Cerpen #96: “MAJALAH YANG TERGELETAK BEGITU SAJA DAN BOTOL OKSIGEN”

Majalah di tanganku ini, terbit dua puluh satu tahun yang lalu, saat dimana segalanya tidaklah separah sekarang. Aku menemukan majalah ini tergeletak begitu saja di bawah bangku penumpang. Foto seorang pria dewasa yang sedang menggendong seorang anak kecil, menjadi gambar sampul depan dari majalah ini. Pria dan anak itu memiliki rambut keriting rapat. Keduanya memakai kain untuk menutupi bagian bawah tubuh mereka, yang diikat menyerupai celana dalam, dan sebuah kain panjang yang digantungkan seperti jubah di tubuh si pria dewasa. Pohon besar yang daunnya jarang-jarang dan perkampungan dengan tanah keringnya, menjadi background dari foto tersebut. Debu lengket, menempel di beberapa bagian depan dan belakang sampulnya yang didominasi oleh warna kuning. Seorang pria muda dengan kemeja kantoran, tampak tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka di bangku panjang, dekat majalah ini tadinya tergeletak. Suara musik, terdengar pelan dari headset yang ia pakai.

Pria dan anak kecil dalam foto itu adalah anggota dari sebuah komunitas masyarakat berburu meramu yang berbahasa khoisan. Masyarakat yang biasa disebut dengan nama Saan atau San atau oleh beberapa peneliti dan kolonialis barat biasa disebut dengan nama Bushmen. Mereka berpopulasi sekitar seratus ribu orang dan tersebar di sepanjang savana kering dari Botswana hingga Afrika Selatan. Di masa lalu, mereka cenderung hidup berkelompok-kelompok dalam jumlah kecil dan hidup sepenuhnya nomaden. Mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan di sepanjang supermarket gratis raksasa yang bernama Gurun Kalahari.

Semuanya sudah ada di sekitar mereka. Mereka hidup dalam sebuah ruang ekosistem yang dapatlah kita sebut sebagai surga dunia itu sendiri. Meskipun, orang-orang seperti kita – orang yang biasa hidup dalam kelimpahan barang-barang dan konsumerisme – pasti skeptis dan memandang gurun atau savana kering adalah tempat yang sangat sulit untuk ditinggali. Mereka tidak perlu memikirkan tentang akan makan apa esok hari, karena ada sekitar delapan belas hingga seratusan spesies hewan dan tumbuhan yang bisa mereka makan. Meskipun, mereka harus terus bergerak, dari satu tempat ke tempat lain, tergantung pada  musim, untuk dapat makan dengan tenang. Nomaden adalah strategi manajemen pangan dan sumberdaya alam mereka. Sebuah strategi ekonomi subsisten yang terbukti sustainable selama ribuan tahun.

Kereta listrik ini, dengan kecepatan konstan telah memasuki wilayah utara kota. Tampak sinar bulan dipantulkan dengan sempurna diatas luapan air pasang laut gelap di ujung garis pandang. Warna kuning kecoklatan yang biasa mendominasi lanskap kota ini – kala matahari masih ada di atas kepala – saat ini tentu saja tidak tampak sama sekali. Hanya ada aneka warna-warni lampu neon yang menghiasi pelataran toko dan hiburan malam di luar jendela. Bagaimanapun, aku berani bertaruh, debu-debu itu masih berterbangan dengan liar di balik redup-redupnya cahaya malam.

Malam ini, tidak seperti biasanya, kereta ini lumayan sepi. Hanya tampak pria yang tertidur dengan mulut terbuka itu, dan beberapa pria lain di dalam gerbong ini. Mereka semua, tentu saja, masih memakai jas atau kemeja kerja mereka, lengkap dengan tas ransel dan nametag yang mereka kalungkan di leher mereka. Hari ini hari minggu, dua jam lagi akan tepat tengah malam. Sepertinya, lebih dari sebulan yang lalu aku dapat jatah libur satu hari penuh. Biasanya, selalu saja aku harus bekerja selama seminggu penuh, dengan pengecualian di hari minggu. Aku hanya perlu kerja lima sampai enam jam di hari minggu. Tetapi bagaimanapun, sebagaimana yang dikatakan kedua orang tuaku dahulu, bahwa kita, sebagai manusia, tidaklah boleh banyak mengeluh. Kita harus ikhlas menghadapi segala ujian. Kita harus bekerja dengan giat dan sabar. Kita harus kerja keras, seperti kereta listrik ini, yang terus berputar dalam rutenya selama dua puluh empat jam penuh, hingga dia tidak lagi mengenal stasiun awal dan akhir.

Komunitas Saan tidak mengenal konsep kerja dengan keras, apalagi konsep-konsep seperti; eksploitasi alam, produktivitas, dan akumulasi kapital. Tentu saja. Mereka tidak pernah berusaha untuk menguasai dan berkuasa atas alam. Mungkin, mereka sadar betul, bahwa bumi yang mereka tinggali adalah milik bersama, karenanya harus dikelola dengan adil dan dijaga bersama. Mungkin juga mereka paham betul bahwa, bumi adalah sesuatu yang hidup, aktif, dan jauh lebih besar dari kita, manusia. Bagaimana cara manusia memperlakukan lingkungan di sekitar mereka, pasti akan berdampak kembali pada diri mereka sendiri. Sebagaimana cerita yang mereka imani, tentang kemurkaan Kaang Sang Pencipta, yang mengirim kematian dan kehancuran ke bumi karena ketidakpatuhan dan rasa tidak tahu terima kasih, yang dimiliki manusia-manusia komunitas Saan pertama.

Tetapi, sebagaimana yang kita tahu, sudah sejak lama modernitas telah menguasai hingga pelosok-pelosok bumi. Dan, sebagaimana komunitas adat yang lain, begitu juga komunitas Saan di Kalahari, mereka tidak kebal dari cengkraman modernitas. Krisis iklim berdampak sangat besar terhadap komunitas mereka. Aku tidak yakin, mereka masih hidup dengan berburu dan meramu. Kenaikan rata-rata suhu bumi yang sekarang sudah mencapai lebih dari dua derajat, aku rasa membuat Gurun Kalahari tidak lagi dapat ditinggali. Varietas flora dan fauna apa yang bisa hidup dalam sebuah ekosistem yang panas seperti itu? Memikirkannya, aku jadi ingat Pulau Kalimantan yang katanya sekarang menjadi kota asap. Kebakaran sawit-sawit dan hutan gambut mereka, terjadi hampir setiap hari. Bagaimana kabar komunitas-komunitas adat yang ada di Pulau Kalimantan?

***

Kereta listrik ini akhirnya sampai di stasiun tujuan. Tepat waktu. Bunyi gesekan besi yang kasar dan diiringi sedikit hentakan, membuat kereta ini berhenti. Pintu gerbong kereta terbuka dan dengan cepat, bau-bau karbon dioksida, seperti biasa, langsung menyengat hidungku. Angin debu yang bercampur dengan asap polusi kendaraan dan asap kebakaran hutan, menerpa wajahku. Terasa hangat dan kering, seperti biasa. Buru-buru, aku pakai masker oksigen. Orang-orang di kanan-kiriku, juga mulai memakai masker oksigen mereka.

Masker-masker ini beraneka warna dan berbeda-beda jenis dan merek. Masker oksigen sudah menjadi salah satu benda fashion yang menunjukkan simbol status dari seseorang. Punyaku sendiri berwarna hijau tua, dan berisi sebotol oksigen yang katanya dari Gunung Puncak Jaya Wijaya. Meskipun tidak semahal milik orang kebanyakan, sebotolnya cukup mahal jika dibandingkan dengan botol-botol oksigen kemasan daur ulang atau botol-botol oksigen yang mengklaim berasal dari gunung-gunung di Pulau Jawa. Siapa orang yang percaya dan membeli botol oksigen kemasan dengan tulisan: “seratus persen berasal dari puncak Gunung Pangandaran yang sejuk”, tidak ada. Kecuali orang miskin. Semua orang tau, tidak ada satu daerah pun di Jawa yang masih punya udara bersih.

Sejauh yang aku ingat, semua mulai menjadi buruk, sekitar sembilan belas tahun yang lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ditandai dengan sebuah peristiwa aneh yang terjadi di dua tempat di Indonesia, hampir secara bersamaan. Peristiwa itu memang tidak menjadi viral saat itu. Beritanya hanya muncul beberapa hari saja di berita nasional. Orang-orang, waktu itu, kebanyakan, mengabaikan peristiwa itu. Tapi, bagiku, peristiwa itu bukan peristiwa biasa. Ia terlalu surreal untuk aku abaikan, dan kemudian, tentu saja, peristiwa itu sangat membekas dalam ingatanku. Sampai saat ini, ingatan itu juga masih sering muncul dalam tidur dan sekelebat lamunanku. Peristiwa itu tidak bisa aku lupakan.

Ribuan burung pipit mati secara bersamaan di kota Cirebon dan Gianyar. Peristiwa itu seperti mimpi, seperti cerita fiksi. cuplikan video-video seputar peristiwa itu, masih tertanam kuat dalam benakku. Mengerikan. Ribuan bangkai burung pipit, tergeletak begitu saja. Berkerumun mengitari sebuah pohon beringin di Kota Gianyar. Entah apa yang menyebabkan mereka mati secara bersamaan. Seumur hidup aku tidak pernah melihat burung pipit sebanyak itu. Beberapa ahli bilang, kematian itu, terkait dengan pestisida yang disemprotkan ke sawah-sawah di sekitar situ. Beberapa yang lain mengatakan bahwa, peristiwa itu terkait dengan suhu bumi yang terus meningkat karena krisis iklim global. Dan, pada akhirnya, para ahli juga tidak dapat mengatakan dengan pasti penyebab terjadinya peristiwa itu.

Sejak saat itu, berbagai macam kejadian-kejadian tidak biasa mulai terjadi. Ribuan ikan, melompat ke pinggiran pantai di Provinsi D.I Yogyakarta. Ladang-ladang jagung di Provinsi Jawa Timur, habis diserbu ribuan belalang yang bergerombol bergerak seperti awan hitam. Hujan tidak turun dalam satu tahun penuh. Kebakaran-kebakaran hutan semakin sering terjadi. Pada awalnya, kebakaran itu terjadi karena usaha alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit, kemudian, berikutnya lahan-lahan sawit itu sendiri yang mengalami kebakaran. Lebih tepatnya, tanah gambut yang kering yang terbakar karena panasnya matahari. Tahun-tahun berikutnya, semua menjadi semakin parah. Jakarta bagian utara tenggelam sepenuhnya, beberapa kota pesisir lainnya juga mengalami hal yang sama. Banyak pohon-pohon mulai mati dan mengering. Badai-badai pasir mulai terjadi di kota-kota besar. Udara terkontaminasi debu, asap polusi dan kebakaran hutan. Penyakit-penyakit aneh mulai bermunculan.

Pria yang sedari tadi tidur, bangun dan bergegas lari ke arah bagian selatan stasiun. Hampir saja dia menabrakku dari belakang. Matanya yang tampak tak bernyawa, dengan kantung mata besar dibawahnya, menatap kosong ke arahku sepintas sambil berlari. Ia lari begitu kencang, tanpa memakai masker oksigen. Aku pikir, dia tidak lagi peduli dengan apapun, dia hanya ingin lanjut tidur. Dia tampak begitu kelelahan. Aku kira, dia akan  bergabung dengan pekerja-pekerja lain yang sedang beristirahat, tidur, di sepanjang kursi besi di depan toilet stasiun.

Mungkin, pria tidak punya tempat tinggal. Atau, mungkin, dia tidak punya waktu untuk sekedar kembali ke tempat tinggalnya, karena dia harus berangkat kerja sebelum subuh. Jam kerja tujuh belas jam seminggu ala Komunitas Saan Kalahari, atau empat puluh delapan jam kerja dalam seminggu seperti tahun-tahun saat aku masih remaja dulu, sekarang hanyalah mimpi dan ingatan masa lalu yang aku rasa tak ubahnya fiksi. Melihat pekerja-pekerja tidur di pinggir jalan adalah hal yang biasa. Kata pemerintah, bermalas-malasan adalah tindakan kriminal. Tidak ada yang berani melawan pemerintah. Pria itu menghilang di tikungan di kejauhan.

Berbagai macam bencana alam yang terjadi itu, kemudian menjadi penyebab berbagai macam bencana sosial. Angka pengangguran terus meroket, ekonomi hancur. Demonstrasi menuntut kesejahteraan sosial dan kerusuhan berbasis sara terjadi dimana-mana. Ekonomi collapse, penjarahan dan kriminalitas meningkat. Lima tahun kemudian, terhitung sejak ribuan burung pipit mati secara bersamaan, sekelompok pengusaha swasta terkaya yang berkoalisi dengan militer mulai mengambil kendali pemerintahan. Membentuk komite nasional yang mengatasnamakan upaya pemulihan ekonomi nasional dan ketertiban nasional. Sejak saat itu, kebijakan-kebijakan baru terkait ketenagakerjaan dan keamanan sosial mulai diterapkan. Rakyat-rakyat biasa diwajibkan kerja, kerja, dan kerja, untuk memulihkan ekonomi nasional.

Aku lupa, kapan tepatnya langit tidak lagi berwarna biru. Aku juga tidak tahu kapan terakhir kali aku melihat kupu-kupu dan capung terbang liar. Tidak ada lagi suara kicauan burung di pagi hari dan suara jangkrik di malam hari, hanya ada suara deru mesin. Sejak saat itu, apa yang ada dipikiran kebanyakan orang hanyalah bekerja. Orang-orang tidak lagi peduli dengan apapun, kecuali bertahan hidup. Bagaimanapun, hal seperti ini tidak hanya terjadi di negara ini. Bencana-bencana alam dan sosial ini merupakan sebuah peristiwa global.

Seperti biasanya, seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, kota ini begitu muram sekaligus bengis. Stasiun ini dipenuhi oleh papan-papan iklan propaganda di sisi kiri dan kanannya. Di tiap sudutnya ditempatkan kamera CCTV. Terlihat tiga orang petugas keamanan dengan senapan laras panjang, berjaga di depan gerbang kedatangan. Orang-orang berjalan saling mendahului dengan terburu-buru. Tidak semua orang memakai masker oksigen, tentu saja. Beberapa orang tidak mampu atau tidak mau membeli masker oksigen, entah penyakit apa yang nanti akan mereka dapatkan. Mereka terus berjalan cepat, mesin-mesin organis, tidak ada yang peduli satu sama lain, individualisme adalah kunci. Meskipun gerbong keretaku tadi lumayan sepi, aku rasa situasi stasiun malam ini cukup ramai, seperti hari-hari sebelumnya.

Aku berjalan menuju mesin penjual botol oksigen otomatis yang berdiri mencolok di dekat pintu keluar stasiun. Mereka yang cukup kaya biasanya memiliki mesin pengisi oksigen sendiri dirumah mereka, yang disuplai sebulan sekali oleh perusahaan penyedia oksigen. Sedangkan, orang-orang dari kelas pekerja kantoran sepertiku, hanya bisa membeli sebotol oksigen eceran, yang jika aku cukup hemat, bisa bertahan tiga harian. Mesin penjual seperti ini banyak terdapat di tiap sudut kota. Oksigen botolan berbagai jenis juga dijual diseluruh super dan mini market. Tampak beberapa orang sudah berbaris mengantri di depan mesin otomatis itu. Aku semakin mempercepat langkahku.

Ada tiga orang dalam barisan antrian di depanku. Dua orang pria dan satu orang wanita muda. Wanita itu terlihat tidak sabar dan terus melihat jam tangannya setiap tiga detik sekali. Tampak dua orang petugas keamanan membawa setumpuk poster, hilir mudik di sekitar kami. Poster-poster buronan ditempel teratur di dinding-dinding di sekitar mesin penjual botol oksigen otomatis. Aku baru sadar, poster-poster itu juga terlihat memenuhi hampir seluruh sudut-sudut tembok stasiun ini. Beberapa petugas keamanan yang lain juga terlihat mondar mandir sambil membawa beberapa ekor German Shepherd tua. Salah satu petugas keamanan mengawasiku penuh curiga. Malam ini petugas keamanan terlihat lebih banyak dari biasanya.

Kabarnya, pria dan wanita di poster-poster itu terlibat dalam tindakan terorisme yang membahayakan stabilitas negara. Mereka melakukan tindakan-tindakan terorisme seperti, membakar pabrik-pabrik, perusahaan pertanian dan perkebunan, dan gedung-gedung finansial. Hampir setiap hari, di berbagai daerah terjadi penyerangan-penyerangan yang rumornya, semuanya dilakukan oleh kelompok mereka dan simpatisannya. Motif mereka adalah menuntut balas atas hancurnya ekosistem dan menghentikan eksploitasi atas alam yang terbukti telah membawa umat manusia menuju krisis iklim global. Ratusan orang yang dianggap terlibat dalam kelompok teroris tersebut, mulai dari mahasiswa hingga aktivis lingkungan, ditangkap. Beberapa hilang dan belum kembali sampai saat ini.

Salah satu foto pria di salah satu poster tersebut terlihat tidak asing. Pria itu tersenyum menyeringai dengan sombong. Sepertinya aku pernah melihatnya entah dimana. Pria itu berambut cepak, menggunakan kemeja kantoran. Wajahnya begitu normal, tak berbeda dengan kebanyakan orang. Entah kenapa foto itu terlihat begitu hidup. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang tenang dan perlahan dari kedua lubang hidungnya. Matanya yang hitam menatap lurus ke arahku. Terlihat tanda-tanda kegilaan dalam tatapan dan senyumannya. Pria itu terlihat tidak takut pada apapun. Semakin lama aku menatapnya, semakin aku merasa seperti sedang bercermin. Pria di foto itu mirip denganku. Mungkin dia adalah diriku. Tidak salah lagi. Tentu saja, aku pernah melihatnya di pantulan cermin yang ada di kamar kosku.

Seseorang di belakangku, menepuk pundakku. Membangunkanku dari lamunan. Orang yang mengantri di depanku sudah beranjak, mungkin sedari tadi. Aku masukkan majalah bersampul foto pria komunitas Saan dan anaknya itu ke dalam tas ranselku, dan segera memasukkan beberapa lembar uang ke dalam mesin otomatis. Terdengar suara dentuman lonceng. Suaranya nyaring. Sudah lewat tengah malam. Aku beranjak pergi ke arah pintu keluar, dan stasiun masih saja ramai. Orang-orang masih terus berlalu lalang, tak ada habisnya, semua terlihat begitu sibuk. Kota ini tidak mengenal istirahat. Manusia hanyalah sekrup kecil. Mesin produksi dan mesin kapital harus tetap bekerja, tidak boleh sedetik pun berhenti. Pria dalam poster itu masih terus memandangku dengan tatapan dan senyuman yang sama.

Oktober 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *