Cerpen #103: “NEGERI TANPA DARATAN”

Di Pagi hari yang cerah, matahari terbit begitu terang. Burung camar berkicau sambil terbang di atas awan, angin yang berhembus dengan kencang. Namun di dunia saat ini hanya satu yang kurang yakni daratan. Ya memang sudah puluhan tahun daratan dinegeri ini sudah hilang, yang sering saya lihat hanya hamparan lautan yang luas tanpa ada daratan. Yang kami injak saat ini hanyalah lempengan-lempengan besi karatan. Saat ini kami hidup dalam sebuah kapal yang besar, kira-kira seluas kota jakarta, disinilah kami beraktifitas dan bertahan hidup. Sehingga setiap kapal itu di sebut sebagai sebuah negara.

Waw ini memang aneh memang terdengarnya tapi ini keadaan bumi di tahun 2121. Daratan disini telah lama menghilang akibat dari ulah manusia itu sendiri. Namaku adalah Sam setiap hari aku dan kedua orang tuaku yang bekerja dikebun. Kebun yang dimaksud bukan kebun yang tumbuh di tanah tetapi kami berkebun dengan cara hidroponik. Kami disini bertahan hidup dengan teknologi hidroponik, karena teknik inilah yang efektif dalam menanam tanpa tanah. Tanaman-tanaman yang bisa hidup disini pun hanya tanaman-tanaman yang kecil seperti tomat, cabai, bayam, dan sejenisnya. Sayang di zaman ini aku tidak bisa melihat pepohonan yang tinggi dan rindang serta di tumbuhi dengan buah-buahan yang lebat, tetapi sayangnya aku hanya dapat melihatnya dalam buku-buku pelajaran. Terkadang aku merasa bosan sering mengkonsumsi makanan yang kami tanam, ingin rasanya mencicipi makanan dimasa lalu aku membayangkan seperti apa rasanya aku bisa memetik buah di atas pohon.

Selain hidup dengan cara hidroponik, kami juga hidup dengan cara berternak. Hanya beberapa hewan ternak yang bisa kami selamatkan ketika daratan tenggelam tidak banyak hewan yang bisa diselamatkan karena over capacity sehingga hanya hewan ternak yang kami selamatkan karena sebagai penunjang hidup kedepan. Aku membayangkan di masalalu meungkin banyak sekali hewan yang beragam jenisnya tapi sayang karena banyaknya perburuan dan cuaca yang ekstream banyak hewan-hewan yang bisa bertahan hidup sampai saat ini.

Hewan air seperti ikan dan sejenisnya masih bisa bertahan hidup terutama hewan laut karena hewan air tawar disini sudah punah karena tidak beradaptasi di air tawar. Tetapi ada beberapa hewan air tawar yang bisa kami selamatkan seperti ikan lele, patin, dan sejenisnya dimana ikan-ikan ini bisa bertahan hidup di cuaca ekstream. Hewan laut disini juga tidaklah baik untuk dikonsumsi karena air laut sudah tercemar oleh berbagai limbah pabrik, nuklir, bekas tambang yang sudah tenggelam ke dalam lautan.

Untuk air bersih pun kami mengandalkan hujan yakni dengan cara menampungnya di sebuah bak penampungan yang sangat besar untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Selain mengandalkan air hujan, kami juga mengandalkan teknologi yang bisa mengubah air asin menjadi air hujan. Air bersih disini sangatlah minim sehingga hanya cukup untuk kebutuhan minum.

Cuaca disini sering berubah-ubah akibat dari sebuah bencana besar sehingga kami harus menciptakan alat yang mengatur temperatur ruangan. Minimnya tumbuhan dan menipisnya ozon mengakibatkan udara disekitar semakin panas, sehingga kami menciptakan sebuah teknologi yang dapat mengatur suhu ruangan. Oksigen disini pun sangat lah sedikit karena tidak adanya hutan. Hutan memiliki peran penting dalam kehidupan ini, terutama ketersediaannya oksigen dan air bersih. Saat ini kami menggunakan tabung oksigen dan alat pelindung diri karena semakin tipisnya oksigen dan tercemarnya udara. Kondisi di masa depan kini sangatlah memprihatinkan. Para ilmuan dimasa kini terus bekerja keras untuk menemukan sebuah penemuan baru baik itu dalam merekayasa genetika untuk mendapatkan verietas unggul, hutan buatan dan teknologi terbarukan untuk menunjang kehidupan kedepan.

Untuk menciptakan sebuah teknologi tentunya perlu alat dan bahan baku sehingga kami menyelam ke dasar lautan untuk mencari puing-puing yang masih berfungsi untuk menciptakan alat baru. Selain mencari didasar lautan kami pun juga mencari barang barang yang berserakan di lautan. Semenjak bencana puluhan tahun yang lalu sisa-sisa bencana itu masih ada seperti barang-barang yang terbuat dari plastik, kain dan karet. Di kapal ini kami tidak menggunakan bahan bakar bensin untuk menggerakan kapal tetapi kami menggunakan tenaga matahari dan angin, karena energi inilah yang dirasa ramah lingkungan. Aturan di negri(kapal) ini melarang alat-alat yang merusak lingkungan hidup jika sengaja melakukannya maka akan kena sanksi pidana.

Ketika selesai mengurusi tanaman kemudian akupun ke rumah kakek Max. Kakek Max ini hidup sebatang kara dan ia merupakan sejarah hidup terjadinya sebuah bencanaa besar. Ia sering menceritakan kisah-kisah dimasa lalu untuk mengingatkan kita agar tidak terjadi lagi. Kemudian akupun bertanya kepada kakek Max “kakek Max, coba ceritakan kisah dimasa lalu dimana dunia ini masih dikelilingi oleh daratan” kemudian kakek Max pun bercerita sewaktu semasa kecilnya. Ia menceritakan bahwa pada masa lalu dunia ini penuh dengan hamparan tanah yang luas dengan rumput-rumput dan pepohonan yang hijau, sungai yang mengalir jernih, gunung-gunung menjulang tinggi dan kebun-kebun yang penuh ditanami oleh tanaman ditambah dengan angin yang menyejukan. Ingin rasanya aku menginjak sebuah gundukan tanah dan tidur di atasnya. Rasanya mungkin menyenangkan jika itu terwujud, apa yang ku banyangkan itu semua hanya ada di dalam sebuah video zaman dulu.

Kakek Max mengatakan bahwa tenggelamnya sebuah daratan itu tidaklah dilakukan secara alami tetapi ini diakibatkan oleh keserakahan manusia. Di masa lalu manusia menggunakan teknologi yang tidak ramah linggungan sehingga mengakibat pemanasan global baik itu dari aktifitas kendaraan bermotor, pabrik-pabrik maupun aktifitas rumah tangga. Aktifitas ini ternyata mempengaruhi es yang ada di kutub. Es kutub ini semakin lama semakin mencair. Manusia saat itu sangat tidak memperdulikan alam.

Penebangan hutan secara liar dan pembalakan hutan mempengaruhi iklim dan juga ekosistem alam sehingga sering terjadi banjir dan longsor dimana-mana. Selain hutan yang digunduli pembangunan secara masif membuat kondisi tanah semakin lama semakin rendah dan rata karena beratnya beban bangunan yang semakin bertambah.

Aktifitas penambangan secara masif juga mempengaruhi kondisi alam sekitar terutama kontur tanah yang semakin lama semakin rendah. Selain pengerukan di dalam tanah untuk pengambil sumber daya alam, gunung pun juga ikut dikeruk untuk kebutuhan reklamasi. Aktifitas ini tentunya dapat mengakibatkan tanah semakin amblas karena tanahnya sering dikeruk untuk pembangunan. Kurangnya penanaman di pinggir pantai juga mengakibat kan abrasi sehingga banyak daratan dipinggir laut semakin hari menjadi semakin menipis dan laut semakin meninggi.

Kemudian kakek Max bercerita lagi. Pada tahun 2056 waktu itu ketika ia usianya masih 6 tahun, terjadi sebuah bencana besar diawalin dengan cuaca ekstream seperti hujan dan badai. Akibat cuaca ekstream ini mengakibatkan daratan amblas karena tanah sudah tidak mampu menahan beban dan terjadi erosi di dalam tanah. Rumah-rumah dan Gedung-gedung pencakar langit yang indah pada masa itu rata dengan sekejap, huru-hara dimana-mana serta semua umat manusia ketakutan dan panik. Retakan-retakan besar dimana-mana bahkan jalan pun menjadi terbelah dua sehingga akses jalan menjadi terputus. mungkin inikah yang dinamakan hari kiamat yang disebabkan keserakahan manusia sehigga alam menjadi murka.

Kemudian aku bertanya “apa yang dilakukan kakek pada saat itu”. Kemudian kakekku menceritakan sewaktu dulu terjadi huru-hara dan bencana dimana-mana, semuanya panik dan ketakutan. Banyak terjadi korban jiwa akibat bencana ini. Kekek max berasama orang tuanya berusaha bertahan hidup dan mencari tempat pengungsian. Akibat terbelahnya jalan sehingga terpaksa melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Hari demi hari kamipun bersama rombongan lainnya berusaha untuk mencari tempat pengungsian di perjalanan tentunya banyak korban berjatuhan dan meninggal. Bertahan hidup ditengah bencana yang besar memanglah sulit mencari makan kami mengandalkan sisa-sisa yang ada di toko yang hancur sambil berebut dengan yang lainnya, sekedar istirahat pun dirasa sulit karena lempengan-lempengan bumi yang terus bergerak membuat rombongan terus bergerak. Walaupun medannya cukup berbahaya tetapi harus tetap nekat untuk  bertahan hidup. pada masa ini memang masa-masa genting dimana hidup pada masa itu berada di ujung tanduk. Setelah berjalan cukup lama kamipun sampai di titik tempat pengungsian sembari menunggu kapal datang.

Selain terjadinya longsor, gempa, dan tanah amblas. Dikabarkan juga tanah ini akan segera tenggelam dikarenakan melelahnya es di kutub akibat dari pemanasan global. Sehingga bisa dikatakan seluruh daratan yang ada dimuka bumi ini dalam beberapa bulan akan tenggelam. Pada masa itu kakek Max menjelaskan bahwa para ilmuan sudah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk menciptakan kapal yang besar itu yang saat ini masih kami naikin. Manusia menyiapkan kapal yang sangat besar untuk ditinggali oleh banyak manusia. Meskipun manusia sudah menciptakan sebuah kapal yang sangtat besar tetapi hanya bisa menampung 10 persen saja manusia di dunia. Artinya manusia ketika bencana ini terjadi miliyaran korban jiwa. Karena sedikitnya manusia yang bisa ditampung sehingga hanya orang-orang penting saja yang bisa masuk ke kapal seperti ilmuan, pejabat, teknisi, dokter, pebisnis dan lainnya. Sedangkan manusia yang tidak punya keahlian atau orang kecil tidak bisa selamat.

Akupun begitu heran dengan cerita kakek max. Kok sebegitu teganya orang-orang dimasa itu memeras orang kecil disaat kesulitan. Dengan berat hati kedua orang tua ku mengorbankan uangnya demi anaknya seorang karena uangnya hanya cukup untuk seorang saja. Yang ia ingat kata-kata terakhir sebelum berpisah dengan kedua orang tuanya adalah “nak perjalanan mu masih panjang kami berdua mungkin hanya bisa mengantarkan mu sampai sini saja, silahkan lah duluan nanti kami akan menyusul”. Kakek Max merasa berat sekali ketika berpisah dengan kedua orang tuanya. Ketika tiba kapal berlayar kemudian secara paksa diseretuntuk menaiki kapal. Rasa lapar, bingung dan tanpa adanya keluarga seakan-akan hidup ini tanpa ada gunanya. Pada masa-masa itu penuh dengan tekanan mental.

Walaupun pada saat itu banyak yang selamat tetapi tetap saja untuk bertahan hidup tidaklah mudah. Makanan semakin hari semakin menipis sehingga perlu adanya sistem atau alat yang bisa menumbuhkan makanan. Ditambah dengan cuaca yang sangat ekstream sehingga tetap saja banyak yang meninggal diatas kapal. Secara terpaksa demi mempertahankan hidup kakek Max dengan penghuni lainnya harus memakan bangkai manusia. Tak terbayang jadinya jika aku hidup pada zaman tersebut, betapa sulitnya hidup dimana itu.

Berbekal dengan pengetahuan yang ada kemudian manusia bangkit dari keterpurukan lalu kemudian melakukan penanaman dengan cara hidroponik. Teknik ini dirasa cukup ampuh untuk menanam ketika tanah didunia sudah lenyap. Manusia pada saat ini mengumpulkan sisa sisa buah dan sayuran untuk ditanam kembali. Selain perlunya tanaman juga kami perlu untuk air. Walaupun hidup di tengah lautan, namun air di lautan sudah tercemar dan asin sehingga tidak dapat dikonsumsi. Sehingga mengandalkan tempat penampungan air dan membuat sebuah teknologi penjernih air.

Inilah kehidupan ku dimasa depan dimana minimnya sumberdaya alam yang ada. Hanya berbekal ilmu pengetahuan kami pun terus berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk kedepan terlebih lagi teknologi yang dapat menunjang keberlangsungan hidup.

Entah di tahun berapa daratan dapat muncul kembali ke permukaan dan air laut bisa menjadi biru dan tidak tercemar. Hal ini tentunya merupakan proses yang sangat panjang dalam memulihkan alam. Berbanding terbalik dengan pengrusakanya yang sekejap. Andaikan aku bisa hidup dimasa lalu aku ingin menasehati banyak orang dan melakukan pencegahan agar tidak merusak lingkungan karena apa yang dilakukan disaat ini akan berdampak dimasa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *