Cerpen #99: “Babat Alas”

“Bagaimana aku mau menanam wong aku saja tidak pernah babat di hutan itu.

Begitulah gubahan dari Pak Sukiman yang tidak mempunyai lahan garapan di hutan seperti tetangga yang lainya. Ia adalah seorang pensiunan guru SD yang baru 3 tahun purna. Kini hidupnya hanya dihabiskan dengan olahraga, santai dan sesekali menggarap pekarangan rumahnya dengan menanam berbagai macam tanaman, baik tanaman hias maupun sayuran hingga buah-buahan.

Seringkali tetangganya merasa iri dengan aktivitas Pak Sukiman yang terkesan santai dan tidak terlalu memikirkan masalah ekonomi keluarga. Berbeda dengan Pak Slamet yang setiap harinya selalu pergi ke hutan dari pagi setelah subuh hingga sore menjelang maghrib. Pak Slamet tak kenal libur ke hutan, apalagi pensiun dari hutan. Mungkin hanya tenaganya sendiri yang akan membuatnya purna ke hutan.

“Man… nangkamu kemarin sudah mateng belum yang di belakang rumah?

“Kau ini lo Met, punya buah nangka besar di belakang rumah kok masih minta sama saya yang bibitnya dulu hanya mengais di bawah pohon nangkamu, sekarang kok jadi bertanya ke saya!

“La mau gimana lagi kang Man, dulu itu memang cukup banyak buahnya, tapi sekarang mati kang. Hehe

“Lo kok pohon nangka sebesar itu bisa mati kenapa memang?

“Anu kang, kan pohon nangka belakang rumah itu berada di tanah yang miring, terus selain itu daunya itu sering saya jadikan makanan buat kambing di rumah kang

“Loh kan makanan buat kambing itu paling ya seberapa gitu kan?

“Seberapa gimana kang, wong sekarang kambing saya 10 ekor kok, gimana gak ludes daun nangka saya. Hehe

“La terus kok bisa mati itu masa cuma gara-gara ditebangi duanya terus kemudian mati Met?

“Ya nggak juga kang, jadi pas kejadian hujan lebat bercampur angin, pas kita ada acara resepsi di rumah Pak Karman itu lo, yang tamunya sampe kebingungan berteduh karena tendanya terbang tertiup angin, ingat kan itu Kang?

“Oalah iya itu terus gimana?

“Ya itu, setelah resepsi itu saya pulang. Ya sudah tahu-tahu pohon nangka itu ambruk. Untung saja itu pohon tidak mengenai kandang kambing saya Kang.

“Loh kan enak kalau pas di kandang, kamu nggak perlu repot-repot memanjat, daunya sudah menyerahkan ke kandang sendiri. Haha

“Lah, Kang Man ini ada-ada saja. Bisa jadi gulai kambing saya setelah itu. Haha

Pak Slamet kemudian diajak oleh Kang Man ke bagian pekarangan rumahnya. Maksud dari Pak Met ternyata ingin meminta daun pohon nangka saja, bukan buah nangkanya. Kebetulan memang pohon nangka milik Pak Sukiman waktunya mengurangi daunya. Pak met memberanikan diri untuk meminta daun nangka kepada Pak Sukiman bukan karena pamrih setelah dulunya memberikan bibit nangka. Tetapi ia seringkali mengetahui jika waktunya pohon nangka itu dikurangi daunya oleh Pak Sukiman hanya dibuang sia-sia.

“Wah dulu itu desa kita kayak nggak laku ya Kang buah nangka? (Celetuk sukiman sambil memunguti daun nangka yang sudah ia panjat sebelumnya)

“Halah.. dulu itu saya makan buah nangka sampai mencret-mencret rasanya. Hehe

“Iya, wong dulu di kebun Mbah Samah itu yang sekarang sudah meninggal orangnya, kan sering dibiarkan sampai jatuh-jatuh dan membusuk di tanah.

“Oalah iya ingat aku, itu sekarang ya sudah habis ludes sampai akar-akarnya lo Man, wong sekarang sudah di buat rumah oleh cucunya.

“Oalah, baru tahu aku Kang, yo di situ dulu saya sampai ada tragedi ketelan biji nangka, gara-gara bercanda teruskan sambil makan, kira-kira masih kelas 5 SD dulu itu kalau nggak salah. Ini lo tali Kang! (Terang Pak Sukiman sambil memberikan tali rafia dimaksudkan untuk mengikat daun nangka yang sudah selesai dikumpulkan oleh Pak Met)

“Lehhh nggak usah kang, ini aku sudah bawa tali yang murah dan kuat kalau buat menali daun ini!

“Oh ya jelas valid kalau itu, terbuat dari alam langsung dan mudah untuk dicari, pasti nggak bakalan lepas sampai kandangmu sana.

“Ya jelas dong kang!

Slamet duduk sejenak mengistirahatkan badanya yang sudah bercucuran keringat. Sambil meneguk kopi yang ternyata sudah dibuatkan oleh istri Sukiman. Nafasnya megap-megap, bukan dikarenakan grogi atau sungkan, melainkan rasa lelah sudah membuat nafasnya begitu.

“La anakmu laki-laki itu sekarang sekolahnya di mana Kang? Sekolah apa kerja itu kok lama nggak ketemu aku, pulangnya ya jarang-jarang ya kelihatanya ?

“Dia kuliah di luar kota Met. Dadi yo wajar misalnya jarang pulang terus jarang ikut ataupun terlihat dalam setiap kegiatan kepemudaan di tingkat RT.

“Oalah, ya namanya cari ilmu itu kang, siapa tahu anakmu sekarang ini dibalik jarang pulangnya tersimpan harapan besar untuk memuliakan dan memajukan keluarga dan desa kita secara umum!

“Halah Met…Met.. aku kok nggak yakin, anak muda zaman sekarang ini lo, mana ada yang mau mengembangkan desa kita ini. Wong kalau menanam saja kita harus nunggu air hujan yang turun dari langit, atau kalau tidak begitu dengan memasang pompa air yang itu juga hanya mereka yang memiliki uang berlebih. Berat Man.. Man.. berat pokoknya desa kita ini jika mau diajak maju!

“Ya siapa tahu anakmu setelah pulang nanti mempunyai jaringan yang bisa memberikan program-program yang positif di Desa kita !

“Berat Met, aku bapaknya sendiri tidak yakin dengan anakku. Hehe

Fajar mulai menyingsing di ufuk barat. Udara dingin mulai menusuk-nusuk kulit Pak Slamet yang bercampur keringat. Ayam-ayam yang biasanya riuh di dalam setiap semak-semak telah sepi dan kembali ke kandangnya masing-masing. Pak Slamet berpamitan dan pulang dengan membawa daun nangka yang siap dihidangkan kepada kambingnya. Daun nangka itu dibawanya menggunakan kepala.

***

Sejak pagi setelah adzan subuh berkumandang seluruh warga sudah keluar rumah dan pergi ke hutan untuk mencari makanan kambing peliharaan mereka. Ada yang rombongan berangkatnya, ada yang sendiri, ada yang berjalan kaki, ada yang membawa motor. Alat yang dibawa hanya sabit, tali yang terbuat dari lilitan bambu muda yang sudah direndam air sebelumnya.

Perjalanan para pencari pakan hewan itu diiringi dengan aroma masakan dari dapur warga. Kadang juga burung-burung berkicau dari kurungan yang ada di teras rumah. Burung yang ada di sangkar berbunyi mungkin karena lapar. Sedangkan burung yang ada alam liar berbunyi karena sedang melakukan obrolan pagi dengan sesama burung lainya, atau hanya sekedar menunjukan kejantanan untuk menarik burung betina.

“Pak, kok sekarang semakin saja ya berangkatnya orang-orang pencari pakan hewan itu? Tanya istri Pak Sukiman yang masih berbaring di tempat tidur setelah mengerjakan sholat Subuh.

“La musim kayak gini kalau berangkat siang ya nggak kelihatan buk rumputnya.

“Loh kok bisa Pak, kan semakin siang semakin terlihat malahan karena semakin terang!

“Warna hijaunya itu lo buk maksudnya. Kan kalau pagi rumput dan dedaunan itu masih terlihat hijaunya. Kalau siangkan panas, jadi ya kondisinya banyak yang kering dan akan memakan waktu yang lama untuk mendapatkan pakan hewan mereka buk!

“Oalah begitu to Pak, aku tadi itu pas mengeluarkan ayam dari kandang mendengar percakapan Bu Darti Pak!

“Gimana lo buk?

“Ya itu Pak, katanya Bu Darti itu berangkat pagi biar mudah cari pakan sehingga cepat pulang dan cepat berganti aktivitas lainya, dia sekarangkan kerja di pembibitan tanaman milik perhutani itu kan setiap hari.

“Weleh.. weleh.. perempuan ya kerja di tempat pembibitan juga to buk?

“Bapak ini kok seperti meledek perempuan to! Tegas istri Pak Sukiman sambil memukul bahu suaminya.

“Kok meledek gimana to buk, wong Bapak ini bertanya lo! Hehe

“Halah wes mbuh lah pak, aku mau cuci baju dulu!

Tidak terasa matahari sudah mulai menampakan diri. Genteng-genteng rumah warga mengepul. Ada yang mengeluarkan bau gorengan ikan, gorengan tempe, bahkan ada juga yang berbau masakan sayur kemarin yang hangatkan lagi.

“Eh pak… air e habis tapi tak nyalakan kok nggak bisa ya?

“Dasar wong wedok (perempuan). Pak Sukiman menggumam karena mendapati istrinya yang mengganggu suasana pagi itu.

“Iya buk sebentar coba bapak cek dulu.

Pak Sukiman berjalan memakai sandal karet menghampiri pompa air yang berada di sumur tua milik keluarga mereka. Sumur itu sudah ada sejak anak Pak Sukiman belum lahir. Peninggalan Mbah Buyut atau kasta dalam keluarga tetapi di atasnya cucu.

“Aduh buk… sumur kita kelihatanya sedang kering lagi ini!

“Byuhh pak.. la terus cucian kita bagaimana ini Pak?

“Bapak juga bingung buk, padahal sumur kita ini dulu terkenal  nggak pernah kering dalam musim apapun lo, apa mungkin mulai banyak hutan yang dibabat oleh warga dan dijadikan sebagai tanah garapan ya?

“Lahh, bukan e pak, menurutku sekarang ini lo kan banyak yang memasang pompa air dalam itu Pak. Otomatiskan sumber air di sumur kita kalah dengan sumber air yang mereka pompa itu Pak!

“Duhh, ya ini nanti pakaian kita ini kita laundry saja bagaimana buk?

“Ya sudah Pak mau bagaimana lagi kalau tidak di laundry wong sudah terlanjur banyak lo cucian kita!

Istri Pak Sukiman akhirnya mengurungkan niatnya untuk mencuci baju. Belum lagi untuk memasak. Memang dampak hutan yang dibabat warga sebagai tanah garapan itu berangsur-angsur mulai terasa. Mulai dari tanah yang kering, hingga air sumur yang banyak mengering kecuali pompa air dalam.

Pada saat Pak Sukiman mau mengantarkan pakaian kotornya ke tempat laundry, ia melihat Pak Slamet yang sedang membawa sabit dan tali seperti orang mau mencari rumput di hutan. Namun ini ada tambahan bawaan, yaitu ia membawa cangkul.

“Loh, Met kamu mau ke mana? sepertinya mau cari pakan hewan tapi kok bawa cangkul segala?

“Oalah iya ini lo Kang Man, saya mau menjebol ketela di hutan. La ini mau ke mana kok bawa pakaian banyak sekali mau minggat to kang?

“Wealah minggat gundulmu itu. Ini itu gara-gara ketelamu di hutan itu lo Met!

“Loh kok bisa menyalahkan ketela saya yang diam saja di hutan Kang?

“La iya ketelamu diam-diam saja, tapi penggarapnya yang tidak bisa diam jika melihat tanah yang kosong. Semua seakan ingin dibabat dan digarap.

“Lehhh salah sendiri dulu Kang Man nggak mau babat, eh sekarang malah menyalahkan saya yang babat alas. Kan kalau Kang Man dulu ikut babat alas juga dapat jatah tanah yang ada di hutan itu! Hehe

“Halahh, mundak ngawur kamu ini Met. Udahlah aku mau berangkat dulu e daripada bicara sama orang gendeng kayak kamu. (Pak Sukiman menyalakan motornya dan menancapkan gas menuju tukang laundry)

“Hoee Man.. mau kemana…??

“Mau Laundry air….di sumur habis kering… gara-gara hutan yang banyak dibabat….!!

“Ohh.. Sukiman ediann..

Jalanan depan rumah Pak Sukiman mulai padat. Ada motor, mobil, sepeda, dan juga ada hewan-hewan yang digembalakan. Semakin siang matahari semakin terik dan banyak orang memilih untuk berdiam sesaat di rumah ketika sedang panas-panasnya.

Entah sampai kapan sumur Pak Sukiman akan mengeluarkan sumber air kembali. Mereka mencari cara alternatif agar air tetap ada di dalam keluarga mereka. Terbukti bahwa keluarga mereka tidak bisa membuat air. Mereka hanya bisa mengambil air. Pertanyaanya apakah air bisa mengambil manusia, seperti keluarga Pak Sukiman? Entahlah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *