Cerpen #106: “Senja Pantai Setrojenar”

Kakek Mandan berusia tujuh puluh lima tahun. Berbadan tegap dengan otot-otot membalut kedua lengannya. Kakinya kokoh menyangga tubuhnya yang renta. Ia terlihat masih sangat bugar. Usai mandek jadi nelayan, hidupnya bersambung di pasar Kertajati sebagai kuli. Meski begitu, laut kadung berbunga di hatinya. Hampir tiap jumpa, dia selalu bercerita ihwal asam-garam hidunya di lautan: ikan-ikan sebesar pohon randu, debur ombak dan amuk badai yang tidak pandang bulu, sampah-sampah perkakas manusia, tongkang-tongkang batubara, juga kapal-kapal asing besar yang tidak tahu malu.

Pernah, sekali waktu, selepas sekolah aku lewat depan rumahnya. Aku mendapati dia tengah membetulkan pagar bambu halaman rumahnya. Tangannya yang besar sibuk mengayun-ayun palu, memukul paku. Setiba aku di dekatnya, ia menengok, kemudian menyapaku.

“Kau pulang sekolah, kok, tak pakai sepatu. dimana sepatumu?”

“Sepatuku di tas, kek. Biar tak kotor dan bisa main air di galengan.” Seruku, sambil kusedot habis es teh di dalam plastik yang sejak tadi aku pegangi.

“Sini, mampir dululah. Aku kasih pisang rebus buat mengganjal perutmu.”

“Baiklah, kek.” Pungkasku. Dan, dia pun beranjak ke gubuknya yang sederhana itu. Tangannya yang kasar menenteng ember lusuh berisi alat-alat pertukangan. Aku menyusuli punggung kekarnya. Lalu, duduk di kursi bambu buah tangannya. Saat cacing-cacing berteriak di perutku, ia datang membawa janjinya. Ia taruh hidangan itu disamping Kendi coklat kehitaman yang dari tadi menatapku.

“Makasih, kek. Hehehehe.” Kataku.

“Makanlah. Tadi pagi, aku petik dibelakang rumah. Kebetulan sekali, hari ini, aku tak ke pasar.”

Aku pun melahap pisang rebus suguhannya itu. Lapar membikin nikmat kunyahan-kunyahan di mulutku. Irama ham-hem-ham-hem terdengar bersahut bunyi cap-cap-cap yang beradu di bibirku. Di depanku, aku melihat kakek Mandan melinting tembakau hitam dan menyan. Sekali dibakar, bunyi kemretek terbang berbaur asap yang mengepul. Sedap sekali. Sesekali lidahnya menjilati kertas rokok berbentuk kerucut itu.

Tiga buah pisang rebus telah masuk perutku. Kuteguk air dari Kendi di depanku, memastikan hidangan yang aku makan benar-benar terbenam di perutku. Perutku menjadi penuh, sekarang. Setelah semua peragaan makanku usai, tiba-tiba ia bertanya padaku. Nadanya penuh selidik. “Eh, di mana es teh yang kau bawa tadi?

“Sudah habis, kek.”

“Bungkusnya?”

“Sudah kubuang di selokan seberang pagarmu itu.” Jawabku sambil mengelap sisa minuman di pinggir bibirku.

“Kau membuang sampah sembarang saja!”. Ia menegur. “Lekas kau ambil. Buang di anyaman bambu dekat pohon rambutan itu”.

Tanpa banyak tanya, segera aku turuti permintaannya itu. Aku pungut plastik bekas bungkus minumanku, dan melemparnya ke dalam anyaman bambu di dekat pohon rambutan yang tak berbuah itu. kemudian bergegas kembali ke tempat dudukku. Sebelum benar betul dudukku, ia melanjutkan.

“Membuang sampah harus pada tempatnya…”

“Kenapa musti di tempat sampah, kek? Bukannya nanti bakal hilang sendiri disiram air hujan?” Timpalku keheranan.

“Itu bukan hilang. Tapi, pindah tempat. Air hujan akan membawa sampah plastikmu ke tempat lain. Bisa menyumbat saluran air. Bahkan sampai ke laut”.

“Ke laut? Apa tidak lebih baik kalau di sana? Tidak menumpuk di daratan, kek”

Mendengar celotehku, sebentar ia tertawa.

“Itu namanya dzolim. Menaruh sesuatu tidak pada tempatnya. Laut bukan tempat sampah. Kalau laut kotor, ikan-ikan pada mati.”

“Aku cuma membuang satu sampah plastik, kek.”

“Coba kau bayangkan. Bila ada seribu orang yang sama sepertimu itu. Bagaimana laut jadinya?”.

Aku tidak membantah lagi. Di atas kepalaku awan hitam masih menggumpal. Meski hari masih siang, aku merasa gelap. Aku bingung. “Lebih baik pulang.” Gumamku dalam hati. Dan, aku pun pamit pada dia.

Sepanjang jalan aku terus kepikiran wejangan-wejangan pensiunan nelayan itu. Persis radio kurang pas setelan frekuensinya. Mengiang-ngiang.  Hardiknya soal sampah plastik yang aku buang, nasihatnya tentang laut akan kotor tercemar plastik, pula ikan-ikan yang bisa mati, terus mondar-mandir di kepalaku.

“Kenapa aku yang disalahkan? Aku membeli es teh berbungkus plastik itu dari warung di sekolah. Jelas. Warung itu yang salah. Bukan aku! Hmmm…Tanya ayah sajalah!” Gerutuku. Keputusasaan menyakinkan pikiran kanak-kanakku. Kubawa saja kebingungaku bakal oleh-oleh ayah-bundaku di rumah.

————–

Selepas Isya, kami berkumpul di ruang tengah.  Bunda sibuk melipat pakaian yang seharian dijemur. Satu demi satu ditumpuk rapi sekali. Di pojok menghadap meja, ayah duduk mengoreksi hasil-hasil ujian siswa.  Ayahku adalah guru agama sekolah menengah dekat alun-alun kota. Ia bukanlah pegawai negeri. Statusnya masih guru honorer. Bayaran yang tak seberapa itu, tak mengalahkan ketulusanya. Ia sangat rajin. Pula, pribadi yang taat pada agama.

Malam itu, aku duduk di lantai dekat bunda. Tanganku menengang oleh pensil. Kepalaku menunduk pada buku tulis bergaris-garis di depanku. Suasana sunyi. Beberapa saat kemudian, Bunda membuka obrolan. Matanya melirik pada diriku yang sedang mengerjakan soal-soal latihan. Wajahnya yang tenang menggugurkan kepenatanku.

“Setelah kau selesaikan soal-soal latihanmu, segera tidur, ya.” Aku mangguk-mangguk. seperti ayam makan gabah. Sebagaimana ucapan ibu yang penuh kepastian, anggukanku cukup jadi jawaban. Tapi, perkataan kakek Mandan tadi siang masih membekas di kepalaku. Aku pikir, sebelum tidur, kebingunganku yang kupungut dari perkataan kakek tua itu harus kuceritakan pada mereka. Hanya ayah-bunda sajalah tempatku mengadu. Kadang, aku tak memerlukan jawaban atas kegeliahanku. Yang penting ada telinga yang mau mendengar keluh kesahku.

“Bu, tadi siang aku bertemu kakek Mandan.” Kataku memberanikan.

“Kakek Mandan yang tinggal di ujung jalan dekat masjid itu?” Ayah menyambut ceritaku.

“Iya, ayah. Pas lewat depan rumahnya, aku disuruh singgah sebentar. Gara- gara aku membuang plastik sembarangan, dia bercerita banyak tentang plastik yang bisa menyumbat saluran air. Juga, katanya, kalau sampai ke laut ikan bisa mati.  Aku bingung ayah. Kenapa aku yang salah? Aku hanya membeli es teh berbungkus plastik itu dari warung, berarti warungnyalah yang salah. Bukan aku.” Mendengar pembelaanku, ayah melirik bunda. Sejenak mereka tertawa. Dengan penuh kasih ayah menerangi otakku dengan pengetahuannya.

“Lihatlah, anakmu makin cerewet saja.” Bunda menyela. Kemudian ayah menjawab dengan pelan. Nadanya mengandung kasih. Aku rasakan itu.

“Kakek Mandan itu benar, anakku. Kaupun benar. Hanya saja kau menjadi tak baik kalau membuang sampah tidak pada tempatnya. Baik engkau maupun warung penjual es teh di sekolahmu itu tak sepenuhnya salah. Engkau mendapat plastik dari warung. Si penjual di warung itu membelinya dari toko plastik di pasar. Dan, toko plastik di pasar itu membelinya dari pabrik.”

“Jadi, plastik-plastik itu dibikin sama pabrik, yah?”

“Betul, anakku. Sejak dahulu hingga sekarang ini.”

“Kenapa pabrik membikin plastik, kalau ujung-ujungnya plastik dibuang ke laut, Yah?”

“Ya, tak harus dibuang ke laut, nak. Membuang sampah pada tempatnya itu satu soal. Dan, pabrik membikin plastik-plastik itu soal lain. Keduanya berbeda, anakku.”

Jawaban Ayah menambah sesak kepalaku. Meskipun begitu, hatiku seperti hidung pilek menghirup balsam: plong. Ketabahan ayah-bunda mendengar ocehanku sudah cukup meredakan ronta keceriwisanku. Dan, aku beranjak ke kamar tidur. Setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua.

Seminggu telah lewat. Kebetulan hari itu adalah tanggal merah. Tanda libur telah tiba. Ayah dan bunda mengajakku bertamsya melihat alam. Sebagaimana kebanyakan orang di daerahku, satu-satunya tempat berlibur adalah pantai. Orang-orang menamainya pantai Setrojenar. Pantai ini tak jauh dari rumah kami. Kira-kira lima belas kilometer jaraknya. Perkiraan itu kutahu dari petunjuk arah di lampu merah pertama setelah jalan keluar gang dusunku. Perjalanan siang itu kami tempuh dengan sepeda motor. Ayah mengendarai di depan. Aku ditengah, dan bunda mengapitku di belakang. Sepanjang jalan, kepalaku bergoyang ke kanan dan kiri menuruti keinginan mataku. Pemandangan di kanan-kiriku terasa seperti tertinggal. Asyik sekali.

Jalan menuju pantai itu sempit. Hanya selebar satu mobil saja. Bila ada mobil saling berpapasan arah, satu diantaranya harus mengalah. Sebentar ia musti berhenti. Agak menepi. Dalam kegembiraanku, ayah yang sibuk mengendarai motornya memperingatkanku. “Nanti jangan main sendiri. Ikuti ayah- bundamu saja. Di timur sebelah utara pantai ada prajurit negara sedang latihan menembak. Bahaya.” Aku iyakan saja peringatan ayah. Kegembiraan ingin melihat laut telah menenggelamkan kecerewetan-kecerewetanku. Tiba-tiba ayah berhenti. Kutengok sekelilingku banyak pohon-pohon cemara. Debur gemuruh ombak memasuki kuping kecilku. Laut. Aku sampai di laut. Pikirku kegirangan. Dan, telapak tangan halus menggugah anganku yang melayang menikmati deburan ombak pantai Setrojenar. Itulah tangan bunda. Lentik jari-jari halusnya menarik, menggerakkan kakiku menuju pantai, melewati bangunan-bangunan kayu dan seng berkarat yang ramai pengunjung siang itu. Baju-baju dagangan digantung berjajar rapi pada tiang-tiang bambu. Pelampung-pelampung dari daleman ban-ban truk tertumpuk tak rapi. Di depan, ayah memimpin kami menuju bibir pantai. Sesekali kakiku kuangkat. Telapak kaki mungilku itu menginjak pasir yang masih hangat terbakar matahari. Dan, sewaktu air laut datang menyapa kaki kecilku itu, anyes datang mengganti panas pasir-pasir yang menyengat.

Aku tak ingat betul berapa lama kami bermain-main di pantai. Hanya kegembiraan-kegembiraan saja yang hinggap membekas di kepalaku. Ibu yang mengawasiku dari dekat. Pula, ayah yang menunggu di pinggir pantai dengan matanya yang tak lepas pandang pada aku dan bunda. Sesekali aku menatap kearahnya. Ayah tersenyum mambalas tatapanku, dan membiarkan diriku berlarian kesana kemari bersama bunda. Adakalanya aku lari dan bunda mengejar. Ada pula kala bunda lari dan aku melemparinya dengan pasir-pasir basah yang asin. Bunda selalu mengalah padaku sewaktu aku mengejarnya. Ia selalu berhenti sebelum jauh aku berlari. Ia tak pernah sungguh-sungguh berlari. Kasihnya tak sanggup membikin capek tubuhku.  Bila aku tinggal selangkah dekat dengannya, ia berhenti dan berbalik badan. Kedua tangannya merengkuh tubuhku. Dan, peluk hangat keibuannya menentramkan ronta kenakalanku.

Lama sekali aku dan bunda bermain-main dengan pasir pantai. Beberapa saat kemudian, bunda mengajakku ke pemandian air tawar. Ia membawa tanganku kesana. Akupun ikut saja. Tanpa kata, kutahu inilah pertanda permainanku di hari itu telah usai. Dan akupun mandi, membersihkan diri.

Selepas mandi dan berganti baju, dari kejauhan aku melihat ayah sedang mengobrol bersama seorang lelaki tua bercaping butut. Bunda yang menuntunku berkata penuh kepastian. “Hayo cepat. Ayahmu menunggu di sana. Itu dia sedang ngobrol dengan kakek Mandan.”

Rupanya, lelaki tua itu bukan lain adalah kakek Mandan. Pantas saja, sekilas, aku mengenal perawakan tubuhnya. Tegap dan kokoh. Kami pun membalapkan langkah kaki, menyusul ke tempat ayah duduk.

Setibanya disana, kakek Mandan tersenyum padaku. Ayah menarikku dan menempatkan tubuhku duduk di sampingnya. Dan, kulihat lelaki tua itu sangat bahagia. Ada rembulan di wajahnya. Kepalanya ditutupi caping kusam. Tubuhnya yang kekar itu dibalut kaos merah marun dengan tangan memegang jala tanpa ikan. Ia jongkok menghadap kami. Mereka mengobrol bersama. Sementara aku yang dianggap kecil mendengarkan saja. Setiba kami di tempat duduknya, ayah bilang pada bunda.

“Kakek Mandan bilang mau melaut lagi?”

Bunda diam saja. Tak lama kemudian kakek Mandan menyaut.

“Ya, jenuh dan kangen sama laut hehehehe. Sudah lima tahun aku tidak bergoyang-goyang diatas perahu. Menemui pengalaman-pengalaman. hehehehe”

“Apa sampean mau menjadi nelayan lagi, kek?” Bunda bertanya.

“Ah, tidaklah. Semua sudah sulit sekarang. Aku berhenti melaut karena kesulitan-kesulitan itu.”

“Apa yang sulit, kek? karena tak punya modal buat beli bahan bakar?” Bunda kembali bertanya.

“Tidak juga. Soal bahan bakar, aku tak pernah kesulitan. Dulu aku selalu menyimpan sisa uang hasil penjualan ikan untuk modal berlayar di hari berikutnya. Yang jelas sekarang susah sekali mengerti alam kita ini. Sejak dulu aku bersama nelayan lain selalu menggunakan pranata mangsa untuk menentukan arah mana lautan yang dituju. Saking hafalnya, aku jadi titen sama keadaan laut. Mudah sekali menentukan ke mana layar akan terkembang dan dimana ikan berkumpul. Kami jadi tau kapan badai, kapan laut tenang. Sekarang…. entahlah. Sejak enam tahun lalu itu.” Matanya yang sayu dihiasi bulu-bulu putih seperti golok itu memandang lautan. Jauh. Seraya menghela nafas, ia melanjutkan.

“Ya, beginilah nelayan. Dulu tak perlu jauh-jauh kami mencari ikan. Sekarang pantai ini begitu ramai. Anjungan-anjungan yang panjang membikin kami harus memutar otak kala melaut. Kalah canggih juga sama kapal-kapal asing di lautan sana. Alat mereka canggih-canggih. Biasanya kami mengindar berdekatan kapal-kapal itu. Sering juga, sewaktu menghindar, malah ketemu tongkang-tongkang batubara dari seberang. Kalau terjadi badai, pasti banyak yang gugur batu-batu hitam itu. Yah, nasib. Nasib.”

Lama kami berbagi kata. Sampai tak kerasa, surup telah datang. Bekas nelayan itu pamit pada kami bergegas menuju pantai. Ia berjalan ke arah pantai mendekati perahu kecil miliknya. Aku melihat dua buah perahu nelayan disana. Ia menaiki perahu berwarna merah. Sendiri. Sedangkan dua orang lain yang tak kukenal namanya, menaiki perahu berwarna biru laut bertuliskan ‘Indonesia Raya’. Mereka berlayarlah kini. Semakin jauh, semakin kecil mataku melihat. Dan, kamipun pulang ke rumah.

————-

Subuh itu gelap sekali. Semalamaan dusun kami diguyur hujan, deras sekali. Matahari belum juga tiba, hanya tarhim di corong masjid sudah terdengar. Kami, serumah, telah bangun. Sewaktu nyawaku belum kumpul sepenuhnya, tarhim itu segera berganti kumandang duka. Lelayu. Tiga kali seseorang mengabarkan melalui pengeras suara. Kakek Mandan. Ya, aku dengar kata terakhir kalimat lelayu itu menyampaikan. Kakek Mandan telah tiada. Aku keluar kamar menemui ayah. Ia diam saja. Tak lama, ia bilang. “Ini belum subuh. Aku ke masjid dulu. Kau sama bundamu tunggu di rumah.”

Beberapa saat kemudian, ayah pulang. Air mukanya keruh. Aku yang sedari tadi penasaran telah sadar sepenuhnya. Bersama bunda, aku mendengar ayah bercerita. Begini seingatku:

“Nelayan yang kemarin sore berangkat bareng kakek Mandan mengabarkan lelayu. Ia melihat perahu kakek Mandan terbalik diamuk badai. Bersama kawannya, dia tidak sempat meolong kakek itu. Malang, tubuh tua itu keburu lenyap dipeluk samudera. Ia telah tewas. Kembali pada kekasihnya. Innalillah…”

Aku termenung. Ingatanku pulang pada banyak kenangan bersama lelaki tua berhati emas itu. Ia yang sebatangkara telah purna. Ia telah gugur di hati kekasihnya. Jiwanya yang sekokoh cakar-cakar ayam anjungan pantai Setrojenar telah mengantar tubuhnya pada keteguhan abadi samudera. Ceritanya tentang sampah-sampah di lautan, kapal-kapal asing, gulungan ombak laut, ikan-ikan besar, dan prinsipsinya pada pranata mangsa bakal abadi. Setidaknya untukku. Pertemuan kami di senja pantai Setrojenar, keyakinan-keyakinan nenek moyangnya, dan perahu merah yang kami lihat kala itu menjadi kenangan terakhir yang takkan kulupa. Ya, kenangan. Kenangan lelaki tua pada senja pantai Setrojenar dalam usianya yang sore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *