Cerpen #109: “Pencemaran Pantai dan Penanggulangannya”

Andra dan Ikbal bersahabat sama-sama berusia 21 tahun tinggal di pinggiran Pantai Pingindaran. Mereka juga kuliah di kampus yang sama di Pingindaran dan sama-sama mengambil jurusan perikanan. Mereka kini berada si semester akhir. Ayah Andra dan Ikbal sama-sama seorang pemandu wisata kuda di Pantai Pingindaran.

Pingindaran dengan segala pesonanya. Masih ramai dikunjungi wisatawan karena keindahan sunrise  di Pingindaran yang sangat dinikmati. Namun juga tak dipungkiri jika masih banyak sampah yang berserakan di pinggiran pantai. Sampah yang ada di Pantai Pingindaran berasal dari sampah kiriman. Sampah yang terbawa arus sungai ke laut. Walau segala upaya telah dilakukan untuk menjaga kebersihan. Banyaknya wisatawan yang datang dari berbagai kalangan, menjadikan terasa sulit untuk mengatasi masalah sampah di Pantai Pingindaran. Hal inilah yang memacu semangat Andra dan Ikbal untuk bertekad suatu saat nanti bisa mengubah wajah Pantai Pingindaran menjadi benar-benar bersih dan bebas dari sampah.

“Bal, kapan ya pantai ini benar-benar bisa bersih bebas dari yang namanya sampah?” tanya Andra kala mereka sedang menikmati sore di pinggir pantai sembari minum kopi.

“Sepertinya tampak sulit ya, lieur asli, apalagi sampah dari aneka macam bentuk, aromanya juga mengganggu hidung nih.” Jawab Andra sambil menunjuk hidungnya.

“Pokoknya selesai kuliah nanti kita harus segera laksanakan misi kita ya, kita harus buat perubahan dan bisa berguna untuk warga sekitar.” Ucap Ikbal mantap.

“Insya Allah Bal, walau kayanya bakal sulit.” Jawab Andra.

“Ya mulai dari diri kita, kalau sekarang takut nggak fokus. Hahaha.” Kekeh Ikbal.

“Eh Bal, liat tuh sebelah sana, masih sore gini pada bakar jagung.” Ucap Andra sambil menunjuk ke arah wisatawan yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka duduk.

“Iya aku lihat, terus? Kamu mau apa?” tanya Ikbal.

“Bukan gitu Bal, pasti habis mereka bakar jagung ditinggal gitu aja tuh sampahnya, apalagi mereka kupas kulit jagungnya di situ juga. Ehm, kalau kita tegur gimana Bal?” tanya Andra.

“Kamu yakin?” Ikbal balik bertanya.

“Ayo kita coba.” Ucap Andra sambil menyeret tangan Ikbal.

Andra dan Ikbal menghampiri para wisatawan yang sedang membakar jagung. Ada enam orang, masing-masing tiga wanita dan tiga pria.

“Permisi, maaf lagi pada asyik bakar jagung nih, nanti sampahnya jangan lupa dibuang ya Mbak dan Mas.” Ucap Andra tanpa basa-basi.

“Anda siapa ya? Petugas kebersihan?” tanya salah satu pria.

“Bukan mas, kami warga di daerah sini. Kami cuma ingin memberitahu agar kita sama-sama menjaga kebersihan untuk membuang sampah pada tempatnya.” Ucap Ikbal ikut menimpali.

“Halah Mas, nggak usah capek-capek kasih tahu, itu liat di ujung sana lebih banyak sampah dari kulit jagung ini. Sudah ya jangan buang-buang waktu kami.” Ucap pria yang lain.

“Mending Mas pada pergi ya, jangan ganggu kami.” Ucap teman wanitanya.

Mereka tertawa dan malah seperti menganggap Ikbal dan Andra adalah anak kecil yang baru belajar kebersihan. Ikbal dan Andra pergi meninggalkan kelompok wisatawan tadi.

“Tuh kan Dra, nggak semudah yang kita pikirkan. Susah.” Ucap Ikbal.

“Iya si, yang penting sudah berusaha.” Timpal Andra.

Pemerintah setempat dan pengelola wisata bukan tak melakukan tindakan. Petugas khusus pengelola sampah sudah dikerahkan, Tapi karena memang wisatawan yang sangat banyak, masih belum sadar akan kebersihan, belum lagi sampah kiriman yang dibawa arus sungai juga sangat banyak. Segala tindakan upaya pembersihan sampah akhirnya masih kalah dengan bertambahnya jumlah sampah. Banyak sisi negatif yang dihasilkan dari sampah-sampah tersebut, seperti aroma tak sedap, pantai kotor, bahkan laut sekitarnya digenangi sampah menjadikan laut tercemar. Akibatnya dapat merusak keseimbangan nutrien di laut, membahayakan keselamatan hewan bawah laut, merusak terumbu karang, mengurangi populasi fitoplankton, dan mengancam eksistensi burung laut. Selain itu sampah terutama sampah plastik akan berbahaya bagi kesehatan manusia jika tidak segera ditanggulangi secara tuntas.

Sampah, terutama sampah plastik sangat berpengaruh pada perubahan iklim. Dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan, maka semakin tinggi konsentrasi gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Konsentrasi gas rumah kaca yang tinggi di atmosfer menyebabkan peningkatan suhu bumi dan berujung pada krisis iklim yang kita alami saat ini.

Oleh karena itu, Ikbal dan Andra bertekad untuk membuat perubahan pada Pantai Pingindaran ini ke arah yang lebih baik. Saat ini sembari menyelesaikan kuliah, mereka mulai melakukan sosialisasi kepada kawan-kawan kemudian mengumpulkan anggota untuk bersama membuat gerakan kebersihan di area pantai. Tak mudah, banyak kendala yang dilalui, namun mereka pantang menyerah.

Enam bulan kemudian mereka lulus dan wisuda. Menyandang gelar sarjana. Bersamaan dengan itu Ikbal dan Andra mulai merancang visi dan misi. Mereka mengajukan proposal ke pemerintah daerah setempat, dan mengurus perizinan bahwa mereka akan mendirikan sebuah komunitas kebersihan yang dinamakan KOMKEBRAN (Komunitas Kebersihan Pingindaran). Setelah perizinan dan segala sesuatunya selesai, juga telah mendapat persetujuan dari pemerintah daerah agar bisa bekerja sama dalam hal kebersihan pantai, mereka mulai melakukan aksi. Melakukan penggalangan dana, menggembleng para petugas kebersihan yang memang sudah bekerja di sini untuk lebih baik dalam bertugas, hingga membentuk tim independen untuk mengawasi oknum nakal.

Sebulan pertama KOMKEBRAN dibentuk, sudah mulai terlihat perubahan di wajah Pantai Pingindaran. Sampah plastik sudah mulai berkurang, tidak bercecer dan menggunung seperti sebelumnya. Ikbal dan Andra sebagai pimpinan komunitas merasa senang. Mereka terus melakukan evaluasi dan rutin mengedukasi tim agar terus lebih baik.

Hingga suatu malam, saat orang-orang lelap tertidur, tiba-tiba ada sekitar sepuluh orang tak dikenal menumpahkan aneka sampah di pinggiran pantai. Jumlahnya sangat banyak. Hampir satu jam mereka melakukan penumpahan sampah dari mobil bak. Kebetulan saat malam itu hujan sangat deras, sehingga suasana membuat mengantuk. Petugas yang berjaga pun tidur sangat lelap. Tidak ada yang melihat mereka.

Pagi harinya, kehebohan terjadi. Para warga sekitar pantai terkejut mendapati aneka sampah plastik yang berserakan. Ikbal dan Andra pun langsung rapat bersama timnya. Akhirnya semua anggota KOMKEBRAN yang berjumlah total empat puluh orang beserta tim khusus kebersihan dan pengawas dikerahkan semua untuk membersihkan kembali sampah-sampah tersebut. Andra dan Ikbal pun turun tangan.

Dika dan Sofyan yang malam itu ditugasi untuk berjaga malah tertidur, ditegur dan diberi peringatan.

“Dika, Sofyan sebagai sanksi atas kelalaian kalian berdua, malam ini dan dua malam ke depan kalian akan jaga malam penuh. Tidak ada pergantian shift.” Ucap Ikbal tegas.

“Betul, kalian harus bertanggung jawab. Jadwal Rian, Abas, Rendy, Zaki, Tara, dan Imron dalam bertugas berjaga malam sampai dua malam ke depan, digantikan oleh kalian ya Dika dan Sofyan. Mengerti?” Andra menimpali tak kalah tegas.

“Ya mengerti.” Jawab Dika dan Sofyan berbarengan.

Malam berikutnya hujan turun deras lagi. Kejadian seperti malam sebelumnya terjadi lagi. Tak kalah heboh paginya warga dibuat tercengang kembali. Ikbal dan Andra beserta tim melakukan pembersihan kembali, tapi kali ini lebih banyak dari yang kemarin.

“Bal, siapa sebenarnya pelaku dari semua ini, dan kenapa Dika dan Sofyan selalu ketiduran?” tanya Andra heran.

“Aku juga sedang berpikir Ndra, apa sebaiknya kita pasang cctv?” ucap Ikbal.

“Apa kas kita cukup sudah cukup untuk membeli cctv?” tanya Andra.

“Nanti aku tanyakan Lira, bendahara kita.” Jawab Ikbal.

“Tapi Ndra, sebaiknya jangan beritahu anggota kita dulu jika uang kas itu akan kita gunakan untuk membeli cctv, karena kita kan dalam proses penyelidikan, kita belum tahu siapa pelakunya. Paham kan maksudku?”

“Iya paham.” Jawab Ikbal.

Setelah menghitung uang kas, Andra dan Ikbal bergegas datang ke kantor Pemkab. Meminta donasi terkait pemasangan cctv, karena uang kas masih kurang. Bupati Pingindaran langsung menyetujui dan malah akan lebih banyak melakukan penggalangan dana setelah ini. Karena memang sejak KOMKEBRAN dibentuk, kondisi Pantai Pingindaran bisa lebih baik. Andra dan Ikbal juga diberi gaji khusus tiap bulan. Kejadian penumpahan sampah yang sangat banyak ini membuat sang bupati sangat prihatin.

Dua malam sudah kejadian penumpahan sampah dialami. Malam ketiga setelah kejadian tersebut Ikbal dan Andra yang akan berjaga.

“Dika, Sofyan malam ini kalian tidak usah berjaga, biar aku dan Andra yang akan berjaga malam.” Ucap Ikbal.

“Tapi bukannya aku dan Sofyan masih harus berjaga satu malam lagi?” tanya Dika.

“Iya benar Bal, biar kami saja, kami masih harus bertanggung jawab.” Timpal Sofyan.

“Tidak apa-apa ini darurat.” Jawab Ikbal tegas.

Tak disangka Dika dan Sofyan terus merengek agar mereka saja yang berjaga malam. Hal ini membuat Andra makin curiga. Andra dan Ikbal sudah menyusun rencana dengan rapi. Karena Dika dan Sofyan terus merengek, akhirnya sebagai pengalihan mereka ditugaskan hal lain yaitu melakukan rapat di rumah bupati Pingindaran dengan didampingi Ikbal. Dika dan Sofyan tak dapat menolak. Handphone mereka diamankan dahulu, Ikbal pun begitu, alasannya agar rapat tidak terganggu. Padahal ini salah satu strategi Andra.

Dari kejauhan Andra mengamati bersama asisten pribadi bupati Pingindaran. Cctv sudah terpasang di dekat pantai di antara pohon kelapa, agar memudahkan pemantauan. Sudah menunjukkan pukul satu malam tapi belum juga ada tanda-tanda. Apa komplotan itu sudah tahu jika diawasi? Gumam Andra dalam hati. Andra mulai mengantuk namun ia tak boleh lengah. Andra dan asisten bupati pun meminum kopi kembali untuk menghilangkan kantuk.

Pukul satu sudah sangat sunyi. Benar-benar sepi tak ada orang satu pun. Karena sekarang musim hujan para nelayan tidak melaut. Nelayan di daerah sini hanya berapa orang. Kebanyakan lebih memilih jadi pemandu wisata, bekerja di pabrik, hingga pergi ke perantauan.

Sementara di lain tempat, di kediaman Bupati Pingindaran sedang diadakan rapat. Banyak sekali rangkaian acara. Benar-benar tidak ada yang memegang handphone satu pun. Dika dan Sofyan tampak sangat gelisah. Mereka tidak sadar kalau dari tadi sikapnya terus diperhatikan oleh bupati dan Ikbal.

Pukul dua dini hari akhirnya muncul bergerombol orang mengendap-endap kemudian dua truk besar, menumpahkan sampah kembali ke Pantai Pingindaran ini. Andra memperhatikan dan sudah sangat geram ingin segera melabrak pelaku. Namun aspri bupati berkata tunggu dulu mereka selesai, hingga rekaman cctv punya bukti kuat. Saat mereka selesai dan akan pergi langsung dicegat oleh pasukan Andra yang bersembunyi, hingga para pelaku tak berkutik dan berhasil ditangkap. Para pelaku langsung dibawa ke kantor polisi. Andra langsung menghubungi Ikbal yang saat itu telah selesai rapat. Ikbal pun langsung memberitahu pak bupati. Kemudian mereka menunggu kabar selanjutnya. Mereka begadang hingga mendapat kabar lanjutan dari Andra.

Di kantor polisi…

“Jadi siapa yang menyuruh kalian melakukan ini semua?” tanya polisi.

“eh anu Pak..”

“Jawab!”

“Bos kami Raharja Agung pemilik cafe  dekat Pantai Pingindaran ini. Dia yang menyuruh kami membuang semua sampah ini ke pantai Pak. Karena setiap hari sangat banyak sampah yang dihasilkan tidak bisa menampung lagi. Tapi kata Pak Harja sudah konfirmasi dengan pihak pantai tidak apa-apa membuang di sana asalkan buang pada malam hari dan tidak mengganggu. Pak Harja juga sudah mengeluarkan dana tiga juta untuk sebulan ke depan pada pihak penjaga pantai Pak.” Salah satu pelaku memberi penjelasan.

“Pihak pantai siapa? Cepat katakan? Jika pada anggota KOMKEBRAN siapa? Saya sebagai pemimpin komunitas tidak merasa memberi izin.” Sergah Andra geram.

“Sabar Pak Andra. Jadi siapa pihak pantai yang memberi izin?” tanya polisi pada pelaku.

“Namanya Dika dan Sofyan Pak, mereka mengaku pimpinan komunitas kebersihan pantai. Mereka juga yang menerima uang tiga juta tersebut.” Jawab pelaku.

“Apa?! Pimpinan komunitas KOMKEBRAN hanya saya dan Ikbal. Mereka hanya mengaku. Dih, sudah kuduga mereka terlibat.” Ucap Andra makin geram.

“Baiklah, sesuai informasi dari Pak Andra bahwa saudara Dika dan Sofyan sedang berada di kediaman Bupati Pingindaran. Pihak kami sedang menjemput mereka untuk dibawa kesini.” Terang Polisi.

“Iya Pak.” Jawab Andra.

Polisi langsung menuju kediaman Bupati Pingindaran. Beberapa menit kemudian sudah sampai dengan cepat. Kemudian terdengar pintu diketuk. Sang bupati langsung membukakan pintu, dan sudah paham, karena sebelumnya memang sudah diberitahu.

“Baiklah, tanpa basa-basi Saudara Dika dan Sofyan kalian ikut kami ke kantor polisi.” Ucap polisi.

“Ta.. Tapi.. Apa salah kami?” Sofyan bertanya pura-pura tak mengerti.

“Kalian telah melakukan izin kepada oknum pak Harja untuk membuang sampah di pantai, kalian juga telah disuap, kemudian mengaku sebagai pimpinan komunitas.” Terang polisi.

“Tidak Pak, kami…”

Belum sempat Dika melanjutkan kalimatnya. Polisi sudah meringkusnya bersama Sofyan dan kemudian dibawa ke kantor polisi. Setelah melalui rangkaian panjang akhirnya Dika, Sofyan, pak Harja, dan anggota mereka lainnya dipenjara selama 3 tahun sesuai dengan Undang-undang No. 32 tahun 2009 tentang pencemaran lingkungan hidup. Bukan hanya itu saja cafe pak Harja juga ditutup tidak diperbolehkan lagi untuk buka. Sanksi tegas untuk dijadikan pelajaran bagi yang lain untuk tidak mencemari lingkungan.

Sejak peristiwa tersebut, KOMKEBRAN semakin banyak mempunyai relasi, donatur tetap, dan formasi kekuatan pihak-pihak yang membantu. Wajah Pantai Pingindaran pun sudah benar-benar berubah. Tidak ada lagi sampah yang berserakan. Keadaan laut dekat pantai juga rutin dibersihkan. Setiap sudut terdapat tulisan sanksi untuk siapa saja yang membuang sampah sembarangan atau dengan sengaja mengotori lingkungan. Hal itu membuat wisatawan lebih disiplin dalam menjaga kebersihan.

Pihak pengelola pantai dan para pemandu wisata pun ikut merasakan hasilnya. Karena keadaan pantai yang bersih semakin banyak wisatawan yang datang bahkan pendapatan naik dua kali lipat. KOMKEBRAN semakin berkembang dan dikenal. Semua bangga terhadapnya. Di balik itu semua ada peran besar dua sahabat akrab yaitu Ikbal dan Andra. Mereka adalah generasi penerus yang sadar akan kebersihan lingkungan. Semoga bisa terus melahirkan lebih banyak lagi  penerus-penerus lain yang sadar kebersihan yang mampu menjaga lingkungan. Sehingga dapat terhindar dari krisis iklim yang banyak membawa dampak buruk bagi lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *