Cerpen #107: “Kenyataan yang Tak Terelakkan”

Teri membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa begitu berat, seperti ada barbel puluhan kilo menimpa tubuhnya. Teri berusaha bangkit dengan susah payah sembari memegang dadanya yang terasa sesak. Sulit bagi Teri untuk melihat sekelilingnya dengan jelas karena butiran debu dan pasir sibuk berdansa ke sana dan ke sini.

“Dimana aku?”

Sungguh aneh, Teri bahkan tak dapat mengingat apa yang menyebabkan dirinya terdampar di tempat tak berpenghuni. Beberapa kali Teri merasakan sakit hebat di kepalanya, saat itulah dia melihat potongan-potongan gambar yang menunjukkan dirinya tengah berada di kamar, membaca buku tebal ditemani kudapan manis. Saat itu gulungan awan hitam berlomba-lomba menutupi matahari. Tak butuh waktu lama, langit mulai menangis, dibarengi dengan suara petir yang bersahutan. Guyuran hujan dari mega hitam yang datang seolah menandakan kesedihan bumi. Sekilas Teri melihat lubang hitam muncul membelah langit, kemudian pandangannya menjadi gelap gulita dan tubuhnya seperti terombang ambing mengikuti angin. Begitu membuka mata, dia sudah berada di tempat asing. Bahkan dia tak yakin tubuhnya masih berada di bumi.

“Halo…., ada orang di sini? Siapapun, tolong saya tersesat.”

Teri memaksakan diri berjalan di tengah serangan badai pasir. Tangan yang digunakan sebagai pagar bagi kedua matanya, terasa terbakar karena panas terik. Beruntung badai pasir tak berlangsung lama, meskipun artinya dia harus melihat kengerian yang ada di depan mata. Langkah kakinya terhenti, bola matanya berlari liar menjelajahi sekitar. Dia melihat gunungan sampah di mana-mana, pabrik-pabrik industri mengepulkan asap hitam ke mulut langit. Suram, gersang, kering dan panas. Tak ada pepohonan, tumbuhan yang meliukkan tubuhnya saat tertiup angin. Yang ada hanya hempasan debu dan pasir menyakitkan bola mata.

Pikiran Teri dipenuhi tanda tanya, apa yang terjadi pada buminya? Di mana dia berada saat ini? Sayangnya, Teri tak bisa menemukan jawaban apapun. Dia memberanikan diri melangkah dan melangkah lebih jauh lagi, mencari sisa-sisa kehidupan.

Entah sudah berapa lama dia berjalan, tetap saja tak ada tanda-tanda kehidupan yang ditemui. Hingga dirinya dihadapkan pada sebuah pondok tua yang berada di antara bangunan pembangkit listrik tenaga fosil.

Ada sejumput harapan di wajah Teri, mungkin saja ada kehidupan yang tertinggal. Dengan sisa tenaga yang ada, Teri berjalan tertatih menahan rasa lelah dan dahaga. Teri berhenti tepat di depan pintu pondok, beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.

Krekkkkk….

Tangan Teri mendorong pintu pondok, memunculkan kebisingan mengganggu telinga. Teri menginjak lantai pondok yang terbuat dari kayu, terdengar bunyi gaduh menandakan usianya yang tua dan nyaris lapuk. Ruangan yang terkesan hampa, hanya ada meja dan kursi di dekat jendela. Teri berjalan mendekati meja, sebuah benda hitam tampak tak asing baginya. Benda yang mirip dengan perekam suara. Tanpa disadari tangannya telah mengenggam benda kecil itu, perlahan jari Teri menekan tombol play dan terdengar percakapan dua manusia.

“Mel, bulan  Juni seharusnya masih musim kemarau, belum masuk periode musim hujan.”

“Terus kenapa? Memangnya kalau hujan harus izin dulu sama kamu? Biasa aja Teri, hujan juga bagian dari fenomena alam, nggak ada yang aneh.”

“Ya aneh dong Mel, belakangan ini hujan deras disertai angin kencang datang terus menerus Mel, padahal bulan ini memasuki musim kemarau.”

“Kamu terlalu mudah berpikiran negatif.”

“Bukan begitu Mel, coba perhatikan dan rasakan. Kalau pas cuaca panas, suhu bumi rasanya mendadak naik ekstrim. Kalau pas hujan, curah air hujan yang mengguyur bumi terlalu besar. Tonton aja berita di televisi, banyak terjadi banjir bandang, hujan deras bahkan ada yang disertai angin ribut di beberapa daerah. Ada yang salah dengan bumi kita saat ini Mel.”

“Ah, kamu berlebihan….”

“Mel kamu jangan berpikir seperti siput dong, lambat banget! lihat dong sekelilingmu. Bukankah aneh sekarang cuaca jadi tak menentu. Musim hujan dan kemarau saja sekarang udah sulit diprediksi. Bencana alam di mana-mana Mel.”

Mata Teri membelalak, lidahnya kelu mulutnya terasa terkunci saat dia mendengar suaranya sendiri. Berulang kali Teri menarik nafas panjang, mencoba mencari ketenangan dalam dirinya. Meskipun pikirannya diliputi rasa takut, dia melanjutkan memutar alat perekam suara di tangannya.

“Bisa nggak kamu bayangin Mel, bagaimana kalau tanah yang kita pijak tiba-tiba menghilang, dan kita ditarik ke lubang terdalam, terus daratan yang kita tempati ini berubah menjadi lautan, atau ada bencana kelaparan hampir di seluruh negara karena tak ada lagi padi, sayur dan buah yang bisa dipanen. Semua tumbuhan dan hewan mati karena cuaca yang tak menentu. Ditambah lagi mutasi virus menciptakan varian-varian baru yang memunculkan wabah penyakit. Jangan anggap remeh Mel, alam sudah bersuara ini. Bagaimana jika bumi benar-benar lenyap. Bagaimana jika manusia musnah karena murka alam. Mungkinkah dunia kita akan mengalami kiamat?”

Seketika Teri merasa lututnya gemetar, dia tak kuat lagi menahan berat badannya sendiri. Teri berusaha menjangkau kursi yang ada, bulir air mata hampir saja membasahi pipinya. Apakah ketakutannya menjadi nyata? Hal itu lah yang bisa dia pikirkan. Benarkah dunianya mengalami kiamat?

Teri dulu berpikir bahwa kiamat hanyalah sebuah peristiwa karena intervensi Tuhan, penghakiman manusia pada hari yang tak terduga. Semua akan terjadi tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Tapi melihat sekelilingnya saat ini, mungkinkah sebagian besar kehidupan di bumi telah musnah? Apakah sebagian besar populasi telah lenyap? Apakah bumi telah diteror oleh perubahan iklim ekstrim yang menyerupai kiamat?

Teri semakin penasaran dengan yang terjadi, dia mencari-cari petunjuk di setiap sudut ruangan, apapun itu yang bisa menjawab segudang pertanyaan dalam benaknya. Tak ada satu pun barang lain yang dia temukan, kecuali sebuah buku berwarna biru yang telah usang. Tersimpan rapat dalam laci meja tak berkunci. Tanpa aba-aba, tangan Teri langsung menggapai dan membuka halaman buku.

Dear Diary,

Mentari nyaris tak pernah menampakkan dirinya, yang ada hanya gemuruh angin dan suara hujan yang jatuh membasahi tanah. Entah berapa banyak curah hujan yang tercurah per harinya, sepertinya hujan tak pernah memiliki rasa bosan. 

Meli kembali menertawai pemikiranku, dia menganggap ketakutanku berlebihan, aku terlalu mempercayai cerita akhir zaman yang semakin mendekat. Bahkan Meli menganggapku aneh dan semua perkataanku tak masuk akal sehingga layak diabaikan.

Aku hanya merasa ada yang aneh dengan dunia tempatku tinggal. Ada perubahan signifikan pada suhu udara dan curah hujan. Ada peningkatan temperatur bumi. Alam seperti banteng yang sedang mengamuk. Beginikah jika alam sudah murka, semua manusia akan sengsara. Kesedihan manusia yang membentur kehendak alam. Sungguh, bumi tak akan sanggup menanggung bencana.

Teri tak bisa melepaskan pandanganya dari buku harian berwarna biru di tangannya. Dia semakin bertanya-tanya apa yang tertulis di tiap lembarnya. Teri membuka halaman demi halaman.

Dear Diary,

Hari ini aku merasa ada yang aneh dalam perjalananku pulang. Keanehan itu ternyata ada pada bukit yang sering kulewati. Biasanya bukit itu berwarna hijau pepohonan, tetapi sekarang gundul. Semakin lama aku sadar bahwa telah dilakukan penebangan hutan secara besar-besaran di sana. Aku yakin pasti ada lebih banyak lagi penebangan hutan yang dilakukan di bumi ini.

Dear diary,

Awal Juli awan gelap masih berkumpul setiap pagi di cakrawala. Bukankah ini pertanda buruk? Sebuah tanda bahwa kesengsaraan akan datang. Ah, tapi tetap saja, banyak orang menganggap kiamat hanyalah sebuah takhayul, mereka bahkan tak pernah mau membuka mata untuk melihat tanda yang diberikan oleh alam. Andaikan saja orang-orang peka mungkin saja bumi akan terselamatkan.

Aku hanya akan menutup mata dan berharap pagi segera datang, dimana sang surya akan memancarkan kehangatan dan menyusup melalui celah lubang ventilasi kamar. Sayangnya, malam ini terasa lebih panjang. Aku hanya merasa gelisah.

Dear Diary,

Hari ini aku menyempatkan diri untuk datang ke bukit di dekat rumahku. Hal ini didasari rasa penasaran terhadap perubahan yang terjadi. Bukit itu dulu berwarna hijau dan indah. Setiap mata yang memandang akan dimanjakan oleh hamparan pepohonan berwarna hijau. Tapi sekarang bukit itu berwarna coklat, seperti warna tanah. Selama puluhan tahun bukit itu terjaga keasriannya, mendadak berubah menjadi gersang. 

Aku datang untuk mengobati kekhawatiranku, berharap asumsiku salah dan berharap bukit itu masih akan selalu asri. Sesampainya di sana aku sungguh terkejut. Warna coklat yang selama ini kulihat adalah hasil dari penebangan hutan secara masif. Satu per satu pohon yang kokoh ditumbangkan, semua itu demi apa? Demi lahan pertambangan. Demi kawasan industri ekstrakstif berbasis lahan dalam skala yang besar

Jika ditanya bagaimana perasaanku saat itu, aku merasa tubuhku sakit, seakan godam tengah menghantamku. Apakah reaksiku berlebihan? Tentu saja tidak. Aku selalu peduli dengan bumiku, tempatku berpijak. Jika bukan aku, siapa yang akan peduli. Alam telah merawat manusia, tapi kecerdasan manusia yang diiringi ketamakan telah merusak alam. 

Aku sempat berbincang dengan warga di sana, bukan keceriaan atau kegembiraan yang mereka pancarkan, tapi raut wajah kesedihan dan putus asa. Mereka menunjuk sebuah bangunan yang telah menjadi pabrik pembangkit listrik tenaga batu bara. Warga resah karena banjir yang kerap datang sejak pabrik dibangun, hal ini karena adanya perubahan bentang lahan. Bahkan pembangunan proyek juga telah menimbun saluran air warga. 

Bukan hanya itu saja, mereka juga mengungkapkan ketakutan mereka akan bahaya pembakaran batu bara bagi hidup mereka. Rumah mereka tak jauh dari pabrik, polutan yang disebarkan dari cerobong akan meracuni udara yang dihirup warga sekitar. Rasanya ingin kuteriakkan pada dunia bahwa segala aktivitas yang tak ramah lingkungan harus dibenahi. 

Seandainya saja penduduk di bumi ini paham bahwasanya penambangan dan pembakaran batu bara menjadi salah satu penghasil emisi terbesar yang menyebabkan menipisnya lapisan ozon; melepaskan gas metana yang dapat menangkap panas 20 kali lipat lebih banyak dari karbondioksida. Dengan kata lain, emisi yang dihasilkan dari pembakaran batu bara menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Bukankah ini menunjukkan bahwa pembangunan proyek energi fosil berdampak buruk terhadap kualitas hidup manusia juga untuk lingkungan?  

Dear Diary,

Manusia tamak telah menempuh jalan yang salah dalam menuju peradaban. Seharusnya kecerdasan manusia digunakan untuk menciptakan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan. Faktanya, mengembangkan energi kotor sangatlah polutif. Perusahaan yang didirikan manusia harusnya lebih peduli dengan kelestarian lingkungan dan menekan emisi karbon menjadi yang terkecil. 

Apakah orang-orang sadar bahwa energi kotor itu mematikan? Seharusnya mereka membuat emisi karbon yang ramah lingkungan. Dan sadarkah manusia bahwa aktivitas mereka sehari-hari telah menciptakan gelombang panas ekstrim yang menghancurkan berhektar-hektar lahan pertanian, membunuh semua hewan yang ada dan menyebabkan kebakaran hutan? 

Manusia bertanggung jawab atas krisis iklim yang telah memicu ketidakpastian musim. Curah hujan tinggi yang parah akan menyebabkan banjir bandang, bahkan disertai badai. Di satu sisi kebakaran hutan ekstrim disebabkan curah hujan di periode antar musim telah turun alias berkurang, menyebabkan kekeringan hebat. Kenaikan suhu dan penurunan curah hujan tentu akan berdampak besar pada hasil panen. 

Apa yang dilakukan kebanyakan manusia dengan tanda alam ini? Tak ada! Mereka seakan tak peduli, bahkan menutup mata ketika alam telah bereaksi. Bumi ini mulai mendidih kepanasan. Bencana alam datang bertubi-tubi, fenomena cuaca telah berubah polanya. Pada akhirnya kita manusia hanya akan menjadi bagian dari pemanasan global. Bumi pun kolaps karena krisis iklim. Banyak hal buruk yang akan terjadi. 

Bumiku malang, manusia yang kau kasihi ternyata telah durhaka. Mereka telah merusakmu dengan terus menghasilkan energi kotor dan membangkitkan krisis iklim. Mungkin mereka menunggu hingga bumi terlambat untuk diselamatkan.

2 thoughts on “Cerpen #107: “Kenyataan yang Tak Terelakkan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *