Cerpen #105: “Buaya Terakhir di Sungai Barat”

Seorang perempuan bersimbah darah dari paha hingga ujung kakinya. Darah itu mengalir hingga ke sungai dan membuat airnya merah sementara. Ia baru saja melahirkan, sendirian, di tengah sunyi rimba. Aroma anyir darah mengundang buaya-buaya naik ke daratan dan mengerubungi bagai lalat hijau atas bangkai.

Buaya-buaya itu berkulit tebal kehijauan karena ditumbuhi lumut, merayap sepanjang sungai. Ketika tangisan pertama itu pecah membelah kesunyian rimba, buaya-buaya itu menggeliat, dan mengibaskan ekornya seperti kucing yang sedang manja pada tuannya.

Setelah tangisan yang singkat itu, buaya-buaya kembali ke keruh sungai. Lalu hening, seolah mereka tidak pernah naik ke daratan. Dahi perempuan itu dihiasi bintik-bintik keringat. Rambutnya nampak menegang dan kusut setelah berjuang melawan maut. Semut-semut dengan kepala merah dan tubuh sebesar kelingking mulai mengerubungi darah yang menggumpal dan mengering.

Jemarinya menjangkau selembar daun tumbuhan air yang lebar dan mematahkannya. Ia meletakkan tubuh si bayi di daun tersebut. Tangannya kemudian mencabut rerumputan air berdaun lembut. Membersihkan darah di sepanjang kakinya. Lantas turun ke air dan membasuh sisa darah yang sudah mengering. Ia berjalan dengan rasa perih di selangkangannya.

Menyusuri rimbun hutan. Kampung yang ia tuju tak pantas disebut kampung. Kampung yang dimaksud hanya terdiri dari 15 rumah panggung. Inilah kampung Sere, terdiri dari sekelompok peladang lada. Dayang Kute nama gadis tersebut, kira-kira berusia 20 tahun, muncul dengan wajah pucat dan suara tangisan bayi. Membuat orang-orang kampung menjerit.

Air muka mereka menunjukkan antara percaya dan tidak, atas apa yang dilihat. Beberapa orang menggosok matanya, untuk meyakinkan diri bahwa yang ada di dekapan itu seorang anak manusia, dan bukan anak setan. Yang lebih tua dan berani, mencoba menyentuh si bayi, “Mirip manusia,” tukasnya. “Memang itu bayi manusia, bodoh,” seorang lain menimpali. Semua hening dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Orang-orang itu membubarkan diri dan kembali ke rumah panggung mereka yang menyedihkan beratap daun rumbia dengan dinding kulit kayu. Seperti api ditiup angin, desas-desus pun menyebar. Mereka menebak-nebak ayah si bayi. Ada yang berprasangka itu anak hasil persetubuhan dengan jin penunggu rimba. Ada pula yang menduga, Dayang Kute diperkosa sekawanan perampok yang kadang lewat menggunakan sampan di sekitar sungai.

11 bulan sebelum munculnya Dayang Kute dengan bayinya. Ia dikabarkan hilang ketika mencari jamur di hutan. Orang kampung mencarinya, menyisir sungai dan hutan, bahkan hingga bagian tergelapnya, nihil. Sehelai rambut pun tidak ditemukan. Mereka menduga ia tenggelam dan ditelan buaya tanpa menyisakan secuil daging pun. Ada juga yang menganggap ia diculik jin rimba untuk disunting sebagai istri.

Bulan ke-12, ia tiba dengan seonggok daging hidup yang masih merah. Orang-orang tak berani menanyakan riwayat ayah si anak. Mereka takut, anak itu benih dari hantu-hantu rimba. Takut terkena tulah atau mendapat celaka ketika berada di hutan. Dayang Kute menamai si bayi dengan nama Bujang Alam, anak lelaki milik alam. Waktu berlalu, Bujang Alam tumbuh. Ia berkulit cokelat, rambut ikal, mata yang tajam, memiliki kaki dan lengan yang kokoh.

“Ayahku siapa?” tanyanya tiba-tiba sekembali dari berburu burung di hutan. Bujang Alam menanyakan soal ayahnya karena teman sebayanya menceritakan riwayatnya sewaktu kecil. Teman-temannya mengetahui kisah itu dari orang tua mereka. Ibunya, Dayang Kute, bergeming, tak ada suara apa pun yang menyeruak dari tenggorokannya. Semilir angin menjelang petang, menambah kesunyian di antara keduanya. Setelah itu tak pernah lagi ada pertanyaan tentang siapa ayahnya.

Ketika musim kemarau datang, debit air sungai menyusut dan tidak lagi mengalir. Menyisakan kubangan cukup dalam di bagian tertentu. Seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya, orang kampung akan menuba di kubangan tersebut. Mereka menyerok ikan-ikan yang mabuk dengan tampah bambu. Bujang Alam, satu-satunya orang yang tidak ikut menuba. “Aku lebih senang memancing atau menombak ikan ketimbang meracuninya,” katanya pada orang-orang.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang dari kota datang merambah hutan. Mereka bahkan meracun ikan dengan bahan kimia. Selain ikan, orang-orang kota juga memburu babi hutan dan lutung. Waktu itu pula, perusahaan tambang melebarkan jari-jarinya hingga ke hutan dan sungai terjauh. Menebang pohon-pohon tanpa ampun dan menjual kayunya ke perusahaan kertas di Jawa, membendung serta mengubah aliran sungai.

Awal kedatangannya, perusahaan tambang membangun deretan rumah panggung untuk buruh kasar lapangan. Seorang buruh yang berasal dari Jawa menemukan lokasi buaya mengubur telur-telurnya. Ia mencuri beberapa butir telur. Tiga hari kemudian, ketika sedang mandi di pinggir sungai, tangan kirinya disambar buaya dan putus, menyisakan sejengkal lengan yang koyak. Beberapa bulan setelah itu, seorang pekerja dari Palembang, mengumpat tak senonoh saat menebang pohon. Seminggu kemudian, ketika membasuh kepalanya di sungai, dadanya ditabrak buaya, membuat luka menganga dari bahu hingga tulang rusuk bawah.

Orang kampung hanya bisa melongo tak berdaya, ketika pertama kali eksavator datang bagai gunting, memangkas pohon-pohon. Mereka tak berani menghadapi perusahaan tambang yang dijaga preman berseragam khusus. “Dasar kutu air berseragam, kalian lebih buruk dari semua jenis kutu busuk mana pun,” umpat Bujang Alam, saat beberapa preman lewat di depannya dengan menggeber motor.

Perusahaan tambang memang tak langsung merusak sungai tempat mereka mandi dan mencari ikan. Jaraknya enam kilometer dari kampung, tapi lama-kelamaan, perusahaan itu semakin mendekat. Orang-orang mulai khawatir, beberapa sesepuh kampung membakar menyan. Memanggil mambang hutan agar segera menelan perusak hutan tersebut. Laki-laki muda bersiap-siap dengan mengasah parangnya menggunakan batu kali. Mata parang-parang itu tajam mengkilap bukan main.

Perempuan-perempuan muda mulai memetik daun khusus, yang getahnya menyebabkan gatal dan panas tak tertahankan. Meremasnya dan menaburkan di lokasi mandi pekerja perusahaan. Tapi seolah kebal, pekerja-pekerja itu sungguh liat. “Kita tidak bisa diam begini. Mereka semakin dekat dengan sungai dan kampung kita,” jelasnya di depan pemuda kampung yang berjumlah 13 orang.

“Kutu air kota itu tak tahu malu. Isi kepalanya cuma timah dan uang, tak ada otak di tempurung kepalanya. Semoga mereka dimakan setan,” gerutu salah seorang dari mereka.

Tengah malam sunyi, di bawah purnama terang. 13 pemuda itu menyerang pos-pos pekerja tambang. Dari 14 pos, mereka berhasil membakar delapan. Pekerja itu kalang kabut menyeburkan diri ke sungai. Enam orang, keesokan harinya, tersisa jempol kakinya. Tak lama setelah itu, menjelang siang, 50 orang preman berkumpul. Dengan bantuan alat berat, mereka membendung sungai di kedua sisinya. Menuang ratusan jerigen bahan kimia ke sungai dan menembaki buaya-buaya yang naik ke daratan. Ratusan buaya membusuk di pinggir sungai setelah itu.

“Siapa dalang dari pembakaran pos pekerja,” tanya ketua preman di kampung kecil itu. “Jika tidak ada yang mengaku. Kalian semua akan kami seret ke penjara,” ancamnya. Tak ada yang menjawab. Ia habis kesabaran, “Siapa?” teriaknya sembari melepaskan tembakan ke langit. Bujang Alam lalu maju, “Kalian kutu busuk jangan cari perkara di sini. Ini tanah kami sejak beratus tahun lalu. Kami, warga kampung tak ada urusan dengan kalian. Kami hanya ingin aktivitas tambang dihentikan,” sergahnya.

“Oh, kau rupanya, pahlawan kesorean. Siapa namamu? Kau belum pernah merasai bogem mentah, kan?” disambut tawa preman lainnya. “Dan kalian belum pernah merasai mata parang yang diasah dengan dendam, kan?” balas Bujang Alam. “Hey, kau, tungau kecil, mentalmu boleh juga, ya,” disambut tawa lagi. “Ayo, kau, si kecil pemberani, ikut kami ke kantor perusahaan!” gertaknya.

Dua orang preman berusaha mencengkeram lengan Bujang Alam. Ia menepisnya dan mencabut parang di pinggangnya. Mata parang berkilatan ditimpa cahaya matahari. “Kalau kalian jantan, jangan ganggu penduduk kampung. Tangkaplah aku, wahai kutu busuk!” Ia melompat ke semak-semak dan hilang di kerimbunan hutan. Para preman mengejarnya berhari-hari. Tak lama, Ia ditemukan dikerubungi semut dan lalat bangkai di rimbun ilalang. Kakinya berlubang, bekas tembakan. Lehernya lebam, tanda dijerat.

Sebulan setelah kematiannya, Dayang Kute ditemukan gantung diri di pokok nangka, setelah diperkosa sekawanan orang bertopeng. Perusahaan tambang makin gila-gilaan meluaskan daerah jelajah pertambangannya. Orang kampung yang tak berani dan tak berdaya melawan, memilih angkat kaki, menjauh, semakin jauh ke dalam hutan. Tujuh bulan kemudian, muncul penampakan buaya putih besar dengan kaki kanan belakang berlubang dan lehernya memiliki gurat kemerahan seolah pernah terjerat. Konon, ialah buaya terakhir di Sungai Barat, berenang dari hulu ke hilir, sangat kesepian.

 

Yogyakarta, 2021

8 thoughts on “Cerpen #105: “Buaya Terakhir di Sungai Barat”

  1. Keren sekali cerpen berjudul “Buaya Terakhir di Sungai Barat”. Pemilihan katanya bagus, sampai saat membaca terasa nyata dan merinding. Jiwa sastra penulisnya tertuang sekali di tulisan ini. Pesan moralnya juga sampai kepada pembaca cerpen ini. Lanjut terus ke babak selanjutnya. Salam Literasi!

  2. Cerpen ini membuat saya merinding sekaligus sedih. Terlebih saat saya membayangkan jika fenomena perusakan alam di cerpen ini benar-benar terjadi di dunia nyata–atau sebenarnya kerusakan alam yang terjadi akibat ulah manusia jauh lebih parah dari apa yang diceritakan pada kisah ini. Membayangkan bumi kita yang makin sesak napas, orang-orang yang kehilangan rumah dan tanah karena keserakahan pihak-pihak tertentu membuat saya sedih. Dengan luwes, cerpen ini mengangkat tema yang patut direnungkan dan disadari oleh banyak orang–dengan pilihan diksi yang bagus dan cerita yang mengalir bagai air.

  3. Obsesi mahkluk kota merenggus dengan rakus apa-apa yang ada di desa Bujang Alam. Dan hal-hal ini pun terjadi di luar kisah fiksi “Buaya Terakhir” ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *