Cerpen #97: “Ucok Bersama Pohon Terakhir”

Tahun 2031, 100 tahun dari sekarang.

Ucok melangkah mengelilingi pulau. Melenggang bebas di hamparan bebatuan tajam. Hari ini menunjukkan musim penghujan akan dimulai. Mendung tampak menguasai langit membuat se isi bumi terlindungi dari sengat matahari. Tidak seperti musim kemarau panjang dengan suasana panas, membuat makluk hidup lebih memilih berdiam diri di balik dinding batu ataupun di tempat-tempat yang tertutup dari terik matahari. Dengan demikian mendung menjadi pesta tahunan yang dinikmati layaknya surga.

Berkeliling di musim penghujan merupakan hal langka. Udara yang segar dan suhu yang membuat nyaman. Jika sudah begini, tiba saatnya untuk menikmatinya. Menikmati bisa dengan membentang kedua tangan untuk merasakan hembusan angin laut, memandangi burung berkeliaran mengitari lautan dan pegunungan atau  menikmati terpaan angin yang deras membentur dedaunan pohon di dekatnya.

Ucok satu-satunya yang hidup dari generasi manusia sukunya. Menjadi penjaga dan pewaris tunggal di pulau yang ditinggalnya. Dinamai sebagai pulau Sipagar dari suku manusia Sipagar. Berada di pulau kecil tengah danau di wilayah Zamatra.

Ucok tinggal di bawah pohon beringin di atas gunung. Satu-satunya pohon yang bertahan hidup di pulau.

Semua penghuni pulau meninggal kecuali Ucok. Hal ini terjadi karena beberapa puluh tahun yang lalu banjir bandang menyeret semua tubuh ke mulut danau yang menganga. Kemarahan sang alam di tengah kepongahan manusia pada masa itu.

Ada hal yang tidak bisa dilupakan sebelum kejadian naas itu terjadi. Masih terbayang bagaimana rakusnya warga dan terlena dengan uang. Mereka akan kaya bila memberikan hutan ditebangi oleh orang asing. Kabarnya, pohon-pohon itu akan di kirim ke seberang dan dijadikan kertas.

Orang-orang tentu dengan mudah tergiur dengan uang. Bukan tanpa sebab, ketiadaan dan kemiskinan membuat mereka gelap mata.

Pernah sekali, seseorang memperingatkan bencana akan terjadi jika mereka tidak menjaga tempat para leluhur bersemayam. Memang, dahulu kala pohon-pohon merupakan tempat para leluhur tinggal dan dianggap sebagai tempat keramat. Pohon-pohon itu diwariskan nenek moyang untuk dijaga. Bagi nenek moyang mereka, menjaga hutan dan pohon adalah menjaga keseimbangan alam. Namun, generasi penerusnya tidak ada yang mendengar. Mereka tidak menghiraukan warisan itu. Semua tuli.

***

Orang-orang pergi dengan jejak kesalahan pada pilihan di masa lalu. Ucok tersisa tanpa pilihan, tinggal diatas pulau sendirian dengan kesepian yang membuncah. Tidak ada pilihan selain memilih takdir.

Di seberang pulau, Ucok tidak tahu apa yang terjadi. Kecuali keyakinan akan adanya pria kesepian lain seperti dirinya.

Sebagai seorang kesepian Ucok mengisi hari-hari dengan menjadi penggumam yang baik. Selalu mewaraskan diri dengan berbicara pada dirinya atau pada pohon beringin tempatnya tinggal. Dia selalu meyakinkan dirinya benar-benar terlibat dialog dengan si pohon. Kadang-kadang dia mengenang masa lalunya. Kadang-kadang membayangkan bahwa sudah takdir kehidupan untuk punah. Bahwa takdir adalah kenyataan yang harus dihadapi. Atau sebenarnya, tidak ada takdir selain kesalahan manusia mengambil keputusan yang memutus mata rantai kehidupan hingga tidak ada keberlanjutan.

Membayangkan kehidupan tanpa kehidupan adalah hal yang sangat kacau. membayangkan ada dalam ketiadaan adalah hal yang sangat menyakitkan. Membayangkan dunia tanpa bumi adalah kefanaan yang tidak terlampaui logika. Tapi kenyataan telah membawa Ucok pada kesimpulan itu. Dan semua karena ulah manusia yang pongah.

Bayangan-bayangan ini membuat dia tidak lagi menikmati keindahan. Seperti indahnya matahari di ufuk barat dan timur atau desiran angin di sore hari.

Dia pun tidak lagi menikmati aurora di ujung danau, sebab baginya itu adalah api yang sehari-hari menjilati permukaan bumi dengan api neraka. Kadang-kadang dia membayangkan api itu akan segera sampai ke tempatnya. Membakar semua yang tersisa.

Saat masa kanak-kanak, orang-orang datang ke tempat ini dan mendaki gunung hanya untuk menatap matahari jatuh dan naik. Para pelancong itu mengajari anak-anak tentang kenikmatan dan cara menikmati matahari. Dulu, perlahan lahan, kami terbiasa ikut-ikutan menikmati nya.

Tetapi sekarang bayangan akan keindahan sudah tidak ada lagi dalam kehidupan yang sepi. Tidak ada lagi pembanding selain kegetiran di masa lalu.

***

Bertahun-tahun dalam kesendirian, setitik benda muncul di ujung danau. Titik itu perlahan-lahan mendekati pulau dan menarik perhatian. Hal itu mengingatkan Ucok pada masa lalu. Gambaran yang muncul di kepala adalah alat yang dipakai para pembalak hutan untuk mengangkut pohon-pohon dari pulau. Titik itu kemungkinan adalah kapal. Benda Ajaib yang dapat menyeberangkan benda-benda hingga jauh ke ujung bumi.

Dia menunggu dan terus menatap dari mana titik itu muncul. Sedikit demi sedikit membesar dan tampak semakin jelas di depan mata. Tebakannya benar, titik itu adalah kapal yang dikendalikan oleh beberapa orang. Kapal ini aneh, bentuknya sembarang, benda itu sepertinya digerakkan oleh mesin kecil di dalamnya tetapi bukan seperti kapal biasanya.

Empat sosok manusia berdiri di atas kapal dan menujuk pulau. Tepatnya ke puncak gunung. Apa kemungkinan mereka melihat aku yang sedang bersembunyi di dahan pohon? Apa mereka memantau aku sebagai mana aku memantau mereka? Pertanyaan ini dibisikkan Ucok pada si Pohon.

Kehadiran sosok manusia di atas kapal itu tidak menimbulkan kebahagiaan bagi Ucok. justru dia terlihat gusar dan panik. Ada ketakutan di dalam dirinya seakan-akan terjadi marabahaya. Dia takut pada peristiwa masa lalu. Orang-orang sangat tertarik dengan pohon dan menghabiskannya untuk keuntungan tanpa mempertimbangkan kerugian sosial, budaya dan lingkungan.

Tampaknya mereka sudah di pulau dan mulai bersiap-siap memasukinya. Sebelum itu mereka menepikan kapal itu ke pulau. Jauh dari air. Mungkin takut kapalnya akan hanyut ke danau bila tidak di tepikan jauh dari pesisir.

Tebakan Ucok benar.  Hal pertama yang mereka lakukan adalah mendaki gunung dan menuju pohon.

Kebahagiaan ada di wajah ke empat orang itu. Mereka seperti menemukan benda paling berharga di dunia. Mereka bersorak dan berlari menuju pohon.

Mereka terkejut melihat Ucok yang melompat dari pohon menyambut kehadiran mereka.

Seketika suasana menjadi kaku. Saling tatap dan saling curiga. Ucok memengang tongkat kayu dan menodong ke arah ke empat pria itu. Terlihat wajah marah dan bermusuhan di wajah Ucok. mengisyaratkan kehadiran empat pengelana itu tidak di terima di pulau.

Pergilah, pulau ini milikku. Tidak ada yang bisa kalian ambil dari sini. Teriakan itu menggelegar di pulau. Membuat burung-burung yang sebelumnya bertengger di dahan pohon beterbangan dengan liar. Itupun mengejutkan ke empat orang tersebut.

Mereka tidak menyangka di tengah kehidupan yang semrawut dan sedikit orang ini masih ada yang menyambut mereka dengan tidak bersahabat. Mereka terkejut tidak diterima oleh orang tua yang sudah tampak sekarat itu.

Kemudian seseorang dari mereka berkata “tenang, kami hanya datang untuk singgah. Kami hanya pengelana dari pulau seberang yang sedang mencari kehidupan. Sekarang, kami temukan satu-satunya benda yang telah menjadi legenda diantara orang-orang di seberang pulau. Kami telah lama ingin membuktikan benda sejarah itu benar-benar ada. Sambil dia tunjukkan kearah pohon.”

Ucok menyahut “hati-hati sebelum berucap. Kau tidak menemukan pohon ini. Dia sudah ada jauh sebelum kau ada. Dia tidak ditemukan oleh siapapun!”

Si pria itu tampak malu dengan dirinya.

Pelan-pelan dia menyambung lagi setelah melihat wajah Ucok tenang. Dia menyambung lagi “di tempat kami berasal tidak ada lagi benda itu. Hidup di seberang sudah sangat kacau, kami tidak datang untuk mengacaukan lagi. Kami datang ketempat ini dengan harapan untuk memperbaiki sesuatu yang terjadi. Kemungkinan manusia akan kesulitan bertahan hidup beberapa tahun kedepan. Bisa kau bayangkan sekarang, pulau-pulau di seberang telah mengalami banjir.”

Ucok melihat raut wajah malu-malu itu. Kemudian mengalihkan keadaan dengan bertanya “apa yang telah terjadi hingga ceritamu itu bisa begitu memprihatinkan?”

Dengan buru-buru si Pria yang satunya memberikan selembar kertas ke Ucok.

Dengan seksama Ucok membaca.

Isinya kira-kira begini;

Sebuah berita dari masa lalu, puluhan tahun dari sekarang, orang-orang telah hidup dalam masa pandir, kematian tidak lagi di tangisi, sebab sosok-sosok tubuh telah bergentayangan di atas tanah. Sisanya hanya tahu cara mencari tempat yang tidak tersentuh oleh tubuh-tubuh mati. Orang-orang tidak lagi menangisi kematian karena setiap dari mereka menangisi dirinya akan mengalami hal yang sama dan mungkin akan lebih mengerikan.

Di atas pulau-pulau di bumi yang tercinta ini telah terjadi kehidupan yang paling ditakutkan, kehancuran karena ketidakpedulian. Manusia menyombong dengan pengetahuan dan teknologinya, hingga akhirnya lupa melestarikan kehidupan. Manusia, meningkatkan populasi hingga membuka lahan terus-menerus untuk dijadikan sebagai tumbal tempat tinggal. Lahan-lahan berpohon telah habis di tebangi untuk memenuhi hasrat ekonomi. Kemudian, perang terjadi di belahan bumi lain telah memusnahkan semuanya.

Kesombongan manusia akan teknologi menyebabkan penyeimbang bumi di kutub utara dan selatan hancur, air permukaan laut naik drastis dan menutupi permukaan bumi. Orang-orang semakin kehilangan ruang hidup. Menyebabkan perebutan ruang antar manusia. Tidak peduli kaya atau miskin semua sama. Tetapi untuk sementara,  mereka yang kaya memenangkan situasi menjadi milik mereka sebelum akhirnya sesama mereka juga saling membunuh karena perubahan iklim. Keadaan itu jelas adalah ulah manusia sebelumnya.

Kematian-kematian umat manusia telah menjadi hal yang paling menyakitkan.

Ucok mengakhiri membaca lembaran kertasnya, sebab itu adalah hal yang sama yang dia alami di atas tanah leluhurnya.

Jadi benarkah kehidupan di seberang semengacaukan itu? Aku pikir hanya ada di tempat aku berada.

Ia benar, beberapa tahun yang lalu memang begitu keadaannya.

Kami hanya anak-anak muda yang mendengar kisah dari beberapa orang tua.

Tentu juga banyak dongeng-dongeng yang kami dengar, salah satunya tentang benda benama pohon itu. Kami mendengar bila benda-benda itu masih banyak dan tidak di hancurkan umat manusia maka kehidupan tidak akan sekacau sekarang.

Kita telah menemukan kebenaran dongeng nenek moyang tentang benda keramat ini. Nyatanya memang benar-benar ada. Di dalam dongeng benda ini bernama pohon. Akarnya kokoh menancap ke dalam bumi. Daunannya menyemburkan aroma segar. Rantingnya menjadi tempat burung-burung bertengger, berkicau dengan indah menenangkan jiwa. Batangnya bulat besar, tidak terpeluk oleh lima orang dewasa. Sungguh memang sangat menawan bak lukisan sang seniman lukis terbaik.

Ucok menyanggah, memang benar dia bernama pohon. Orang-orang dari jamanku menyebutnya demikian. Tetapi dia bukan benda mati sebagaimana kau bayangkan. Dia hidup dan memiliki roh. Dia teman bicaraku sepanjang waktu. Membayangkan ujung bumi dan bersama-sama ingin menjelajahinya. Tetapi, bumi tidak memberi ijin bagi pohonku. Maka ku putuskan untuk selalu bersamanya apapun yang terjadi.

Benarkah pohon ini bisa menyelamatkan bumi dari kehancuran, sebagaimana dongeng nenek moyang mengabarkan? Benarkah kerakusan manusia atas pohon ini, membunuhnya, membakar, dan menebang sesuka hati membuat bumi marah? Sesayang itulah sang pemberi hidup padanya hingga berani membalaskan dendamnya pada umat manusia? Tanya salah satu dari mereka.

Ucok menyahut, aku tidak tahu apakah demikian, tetapi yang aku tahu, pohon ini yang menyelamatkan aku dari kematian yang merenggut suku ku beberapa tahun silam. Banjir itu mengabiskan seisi pulau kecuali kami berdua dan burung-burung serta beberapa jenis binatang yang sekarang menjadi penghuni pohon bersamaku.

Seseorang kemudian menyahut lagi “kau tahu saat ini yang ditinggalkan orang-orang masa lalu ke generasi sekarang adalah pohon-pohon buatan berupa artefak gedung. Artefak gedung-gedung itu merupakan hutan-hutan yang mengagumkan, tetapi tidak bisa di banggakan karena tidak memberikan kehidupan. Hutan Gedung itu sangat memuakkan. Memang kita bisa berlindung dari matahari, tetapi tidak ada rasa sejuk kecuali rasa gerah sepanjang tahun. Sementara menurut legenda, pohon itu memberikan kesejukan dan udara yang segar. Dari sana kehidupan dimulai.

Aku  harus menjadi orang yang mengabarkannya ke orang-orang di seberang. Mereka berhak untuk mengetahui legenda itu bukan lagi hanya legenda melainkan sebuah kenyataan yang ada.

Ucok menyahut, jika itu maumu, aku akan menjadi orang yang tidak mengijinkan mereka memasuki pulauku. Sebab aku sudah tahu sifat mereka, begitu mereka mengetahui dan sampai di pulau ini, hal pertama yang akan mereka lakukan adalah berusaha memiliki dan merusaknya.

Dengan begitu, kuharap kau paham maksudku. Lebih baik aku ijinkan kalian tinggal bersamaku menjadi bagian dari pulau. Menjaga dan merawatnya, menumbuhkembangkan sang pohon untuk bertambah banyak dan mekembangkannya terus-menerus hingga akhirnya bumi kembali seperti semula.

Tetapi jika tidak mau, aku memohon pada kalian untuk tidak memberitahukan pada orang lain sebelum kita benar-benar tahu cara menjaga dan melindunginya dari kerakusan.

Karena sekali manusia akan tetap manusia. Dia sulit belajar dari pengalaman. Sudah sifatnya hidup untuk merusak.

Suasana hening dan membawa mereka pada pikiran masing-masing.

Tiba-tiba Sang Pohon bersabda “kehidupan telah kacau dan akan segera berakhir. Aku akan menjadi legenda sebelum kalian benar-benar punah. Aku yang terakhir dari generasiku sama seperti kalian. Kalian akan menjadi saksi dan nabi yang mengabarkan pesan ini.”

Sebelum semua terjadi, satu-satunya cara untuk menghindari takdir ini adalah memulai lagi dari nol.

-TAMAT-

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *