Cerpen #98: “Sebuah Katastrofe Konstan”

Silau. Sebuah kata yang pertama kali terbesit di benak ketika sang otak memberi sinyal ke seluruh anggota tubuhku untuk bersiap memulai hari. Kedua mataku akhirnya menurut untuk membuka kelopaknya, kemudian aku menengok jam dinding yang sudah menjadi kebiasaanku setelah bangun tidur. Ternyata masih jam 5 pagi, tapi kenapa sudah seterang ini? Apa si Pak Tua Matahari sudah tidak sabar memamerkan baranya? Seperti manusia saja. Semakin bertambah umur malah semakin suka buru-buru dalam melakukan sesuatu. Yah, aku tahu aku tidak seharusnya menggeneralisir, tetapi itulah yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hariku.

Oh, di sini ada tamu rupanya! Hai, kau. Jangan diam di situ saja, silahkan duduk di sofa sebelah. Anggap saja seperti rumah sendiri, tidak perlu sungkan. Omong-omong, aku belum memperkenalkan diri, ya? Aku rasa kau tidak perlu mengetahui namaku karena kata mama, aku tidak boleh membocorkan identitas ke orang asing. Bercanda. Lagipula, apa pentingnya nama, bukan? Kisah hidupku lebih menarik daripada sekadar nama. Bukan maksud menyombong, tapi aku bisa melihat dari raut wajahmu bahwa kau di sini untuk mendengarkan ceritaku. Oke, tunggu sebentar. Biar aku berdandan sedikit supaya rupaku enak dilihat dan lebih menarik daripada cerita yang sebentar lagi akan aku paparkan. Bercanda lagi.

Duduklah di posisimu yang paling nyaman. Sepertinya, aku akan cukup lama menyita waktumu untuk menceritakan 20 tahun pengalamanku hidup di dunia dengan iklim yang tidak jelas ini. Mungkin… Kita mulai dari kesanku saat pertama kali mengenal dunia. Kalau dari yang mama bilang, aku lahir di saat bumi lagi mood swing. Labil sekali, seperti remaja yang baru mendapat pubertasnya. Waktu ketuban mama pecah, cuacanya sangat terik sampai aspalpun bisa dipakai untuk memasak 1 porsi nasi goreng. Ini kata mamaku, sih, aku tidak tahu ini dilebih-lebihkan atau tidak. Lanjut, waktu mama sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, mendadak hujan turun deras. Akhirnya, cuaca kembali tenang saat aku lahir. Kata mama, anginnya sangat sejuk pada waktu itu. Entahlah, mungkin bumi senang menyambutku yang imut ini. Hehehe. Tapi, ada satu hal yang paling diingat oleh orang tuaku. Aku tidak langsung menangis seperti bayi lainnya ketika aku lahir. Butuh beberapa jam bagi dokter dan perawat untuk bisa membuatku menangis. Bayangkan, beberapa jam. Mungkin kalau dokter dan para perawat saat itu tidak sabaran, aku tidak akan ada di sini sekarang. Usaha mereka tidak ada habisnya untuk membuatku menangis dan saat aku akhirnya bisa menangis, tangisanku yang paling kencang di antara bayi-bayi lainnya. Konon, tangisanku saat itu bisa terdengar dari ujung koridor rumah sakit hingga ujung satunya.

Kalau kupikir-pikir sekarang, mungkinkah itu karena aku benci dilahirkan makanya aku menangis kencang ketika menyadari aku telah berada di luar kandungan mama? Maksudku, lihatlah. Bumi yang kita tinggali ini lama-lama terasa seperti tidak layak huni. Pagi hari seperti sekarang saja sudah teriknya minta ampun, bagaimana orang-orang bisa melakukan aktivitas dengan baik saat tengah hari nanti tanpa khawatir akan keadaan tubuhnya? Bukan hanya itu, menonton televisi yang sebenarnya merupakan opsiku untuk melepas penat malah membuatku terbayang-bayang akan rasa takut saking banyaknya kabar soal banjir, kebakaran hutan, serta suhu bumi yang semakin tinggi. Belum lagi banyaknya orang yang menderita hingga akhirnya tewas karena heatstroke atau serangan panas. Untuk informasi tambahan saja, masyarakat di kotaku sudah banyak yang berpulang karena tidak kuat menahan suhu bumi. Ibaratnya, bumi adalah tungku api, dan kita adalah adonan kue yang siap dipanggang. Dibandingkan dengan bumi, kandungan mama lebih memadai untuk kujadikan tempat berlindung.

Maaf, aku malah bercerita yang tidak-tidak. Mari kembali ke topik awal. Jadi, karena aku sudah menceritakan soal lahirnya diriku dan sebagainya, haruskah kita lanjut ke masa saat aku sudah mulai bersekolah?

Tidak ada yang benar-benar spesial, sih, di masa itu. Tapi, aku menemukan suatu hal yang menarik di album foto milik kakek buyut dan nenek buyutku. Aku melihat sebuah foto saat mereka sedang berjalan-jalan di sekitar rumah. Berbeda sekali dengan apa yang kita lihat sekarang ini. Di kanan kirinya banyak tanaman hijau, kemudian yang lebih mengagetkan, tanaman-tanaman tersebut adalah tanaman asli yang ditanam langsung di tanah. Bahkan, ada pohon mangga di halaman belakang rumah buyutku saat itu. Bandingkan di masa sekarang, mana bisa kita melihat pohon mangga atau pohon-pohon lainnya selain di Pusat Penanaman Khusus? Ada juga hal lainnya yang tak kalah mengejutkan. Rumah mereka tidak dikelilingi air seperti sekarang dan bentuknya tidak seperti rumah panggung. Aku tidak menyangka kalau daratan kota ini pernah kering dan ditumbuhi tanaman serta pohon asli dan bukan serba sintetis seperti sekarang. Aku ingat dengan jelas setelah melihat foto itu, keesokan harinya aku langsung menanyakannya kepada guruku di sekolah. Kata beliau, memang begitulah wajah bumi 100 tahun lalu. Walaupun kondisi iklim saat itu bukan pula yang terbaik, setidaknya kemungkinan-kemungkinan terburuk masih bisa dimitigasi oleh para ahli.

Oh iya, aku pikir kau harus tahu mengenai penemuan terbesar sepanjang hidupku. Saat itu aku sedang membersihkan gudang, kemudian aku menemukan atlas milik kakek buyutku. Awalnya, aku mengira atlas tersebut adalah atlas milik planet lain karena datarannya tampak hijau bukannya coklat seperti sekarang. Wilayah yang dialiri air juga tidak sebanyak sekarang dan kontinen-kontinennya saling berjauhan, tidak berdempetan. Bisa kau bayangkan seberapa panglingnya aku saat melihatnya pertama kali, kan? Ah, dan satu lagi hal yang mengejutkan! Anjing dan kucing yang sekarang ini sangat langka dan hanya para konglomerat yang bisa memeliharanya ternyata populasinya sangat banyak di masa itu. Kakekku bilang, dulu ayahnya sangat menyukai hewan-hewan tersebut sampai beliau memelihara beberapa ekor di rumahnya. Aku menjadi iri karena aku ingin merasakan rasanya memelihara hewan-hewan langka seperti anjing, kucing, dan kelinci. Apalagi, mereka tampak lucu dan asyik untuk dijadikan teman bermain selain manusia.

Ya ampun, ternyata ada banyak sekali hal yang mengejutkan, ya, di masa lalu? Aku merasa sudah berkali-kali menyebut kata ‘mengejutkan’ di sini.

Pokoknya, kejadian itu membuatku semakin penasaran dengan seperti apa rupa bumi sebelum menjadi seperti ini. Beranjak dewasa, pertanyaan-pertanyaan mengenai masa lalu makin banyak bermunculan dalam diriku. Apakah bumi dulunya benar-benar seindah itu? Atau itu cuma hiperbola orang-orang dulu? Kalau memang bumi dulunya seasri dan senyaman itu untuk menjadi tempat tinggal, mengapa sekarang rasanya planet lain lebih mumpuni untuk dijadikan rumah? Akupun mulai mencari tahu lebih banyak lagi. Kalau tidak salah, itu saat aku duduk di bangku SMA. Melalui ensiklopedia dan jurnal-jurnal yang kubaca, di situ dikatakan bahwa krisis iklim sudah berlangsung sejak akhir abad ke-20. Sekarang kita sudah berada di abad ke-22, yang mana keadaan ini sebenarnya sudah berlangsung sekian ratus tahun lebih. Sebenarnya, langkah-langkah untuk memitigasi keadaan-keadaan yang tidak diinginkan sudah ada, tapi kurangnya kesadaran masyarakat dunia yang menghambat jalannya hal ini. Ribuan, jutaan, atau mungkin sudah tidak terhingga lagi jumlah kampanye dan berbagai bentuk aksi untuk mempromosikan langkah-langkah penyelamatan dunia dari ancaman krisis iklim dilakukan. Namun, sesuai keadaan yang kita alami sekarang, bisa dilihat bahwa itu semua sia-sia. Pemanasan global tidak dapat kita kendalikan lagi, es di kutub hanya tersisa beberapa bongkah, banjir bandang sudah menjadi bencana biasa, kebakaran hutan juga sepertinya sudah seperti hal yang biasa terjadi tiap bulan. Mirisnya, hewan-hewan tidak bersalah juga harus menanggung akibatnya.

Jujur, saat pertama kali mengetahui hal ini, yang pertama kali kurasakan adalah marah. Geram. Benci. Kenapa malah kita yang harus merasakan akibat dari adanya krisis iklim? Kenapa orang-orang zaman dulu tidak melakukan yang terbaik saat krisis iklim masih bisa dikontrol? Apa mereka tidak memikirkan anak cucunya di kemudian hari? Bahkan, aku sampai ngambek dengan kakek dan nenekku saking kesalnya memikirkan di mana kesadaran orang-orang yang hidup di zaman itu. Masalahnya, untuk hidup saja sudah cukup sulit dengan berbagai kebutuhan dan kewajiban yang harus kulakukan setiap harinya. Apalagi hidup di lingkungan yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatanku, psikologisku ikut bermasalah karena segala kecemasan berlebihan yang kurasakan. Memang, kalau dibandingkan dengan 100 tahun lalu, segalanya dapat kita lakukan lebih mudah di masa ini berkat kecanggihan teknologi yang tiada tara. Tetapi bagiku, kecanggihan tersebut percuma karena teknologi masa sekarang tidak bisa mencegah efek dari pemanasan global yang berkepanjangan. Kembali pada poin awal, krisis iklim sudah tidak bisa dikontrol lagi.

Aku ingat ketika aku marah pada saat itu, nenek terus menerus mencoba berbicara denganku. Entah bagaimana caranya, aku akhirnya mau diajak bicara lagi, kemudian aku mengetahui beberapa info menarik dari nenek, seperti kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang zaman dulu. Kau tahu kegiatan berkebun yang umumnya hanya bisa kita lakukan ketika ada karyawisata sekolah ke tempat-tempat khusus untuk bertanam dan bertani? Nah, rupanya kegiatan ini adalah sesuatu yang bisa dilakukan sehari-hari di masa itu. Nenek juga bilang kalau berkebun adalah salah satu hobi masa kecilnya sebelum sebagian besar kontinen dunia tergenang air akibat mencairnya es di kutub. Biasanya, nenek menyirami tanamannya setiap pagi dan sore hari. Terdengar sangat menyenangkan, bukan? Lalu, jika kita biasanya melihat langit kemerahan karena kebakaran hutan yang lagi-lagi terjadi, di zaman dahulu biasanya itu dikarenakan semburat cahaya matahari yang akan terbenam. Membayangkannya saja indah, ya. Sekarang, kita hanya bisa melihat langit yang kelam pada sore hari.

Sebagai seseorang yang sekarang tengah melanjutkan studinya di bidang yang berkaitan erat soal bumi dan atmosfernya, aku menjadi lebih paham bahwa permasalahan yang kita hadapi ini lebih kompleks dari yang dibayangkan. Terkadang, aku jatuh ke titik pasrah saat mulai memikirkan nasib bumi kita ke depannya. Untung saja, motivasiku untuk mengembangkan suatu alat yang mudah-mudahan benar-benar dapat memitigasi permasalahan iklim ini terlalu membara untuk bisa dipadamkan. Prinsipku sekarang, yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang akan terjadi mari kita hadapi sebaik mungkin.

“Nak, kamu bicara dengan siapa pagi-pagi begini?”

Wah, panjang umur! Baru saja dibicarakan, orangnya langsung muncul. Perkenalkan, ini nenekku yang seringkali menjadi narasumber untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku mengenai masa lalu.

“Hei, ditanya bukannya menjawab. Sedang bicara dengan siapa, sih?”

Dengan kawanku yang sekarang berada di seberang layarku ini, Nek. Kelihatan, kan?

“Kelihatan apanya, buram begini. Teknologi zaman sekarang tampilannya sangat menyusahkan orang tua seperti Nenek. Harusnya mereka tidak usah repot-repot mengembangkan alat seperti ini, melainkan fokus dalam menyelesaikan masalah iklim. Atau mungkin membuat alat yang bisa kembali ke masa lalu agar segala malapetaka ini tidak terjadi.”

Iya, Nek. Doakan aku suatu hari nanti sukses dalam menciptakan alat tersebut, ya. Bicara tentang masa lalu dan iklim yang sedari tadi sudah menjadi topik obrolan kami, ada tidak yang ingin Nenek sampaikan kepada orang-orang zaman dulu jika memiliki kesempatan?

“Tentu saja! Nenek punya banyak sekali hal yang disampaikan. Tapi jangan semua, deh, kasian temanmu kalau harus duduk lebih lama dan mendengarkan Nenek di depan layarnya, pasti sangat melelahkan. Intinya, Nenek hanya ingin bilang, mulailah kurangi penggunaan plastik, naik transportasi umum kalau bepergian, jangan lupa minimalisir penggunaan listrik, dan perbanyak reboisasi. Buang sampah di tempatnya juga jangan lupa, ini yang paling utama.”

Luar biasa memang Nenek saya ini. Semoga kecanggihan teknologi zaman sekarang ini melahirkan keajaiban dan omongan nenek ini bisa sampai ke mereka yang hidup di abad ke-21, ya, Nek.

“Ah, sudahlah, jangan mengada-ada. Nenek tidak berharap banyak. Di zaman kita ini, semua serba terlanjur. Tinggal kita saja yang harus pintar-pintar menghadapinya. Daripada berlarut-larut soal masa lalu, bagaimana kalau kamu mandi saja kemudian belajar? Temanmu pasti juga sudah ingin sarapan. Ayo cepat, selagi airnya bersih dan belum tercampur kotoran.”

Sungguh? Hari ini airnya jernih? Wow! Rekor baru! Seingatku kemarin airnya juga tidak ada masalah. Apa orang-orang yang hidup di abad lalu mendengar keluh kesah kita sehingga mulai berbenah, ya, Nek?

“Sudah Nenek bilang, jangan mengada-ada. Lebih baik segeralah bergegas, kita tidak tahu apakah nanti airnya akan tetap bersih atau tidak.”

Seperti yang kubilang di awal tadi, kan. Orang tua sukanya buru-buru dalam melakukan sesuatu.

“Maksudmu?”

Eh, aku hanya bercanda, Nek. Ya sudah, kita lanjut di lain kesempatan, ya, kawan! Senang bisa mengenalmu. Selamat menikmati sarapanmu dan jangan lupa untuk selalu menjaga bumi kita walaupun tampaknya tidak ada harapan lagi untuk menyelamatkannya. Sampai jumpa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *