sebuah berkah dari Tuhan yang sungguh bernilai. 

Senandung suara yang kadang merdu, kadang sumbang yang terdengar riuh di antara ngaungan hujan yang terus turun semakin deras. Suara itu semakin mendekat. Mata beningku menangkap langkah kaki milik anak-anak yang bersenandung. Tubuh anak-anak itu meliuk-liuk mengikuti irama yang dibuat hujan dan juga suara yang keluar dari bibir mereka.

Tubuh yang tadinya hanya menikmati suasana di bawah atap teras, tak mampu menahan rayuan tetesan cairan dari Tuhan yang sudah bisa terbayangkan saat menyentuh kulit kepala. Jiwa bebas terpatri akhirnya memerintahkan kaki untuk bergerak turun melalui tangga-tangga kayu. Namun sesuatu membuat kaki berhenti. Malah memilih berlari kembali masuk ke dalam rumah. Terus tak berhenti hingga di pintu terakhir di ujung rumah. Teras belakang yang tampak sibuk. 

Sepasang suami yang juga suka cita menerima turunnya hujan bekerja sama mengumpulkan air dengan ember-ember, yang disatukan ke dalam baskom-baskom dari yang kecil hingga besar. Tempayan-tempayan pun tak luput menampung air hujan dengan selang-selang dari pancuran yang terpasang dari sudut-sudut talang air di tepian ujung atap rumah. Bagai tak mau kehilangan setetes pun. 

Kaki-kaki kecil dengan hati-hati berjalan melewati wadah-wadah yang telah terisi dengan air di lantai-lantai dapur hingga teras belakang. Tak ingin sedikit pun menyenggol air yang ditampung.

“Ma, aku mau main hujan,” ucap gadis kecil itu ketika berhasil menghampiri sang ibu.

Perempuan itu meletakkan embernya di tangan. “Sekalian mandi saja. Ambil handuk dan sabun.”

“Tapi aku ingin ikut main hujan bersama teman-teman yang lain.”

Ibu menganggukkan kepalanya. “Iya, boleh. Tapi tetap siapkan handuk dan sabun. Setelah main-main bersama teman langsung sabunan, sekalian mandi.”

Ucapan sang ibu langsung mendapat respon anggukkan kepala dan sebuah senyum girang yang terukir di pinggir bibir. 

Kaki gadis kecil dengan cepat bergerak kembali ke teras rumah. Tangannya meletakkan handuk dan juga peralatan mandi di pinggir terasnya dekat dengan tangga. Langkahnya berlanjut turun menapaki tanah yang basah. Tanpa alas kaki, dia berlari-lari mengitari halaman rumahnya. Sesekali dia melompat-lompat sambil mengerakkan tubuh dan tangannya layaknya sebuah pertunjukan seni tari yang indah. Lupa dengan niat awalnya yang ingin bermain bersama teman-temannya.

Mata menangkap ember-ember yang juga tampak semarak di teras depan atau belakang dari rumaha para tetangga. Bulan-bulan yang berakhiran dengan –ber di kalender masehi memang menjadi musim berkah bagi warga. Setidaknya meraka tak perlu usaha lebih untuk menimba air dari sumur. Selain itu letak geografis wilayah yang berada di khatulistiwa, tak pernah membuat penghuninya susah akan air. Bahkan saat kemarau saja, hujan tetap akan turun walau intensitasnya tak sebanyak pada musim hujan. 

Gerak tubuh anak perempuan itu berhenti. Telapak tangan mungilnya diulurkannya. Dia membiarkan air hujan itu menari indah di atas telapak tangan. Tetesan air hujan yang tadinya turun dengan deras berlahan-lahan intensitasnya mulai berkurang. Berkurang. Dan berkurang. 

“Jangan. Jangan pergi.” Dia menggelengkan kepalanya. Sang gadis kecil itu menjadi kalut. Dia tak ingin hujan pergi. Dia bahkan belum puas bermain bersama hujan. 

Wajah oval miliknya menengadah menatap langit yang ditutupi awan gelap. Beransur-ansur awan gelap itu menghilang berganti dengan warna putih pekat yang perlahan namun pasti memudarkan pandangan mata. Pekat dan semakin pekat. Hingga langit bersama awan-awannya pun menghilang. Tetesan air hujan yang sangat deras ikut menghilang. Entah pergi kemana. Menguap begitu saja. 

Leher yang lelah menatap ke langit kembali pada posisinya, menatap lurus bumi yang tiba-tiba terasa kering. Mata bening penuh suka milik sang gadis kecil berganti dengan tatapan nanar yang tampak kemerahan. Perih. Dia merasakan matanya perih. Reflek tangannya bergerak naik untuk mengosok-gosok mata. Namun tangan itu terhenti. Malah diturunkan. Dengan perlahan mulai menepuk dada yang kian terasa sesak. 

Pluk… pluk… pluk…

Tak ada sedikit pun perubahan. Malah semakin terasa sesak. Gadis itu membalikkan tubuhnya. Kakinya bergerak. Cepat dan semakin cepat. Dia berlari. Langkah-langkah kecil berubah membesar. Tubuh kecilnya berganti dengan sosok perempuan remaja. yang menghentikan langkahnya di depan tangga teras rumah.

Dua manusia tampak dengan tangan yang penuh membawa ember-ember. Sebagian wajah keduanya ditutupi oleh kain.

Uhuk…uhuk…uhuk…, sang gadis tersedak dan batuk. Kedua orang yang membawa ember yang penuh dengan air menghentikan langkah kaki yang akan masuk ke rumah. Mereka meletakkan ember-ember di atas lantai dan segera menghampiri. 

“Kenapa keluar tak memakai masker?” suara bass khas sang ayah bertanya.

Dengan cepat sang ibu meraih kain-kain basah dari dalam baskom yang memang sengaja ditaruh di atas meja kecil di teras rumah. Sang ibu bergerak membawa kain itu menuruni anak tangga. Dia menyerahkan kain itu pada sang putri. “Pakai ini.” 

Gadis itu mengambil kain yang lembab karena basahan air dari tangan ibu. Dengan kode yang ditunjukkan sang ibu, dia segera menutup mulut dan hidungnya dengan kain basah tersebut. Benar saja, rasa sesaknya berkurang.

“Ayo masuk.” Sang ibu kembali menaiki tangga.

Sang anak menganggukkan kepala dan  menyusul. Ibu dan ayahnya kembali meraih ember yang berisi air dan masuk ke dalam rumah. Mereka meninggalkan sang gadis yang berdiri terpaku di teras. Mata gadis yang tampak merah itu menatap bayangannya sendiri di kaca jendela rumahnya. Dia menurunkan tangannya yang memegang kain basah untuk menutupi hidup dan mulutnya dari asap. 

“Rasanya baru saja aku asyik main dan mandi hujan di halaman, kenapa semuanya telah berganti? Mana hujan tadi? Mana tubuhku yang masih kecil tadi?” Bisiknya.

Uhuk… uhuk… uhuk… kembali dia batuk. Lagi-lagi kepulan asap menyerang tiap rongga pernapasannya. Dengan cepat dia kembali menaruh kain basah menutupi hidung dan mulutnya. 

Dia membalikkan tubuhnya. Dia kembali menatap lurus ke depan halaman rumahnya yang tampak kabur dengan banyaknya asap yang menutupi. Asap-asap yang membuat jarak pandang makhluk bumi menjadi terganggu. Selain itu, hawa panas dari asap benar-benar menyiksa dadanya. Sakit. Aroma kayu yang terbakar bercampur baur menjadi satu membatasi gerak oksigen di udara yang harusnya dapat di nikmati manusia. 

Air. Harusnya ada air. Hanya air yang dapat memadamkan pembakaran dari titik-titik api yang tidak tahu jelas dimana sumbernya. Entah siapa yang keji membunuh pohon-pohon yang sedang berfotosintesis dengan kejamnya? Hingga dia lupa, dia juga sedang membunuh makhluk lainnya. Tapi yang jelas dia pastilah seorang psychopath, yang menikmati setiap pembunuhan yang dia lakukan.

Gadis tersadar dari lamunannya. Kakinya segera bergerak menuju ke dalam rumah. Secara tak sengaja, mata melirik kearah kalender yang tergantung simetris di dinding. 

“September?” gumamnya yang kemudian berlalu, bergerak menuju dapur dimana ayah dan ibunya berada. 

Ember-ember bersusun rapi mengisi seluruh lantai di dapur dan juga teras belakang. Ibu dan ayah bekerja sama untuk mengisi wadah-wadah menampungan air. Semua wadah mereka usahakan untuk terisi. Air dari empat ember yang mereka bawa tadi langsung ditumpahkan semua isinya ke dalam sebuah tempayan berukuran cukup besar. 

Rasa lelah yang nampak jelas di wajah sepasang suami istri itu sepertinya sudah tak mereka hiraukan lagi. Setelah empat ember itu kosong, keduanya kembali mengambil masing-masing dua untuk dibawa oleh tangan kanan dan kiri. 

“Aku juga mau membantu.” sang anak yang baru datang mengulurkan tangannya. 

Ayah memberikan dua ember kecil berkapasitas hanya lima liter saja. Dua ember itu memang yang paling kecil di rumah mereka. “Nanti diisinya semampu kamu saja, ya.” ucap ayah dengan suara bass-nya. 

Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Iya, Ayah.”

“Jangan lupa pakai masker, supaya tidak sesak.” Ayah mengingatkan.

“Kain basah tadi saja, ikatkan menutupi hidung dan mulutmu.” Ibu menambahkan. 

Ibu dan ayah juga menggunakan kain basah untuk menutupi mulut dan hidung mereka. Setidaknya basahnya kain dapan memberikan sedikit kesegaran bagi indera penciuman. Tak melulu hawa karbon dari asap melulu yang mereka hisap. 

Gadis berjalan dengan semangat mengikuti langkah kedua orang tuanya. Dia sangat penasaran dimana kedua orang tuanya mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Satu kilo. Dua kilo. Kekuatan penuh dari kedua kakinya tiba-tiba terserang lelah. Namun tempat yang di tuju belum juga terlihat. Matanya malah mendapati tak hanya mereka yang berjuang mendapatkan setetes dua tetes air, tapi para tetangga di kampungnya juga. 

“Masih jauh kah, ayah?” Tanyanya setiap kali sang ayah menoleh ke belakang.

Ayah tersenyum dan mengelengkan kepala. “Sebentar lagi.” Jawaban ayahnya tetap sama. Sedangkan ibu hanya menoleh saja tak berkata apa pun, namun sebuah anggukan kepala yang dia berikan untuk menyemangati sang anak.

Kaki sudah semakin lelah, ditambah lagi dengan teriknya pancaran sinar matahari yang tertutupi oleh pekatnya kabut membuat matanya semakin sakit. Hambatan itu terasa sirna saat telinga menangkap gemercik air mengalir. Sekejap hati sang gadis dipenuhi rasa syukur. Ukh… perjalanan panjang akhirnya terbayarkan. Sebuah sungai yang debit airnya telah berkurang akibat kemarau berkepaanjangan hadir di depan mata. Manusia lain juga memenuhi pinggir-pinggir sungai dengan ember di kedua belah tangan mereka. 

Bulan September tak lagi dihiasi ember dengan air yang terisi penuh. Semua berubah dengan ember-ember yang berjuang untuk mendapatkan tetesan air. Hadiah dari Tuhan berupa tetesan air dari langit selalu didamba belum juga mau tiba. Padahal penduduk bumi sudah lama menanti. Kering dan ceking sudah rasanya pepohonan sekitar. Dedaunan dipaksa menguning dan akhirnya mati dan berguguran begitu saja. 

“Ambillah air semampumu.” Ibu mengingatkan saat tangan putrinya mengambil air untuk memenuhi embernya. 

Sang anak menganggukkan kepalanya. 

“Kalau kebanyakan bisa saja membuatnya tumpah.” Ayah menimpali.

“Satu tetes air yang tumpah itu berharga, sangat berharga. Bahkan lebih berharga dari pada emas permata. Bisa saja tetesan air itu kau bagi pada mereka, manusia, hewan maupun tumbuhan. Bila tumpah akan tak ada maknanya.” Ibu memaparkan pentingnya air.

Lagi sang anak menganggukkan kepalanya. Ember yang tadinya dia isi penuh, kembali dia kurangi airnya. Dia mengikuti ucapan ayah dan ibunya. Memang masuk akal, tak ada yang paling berharga bagi orang-orang sepeti mereka, kecuali air. Air sumber kehidupan yang paling hakiki, paling berharga dari apa pun. Bahkan tubuh akan mati saat tak mendapatkan air. 

Pelan namun pasti gadis berjalan dengan dua ember yang terisi air. Dia memastikan tak ada yang tumpah. Dia tersenyum bangga saat berhasil memasuki perkarangan rumahnya dengan air yang tak tumpah sedikit pun. Perjuangannya tak sia-sia. 

“Gunakan air itu untuk menyiram tanaman. Kita harus berbagi rejeki.” Perintah ibu.

Di kala orang-orang membunuh pohon-pohon dengan bengis, ayah dan ibu tetap menjaga pohon untuk dapat hidup semestinya. Gadis pun hanya mengikuti perintah, tanpa mengerti makna. Tapi dia tahu jelas aroma kematian pohon-pohon yang mati mengepul bersama asap yang membuat dadanya sesak. Dengan tangannya dia menyiramkan pohon mangga, rambutan dan juga jambu di perkarangan, seraya berdoa agar mereka dapat tumbuh kokoh, berbuah dan berkembang biak. 

Langkah kaki dari tiga manusia itu kembali bergerak menuju sumber air. Bergerak terus menerus hingga lelah kaki sudah tak dirasa. Gerakannya seiring waktu yang juga tak berhenti, walau kabut asap masih enggan kabur. 

Uhuk…uhuk…uhuk…

Gadis kembali batuk saat kain basah yang menutupi hidung dan mulutnya secara tak sengaja terlepas. Ayah dan ibu yang berjalan di depannya menoleh. Gurat lelah di wajah keduanya tampak jelas dari garis-garis keriput. Rambut keduanya pun tampak memutih. Gadis tersadar. Telah lama dia dan orang-orang hidup dalam ketidakberdayaan. Tak mampu melawan ekstremnya balasan bumi pada mereka, yang juga tak berdosa sama sekali. 

Uhuk… uhuk… uhuk… 

Dia melepaskan tangkai ember dari genggaman tangannya. Tangan kanan bergerak memukul-mukul dadanya perlahan yang terasa sesak. Sementara tangan kirinya memilih untuk menarik kain basah yang tak lagi basah. Kaki berlahan maju melewati batuan dan pasir dari sungai yang semakin mengering. Kain ditangannya dia ulurkan. Tak lupa dia mencuci wajahnya. 

Bibir tersenyum. Percikan air yang membasahi wajah memang mampu membuang rasa lelah. Kesegaran kembali hadir. Kain telah basah sempurna, diperas sedikit dan berfungsi kembali menjadi masker penutup hidung dan mulut. Rasa sakit pada rongga paru-paru sedikit berkurang. 

Ayah dan Ibu pun segera berlalu mengambil air secepat yang dimampu. Tubuh yang sudah menua tak lagi memberikan kekuatan untuk dapat membawa sebanyak mungkin. Energi muda milik sang gadis, kini mampu membawa ember yang berukuran besar. Kemahiran dari sejak cilik telah terlatih membuatnya mampu membawa air tanpa tumpah sedikit pun. Tapi dia tahu, hal itu tak layak dibanggakan. Rasa lelah yang menyerang badan menginginkan perubahan. Apalagi rasa iba di dada harus melihat para orang tua di kampungnya harus bekerja keras demi setetes air. 

Ada rasa ingin tahu, entah mengapa negerinya tak lepas dari kutukan. Asap yang selalu datang mengepul saat musim kering tiba. Tetesan yang paling dirindukan pun tak kunjung hadir. Mata air tanah yang dulu mengalir deras melalui sumur-sumur, entah mengapa bisa mengering begitu saja. Adakah penjelasan yang logis untuk semua ini? Atau Tuhan sedang menghukum mereka? Apa dosa dan salah yang telah mereka laku, hingga alam begitu kejam menjerat oksigen untuk manusia. 

Sang gadis menghela napas dari balik kain basah yang menjadi masker bagi wajahnya. Kaki terus melangkah menuju rumah. Tak terhitung sudah entah sudah berapa orang yang berpapasan dengannya, yang juga sibuk membawa ember. 

Ada hutan terbakar lagi. Itu yang tadi pagi dia dengar dari tetangganya yang baru datang dari kota. Tetangganya itu membawa berbagai macam bibit tanaman datang ke rumah untuk memberikan pada sang ayah. Ini akasia. katanya. Air akan mengalir dari akar-akar akasia nantinya. Ayah menerima dengan suka cita. 

“Assalam mualaikum…”

Terdengar salam sayup-sayup dari arah masjid terbesar di kampung. Langkah kaki orang-orang pun terhenti. Beberapa diantaranya ada yang meletakkan embernya ke tanah, sekedar untuk mengistirahatkan tangan sejenak. 

“Dikarenakan hujan yang telah lama tak turun, kami mengajak bapak dan ibu untuk melaksanakan sholat istisqa atau sholat sunnah untuk meminta kepada Allah SWT, agar menurunkan hujan ke kampung kita yang makin hari kian terasa tandus.” 

Tuhan. Ya, hanya Tuhan yang mampu membantu. Tuhan pemilik segalanya. Tapi kenapa Tuhan selalu jadi tujuan akhir saat derita tak mampu lagi ditahan. Bukankah sejak pertama kita harus mengantungkan diri di jalan Tuhan, mendengar perintah Tuhan untuk tak lagi merusak bumi. 

“InsyaAllah Sholat akan kita laksanakan besok….”

Warga-warga yang membawa ember pun mulai berdenggung. Mereka rata-rata setuju dengan ajakan itu. Setidaknya kita harus minta bantuan Allah. Ada yang berkata seperti itu. Setelah pengumuman selesai disampaikan, warga kembali berjuang untuk mendapatkan air. Sang gadis bersama kedua orang tuanya juga melakukan hal yang sama. Selalu ada seberkas harapan bila menemui Tuhan. Sang Gadis percaya itu.

Doa dan kerinduan akan pemandangan ember-ember yang dipenuhi air-air hujan saat memasuki bulan-bulan berakhiran –ber, sungguh tak terbendung. Bulan September memang harusnya mengelar ember, untuk menanti datangnya air yang tumpah dari langit. Tidak seperti saat ini, gelaran ember itu belum juga penuh oleh tetesan air tak kunjung datang.

Tetesan yang selalu dirindukan tak hanya untuk mengisi kekosongan ember-ember. Tapi juga untuk menghilangkan dahaga para hewan serta tumbuhan yang mengering penuh derita akibat api yang tak kunjung padam. Walau menurut berita helicopter pemadam api sudah berangkat. Tetesan air yang diharapkan dapat menghapus kabut asap yang menutupi kampung, sehingga penglihatan dan pernapasan bisa kembali bebas. 

Dalam perjalanan menuju rumah sang gadis berdoa, semoga orang-orang di masa depan tak merasakan penderitaannya hari itu. Doa yang begitu tulus itu, akankah Tuhan mengabulkannya? Atau memang manusia-lah yang tahu jawabannya. Manusia-lah yang harus bergerak untuk menghentikan segala derita yang telah terlanjur terjadi. 

Ah, tetesan yang dirindukan, segeralah datang

 

28 Oktober 2021

10 thoughts on “Cerpen #111: “TETESAN YANG DIRINDUKAN”

    1. Setuju. Bumi diberikan Tuhan kepada manusia, untuk kita jaga dan lestarikan. Bukan dirusak atau pun dibabat.

    1. Sebagai “cubitan” halus bagi kita semua utk menjaga bumi dan seisinya demi nyawa dan harapan di masa depan. Good job mi..

  1. Alur ceritanya menarik. Ceritanya seperti kisah nyata dan pengalaman pribadi. Karena kebetulan emank kebetulan tinggal di kalimantan, yang mana di bulan-bulan tertentu sering kabut asap efek pembakaran hutan. So far…ceritanya keren. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *