Cerpen #110: “Pasca 100 Tahun, Bumi Tak Seindah Dulu”

Sejak kecil ayah telah mengajari tentang cinta lingkungan hijau pada kami sekeluarga. Hidup mencintai pohon sudah turun-temurun mengalir dari sang kakek. Hutan tidak boleh diganggu apalagi dijual. Kata ayah, jika manusia tidak mencintai pohon dan melakukan illegal loging, maka Indonesia bahkan dunia mengalami perubahan iklim yang serius. Ayah juga menambahkan berbagai macam bencana akan melanda bumi dikarenakan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Sekarang saja, sudah ada tanda-tanda bahwa lingkungan alam sudah rusak. Contohnya, pencurian hewan secara illegal, membakar hutan sembarangan, kenaikan suhu bumi akibat efek rumah kaca. Ayah menjelaskan dengan penuh semangat dan luar biasa. Kalau dibandingkan dengan para pakar lingkungan, penjelasan ayah sudah sama dengan pendapat mereka.

 

Suatu ketika, ayah mengajak kami sekeluarga ke tempat kelahiran kakek. Nama desa itu bernama desa Mabar. Ayah bercerita tentang kondisi desa Mabar dahulunya, saat itu saya berumur 5 tahun. Dahulunya, desa Mabar sangat asri. Hamparan tanaman pertanian yang indah, pepohonan rindang, angin sepoi-sepoi, pesona alam terbentang, burung yang terdengar berkicau menghantarkan hati pada kenyamanan. Sesekali terdengar suara sembilan kawanan monyet berteriak-teriak gembira. Ayah sering mengusir monyet-monyet itu ”jelas ayah. Ketika malam tiba maka rumah-rumah sederhana hanya diterangi oleh lampu pelita, sehingga dibagian jalan gelap-gulita, kecuali saat bulan sedang bersinar. Tidak hanya itu, kunang-kunangpun ikut mewarnai malam-malam desa Mabar, memancarkan cahaya khas kuning kebiruan.

 

Tempat itu memang asyik, bahkan pikiran-pikiran yang menjenuhkan dapat hilang seketika melihat pemandangannya. Sesekali ayah berfoto selfi untuk mengabadikan kenangan itu. Dulunya, kakek sering mengajak ayah untuk mengelilingi tempat itu sembari menikmati makanan khas yang ada. Kakek mengajak makan di salah satu tempat yang spesial. Harganya receh, tapi makanannya tidak recehan. Ayah memesan porsi ayam pada sang pelayan yang murah senyum itu. Beberapa saat kemudian, porsi ayam penyet yang ayah pesan di hidangkan dan segelas teh manis dingin.

“ Enak juga makan ayam penyet di sini,

“ Selain murah harganya, tempatnya juga bagus ”kata ayah. Di kedai itu ada musiknya, dekorasi bunganya juga indah serta ada jaringan wifi. Membuat ayah ingin berlama-lama di kedai nasi itu.

Sekarang, saat aku berumur 25 tahun kondisi desa Mabar begitu memprihatinkan. Kapitalis merubah tempat itu dengan dibuatnya pabrik. Alih fungsi hutan menjadi daerah industri memberi dampak negatif terhadap masyarakat. Selain itu, dampak pengundulan hutan yang tidak bisa terhindarkan, seperti kejadian baru-baru ini terjadi banjir di desa Mabar dengan ketinggian selutut manusia. Aspal retak yang dipenuhi lubang dan asap pabrik beterbangan dimana-mana. Belum lagi debu kendaraan yang kebetulan berada ditengah keramaian penduduk pabrik. Sekarang keindahan desa Mabar hanya kenangan, tidak ada lagi hamparan hijau yang dahulu ada di desa Mabar. Yang dahulu hamparan sawah sekarang hanya terlihat deretan pabrik. Monyet-monyet yang ayah ceritakan entah kemana sekarang.

 

“Saya rindu ketika desa Mabar masih menjadi desa, ketika desa masih hidup dalam jati diri kedesaannya. Air mata tampak mulai menetes, saya tak kuasa membayangkan keindahan desa ketika ayah menceritakan desa kakek dulunya.

 

Itu baru 20 tahun, sudah terjadi perubahan yang sangat drastis pada desa Mabar. Desa Mabar adalah salah satu contoh saja yang mewakili akibat keseimbangan alam terganggu. Bayangkan, bagaimana semua desa yang ada di dunia ini sama seperti desa Mabar ? Kira-kira apa yang terbayang tentang kondisi bumi, pada periode 100 tahun mendatang?.” Kata ayah sambil menjelaskan.  Nasib bumi akan tak seindah dengan sekarang, Bumi akan kehilangan sebagai tempat tinggal manusia. Masa depan kota-kota tidak seperti sekarang. Jika dibiarkan ini terjadi, maka dunia akan mengalami perubahan iklim yang serius.

 

Ayah juga menjelaskan pada pemanasan global 1,5 C, kawasan es abadi Arkik setiap 100 tahun akan mengalami musim panas sehingga semua es dapat meleleh. Perubahan iklim yang disebabkan manusia telah mengakibatkan pemanasan global sekitar 1 derajat Celcius. Akibat pemanasan global, 95 % es di Arktik mencair, permukaan air laut naik, ribuan pulau di Indonesia dan di Dunia terancam tenggelam. Fenomena cuaca dan iklim yang tak menentu disinyalir akibat pemanasan global. Suhu bumi diperkirakan meningkat hingga 5,8 derajat Celcius. Suhu ini diperkirakan naik lagi pada 100 tahun ke depan sebesar 0,5 sampai 8,6 derajat Farenheit. Suhu bumi berpotensi makin meningkat, musim kemarau berlangsung lebih panjang, pelepasan emisi semakin besar. Meningkatnya efek rumah kaca menyebabkan panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan berakibat pada pencairan es di kutub.

 

Belum lagi, penggundulan hutan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Konon katanya hutan Indonesia dapat meredam kenaikan gas rumah kaca penyebab utama pemanasan global. Hal ini karena Indonesia memiliki hutan ke-3 terluas di dunia. Hutan Indonesia dapat memberi kontribusi terhadap krisis iklim. Oleh sebab itu, semua elemen masyarakat perlu menjaga hutan. Apabila manusia tidak memiliki komitmen bersama untuk mengelola lahan dan hutan produksi lestari dengan baik, maka tunggulah kehancurannya. Lapisan ozon akan semakin terganggu. Lapisan ozon yang berada di stratosfer merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Kerusakan lapisan ozon itu menyebabkan sinar UV-B matahari tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman. Begitulah penjelasan ayah yang luar biasa tentang iklim. Ayah tahu tentang pengetahuan iklim karena sering membaca buku dan melihat berita di TV.

 

Mendengar penjelasan ayah tadi, nasib bumi 100 tahun kemudian semakin mengerikan jika penduduk bumi tidak mencintai bumi lagi. Untuk itu, saya dan teman-teman tergerak untuk membuat komunitas pecinta lingkungan. Komunitas yang memiliki kesadaran mencintai lingkungan sekitar, menanam pohon dan tanaman bioenergy lainnya di pekarangan rumah, tidak menebang pohon sembarangan. Komunitas ini, saya beritahukan kepada kepala desa supaya dapat pengkuan yang sah dan mendapatkan izin untuk bergerak. Komunitas ini menjadi tumpuan harapan untuk dapat mewariskan lingkungan hidup yang sehat kepada generasi berikutnya. Isu perusakan lingkungan dan krisis iklim menjadi perhatian dari komunitas kami.

 

Kami juga mengadakan seminar tentang penyelamatan iklim kepada masyarakat, dimana komunitas kami berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait dan memberdayakan berbagai upaya mitigasi perubahan iklim, sebagai program kerja dari komunitas ini. Pada awalnya, kami sukar mengajak masyarakat untuk mengubah gaya hidup agar lebih mencintai lingkungan. Dalam hal ini, kami memutar otak untuk mengubah pendekatan kepada masyarakat. Komunitas kami membuat kampanye perubahan iklim dalam bentuk spanduk dan video TikTok. Dengan adanya tulisan dan video yang lucu membuat masyarakat lebih mudah untuk menerima pesan kampanye yang kami buat. Tidak ada kata terlambat untuk mulai beraksi.

 

Kami berharap semua pihak menyadari tentang perubahan iklim yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca, agar Indonesia dapat mencapai net carbon link  alias penyerapan bersih karbon, seperti C02, gas pembuangan dari pembakaran bensin, solar,kayu,daun,gas LPG dan bahan bakar lainnya.

 

Setiap masyarakat dapat melakukan seseuatu dan berperan terhadap upaya mitigasi perubahan iklim, melalui kegiatan sederhana sehari-hari, misalnya menggunakan moda transportasi umum sehingga dapat mengurangi emisi, menanam lebih banyak pohon di rumah dan mengolah daur ulang sampah.

 

Untuk itulah masyarakat sedari dini diajarkan untuk memiliki kesadaran menanam pohon. Tidak disampai disitu, upaya cinta lingkungan terus berjalan. Melalui komunitas ini, kami melakukan pembibitan pohon, menguatkan hidroponik berkebun dan wisata tanaman mangrove. Walau sedikit berbuat tapi berharap pohon-pohon yang kami tanam memberi manfaat banyak pada siapa saja. Mudah-mudahan apa yang kami perbuat dapat memperbaiki lingkungan di tengah naiknya suhu permukaan bumi. Jika manusia tidak peduli dengan alam semesta ini, maka nasib bumi hanya tinggal kenangan. Bumi tak akan seindah dulu. Bencana akan datang silih berganti tanpa satu kepastian apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Selamatkan bumi dan cintai lingkungan.

One thought on “Cerpen #110: “Pasca 100 Tahun, Bumi Tak Seindah Dulu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *