Cerpen #108: “MENYELAMATKAN NEXT GENERATIONS”

Ankaa, mahasiswa pecinta alam yang baru saja turun gunung tetap harus masuk kuliah pagi ini. Kalau bukan karena hari ini mata kuliah environmental security kelas Pak Niko yang terkenal galak, dia pasti sudah memutuskan untuk bolos saja pagi ini. Perlahan dia mempersiapkan bawaannya lalu berjalan kaki dengan pelan ke kampus karena memang dia tinggal tidak jauh dari kampus. Pagi ini tidak begitu baik bagi Ankaa, kaki masih sakit karena naik gunung, dia harus bangun pagi untuk ikut kelas pak Niko yang galak dan ditambah lagi cuaca pagi jam 07.30 ini sudah seperti tengah hari. Bagaimana bisa dalam perjalanan dia begitu keringatan. “Panas banget sih, masih pagi loh. Ini matahari bocor apa gimana!!”, sungut Ankaa dalam hati. Beruntung akhirnya dia bisa sampai dalam kelas, agak sedikt lega setelah kulitnya terkena AC dalam ruangan kelas yang cukup dingin. Syukurnya Ankaa tidak terlambat pagi ini.

“Selamat pagi semuanya…”, sapa Pak Niko pada seluruh mahasiswanya yang tampaknya sudah sedaritadi mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran hari ini. Tanpa berpidato pembukaan pelajaran seperti yang dilakukan dosen pada umumnya, Pak Niko langsung menulis di white board, “IKLIM”, begitu tulisnya. Tidak heran, ini adalah mata kuliah tentang lingkungan yang juga menjadi salah satu fokus ilmu hubungan internasional. Masih diam, tidak ada suara dan Pak Niko juga masih asik menulis. Biasanya jika sudah begini, dosen satu ini bisa saja mendadak menunjuk seseorang lalu melontarkan pertanyaan sehingga banyak mahasiswa yang sedari tadi tidak fokus akan gelagapan dibuatnya.

“Dovi!!!”, tanpa menoleh kearah mahasiswanya dosen ini menyebut nama salah satu dari mereka, mengagetkan semua makhluk di ruangan itu. “Saat saya menulis kata iklim, apa yang ada dalam pikiran kamu?”, kata pak dosen ini melanjutkannya dengan pertanyaan. Dovi adalah mahasiswa teladan dan juga adalah orang yang sangat peduli lingkungan tentunya baginya tidak sulit menjawab pertanyaan dosen yang terkenal galak ini. “Perubahan iklim pak”, kata Dovi menjawab sesuai pertanyaan yang dilontarkan. Tidak bisa dibayangkan betapa malunya jika Dovi malah menjelaskan pengertian iklim, Pak Niko pasti sudah mempermalukannya karena menjawab tidak sesuai dengan pertanyaannya. Kali ini oleh jawaban Dovi benar dan sang dosen melewatkannya dan tampaknya beliau sudah siap dengan pertanyaan kedua yang akan lebih mematikan. Dalam hati Ankaa berdoa agar sang dosen tidak menyebut namanya, kali ini Ankaa sangat ingin dilupakan.

“Apa itu iklim?, Adrian!!!”, kali ini korbannya adalah Adrian si anak ambisius yang pastinya sejak tadi malam sudah mempelajari materi hari ini. Adrian menjawab dengan percaya diri, “ Menurut yang saya baca di website penelitian dan pengembangannya KLHK, Iklim adalah rata-rata cuaca dimana cuaca merupakan keadaan atmosfer pada suatu saat di waktu tertentu. Iklim di definisikan sebagai ukuran rata-rata variabilitas kuantitas yang relevan dari variabel tertentu seperti temperatur, curah hujan atau angin, pada periode waktu tertentu yang merentang dari bulan hingga tahunan atau jutaan tahun. Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari dan faktor-faktor yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan penggunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil pak”, jawaban yang sangat lengkap dan juga terkesan menjawab pertanyaan yang belum di lontarkan sang dosen galak. Tetapi dosen tersebut tidak berkomentar, itu artinya dia setuju dan mungkin pertanyaan berikutnya akan lebih sulit daripada seharusnya.

“Saudara Adrian tadi sudah menyebutkan bahwa iklim akan berubah secara terus menerus. Jadi Ankaa menurut kamu apa itu perubahan iklim?”, tanya Pak Niko pada Ankaa yang sedaritadi berdoa dalam hati agar dirinya tidak ditanyai oleh dosen galak ini, bisa gawat kalau Ankaa tidak bisa jawab apalagi menjawab ngaur akan membuat hari ini menjadi hari terburuk Ankaa. Tapi pertanyaan kali ini tidak sulit bagi Ankaa karena sebenarnya segala pertanyaan di jurusan ilmu hubungan internasional jawabannya selalu ada di PBB. Kebetulan Ankaa juga ikut kelas PBB dan juga mendapatkan materi tentang perjanjian iklim sehingga dia menjawab sesuai dengan apa yang ada di PBB saja, lalu dia menjadi aman. “Berdasarkan Konvensi PBB tentang Kerangka Kerja Perubahan Iklim atau yang lebih dikenal sebagai UNFCC, perubahan iklim adalah perubahan yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga mengubah komposisi dari atmosfer global dan variasi iklim alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan dimana komposisi yang dimaksud adalah karbon dioksida, metana, nitrogen dan lainnya pak”. jawab Ankaa.

Belum selesai juga pertanyaan Pak Niko, “kalau begitu apa yang akan terjadi jika perubahan iklim terus berlangsung?”, kali ini Pak Niko tidak menunjuk siapapun tetapi pastinya beliau sedang menunggu seseorang bisa dengan sukarela memberikan diri untuk menjawab pertanyaannya. “Saya pak”, Dovi mengangkat tangan menjadi pahlawan bagi teman-teman lainnya yang belum diberi pertanyaan pada hari ini. “Silahkan Dovi”, Pak Niko mempersilahkan. “Komposisi atmosfer yang berubah biasanya disebut juga efek rumah kaca. Efek rumah kaca dibutuhkan untuk menjaga suhu bumi tetap stabil tetapi konsentrasi rumah kaca yang semakin meningkat akan membuat lapisan atmosfer semakin tebal. Penebalan inilah yang menyebabkan jumlah panas bumi terperangkap di atmosfer semakin banuak sehingga mengakibatkan suhu bumi meningkat pula atau biasa disebut pemanasan global. Jika pemanasan global tersebut terus terjadi, maka akan membahayakan kehidupan di masa depan pak”, Dovi menjawab.

Dovi sangat aktif di mata kuliah ini, sangat berbeda jika di kelas healt security dia akan lebih banyak diam. Dovi adalah seorang veganis yang hanya memakan produk tumbuhan saja dan tidak memakan produk hewan sama sekali. Salah satu alasannya adalah ingin berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca karena penyumbang seperempat hingga sepertiga dari emisi gas rumah kaca adalah dari produksi makanan yang menyebabkan antropogenik atau polusi yang disebabkan oleh manusia. Tidak jarang Dovi ini bersaksi dan mempengaruhi temannya untuk menjadi vegetarian juga untuk menyelamatkan bumi dengan tindakan nyata. Benar saja Axel, sabahat dekatnya sudah berhasil di doktrin olehnya menjadi seorang veganis.

“Bagus sekali Dovi. Apakah ada yang ingin menambahi?”, tanya pak Niko pada seluruh mahasiswanya yang tengah terkagum pada Dovi. Hampir setengah menit tidak ada yang mengangkat tangan apalagi mengeluarkan suara sehingga pak Niko mengakhiri pertanyaannya. Begitulah cara mengajar pak Niko untuk memutar otak anak-anak didiknya lalu kemudian memberi mereka tugas dan akan memberi materi secara langsung diakhir kuliah. Kalau dikelas pak Niko, jangan harap kamu bisa mengantuk apalagi tertidur dikelas. “Baik, saya akan membagikan kalian dalam beberapa kelompok yang terdiri dari dua orang. Masing-masing kelompok akan saya bagi perannya sebagai pro atau kontra. Peran pro adalah pihak yang percaya bahwa perubahan iklim adalah nyata dan harus segera mencari solusi untuk menyelamatkan bumi. Peran kontra adalah pihak penyangkal yang tidak percaya  akan kenyataan perubahan iklim sehingga merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Persiapkan kelompoknya masing-masing sesuai peran yang saya berikan dan minggu depan kita akan debat. Pro melawan kontra dan sebaliknya. Nanti akan kita bagi beberapa sesi dan setiap sesinya ada satu kelompok pro melawan satu kelompok kontra. Berikut saya bagi kelompoknya”, jelas Pak Niko.

Ternyata Ankaa mendapat partner yang cukup menguntungkan yaitu Dovi. Ditambah lagi peran mereka adalah peran pro sehingga ide jenius pasti akan keluar dari Dovi si veganis sang penyelamat bumi itu. Setelah membagi tugas kepada mahasiswanya Pak Niko baru menjelaskan tentang iklim lebih meluas dan bagaimana iklim sudah menjadi fokus utama di dunia internasional dengan adanya perjanjian iklim dan kerjasama-kerjasama yang terjalin antar negara untuk menyelamatkan bumi kita dari perubahan iklim yang membahayakan. Tidak terasa kelas environmental security pun telah usai dan saatnya mereka bersiap kelas berikutnya.

“Ankaa”, panggil Dovi, “kita mau bahas kapan? Hari ini ada waktu kosong?” lanjut Dovi yang sepertinya sudah semangat menyiapkan bahan debat. “Duh, gini ya Dov, aku baru turun gunung. Badan aku sakit semua, kaki aku apalagi dan aku ga bisa fokus kalau mau bahas sekarang, ga efektif. Gimana kalau dua hari kedepan deh, kita cari bahannya masing-masing dulu abis itu baru deh kita ketemuan buat bahas ya. Aku mau pulang, daaah”, jawab Ankaa lalu kemudian ingin pergi tetapi ditahan Dovi. “Eitss, gimana sih! Ankaa, kamu udah di kampus, kelas berikutnya juga di kelas yang sama. Jadi kaki kamu ga akan sakit lebih sakit juga kalau jalan pulang. Mending ga usah pulang, kaki kamu gak sakit, kamu gak perlu bolos dan kita juga bisa sambil bahas bahan debat”, bujuk Dovi. “Tapi Dov, otak aku udah gak bisa diajak kerjasama”, masih bertahan ingin pulang, tetapi Dovi tetap berhasil menahan Ankaa karena Ibu Ratna dosen yang mengajar berikutnya sudah datang, dia memang terkenal dosen yang selalu datang setengah jam sebelum jadwal kelas dimulai.

“Loh Dovi, Ankaa, kalian datangnya awal sekali yah. Anak-anak lain belum ada tuh”, kata Bu Ratna sambil tersenyum, sangat ramah. “Iya Bu tadi abis kelas Pak Niko”, jawab Dovi. “Ya sudah ayo masuk. Apa gak kepanasan diluar? Di dalam lebih adem kan ada AC”, kata Bu Ratna menawarkan. “Oh, kami menunggu disini dulu saja bu, ada tugas dari Pak Niko yang harus kami bahas sebentar”, kali ini dijawab oleh Ankaa. “Oh kalau begitu ibu tunggu di dalam ya”, kata Bu Ratna lagi masih dengan senyum ramah di wajahnya.

“Maunya bahas perubahan iklim, eh malah nawarin ngadem pakai AC. Ya ampun, sangat sesuai sekali bukan?”, kata Dovi pelan, dengan sarkasmenya dan segera disusul oleh tawa Ankaa yang sangat lepas seolah-olah bukan dia yang beberapa menit lalu mengeluh sakit. “Kamu juga, tadi katanya mau bolos. Sekarang kok jadi semangat mau bahas? Otaknya udah on lagi ya?” kata Dovi dengan nada bercanda. “Ish gimana sih, ini aku udah bersedia berdiskusi masih aja di protes. Jadinya mau bahas apa ni?”, ucap Ankaa yang balik protes. “Heumm kita harus banyak ngumpulin data tentang bukti nyata perubahan iklim, bahayanya dan solusinya”, kata Dovi memberi saran. “Yap, itu emang udah harus. Tapi kayanya kita harus buat satu jargon atau satu tema yang jadi kekuatan kita gitu loh pas debat nanti”, Ankaa malah menambah bahan pikiran baru. “Aku udah kepikiran itu sih, gimana kalau jargonnya kita “menyelamatkan next generations”, kan kalau urgensi iklim ini terpecahkan atau setidaknya dapat kita cegah, anak cucu kita di masa depan akan memiliki kehidupan yang aman”, Dovi menyampaikan isi hatinya yang membuat Ankaa malah menggodanya. “Uuuu kakek Dovi so sweet banget”, goda Ankaa. Begitulah pertemuan singkat hari itu menghasilkan kesimpulan bahwa mereka masing-masing akan cari bahan tentang perubahan iklim, bahaya serta solusinya dan sepakat membuat jargon “menyelamatkan next generations”.

Ankaa banyak mencari bahan dan data tentang apa saja upaya yang sudah dilakukan oleh negara-negara untuk mengurangi kerusakan iklim. Dia menemukan website NASA, dimana dalam website tersebut ada ulasan yang sangat jelas tentang bukti perubahan iklim, efeknya serta solusi yang dapat dilakukan. Tanpa beripikir panjang, Ankaa memutuskan untuk memasukkan ulasan tersebut ke dalam daftar bahan yang dia kumpulkan. Setelah mengumpulkannya lalu dia mengolah data dan fakta yang ia temukan dengan membaginya ke dalam beberapa bagian. Bagian yang pertama tentang bukti bahwa perubahan iklim itu nyata, yang kedua tentang penyebab terjadinya perubahan iklim, ketiga tentang dampak yang disebabkan perubahan iklim serta yang keempat solusi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah perubahan iklim, dibagi lalu di tulis dengan kata-kata sederhana yang dapat dengan mudah dipahami saat debat nanti.

Dovi juga sama, dia juga mencari bahan dan berbagai data dari berbagai situs berita maupun situs milik pemerintah dari berbagai negara, aksi-aksi yang telah dilakukan serta aksi apa yang menurutnya bisa dilakukan sebagai mahasiswa secara nyata. Bagi Dovi, Ankaa adalah teman sekelompok yang sepemahaman dengannya, Ankaa adalah mahasiswa pecinta alam yang pastinya sudah dibekali banyak pengertian tentang topik yang saat ini mereka kerjakan, apalagi Ankaa juga adalah mahasiswa angkatannya yang terkenal cerdas meskipun tidak memiliki semangat dan ambisi sebesar Dovi. Dua hari sebelum debat di kelas Pak Niko, mereka sudah berjanji akan mengerjakannya bersama di taman pentagon kampus. Kebetulan hari itu angkatan mereka tidak ada kelas, jadi waktu kosong biasanya dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas. Mahasiswa pada hakikatnya memang tidak punya hari libur, kalaupun ada libur mungkin akan digunakan untuk kegiatan organisasi atau ya mengerjakan tugas.

Hari demi hari berlalu, kini tibalah saatnya Ankaa dan Dovi bertemu untuk membahas secara final materi debat lusa nanti. Mereka sepakat untuk bertemu pada pukul delapan pagi. Ankaa yang sangat takut terlambat, bersiap lebih awal. Ankaa memang sering sekali hampir terlambat kemana-mana, pada waktu dia datang sudah sangat dekat dengan waktu mulainya suatu acara. Kali ini Ankaa berusaha secepat mungkin. Seminggu sudah sejak dia pulang dari gunung, jadi kakinya sudah bisa melangkah lebih cepat. Dalam perjalanan, ada seekor anjing besar yang kelihatannya tidak galak mengikuti Ankaa dari belakang. Sebenarnya Ankaa sedikit takut pada anjing yang belum dia kenal. “Hush, hush, jangan ikutin aku. Anjing ga boleh ikut kuliah”, kata Ankaa berusaha tenang padahal sebenarnya jantungnya sudah berdetak sangat cepat. Ankaa mempercepat langkahnya, tapi tetap saja si anjing mampu mengejar dan mengikutinya dari belakang. Sesampainya di gerbang belakang kampus, Ankaa buru-buru menyapa para security yang sedang bertugas dan masih mempercepat jalannya. Anjing tadi masih mengikutinya sampai masuk gerbang. Masih terdengar oleh Ankaa salah satu security berkata, “eh anjing siapa ini?”, Ankaa mendengarnya tapi dirinya juga memang tidak tahu itu anjing siapa hanya saja anjing itu mengikutinya sedari tadi. Beruntung pak security itu berhasil membujuk anjing itu pergi keluar kampus. “Semoga anjing itu benar-benar pergi dan enggak ngikutin lagi”, ucap Ankaa dalam hatinya.

Sesampainya Ankaa di taman pentagon, ternyata belum ada siapa-siapa. Syukurlah Dovi belum sampai karena bisa saja Dovi sudah ceramah tujuh SKS kalau Ankaa terlambat. Dia mengirim pesan pada Dovi bahwa dia sudah ada di tempat tetapi tampaknya handphone Dovi sedang tidak aktif karena pesan Ankaa belum terkirim juga. Tidak sempat sarapan karena takut terlambat, Ankaa pun kelaparan saat menunggu Dovi datang. Dia memberi pesan lagi pada Dovi meskipun dia tahu kalau Dovi belum aktif juga. “Aku ke kantin bentar ya, lapar. Tunggu di pentagon aja”, tulis Ankaa dan lagi-lagi pesan itu belum juga terkirim.

Bahkan setelah Ankaa selesai sarapan pun, Dovi belum juga muncul. Dia sudah mulai kesal dibuat menunggu sangat lama. Setelah total menunggu selama dua jam, Dovi baru datang. “Maaf ya, aku terlambat”, kata Dovi minta maaf pada Ankaa yang pastinya sangat kesal padanya. “Ini nih, anak muda jaman sekarang. Aku udah jamuran nunggu kamu Doviiii. Kamu gak mikir apa, udah berapa banyak waktu yang udah berlalu karena nunggu kamu. Aku harus bangun pagi, aku diikutin anjing, kamu buat aku nunggu dua jam. Ini baru pagi dan energi aku udah habis nunggu kamu. Capekk banget”. Omelan Ankaa malah membuat Dovi tertawa terbahak-bahak. “Kamu? kejar-kejaran sama anjing? Hahahahahaha kamu gak punya teman main yang lain apa gimana sampai main kejar-kejaran sama anjing hahaha”, Dovi malah mengejeknya. “Gak lucu Dov, mending cepat deh dimulai keburu aku lapar lagi, menunggu itu capek”, Ankaa masih kesal.

“Yap, yuk kita mulai yuk. Aku dulu yang menyampaikan sesuatu atau kamu dulu?”, tanya Dovi. “Yang terlambat duluan pokoknya!”, jawab Ankaa. “Okey, jadi aku udah ngumpulin dari berbagai sumber dan juga dari pendapat aku sendiri tapi berdasarkan data juga kok tenang. Perubahan iklim kan bisa menyebabkan meningkatnya suhu bumi yang akan mencairkan es di kutub. Cairnya es kutub itu juga berkontribusi besar membuat naiknya permukaan laut sehingga daratan yang kita tempat saat ini bisa saja suatu saat akan tenggelam dan  mengancam kehidupan manusia masa depan. Itulah sebabnya kita harus mengatasi perubahan iklim. Dimulai dengan hal sederhana, misalnya mengurangi penggunaan bahan bakar…”, “kamu aja masih pakai bahan bakar, ke kampus motoran kan? kaya aku dong jalan kaki, upaya nyata menjaga iklim”, potong Ankaa. “Eitss, Ankaa kamu ini sungguh terlalu. Kalau aku gak pake motor, aku pasti bakal lebih terlambat datangnya”, Dovi membela diri. “Kamu juga masih menikmati AC kelas”, Ankaa masih memburu Dovi. “Lah kalau itu, kamu juga hahahaha”, jawab Dovi masih tidak rela tersudutkan. “Ya udah lanjut”, Ankaa mempersilahkan Dovi melanjutkan temuannya.

“Memang sekarang kita semua masih berkontribusi memperburuk perubahan iklim sih. Tapi pelan-pelan sudah mulai bisa dikurangin. Kayak aku nih, memang sekarang aku masih berkontribusi dalam hal yang negatif karena aku pakai kendaraan tapi jangan salah aku juga berkontribusi besar dalam mencegah keterpurukan perubahan iklim dengan menjadi vegan. Kamu tau, seperempat persen dari gas emisi rumah kaca itu berasal dari makanan, lebih dari 50% emisi berasal dari produk hewan serta 50% dari gas emisi hewan tersebut berasal dari sapi dan kambing yang adalah produk yang paling banyak di konsumsi oleh masyarakat internasional, termasuk kamu juga”, jelas Dovi. “Tapi gak semua harus jadi vegan kan? Tubuh kita juga kan butuh asupan daging. Mengurangi aja sih lebih tepatnya”, Ankaa ingin menyelamatkan dirinya dari doktrin Dovi. Apalagi Ankaa adalah jenis manusa pemakan segala sehingga tidak mungkin rasanya bisa hidup tanpa makan daging sama sekali.

“Tapi dengan menjadi vegan kamu akan menjadi semakin sehat Ankaa. Selain semakin sehat, kamu juga berkontribusi menyelamatkan our next generation  dari panasnya bumi dan ancaman tenggelam yang menghantui setiap hari. Nih ya, aku kasih tahu kamu makanan vegan itu enak banget. Ntar deh aku kapan-kapan aku ajak kamu makan makanan vegan ternikmat”, Dovi ini sedang berdiskusi dengan Ankaa tentang bahan debat kelas Pak Niko sekaligus juga mendoktrin Ankaa untuk menjadi seorang vegan juga seperti dirinya. “Kok jadi ngomongin makanan sih Dov, ini kita lagi persiapan debat, tolong yah”, Ankaa mengarahkan kembali ke tujuan semula.

“Ankaa, ngomongin makanan aku jadi lapar nih. Belum sarapan tadi sebelum ke kampus”, kata Dovi kali ini sudah tidak lagi membahas yang berhubungan dengan tugas. “Dov, kamu udah datang terlambat, sarapan belum sempat, bahas dikit langsung lapar, sekarang gimana?”, sungut Ankaa. “Kita makan dulu yuk, tapi jangan disini, tempat aku makan biasa. Disini menunya pada produk hewan semua. Sekalian kita lanjut disana aja, kamu juga harus nyoba makanan vegan”, ajak Dovi. “Tapi Dov, aku udah sarapan dan aku tidak lapar”, jawab Ankaa. Tetapi Dovi terus membujuknya dan akhirnya Ankaa setuju kalau diskusi mereka dilanjutkan ke tempat makan yang akan ditentukan Dovi. “Tapi Dov, aku kan ga punya helm”, tiba-tiba Ankaa sadar kalau dirinya tidak mungkin ikut Dovi tanpa mengenakan helm karena itu cukup berbahaya. “Santai, kita pinjam helm pak security”, jawaban Dovi yang cukup mengagetkan. Baru tahu kalau security menyediakan helm untuk dipinjamkan kepada mahasiswa.

Tidak terasa ternyata hari sudah siang, sebenarnya memang sudah saatnya makan siang. Oleh karena itu, akhirnya Ankaa mencoba juga makanan vegan yang disebut-sebut Dovi sejak dari kampus tadi. Selama makan mereka ternyata tidak membahas sama sekali tentang tugas yang diberikan Pak Niko. Mereka malah membahas makanan vegan yang ternyata rasanya sangat mirip dengan aslinya. Ternyata menjadi seorang vegan tidak seburuk  yang dibayangkan Ankaa dan baginya jika suatu saat nanti pemerintah mengeluarkan peraturan untuk menjaga iklim dengan mewajibkan semua masyarakatnya menjadi vegan, Ankaa mungkin akan bisa bertahan. “Bagaimana saudari Ankaa, apakah anda siap menjadi penyelamat generasi berikutnya dengan menjadi vegan?”, tanya Dovi dengan ekspresi bangga memamerkan makanan vegan yang menurutnya sangat enak itu. “Well not bad, enak juga tapi bukan berarti aku langsung jadi vegan ya, aku masih cinta ayam geprek”, jawab Ankaa sambil terus menikmati makanannya.

“Kalau makan, harus dihabisin Kaa. Karena sisa makanan itu juga mengasilkan emisi yang tidak baik buat iklim loh”, kata Dovi memberi wejangan. “Siap anaknya Pak Niko”, jawab Ankaa meledek. Baru saja mereka selesi hujan turun begitu derasnya, jadi mereka memutuskan untuk meneruskan diskusi di tempat makan ini saja meskipun suasana sedikit tidak kondusif. “Kalau perubahan iklim dibiarkan begitu saja, itu juga akan mempengaruhi prespitasi loh”, celetuk Dovi tiba-tiba. “Iya Dov iya, aku lebih suka sih kalau prespitasinya dalam bentuk duit”, canda Ankaa. “Itu sih semua makhluk bumi juga suka”, tambah Dovi lagi. Lalu mereka tertawa beberapa saat hanya karena hujan. Ankaa sama sekali tidak menyangka Dovi anak yang cukup ambisius bisa seasyik ini juga.

Hujan masih deras dan tawa kedua mahasiswa itu sudah mulai mereda. Lalu mereka memutuskan untuk memulai kembali persiapan debat mereka yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Kali ini keduanya sepakat untuk bekerjasama dengan baik untuk memenangkan debat lusa. Debat tersebut memang bukan perlombaan tetapi mata kuliah yang dibawakan oleh Pak Niko, dosen luar biasa itu merupakan hal yang sangat penting bagi semua mahasiswa di kampus mereka. Mulailah kali ini giliran Ankaa untuk membagikan temuannya yang sudah dia susun dengan begitu rapi. “Jadi aku udah bagi nih dalam empat bagian. Bagian pertama itu tentang bukti kalau perubahan iklim itu nyata. Aku yakin kelompok lawan akan menyampaikan ini, jadi kita udah pegang kelemahan mereka dengan menunjukkan. Kedua, bagian tentang penyebab terjadinya perubahan iklim, bagian ketiga nanti kita menyampaikan tentang dampak perubahan iklim. Nah nanti dibagian ini kita sampaikan jargon yang kemari kamu bilang itu “menyelamatkan next generations terus jargon ini nyambung ke solusi yang kita tawarkan dibagian keempat supaya kita gak cuman protes tapi juga menyediakan solusi”, jelas Ankaa.

Sepanjang Ankaa menjelaskan, Dovi mengangguk tanda setuju. Kemudian Ankaa melanjutkan pemaparannya. “Aku kemarin nyari bahan dari berbagai sumber, termasuk dari websitenya NASA…”, “Wait, what? NASA?”, potong Dovi. “Iya NASA, soalnya penjelasannya mudah dipahami”, jelas Ankaa. “Gak, gak bisa Kaa, kamu gak mungkin lupa dong kalau Amerika aja pernah membatalkan kesepakatannya di Perjanjian Iklim Paris. Ga usah ambil bahan dari situlah”, Dovi protes. “Tapi Dov, penjelasannya bagus kok, relevan juga sama pembahasan kita. Lagian Amerika udah kembali kok sama kesepakatan Perjanjian Iklim, itu artinya mereka udah menunjukkan berkomitmen kembali untuk mengatasi masalah iklim”, jelas Ankaa lagi. “Gak bisa Kaa, mending jangan pakai data dari situ deh”, Dovi masih tetap dalam pendiriannya.

Ankaa mulai emosi karena Dovi sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan temuannya. “Aku capek Dov, kamu bahkan gak mau dengar aku sama sekali. Lagian apa masalahnya sih, aku kan cuma bilang kalau salah satu sumber yang aku ambil itu di website NASA. Kamu jangan melihat sesuatu disatu sisi aja Dov dan lain kali tolong kasih orang lain kesempatan buat menjelaskan sebelum protes”, Ankaa marah. Dovi tidak menyangka kalau Ankaa akan menjadi semarah ini. “Aku kesal sama kamu Dovi, aku mau pulang. Besok kita lanjut lagi”, kata Ankaa lalu pergi tanpa menoleh ke arah Dovi sedikitpun. “Ankaa, tapi itu masih hujan, heii”, Dovi berusaha menahan Ankaa yang sudah dengan cepat berlalu. Dia berbegas untuk menyusul Ankaa, menyimpan barang-barang Ankaa yang masih tertinggal ke dalam tasnya, pergi ke parkiran dan mengenakan jas hujan lalu menelusuri jalan yang mungkin akan dilewati Ankaa tapi tidak terlihat juga Ankaa sepanjang jalan itu.

Setelah lama mutar-mutar mencari Ankaa, Dovi memutuskan pulang lalu menghubungi Ankaa. Pesan Dovi sama sekali tidak kunjung dibalas dan dia memberanikan diri menelpon Ankaa tapi tidak diangkat juga. Pikirnya, mungkin Ankaa masih marah jadi mungkin dia membutuhkan waktu sendiri dulu. Dovi pun mengeluarkan dari tasnya barang-barang Ankaa yang tertinggal. Ternyata setelah dibaca, Dovi menyadari  bahwa bahan debat yang sudah disusun Ankaa sangat bagus, dia jadi merasa bersalah telah memprotes tanpa menyimak terlebih dahulu. Dovi berniat untuk meminta maaf besok pagi saat mau masuk kelas.

Keesokan harinya, Dovi mencari keberadaan Ankaa tapi tidak ditemukannya. Tidak ada yang tahu Ankaa dimana dan pesan Dovi masih saja belum dibalas. Apa mungkin Ankaa marah begitu lama? Dovi memutuskan untuk menelpon Ankaa lagi, kali ini pun tidak diangkat tetapi akhirnya Ankaa membalas pesannya, “Aku gak masuk kuliah, suara aku hilang habis kena hujan kemarin. Aku mau istirahat full hari ini supaya besok debat suara aku udah balik lagi. Maaf”, tulis Ankaa. Dovi makin merasa bersalah, ini semua karena dia Ankaa jadi kehujanan dan suaranya hilang.

Dari informasi yang Dovi dapatkan dari teman sekelasnya tentang dimana kos Ankaa, dia memutuskan untuk menjenguk Ankaa sambil membawa wedang jahe yang bagus untuk tenggorokan. “Ankaa, aku di depan kos kamu. Masih sanggup keluar bentar gak?”, Dovi mengirim pesan pada Ankaa. Tidak lama menunggu, Ankaa keluar dan melihat Dovi sedang duduk di ruang tamu. “Kamu tahu kos aku dari mana?”, tanya Ankaa denga suara yang sangat serak, hampir tidak terdengar. Dovi merasa kasihan tapi merasa lucu juga mendengar suara Ankaa yang aneh. “Dari Adrian”, jawab Dovi singkat. “Loh Adrian tahu darimana?”, tanya Ankaa lagi. “Ga tau juga, udahlah mending ga usah terlalu banyak bicara lagi. Nih, wedang jahe. Diminum supaya suara kamu cepat balik. Apa perlu aku ambilin gelas?”, ujar Dovi sedikit memaksa. Mungkin karena feeling, jadi Dovi tahu dimana letak dapur, mengambil sebuah gelas, menuangkan wedang jahenya dan memberinya pada Ankaa untuk diminum.

“Maafin aku ya, aku seharusnya mendengarkan dengan baik penjelasan dari kamu”, Dovi dengan berani minta maaf. “Aku juga minta maaf, kalau aja aku gak kekanak-kanakan, aku gak akan kehujanan dan malah hilang suara kaya gini”, Ankaa juga meminta maaf. Keduanya sepakat untuk saling memaafkan. “Aku juga udah belajar kok dari materi yang kamu buat, besok empat bagiannya kita gantian jelasinnya ya. Kamu istirahat, biar suaranya cepat balik. Aku pulang dulu”, Dovi pamit. “Makasih, Dov”, kata Ankaa sambil mengantarkan Dovi keluar.

Hari yang ditunggu telah tiba, ada banyak yang terjadi selama satu minggu ini. Belajar dari kesalahan, berani meminta maaf, memaafkan, menghargai dan banyak lagi pelajaran yang dapat diambil setelah seminggu menyiapkan tugas dari Pak Niko. Suara Ankaa sudah jauh lebih baik dan dia pagi ini telah siap untuk berangkat ke kampus. Betapa terkejutnya dia saat keluar dari pintu kos ternyata sudah ada Dovi disana menunggunya. “Yuk, berangkat bareng”, ucap Dovi. Merekapun berangkat bersama, Ankaa protes sambik bercanda karena Dovi sudah membuatnya memperburuk keadaan iklim dengan menggunakan sepeda motor pergi ke kampus. “Kalau gitu untuk membayar kesalahan, kamu jadi vegan aja”, kata Dovi masih berusaha mempengaruhi Ankaa.

Tiba giliran mereka berdebat melawan kelompok Adrian dan Axel. Giliran pertama untuk menyampaikan argumen adalah tim kontra. Adrian dan Axel menyatakan penyangkalan mereka terhadap perubahan iklim dengan tegas mengatakan bahwa perubahan iklim tidak berbahaya. Pada saat Pak Niko mempersilahkan untuk Dovi dan Ankaa, seperti yang sudah mereka diskusikan, Ankaa akan mengambil alih bagian pertama dan ketiga sementara Dovi akan mengambil alih bagian kedua dan keempat.

“Terima kasih Pak Niko dan teman-teman, disini saya dan Dovi menyatakan bahwa fenomena perubahan iklim benar adanya. Saya akan memaparkan bukti terkait yakni kenaikan suhu global yang setiap tahunnya meningkat sekitar 1,18 derajat Celcius bayangkan jika terus menerus begitu, akan membahayakan generasi setelah kita yang hidup dimasa panas bumi yang sangat tinggi, terjadinya pemanasan laut yang juga naik 0,33 derajat Celcius sejak 1969, lapisan es yang menyusut karena panas bumi menyebabkan es di kutub mencair yang berpotensi menenggelamkan daratan, kenaikan permukaan laut, prespitasi yang kini sudah jauh beda dari beberapa tahu yang lalu serta pengasaman laut yang mengancam kehidupan laut juga”, jelas Ankaa. “Hal tersebut terjadi karena aktivitas manusia yang banyak menghasilkan gas emisi rumah kaca yang membuat atmosfer menahan banyak panas sehingga suhu bumi semakin meningkat, belum lagi kebiasaan manusia yang menghasilkan limbah yang memperburuk keadaan bumi kita”, lanjut Dovi.”Efek yang dulu diperkirakan ilmuan masa lalu, sekarang sudah terjadi. Seperti hilangnya es, percepatan kenaikan permukaan lau dan gelomang panas yang lebih lama serta lebih intens, dimasa mendatang diperkirakan suhu bumi akan semakin meningkat, akan adanya perubahan pola curah hujan yang kini telah kita alami juga, diberbagai wilayah akan sangat banyak kekeringan, diperkirakan permukaan air laut akan naik 1-8 kaki pada tahun 2100, jelas disini kita sudah dapat melihat seberapa bahanyanya dan seberapa urgensi perubahan iklim ini sehingga kita tidak dapat tinggal diam dan pasrah. Kita yang hidup dimasa sekarang harus bertindak menemukan solusi demi menyelamatkan generasi-generasi berikutnya.”, Ankaa melanjutkan argumen. “Solusi yang bisa kita upayakan saat ini yaitu dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, menghilangkan limbah, mencegah polusi, kalau bisa ke kampus jalan kaki seperti Ankaa, meningkatkan daur ulang, mengukur, melaporkan dan mengurangi emisi gas rumah kaca langsung dan tidak langsung oleh negara-negara di dunia internasional dan masih banya hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk mencegah memburuknya perubahan iklim. Seperti saya dengan menjadi veganis, tidak mengonsumsi produk hewani yang menghasilkan gas metana, jadi saya sudah berkontribusi, contoh lain, kita bisa sama-sama mengurangi pemakaian AC dan menghindari adanya sisa makanan karena makanan yang menyumbang seperempat dari total gas emisi rumah kaca. Jadi kita semua bisa berkontribusi untuk menyelamatkan generasi berikutnya dengan upaya sederhana yang bisa kita lakukan. Sekian dan kami, Ankaa dan Dovi. Terima kasih”, Dovi menutup sampai disitu penyataan kelompok mereka.

Debat berjalan dengan sangat interaktif, Pak Niko memuji keberanian dan ketegasan Ankaa dan Dovi dalam memberi argumen hingga tim lawan tidak dapat berkata apa-apa lagi. Adrian dan Axel juga pada dasarnya merupakan pihak pro jadi mereka sedikit kesulitan membawakan peran sebagai pihak kontra. Dari keseluruhan debat kelas tentang perubahan iklim, dimenangkan oleh tim pro dan satu kelas mendapat acungan jempol dari Pak Niko yang senang karena semua mahasiswanya antusias dalam mengerjakan tugas. Kini mereka mengerti untuk terus menjaga lingkungan demi kenyamanan hidup kita sekarang dan juga menyelamatkan generasi selanjutnya dari ancaman.

Ankaa berhasil di dokrin oleh Dovi, beberapa hari setelah tugas debat berlalu, Ankaa memberi kabar baik pada Dovi bahwa dirinya memutuskan menjadi vegan. “Hahaha serius? Wow marvelous, gitu dong. Oke Ankaa, aku akan menemani kamu makan. Kabarin aja lagi kangen makan daging apa, aku anterin”, Dovi mengekspresikan rasa senangnya. “Pakai motor nganterinnya? Gimana kalau naik bus aja lebih ramah lingkungan”, ucap Ankaa. “Let’s go aja”, jawab Dovi. Keduanya kemudian menjadi partner yang sangat kompak, berkarya bersama, berdebat, berdiskusi, mereka sering berbeda pendapat tetapi kini sudah saling mengerti. (SELESAI)

7 thoughts on “Cerpen #108: “MENYELAMATKAN NEXT GENERATIONS”

  1. Wahhhhh, cerita bagus karena bisa mengemas ilmu pengetahuan dengan konsep yang menarik jadi mengurangi kebosanan seperti membaca buku pengetahuan pada umumnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *