Cerpen #101: “Time Travel”

Celyn melangkahkan kakinya ke sungai dekat rumahnya. Ia memastikan sekelilingnya tidak ada orang lalu dengan cepat ia melemparkan seluruh sampah rumahnya ke sungai. Helaan nafas leganya terdengar namun tiba-tiba langkah kaki terdengar dari sekitarnya. “Ngapain kamu disini?” tanya Kelvin tiba-tiba dan Celyn terpeleset karena terlalu terkejut. “AAAH!” Celyn tercebur ke dalam sungai dan tangannya terus melambai di atas permukaan air meminta pertolongan.

Kelvin  terkejut melihat hal itu namun ia hanya bisa berteriak minta tolong karena ia sendiri tidak bisa berenang. Tangan Celyn perlahan mulai menghilang dari permukaan air dan tidak ada lagi gelembung air yang terlihat disana. “CE-CELYN!” teriak Kelvin namun gadis itu sudah hilang entah kemana arahnya.

Celyn membuka matanya karena panas matahari benar-benar seperti membakar kulitnya. Ia terduduk dan melihat dirinya sedang berada di sebuah pantai. Orang-orang yang ada di sekitarnya berlari kesana kemari sambil membawa alat yang tidak ia kenal. Alat dengan teknologi yang jelas belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Sepertinya memang ada yang aneh.” Celyn berdiri dan menghampiri salah satu gadis yang terlihat seumuran dengannya. “Permisi, alat yang kamu bawa ini apa?” tanya Celyn sambil menunjuk sebuah papan kecil berwarna biru. Gadis itu terlihat bingung dengan pertanyaan Celyn namun sambil menahan tawa ia menjawab, “Papan selancar kak.”

Wajah Celyn terlihat membeku mendengar jawaban gadis itu. Mengapa papan itu terlihat sangat kecil dan sepertinya papan itu bisa ia masukkan ke dalam tasnya. Celyn melihat ke sekitarnya lagi dan ada orang yang hendak berselancar. Bentuk papan itu sama persis dengan milik gadis itu, orang itu menekan remote yang dimilikinya dan secara otomatis papan itu berubah menjadi sebuah papan selancar keren dan dengan pelampung yang tiba-tiba saja menggembung dari tubuhnya.

“Waw!” ucap Celyn lalu mulai mengelilingi pantai. Ia melihat berbagai wahana yang belum pernah ia lihat waktu dulu dan tiba-tiba ia teringat sesuatu, tanggal. Ia menanyakan orang asing lagi dan kali ini adalah seorang pria remaja. “Tanggal 22 Oktober 2121,” ucap pria itu dan Celyn reflek berteriak kaget.

“Hey, what’s wrong?” Celyn memegangi kepalanya kuat-kuat karena ini semua terasa nyata. Ia berkali-kali mencubit lengannya dan tetap saja ia tidak terbangun dari mimpinya. Ia sedang berada di dimensi lain. “Kamu sibuk nggak? Mau temenin aku sebentar saja?” tanya Celyn dengan wajah memohon. “Sure.”

Celyn berjalan keluar pantai Bersama pria itu dan ia melihat dunia sebenarnya. Pemandangannya saat ini hanyalah gedung-gedung tinggi nan megah yang memiliki berbagai layar besar di bangunannya. Berbagai iklan muncul dari kaca-kaca di bangunan itu dan bahkan bisa dibilang iklan itu menjadi tirai penutup ruangan bangunan disana.

Pohon-pohon disini sudah sangat berkurang daripada tahun 2021, suasananya sangat panas dan mungkin karena efek pemanasan global. Sampah disini hamper tidak terlihat dan hal itu membuat dirinya penasaran, apakah sudah secanggih ini teknologinya sampai-sampai sampah bisa mereka hancurkan seluruhnya?

“Oh iya, by the way aku Celyn,” ucap Celyn dan pria itu menjawab, “Deryl.” Celyn mengangguk paham dan mulai berani melontarkan pertanyaan-pertanyaannya yang membuatnya penasaran. “Pohon-pohon disini kenapa pada gundul?” Deryl membuka ponselnya karena ia sadar Celyn adalah seorang yang datang dari masa lalu. Deryl menunjukkan berita yang terjadi pada 2100, penebangan hutan secara liar di 50 daerah di Indonesia untuk membangun sebuah penahan di 50 sungai daerah itu.

“Penahan?” “Iya.” Deryl mulai menjelaskan tentang sampah sungai yang terus melonjak jumlahnya sehingga air sungai benar-benar menjadi tercemar dalam 30 tahun terakhir. Mereka seperti membuat penahan agar air dan sampah-sampah itu tidak lagi berlanjut ke perairan selanjutnya. Banyak sukarelawan yang sudah mengambili sampah dari luar perbatasan itu dan sedangkan sampah-sampah yang sudah masuk ke dalam penahan, diambil satu per satu untuk dipilah berdasarkan jenisnya.

Mereka yang bisa dihancurkan dan diolah kembali dikumpulkan ke satu tempat dan berbagai pabrik menerima tugas itu dengan senang hati. Banyak sampah yang akhirnya terolah dengan baik meski pohon-pohon di daerah mereka harus menjadi korbannya. Pada jaman ini semakin banyak orang-orang kreatif dan sampah-sampah itu mereka buat menjadi sebuah museum. Ada yang mengubah menjadi bunga, karya lukisan, wadah-wadah yang bisa dipakai kembali, dan masih banyak hal lain yang telah dibuat remaja 2121.

“Boleh aku lihat museumnya?” tanya Celyn malu karena ia sendiri adalah salah satu pelaku pembuang sampah di sungai. Deryl mengangguk dan menunjukkan sebuah bangunan yang amat sangat besar. Museum itu tidak yang seperti Celyn pikirkan, museum itu benar-benar bersih dan wangi. Tidak ada bau sampah sama sekali. Celyn melihat berbagai karya yang terpajang disana dan benar-benar tidak terlihat seperti sampah. Warna yang dipadukan dalam museum benar-benar indah. Desain interior museum ini juga telihat sangat mewah padahal mereka memakai barang-barang dari sampah sebagai hiasannya.

Celyn melihat ke arah kanan dan melihat tempat sampah yang dibedakan menjadi 5 dengan desain yang menarik. Ia menghampiri tempat sampah berwarna abu-abu dan mencoba memasukkan tisu yang baru saja ia pakai. “Tet-tot anda salah. Sampah ini seharusnya dimasukkan ke dalam warna hijau, silahkan ambil kembali sampah anda.” Tempat sampah itu membuka mulutnya dan tatakan besi keluar dari sana. Ia memberikan tisu milik Celyn dan Celyn tertawa kecil melihatnya. Ia memasukkan sampah itu ke dalam tempat sampah berwarna hijau lalu ia berbalik kea rah Deryl.

“Nggak semprot dulu?” tanya Deryl sambil menunjuk semprotan di samping tempat sampah. Celyn tidak mengerti fungsi semprotan itu tapi ia mengarahkan tangannya ke semprotan itu. “Silahkan beri kedua telapak tangan anda!” seru alat itu lalu Celyn memberikan tangan satunya. “Ssst.” Semprotan itu keluar dari lingkaran botol itu dan harumnya tercium sampai dalam masker Celyn. Ia merasakan tangannya yang sejuk dan ia mulai mengusap tangannya, ternyata itu seperti hand sanitizer pada tahun 2021.

“Kamu beneran dari masa lalu ya?” tanya Deryl iseng. Celyn tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya. Deryl tidak yakin dengan kehadiran Celyn karena gadis itu datang menggunakan masker, Deryl pikir mana mungkin gadis itu membeli masker tanpa mengetahui alasan orang-orang memakainya. “Terus masker itu kamu pakai karena apa?” tanya Deryl. “Karena pandemi lah, kalian pakai juga karena pandemi kan?” tanya Celyn percaya diri.

Deryl menghela nafasnya lalu lagi-lagi menunjukkan ponsel transparannya. Ia menunjukkan betapa parahnya polusi udara di sepuluh tahun lalu. Produksi pabrik yang mengolah sampah-sampah itu menimbulkan asap mereka semakin banyak. Polusi udara bertambah dan pemerintah meminta Indonesia mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Bahkan sekarang sudah tak jarang orang bekerja dengan berjalan kaki dan setiap harinya membawa dua pakaian ketika bekerja agar jika berkeringat mereka bisa menggantinya di kantor.

“Ternyata masa depan nggak seindah yang aku bayangkan ya,” ucap Celyn. Bayangannya akan masa depan adalah masa yang penuh dengan teknologi dan indah akan kebersihannya. Banyak kendaraan yang tidak lagi berjalan di daratan dan banyak pohon lebat di sepanjang jalan, itulah yang biasa ia lihat di dalam film.

“Celyn,” panggil Deryl sopan. Ia memegang kedua pundak Celyn sambil tersenyum, “Aku yakin suatu saat atau bahkan hari ini kamu bakal balik lagi ke masa lalu. Aku titip pesen buat kamu, tolong jaga kebersihan bener-bener ya. Jangan buang sampah sembarangan, kurangi penggunaan plastik, sama kalau bisa jangan ngerusak pohon ya. Bukan bermaksud ngejelekin tapi kalau dilihat dari wajahmu lihat keadaan sekarang, kamu kaya kaget dan terkesan kaya kamu salah satu dari mereka yang suka buang sampah sembarangan.” Deryl tertawa kecil namun Celyn malah membalas dengan anggukan. “Loh?”

Celyn melepaskan tangan Deryl dari pundaknya dan memberikan jari kelingkingnya. “Aku janji bakal ubah sifat aku.” Deryl menyatukan kelingkingnya dan tiba-tiba Celyn menghilang dari hadapannya. Deryl tersenyum senang karena mungkin Celyn memang dikirimkan ke masa depan untuk menyadari perbuatannya. Akankah ada orang lain lagi yang dikirim kesini?

Celyn membuka matanya dan melihat dirinya berada dalam air yang amat sangat kotor. Dengan cepat ia berenang ke permukaan air dan mencari daratan. “Hah.. hah…” Nafasnya tersendat-sendat setelah berhasil naik ke daratan. Keadaan sungai itu benar-benar mengerikan, ia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana keadaan beberapa tahun lagi jika ia terus membuang sampah ke sana.

19 thoughts on “Cerpen #101: “Time Travel”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *