Cerpen #102: “Suara Sang Pengamat”

Di hari ulang tahunnya yang ke seratus, ia tidak lagi dapat mengingat sejak kapan dunia menjadi se-menyedihkan ini.

Duduk terdiam setiap hari, tanpa satu pun yang menemani. Dikiranya setelah sekian waktu, ia menjadi terbiasa dengan kesendirian. Tetapi nyatanya dirinya hanya sesosok tua yang membutuhkan afeksi dan interaksi.

Berulang kali melintas di pikiran rentanya, mungkin lebih baik ia mati menyusul teman-teman yang lain. Toh, umurnya juga sudah bukan seusia jagung. Dengan begitu ia tidak akan merasa begitu sendirian lagi. Akan tetapi tanggung jawab yang dipikulnya terlalu besar untuk dapat ditinggalkan begitu saja.

Kalau dipikir-pikir, takdir begitu kejam menyisakannya untuk tinggal terakhir. Berjuang sendirian tanpa siapa pun mengerti akan penderitaannya. Ia tidak diberi kuasa untuk sekadar berbicara. Tapi meski begitu, siapa pula yang mau mendengar keluhannya?

Mengusir kebosanan, ia mulai menyelami pikirannya sendiri. Berusaha menoleh ke belakang dan mencari kapan tepatnya semua kemalangan ini berawal. Sejauh yang dapat diingatnya, ia masih berdiri di sana. Di antara keluarga dan teman-temannya di sebuah hamparan padang rumput yang kini lenyap entah ke mana. Tergantikan oleh lantai marmer yang terasa begitu dingin dan kontras dengan sinar matahari yang begitu terik.

Semuanya terjadi begitu cepat. Dimulai begitu saja dengan keinginan kaum tertentu untuk hidup lebih baik, kemudian diwarnai oleh keegoisan sehingga terus berlanjut menjadi panggung tragedi tanpa bisa dihentikan oleh siapa pun. Sebagai kaum yang hanya diberi kemampuan untuk mengamati, ia dipaksa untuk menyaksikan betapa angkuhnya kaum bernama manusia atas petunjuk yang telah diberikan oleh alam semesta. Mereka hanya mempedulikan ego mereka sendiri, berusaha meraih hasil tanpa ujung, untuk kemudian tenggelam dalam bencana yang mereka akibatkan sendiri.

Memang pada dasarnya manusia itu makhluk yang tidak peka. Kepada sesamanya saja kadang mereka acuh, apalagi terhadap alam yang bahkan tidak bisa berbicara secara verbal?

Mungkin akhirnya setelah sekian lama berusaha mencoba untuk peduli, alam semesta merasa lelah. Petunjuk yang tadinya hanya berupa peringatan ringan kini berganti menjadi sesuatu yang lebih buruk. Banjir yang meluap di berbagai tempat, matahari yang terlalu terik serta cuaca yang ekstrem tidak terjadi tanpa alasan. Biar saja para manusia itu menanggung akibatnya. Akan tetapi, seberharap apapun alam maupun kaum pengamat, nyatanya manusia tidak pernah jera.

Masih sering terlintas di benaknya bagaimana ambisi membutakan manusia. Ubah mereka menjadi sosok yang sama sekali tidak mereka sangka. Sejauh yang ia tahu, mereka selalu hidup berdampingan sejak dunia ini ada. Namun semuanya seakan dijungkirbalikan kala manusia melakukan pembunuhan pertamanya.

Tidak ada yang bisa mengantisipasi hal tersebut. Tidak juga alam yang hanya bisa menggeleng; menyayangkan pilihan manusia yang ternyata begitu sadis. Ia tidak dapat melakukan apapun kala menyaksikan keluarganya hilang satu persatu, menyisakan bagian dalam dirinya yang tidak akan pernah pulih. Tidak ada acara pemakaman yang layak, semuanya tergantikan begitu cepat seakan bukan hal penting. Dalam sekejap, rumah tempatnya tinggal berganti menjadi tempat asing yang tidak lagi dapat ia kenali.

Seringkali ia bermimpi. Mengenai rumput yang menari bersama angin, ataupun matahari yang mengintip malu di balik dedaunan. Biasanya pada hari cerah seperti itu, berbagai kaum datang tanpa janji. Saling bercengkerama diiringi gelak tawa. Ah, bukankah seperti itu hidup yang seharusnya?

Akan tetapi, kala dirinya membuka mata, dunia seakan menghempaskannya kembali pada kenyataan. Tidak ada lagi rumput yang melenggok riang, ataupun burung yang bernyanyi merdu. Semuanya pergi – entah untuk sementara atau selamanya. Meninggalkannya bersama dengan benda mati yang dibentuk sedemikian rupa agar terlihat seperti kaumnya.

Aneh, kalau memang mereka begitu ingin menghidupkan kembali kehidupan lama, mengapa tidak instropeksi diri dan memulai dari hal kecil? Ada begitu banyak hal yang dapat dilakukan, entah itu mengurangi emisi ataupun menggunakan barang ramah lingkungan. Apakah mereka tidak rela melepas kebiasaan mewah barang sedetik pun?

Awal-awalnya, ketika ia baru saja merasakan kehilangan yang amat mendalam, ia begitu membenci kaum manusia. Rasanya menyiksa kala ia diwajibkan untuk bertahan hidup di tengah kaum yang membunuh bangsanya sendiri. Ingin sekali ia menjerit, atau bahkan bunuh diri.

Tetapi nyatanya, sejauh apapun dorongan itu muncul, ia tetap bertahan. Berpuluh-puluh tahun hidup membuat amarahnya kian mereda, dan memberinya banyak ruang untuk merenung. Kemudian diputuskan untuk merelakan, memaafkan para manusia keji dan beralih melindungi mereka.

Jika ia tidak dapat melindungi kaumnya sendiri, maka setidaknya ia akan melindungi kaum manusia.

Meskipun hal tersebut terdengar agak ironis, akan tetapi benar adanya kalau ia menjadi satu-satunya penopang di tengah kehidupan manusia yang kini rapuh. Level oksigen yang berkurang drastis sempat membuat kepanikan massal pada masanya, dimana lambat laun ditemukan cara lain yang dapat menyokong pernapasan mereka. Meski begitu, udara buatan yang berisi campuran kimia tidak dapat menggantikan udara alami hingga sebagai gantinya, usia manusia dipangkas menjadi hampir setengahnya.

Maka dalam keputusasaan mereka berusaha menyelamatkan apa yang tersisa. Menjaganya sedemikian rupa di dalam sebuah tabung kaca agar tidak dihantam sinar matahari yang kini tidak lagi ramah akibat hilangnya lapisan ozon. Pupuk yang diberikan kepadanya berkualitas tinggi, demikian pula dengan air yang menyiraminya setiap pagi.

Namun sebagaimana alam menciptakan makhluk hidup, ada batasan yang tidak akan pernah bisa dilewati. Batasan itu bernama usia. Dan di usianya yang tidak lagi muda, ia tahu suatu saat nanti waktunya akan tiba. Dimana ia tidak dapat lagi menyelamatkan apa yang ia janji untuk selamatkan.

Dan ketika saat itu datang, semoga manusia telah menemukan apa yang selama ini mereka berusaha cari.

.

.

Terkadang, hati kecilnya bertanya-tanya, jikalau waktu dapat diputar kembali apakah manusia sudi mengubah alur dunia? Memikirkan sejenak bagaimana kehidupan anak cucu mereka nantinya dibandingkan dengan kemewahan hidup masa kini yang tidak seberapa.

Jauh dalam lubuk hatinya, ia berharap ya adalah jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *