Cerpen #100: (Tanpa Judul)

Di sebuah desa terdapat seorang perempuan yang sedang duduk di bangku taman, perempuan itu memegang sebuah ranting pohon di tangannya. Perempuan itu menatap kosong ke arah danau yang sangat kering.

Perempuan itu bernama Nanda Aulia. Dia biasa dipanggil dengan Nanda. Sebenarnya Nanda mempunyai julukan lain yaitu pecili. Apa sih PECILI itu? PECILI adalah singkatan dari Perempuan Cinta Lingkungan. Karena Nanda sangat menyukai lingkungan yang bersih, makanya dia diberi julukan itu oleh teman-temannya.

Dulu desa Nanda sangat bersih. Udara disekitar pun sangat enak untuk dihirup. Namun lingkungan di desanya berubah. Udara di sekitar menjadi kotor, bahkan beberapa anak kecil dan lansia mudah terkena gangguan pernafasan karena itu.

Oleh karena itu, Nanda selalu berkeliling setiap hari. Dari mulai jalan utama sampai jalan di dekat proyek batu bara yang sedang dibangun. Pembangunan itu menyebabkan lingkungan di desa Nanda menjadi berubah. Nanda berkeliling desa sembari membawa bendera bertulisan. HENTIKAN PEMBANGUNAN BATU BARA DI DESA INI.

Namun selama ini tidak ada yang memperdulikan aksi Nanda, bahkan Nanda terkadang dikecam oleh sebagian orang. Terutama orang-orang yang tergabung dalam proyek pembangunan batu bara itu. Tapi kecaman itu tidak membuat Nanda menyerah. Dia terus melakukan aksi itu, berharap ada yang mengerti mengenai aksi yang Nanda lakukan.

“Nanda kamu ngapain di sana? Udah mau sore, pulang,” seru seorang perempuan dari kejauhan.

Nanda membalikkan badannya. Ternyata itu adalah Ica saudara sepupu Nanda, “Bentar lagi Ca,” balas Nanda.

“Nanti keburu dicari sama mamah sama papah kamu loh,” ucap Ica dengan sedikit berteriak.

Setelah mendengar kata mamah dan papah Nanda pun akhirnya bangkit dari bangkunya. Dia berjalan menuju Ica yang sudah berkacak pinggang.

Ica yang melihat Nanda membawa bendera pun menggeleng-gelengkan kepalanya heran, “Kamu ngapain sih bawa bendera kaya gitu setiap hari, engga cape?” tanya Ica.

Nanda menggelengkan kepalanya, “Engga. Lagian aku kan mencoba yang terbaik demi desa aku,” balas Nanda.

“Papah kamu aja diem terus. Kok kamu malah kaya gini. Jalan-jalan engga jelas,” ucap Ica merendahkan.

“Nah karena papah aku diem aja, aku jadi harus bergerak maju,” seru Nanda.

“Yoweslah aku udah bingung sama kamu,” balas Ica.

Mereka berdua pun berjalan menuju rumah masing-masing yang tidak berbeda jauh. Hanya butuh 5 langkah untuk berkunjung ke rumah masing-masing.

Nanda pun meletakkan bendera di depan rumah, dan segera masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah ternyata sudah ada papah dan mamah Nanda yang sedang menunggu di ruang tamu.

“Dari mana saja kamu? Perempuan kok kerjaannya keluyuran terus,” tanya papah Nanda.

Baru saja Nanda akan menjawab pertanyaan papahnya. Papahnya lebih dulu bertanya lagi.

“Habis keliling desa sambil bawa bendera engga jelas itu lagi?” tanya papah Nanda.

Nanda menganggukkan kepalanya, “Iya Nanda kan maunya pembangunan proyek batu bara itu berhenti. Papah kenapa sih engga stop aja pembangunan proyek itu. Proyek itu kan bisa bahaya buat lingkungan pah,” balas Nanda.

“Kamu itu anak kecil, tahu apa kamu dengan bahaya,” ucap papah Nanda.

“Papah ngomong gitu terus. Nanda itu sudah besar pah, bukan anak kecil lagi,” balas Nanda sembari pergi meninggalkan papah dan mamahnya.

Nanda berjalan menuju kamarnya, didalam kamar Nanda merebahkan badannya di kasur. Nanda melihat ke arah atap kamarnya, “Kenapa sih papah nyebelin banget. Nanda kan cuman mau yang terbaik buat desa aja,” ucap Nanda.

Keesokan harinya setelah Nanda pulang dari sekolah Nanda segera berganti baju dan seperti biasa dia akan berkeliling desa dengan bendera yang selalu setia ada di tangannya. Oh iya Nanda adalah siswi kelas 3 SMA Negeri di desanya. Dia adalah anak yang sangat pintar. Tidak heran kalau dia disukai oleh siswa-siswa lain. Karena selain pintar Nanda pun adalah anak yang cantik.

Nanda terus berkeliling desa sampai akhirnya dia tiba di dekat jalan proyek pembangunan batu bara. Dia dengan gagahnya berdiri di depan gerbang sembari mengibarkan bendera yang dibawanya.

“Hentikan proyek pembangunan batu bara ini kalau kalian tidak mau lingkungan desa ini tercemar. Ayo mari kita hentikan pembangunan baru bara ini,” seru Nanda.

Namun lagi-lagi tidak ada orang yang memperdulikan Hana. Hanya ada dua orang bapak-bapak yang mulai menghampiri Nanda. Yang satu berkepala pelontos dan yang satu lagi berkumis tebal

“Heh Nanda kamu ngapain lagi ada di situ. Saya kan sudah bilang sama kamu, kalau kamu tidak boleh ke sini,” seru bapak berkumis tebal itu.

Namun Nanda tidak mendengar bapak berkumis tebal itu. Dia terus saja mengibarkan bendera yang di bawanya, “Ayo ibu-ibu, bapak-bapak kita hentikan proyek pembangunan batu bara ini,” seru Hana

Bapak berkumis tebal itu kesal karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Nanda. Bapak itu pun akan menghampiri Hana dengan ekspresi wajahnya yang sudah memerah karena marah. Namun bapak berkepala pelontos lebih dulu menahan bapak berkumis tebal.

“Sudah-sudah nanti dia juga pergi seperti biasanya. Lagipula kita engga boleh cari gara-gara sama dia,” ucap bapak berkepala pelontos itu kepada bapak berkumis tebal.

Akhirnya bapak berkumis tebal itu pun hanya melihat Nanda dengan tatapan yang galak. Sedangkan Nanda tidak memperdulikan bapak-bapak itu. Dia terus mengibarkan bendera.

“Untung ya kamu itu anak satu-satunya lurah di desa ini. Kalau tidak, mungkin orang tua kamu sudah saya beri peringatan,” ucap bapak berkumis tebal itu sembari berjalan meninggalkan Nanda dengan wajah yang masih memerah. Bapak kepala pelontos itu pun juga mengikuti temannya masuk ke dalam bangunan proyek.

Nanda pun tetap berdiri di depan pembangunan batu bara itu sampai sore hari. Setelah sore tiba Nanda akan pulang ke rumah atau terkadang mampir ke dekat danau seperti kemarin. Namun kali ini Nanda langsung pulang ke rumah.

Saat Nanda tiba di rumah. Papah Nanda sudah berkacak pinggang di depan rumah sembari menunggu Nanda.

“Masuk,” ucap papah Nanda kepada Nanda dengan nada yang tegas.

Nanda pun menganggukkan kepalanya, dan Nanda lebih dulu meletakkan bendera yang di bawanya di depan rumahnya.

Nanda masuk dengan langkah yang malas. Karena dia tahu kalau dia akan dimarahi oleh papahnya lagi. Nanda pun duduk disamping papahnya dengan ekspresi wajah cemberut.

“Kamu itu kenapa sih susah banget dibilangin sama papah. Kalau papah bilang jangan keliling desa sambil bawa bendera lagi, ya nurut. Apa susahnya sih buat kamu? Papah itu cape kalau harus jelasin sama kepala proyek pembangunan batu bara itu,” ucap papah Nanda.

“Ya papah engga usah jelasin sama kepala proyek lah,” balas Nanda.

“Kalau papah bicara itu jangan bales. Bisanya kamu itu cuman bales ucapan papah. Mau uang jajan kamu papah potong?” tanya papah Nanda.

Nanda dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Jangan pah nanti Nanda jajan pakai apa? Masa pakai daun,” rengek Nanda kepada papahnya.

“Makanya kalau papah bicara itu diam dan renungi. Pokoknya kalau papah sampai tahu kamu keliling desa sambil bawa bendera itu lagi. Papah akan benar-benar potong jajan kamu,” ucap papah Nanda sembari meninggalkan Nanda sendirian di ruang tamu.

“Papah ih kok gitu sama Nanda,” seru Nanda. Nanda pun segera berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi wajah yang kesal.

“Papah itu nyebelin,” gerutu Nanda.

Ancaman papah Nanda sepertinya sangat ampuh untuk Nanda. Buktinya Nanda tidak lagi berkeliling desa sembari membawa bendera lagi. Tetapi setelah pulang dari sekolah Nanda sengaja berjalan lebih jauh agar bisa melewati proyek pembangunan batu bara.

Ketika melewati proyek itu pun Nanda tidak hanya lewat begitu saja. Nanda menyempatkan dirinya untuk menyindir bapak berkumis tebal yang sangat menyebalkan. Dan kegiatan itu pun berlanjut sampai beberapa bulan kemudian.

Namun ada yang berbeda dengan hari ini. Nanda terbangun dengan dada yang sangat sesak. Bahkan Nanda sangat kesulitan bernafas. Nanda ingin berteriak pun sulit. Dia sangat kesulitan. Sampai akhirnya Nanda sengaja menjatuhkan gelas kosong yang ada di meja dekat kasur tidurnya.

PRANG!

Bunyi gelas kosong itu begitu nyaring sampai papah dan mamah Nanda pergi menghampiri kamar Nanda. Namun alangkah kagetnya papah dan mamah Nanda ketika melihat kondisi Nanda yang sudah tertidur sembari memegang dadanya dengan erat.

Papah Nanda segera membopong Nanda, “Pah dada Nanda sakit,” ucap Nanda dengan kesakitan.

Papah dan mamah Nanda pun dengan cepat membawa Nanda ke rumah sakit terdekat dengan mobil milik mereka. Kedua orang tua Nanda begitu khawatir dengan keadaan putri mereka satu-satunya.

Setelah tiba di rumah sakit. Nanda segera dibawa ke IGD dengan ranjang rumah sakit. Sekitar setengah jam Nanda berada di IGD. Akhirnya dokter yang menangani Nanda pun keluar dari ruang IGD.

“Apakah ada keluarga dari pasien Nanda?” tanya dokter kepada beberapa orang berada diluar ruang IGD.

Kedua orang tua Nanda dengan cepat menghampiri dokter itu, “Saya papah Nanda dan ini mamah Nanda,” balas papah Nanda.

“Kalau begitu silahkan mengikuti saya,” ucap dokter itu. Kedua orang tua Nanda pun mengikuti dokter itu.

“Mohon maaf sebelumnya. Apakah dilingkungan bapak dan ibu terdapat proyek pembangunan?” tanya dokter kepada kedua orang tua Nanda.

Papah Nanda menganggukkan kepalanya, “Betul di desa kami terdapat proyek pembangunan batu bara,” balas papah Nanda.

“Pantas saja. Nanda terkena gangguan peranafasan Silikosis karena terlalu banyak menghirup debu silika. Mungkin proyek itu telah ada lama sekali ya sampai menyebabkan penyakit ini bisa menyerang Nanda,” ucap dokter sembari menunjukkan hasil CT Scan.

“Iyaa proyek itu sudah cukup lama berada di desa kami, tapi Nanda bisa disembuhkan kan dok?” tanya papah Nanda dangan suara yang khawatir.

“Mohon maaf penyakit Silikosis bersifat mematikan dan tidak dapat disembuhkan,” jelas dokter itu.

Kedua orang tua Nanda pun terkejut mendengar penjelasan yang diberikan dokter, “Apakah benar tidak ada jalan keluar untuk penyakit anak saya dok? Saya mohon bantu saya dan istri saya dok. Nanda adalah satu-satunya anak yang kami punya,” ucap papah Nanda.

“Ada satu cara, tetapi ini masih tidak terlalu memungkinan keberhasilannya. Yaitu pasien dengan silikosis parah seperti Nanda memerlukan transplantasi (cangkok) paru-paru. Tetapi mencari calon donor transplantasi paru-paru sedikit sulit,” jelas dokter.

Kedua orang tua Nanda yang mendengar itu pun pasrah dan hanya bisa berdoa demi keselamatan Nanda. Nanda pun di bawa ke ruang ICU.

Selama beberapa hari Nanda tidak membuka matanya. Matanya terus menutup seakan enggan membuka matanya lagi. Kedua orang tua Nanda pun tidak tahu harus berbuat apa. Calon donor untuk anaknya pun mereka sama sekali tidak menemukannya.

Namun saat papah dan mamah Nanda sedang memperhatikan Nanda dengan lekat. Tiba-tiba saja Nanda membuka matanya perlahan. Kedua orang dua Nanda yang melihat itu pun segera memanggil dokter. Namun saat papah Nanda akan menyusul istrinya yang sudah keluar dari ruang ICU. Tangan Nanda lebih dulu menahan tangan papahnya.

“Nanda mau apa sayang? Papah akan turutin semua yang Nanda mau. Tapi Nanda harus sehat ya,” ucap papah Nanda sembari tersenyum haru.

Nanda pun tersenyum kecil melihat ke arah papahnya, “Papah, Nanda cuman mau papah hentikan proyek pembangunan batu bara itu. Kasihan orang-orang di desa yang terkena penyakit kaya Nanda. Nanda engga mau mereka juga sakit. Nanda juga engga mau lingkungan desa jadi rusak karena itu. Papah mau kan kabulin permintaan Nanda kali ini,” ucap Nanda.

Papah Nanda yang mendengar itu pun menangis. Mungkin permintaan Nanda kali ini adalah permintaan terakhir yang diinginkan Nanda. Akhirnya papah Nanda pun menganggukkan kepalanya, “Papah akan kabulin permintaan kamu, papah akan usahakan itu,” balas papah Nanda sembari mengusap air mata yang terjatuh.

Nanda yang mendengar itupun tersenyum ke arah papahnya, “Papah jangan nangis dong. Nanti Nanda juga nangis,” ucap Nanda.

“Iyaa papah engga akan nangis ya,” balas papah Nanda sembari membersihkan semua air mata yang ada di pipinya.

Nanda tersenyum melihat itu, lalu Nanda menatap ke arah papahnya, “Pah, dada Nanda sakit banget. Nanda mau tidur aja supaya sakit Nanda hilang. Papah sama mamah engga apa-apa kan kalau Nanda tidur?” tanya Nanda.

Papah Nanda yang mendengar itu berusaha menahan air matanya yang sudah mengenang di pelupuk matanya, “Nanda kalau sakit, papah dan mamah bolehin Nanda tidur. Tapi Nanda maafin papah dan mamah ya,” balas papah Nanda.

“Harusnya Nanda yang minta maaf sama papah sama mamah. Nanda minta maaf ya sama papah. Tolong bilang juga sama mamah, kalau Hana maunya tidur aja,” ucap Nanda smebari tersenyum kecil.

“Engga apa-apa Nanda cantiknya papah dan mamah tidur aja ya,” balas papah Nanda.

Nanda tersenyum, “Makasih ya papah,” ucap Nanda. Tidak lama kemudian Nanda menutup matanya. Dan meninggalkan papahnya yang kini sedang menangis dengan histeris.

Mamah Nanda yang baru saja kembali bersama dokter pun terkejut ketika mengetahui kalau anak satu-satunya telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia.

Beberapa minggu setelah kepergian Nanda. Papah Nanda menjadi menentang keras pembangunan proyek batu bara di desanya. Papah Nanda bahkan sudah mencabut ijin proyek tersebut.

Masyarakat desa yang mulai mengetahui dampak bahaya dari pembangunan batu bara bagi lingkungan pun mendukung papah Nanda untuk menghentikan proyek pembangunan batu bara itu.

Dan akhirnya proyek pembangunan batu bara di desa Nanda telah dihentikan sesuai dengan keinginan Nanda. Semua masyarakat desa sangat berterimakasih kepada Nanda yang telah berjuang sendirian selama ini.

Papah dan mamah Nanda pun begitu bangga dengan tindakan putrinya yang telah bahagia di sisi tuhan selamanya.

“Papah dan mamah sayang sama Nanda,” ucap kedua orang tua Nanda sembari melihat ke arah langit yang cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *