Cerpen #95: “Aku (hutan) yang engkau ancam, kini mengintaimu”

Hutan, bentuk dari kata tersebut terkadang bisa menjadi pelindung bagi kita dan bisa menjadi sesuatu yang tidak begitu penting. Dua pendapat itu yang banyak kita dengar oleh kita, bagi yang merasa terlindungi mungkin merasa dirinya terlindungi karna teduh karna udaranya sehat dan ada juga yang merasa udara menjadi baik karena pohon, bagi yang merasa bahwa penting tidak begitu penting mungkin di karenakan ia tidak merasakan panas karena dirumahnya menggunakan pendingin udara dan ada juga yang merasa tidak begitu penting karena ia melatarbelakangi sebagai pengusaha yang mengharuskan menebang pohon seperti usaha bangunan, batubara atau aktivitas pengeboran lainnya yang dilakukan di hutan.

 

Tetapi kita semua sudah berada pada titik sulit untuk menjalani kehidupan karena perubahan perubahan iklim yang tidak menentu, petani yang sulit untuk kapan memulai menanam karena hujan dan panas tidak menentu, para nelayan tidak bisa untuk melaut kembali karna badai yang sulit untuk di tebak, dan kehidupan sosial yang sudah diagendakan dan diprediksi tidak ada masalah tetapi karna perubahan iklim yang secara acak menjadikan kehidupan sosial kita terhambat. Lalu disebabkan oleh apa krisis iklim ini? Sudah jelas karena hutan hutan yang di gunduli, karena itu menurupakan sumbangsih dari pohon untuk udara dan kehidupan yang baik. Akhirnya kita mencoba untuk menebak dikarenakan apa semua ini? Kita mencoba menebak apakah aktivitas kantoran menjadi dalang dari krisis iklim ini? Tidak, karena pekerjaannya yang dilakukan di dalam ruangan dan tidak menggagu aktivitas lainnya. Apakah dikarenakan aktivitas belajar dan mengajar? Tidak, karena aktivitas belajar mengajar tidak ada yang bersinggungan dengan lingkungan. Apa dikarenakan membangun rumah? Tidak juga, karena hanya sekedar membangun rumah sampai menebang atau membakar pohon. Lalu siapa yang menjadi aktor utama dari hilangnya pepohonan ini? Jika kita melihat secara mengakar dari listrik yang kita gunakan kita dapat melihat ada bencana besar walaupun sebenarnya listrik itu kita pakai, dan ternyata listrik yang kita pakai berasal dari batubara yang mana proses dalam pengambilannya itu ada di dalam tanah, mau tidak mau apa yang ada di atas tanah itu harus di keruk untuk di ambil bagian dalamnya.

 

Fenomena kehidupan ini sedang kita jalani, kita harus mengubahnya karena kehidupan seperti ini sulit untuk dijalani. Mungkin saja kedepannya akan ada penyakit baru atau penyakit yang dapat berevolusi dikarenakan perubahan iklim ini, virus Covid-19 saja bisa dikaitkan dengan alam karena Covid-19 itu sendiri butuh paru paru untuk hidup, yang awalnya ia hidup berdampingan dengan pohon kini ia hidup dengan manusia dikarenakan tempat ia hidup sudah tidak ada maka ia pindah dari pohon ke manusia, itu hanya sebatas hayalan bahwa kita diperingatkan oleh virus Covid-19 ini untuk menjaga lingkungan. Penyakit lain akhirnya turut hinggap di kehidupan manusia, bisa melalui kulit dan bisa juga melalui pernapasan. Ketika saat musim kemarau banyak penyakit menghampiri kita, mulai dari nafas terasa sesak karena debu yang beterbangan, kepala terasa sangat pusing karena matahari terlalu terik, ketika beraktivitas diluar rumah kulit terasa kering bahkan terasa terbakar, dan akses air bersih yang kurang. Dan ketika saat musim penghujan datang, penyakit pun ikut datang seperti saat musim kemarau. Contohnya daerah yang rawan untuk banjir biasa dihampiri penyakit diare, gatal gatal, demam berdarah. Dan ketika beraktivitas pun menjadi sulit, ada yang aksesnya terputus karena banjir atau ada yang menjadi kesulitan ketika hujan datang dengan tidak menentu. Hujan dan panas bukanlah suatu yang tidak disukai oleh semua orang, melainkan kita menginginkan semua ini stabil.

 

Bayangkan saja kehidupan yang sesakit ini kita jalani dan bisa lebih parah lagi di masa yang akan datang, lalu kita berikan kepada anak, cucu, dan keturunan dengan segala macam masalah tadi? Apa tidak sakit dia menjalani hidupnya? Tentu sakit mereka, bahkan lebih sakit lagi karena kerusakan bumi memungkinkan lebih parah lagi. Krisis iklim ini menggiring kita untuk hidup dengan beban, kita harus menjalani kehidupan yang sulit ini dikarenakan kita sendiri juga. Virus Covid-19 ini membuat kita di perintah ketika keluar rumah untuk memakai masker, dan masker ini kedepan nanti memungkinkan saja menjadi daftar pakaian wajib, tidak hanya baju dan celana yang harus kita pakai tetapi kini masker perlahan memasuki bidang pakaian wajib manusia. Ketika hujan datang dengan wajar manusia memakai payung, tetapi ada juga kini yang ketika panas terik memakai payung juga dan memungkinkan juga dimasa yang akan datang payung ini menjadi kesamaan kegunaannya dengan saat hujan, ia menjadi hal wajib untuk di pakai ketika hujan.

 

Bagi kaum agamawan ketika manusia melakukan suatu kerusakan dinilai dosa, seperti itu lah yang manusia lakukan terhadap lingkungan dimana manusia hidup dan sudah banyak dosa yang manusia lakukan. Tetapi tuhan sangat begitu baiknya terhadap walaupun manusia jahat, walaupun masih di berikan waktu atau tidak mencabut nyawa manusia yang membuat kerusakan tetapi manusia tidak kunjung sadar terhadap bumi, ia terus mengeruk isi bumi dengan tidak penuh sadar dan ia bersenang hati dengan uang hasil mengeruk bumi, “aku kenyang, tetapi aku ingin lagi” ucap si perut yang menggendut penuh dengan ketamakan.

 

Putaran kehidupan jika berjalan dengan baik maka akan baik, bayangkan saja di satu sistem itu rusak yang contohnya adalah air, maka kehidupan yang memerlukan air seperti tempat media untuk ikan hidup, air untuk kehidupan sehari hari, air laut dan sungai semua akan rusak. Ada suatu lagu dari kartun Upin dan Ipin yang berjudul “Bangau oh bangau”, lagu tersebut mengisakah tentang rantai makanan. Lagu ini di nyanyikan oleh dua orang yang saling membalas, Yakni Alif dan Mimi. Lagu tersebut memang berasal dari malaysia, kurang lebih bahasanya dapat dipahami bagi kita orang Indonesia. Liriknya seperti ini :

 

A: Bangau oh bangau Kenapa engkau kurus

M: Macam mana aku tak kurus ikan tak nak timbul, ikan tak nak timbul

A: Ikan oh ikan kenapa kau tak timbul

M: Macam mana aku nak timbul rumput panjang sangat, rumput panjang sangat

A: Rumput oh rumput kenapa panjang sangat

M: Macam mana aku tak panjang kerbau tak makan aku, kerbau tak makan aku

A: Kerbau oh kerbau kenapa tak makan rumput

M: Macam mana aku nak makan perut aku sakit, perut aku sakit

A: Perut oh perut kenapa engkau sakit

M: Macam mana aku tak sakit makan nasi mentah, makan nasi mentah

A: Nasi oh nasi kenapa engkau mentah

M: Macam mana aku tak mentah kayu api basah, kayu api basah

A: Kayu oh kayu kenapa engkau basah

M: Macam mana aku tak basah hujan timpa aku, hujan timpa aku

A: Hujan oh hujan kenapa engkau turun

M: Macam mana aku tak turun katak panggil aku

A: Katak oh katak kenapa kau panggil hujan

M: Macam mana aku tak panggil ular nak makan aku, ular nak makan aku

A: Ular oh ular kenapa kau makan katak

M: Macam mana aku tak makan memang makanan aku, memang makanan aku

 

Seperti itulah kondisi rantai makanan yang saling menyambung satu sama lain, jika ada yang dirugikan maka akan rusak rantai tersebut, begitu juga dengan kehidupan kita, jika kita rusak lingkungan maka ikan yang kita makan sangat mungkin tercemar, jika kita rusak lingkungan maka air yang kita gunakan sehari hari sangat mungkin kotor, jika kita lingkungan hutan maka pemanasan global akan datang mengancam, jika kita rusak lingkungan maka seisi bumi akan hancur. Ada pepatah yang mengatakan “apa yang kita tanam, maka itu yang akan kita petik”, tetapi kini kita tidak bisa memetik apa yang kita tanam, justru kita mengancam apa kehidupan yang sudah di tanam.

 

Sebagai penutup ada kalimat kiasan yang saya sendiri untuk kita semua. “Jakarta tidak bisa sejuk, tetapi jakarta bisa teduh”. Mari kita semua peduli terhadap lingkungan.

4 thoughts on “Cerpen #95: “Aku (hutan) yang engkau ancam, kini mengintaimu”

  1. Alam tercipta sudah sangat proporsional dengan keseimbangannya yang menyediakan hajat bagi semua makhluh hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Satus sama lain adalah bagian dari rantai kehidupan yang saling terkait saling berperan. Manusia dengan kelebihan yang Allah beri dibandingkan yang lainnya adalah makhluk yang diamanahi sebagai kholifah di bumi ini, menjadi pemimpin keberlangsungan kehidupan bumi dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan yang menjadi amalannya selama tinggal di muka bumi. Nikmat alam semesta adalah anugrah Allah, tetapi bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia yang tidak amanah terhadap alam adalah ulahnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *