Cerpen #94: (Tanpa Judul)

“Jangan lupa ya ga, nanti malam main lagi. Jangan alasan kaya kemarin, katanya istirahat ternyata main game,” ucap Randi, sambil menepuk punggung Rangga, dan hanya dibalas dengan anggukan.

Mereka berdua pun menaiki angkutan umum yang sudah menunggu mereka. Angkutan umum tersebut sudah lumayan ramai, namun karena matahari sudah sangat terik, mereka memutuskan tetap naik angkutan umum tersebut.

Mereka terpaksa duduk di bangku paling belakang, padahal mereka sangat ingin duduk di bangku dekat pintu masuk angkutan umum tersebut. Saat mereka berusaha menggeser jendela yang ada di belakangnya, ternyata jendela tersebut sudah rusak sehingga sangat sulit untuk dibuka.

Mereka berdua merasa sangat kesal, berharap rasa panas berkurang saat naik angkutan umum, justru yang mereka rasakan semakin panas. Harus duduk berhimpitan dengan orang banyak, dalan keadaan matahari yang sedang terik. Mereka merasakan seperti sedang dipanggang di dalam oven. Baju mereka basah dengan keringat, muka mereka memerah. Balita yang dipangku oleh seorang ibu yang ada di sana terus saja menangis, di tambah dengan suara kendaraan umum yang sangat berisik menggangu telinga. Seorang bapak-bapak persis di depan mereka berdua sedang merokok, dan asapnya mengenai wajah mereka berdua. Mungkin hal ini sudah dianggap biasa oleh Randi, namun tidak dengan Rangga. Sepanjang perjalanan, ia terus menahan mual.

Pada akhirnya, mereka telah sampai di depan jalan rumah mereka, lalu mereka berdua pun turun dari angkot tersebut lalu membayarnya. Mereka jalan menuju rumah masing-masing, melewati jalan yang tidak terlalu besar, namun tidak pula terlalu kecil. Mereka berjalan melewati sampah yang bertumpuk di pinggir jalan tersebut, baunya sangat menyeruak menusuk hidung mereka. Air parit yang kotor pun menambah bau tak sedap tersebut.

Sekarang, mereka telah sampai di rumah masing-masing.

“Jangan lupa loh, nanti malam. Jangan sampai gak jadi lagi,” ucap Randi mengingatkan kembali temannya, lalu masuk ke rumahnya. Rangga hanya mengangguk.

Rangga pun masuk ke rumahnya, melepas sepatu dan kaus kakinya, lalu menaruhnya di rak yang berada dekat pintu. Ia pun masuk ke kamarnya, melepas seragam SMA nya, lalu menaruhnya di ember yang ia sediakan untuk menaruh pakaian kotor. Ia mengganti baju dengan kaus yang longgar dengan bahan yang nyaman, dan celana pendek. Ia merebahkan badannya di tempat tidur sembari menyalakan pendingin ruangan, lalu mengambil telepon genggamnya. Ia pun bernafas lega karena sekarang badannya sudah merasa nyaman.

“Ah elah, baru istirahat keganggu!” Keluh Rangga.

Telepon genggamnya terus berbunyi. Teman-temannya selalu memberi pesan kepadanya agar ia tidak lupa nanti malam akan bermain. Ia pun memberi alarm pukul 5 sore karena ia akan bermain saat 7 malam nanti, lalu tertidur. Badannya yang lelah kini terbaring dengan sangat nyenyak.

“TREENGGG TREENGG!” Bunyi alarm dari telepon genggam Rangga. Ia pun terbangunkan oleh bisingnya alarm tersebut.

“Baru beberapa menit tidur, kok alarmnya udah bunyi aja!” keluh Rangga sambil mengusap-usap wajahnya.

Ia pun mematikan alarm tersebut dan mengecek jam. Ternyata, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tiba-tiba, ia merasa bingung. Ia saja tidur mulai dari pukul 3. Ia pun menghiraukannya, dan menganggap mungkin ia tidur terlalu nyenyak karena kelelahan. Namun, ia merasakan hal kejanggalan kembali.

“Ini gua ada di mana yah! Kok bisa tempat?!?!” Kata Rangga yang merasa bingung.

Saat ia melihat ke sekitar, itu bukanlah kamarnya. Ruangan tersebut sangat panas dan sempit, hanya tembok berwarna coklat gelap, sebuah pintu yang rapuh, dan jendela yang bahkan ia bisa melihat jelas rayap sedang menggerogoti kayunya. Ia melihat ke arah luar jendela, banyak sekali gunungan sampah dan bangunan tua yang sudah tidak berpenghuni. Langitnya sangat merah, mataharinya sangat terik walau di sore hari. Ia bahkan tidak melihat adanya awan di sana. Ia pun semakin kebingungan dan panik, lalu berpikir bahwa ia sedang diculik. Ia pun bangun dari tempat tidurnya sambil tetap memegang telepon genggamnya, lalu membuka pintu tersebut. Saat terbuka, alangkah terkejutnya ia melihat banyak sekali orang yang ia tidak kenal sedang mengelilinginya, seakan-akan mereka sudah menunggu ia keluar dari kamar.

“Dari wajahnya gak meyakinkan, gagal sudah!” Kata seorang laki-laki di paling belakang yang kelihatannya seumuran dengannya

“Jangan begitu Sinaru, ini satu-satunya harapan kita. Alatku sekarang sudah tidak berfungsi, butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Lagipula, alatku ini mengambil orang secara acak, jadi akupun tidak tahu” kata seorang perempuan yang berada di paling depan, persis di depan Rangga.

“Oke, kalian semua keluar dulu yah. Kita ingin membahas sesuatu,” kata seorang laki-laki yang berada di samping perempuan tadi.

Orang-orang yang sedari tadi mengelilingi Rangga pun pergi dari ruangan tersebut.

Rangga kembali melihat ke sekelilingnya. Ruangan tersebut sama persis dengan kamarnya, namun lebih luas dan terdapat 1 meja serta 4 bangku. 3 orang remaja seusianya pun duduk di bangku tersebut.

“Eh ayo kamu ke sini, duduk,” Kata perempuan tersebut sambil mengisyaratkan tangannya menyuruh Rangga untuk duduk. Kini, mereka berempat duduk berhadapan.

“Kenalin, nama aku Diania. Ini temanku, Garadif. Temanku yang satu lagi namanya Sinaru,” Kata remaja perempuan tersebut yang mengenalkan namanya sebagai Diania, sambil berjabat tangan dengannya.

“A-aku Rangga,” ucap Rangga terbata-bata, karena terus merasa panik. Matanya tidak fokus, dan berkeringat dingin.

“Santai saja, kami tidak akan berlaku jahat kepadamu,” kata laki-laki yang telah dikenalkan oleh Diania sebagai Garadif.

“Ini k-kita d-di mana?” Tanya Rangga memberanikan diri.

“Cek telepon genggammu, jangan dipegang doang!” Suruh laki-laki yang telah dikenalkan oleh Diania sebagai Sinaru, dengan nada yang sinis.

Rangga pun melakukan yang telah diperintahkan oleh Sinaru. Ternyata, ia masih tetap berada di Jakarta, tempat tinggalnya. Jamnya pun menunjukkan pukul 5 sore lewat 5 menit. Namun, ia baru sadar bahwa ia berada di tahun 2119. Itu artinya, ia berada di masa 100 tahun dari tahun sebelumnya. Rangga tidak bereaksi apa-apa, hanya bisa bingung. Banyak sekali pertanyaan di dalam pikirannya, namun tidak bisa ditunjukkan melalui ekspresi.

Tiba-tiba, telepon genggamnya itu mati total, dan tidak bisa dinyalakan sama sekali.

“Benar saja, alatku sudah rusak sekarang,” keluh Diania yang mengeluarkan telepon genggam yang setipe dengan telepon genggam miliknya.

“Kau pasti sedang kebingungan, aku tahu. Mari, kita keluar untuk menjelaskan apa yang terjadi,” ajak Diania. Mereka berempat pun keluar dari rumah tersebut.

Saat di luar, ia menyadari bahwa rumah tersebut hanya berbentuk kotak dengan sudut yang sempurna. Namun, keliatannya sangat rapuh dan kumuh. Ia melihat pemandangan di sekitar, benar-benar seperti mimpi buruk. Tumpukan sampah menggunung, berserakan di mana-mana. Bahkan, di bawah kaki tanpa alasnya pun ia merasakan dengan jelas sampah-sampah yang telah mengering, dan sangat berdebu. Ia tidak melihat tumbuhan satupun. Ia hanya melihat gedung-gedung dan bangunan tua yang bahkan ia bisa melihat penyangga bangunan dengan jelas. Satu bangunan runtuh dalam sekejap di hadapannya. Debu-debu pun berterbangan, sampai ke hadapan mereka. Udara di sana sangat kurang, cuaca sangat panas. Matahari mulai tertutupi awan, namun hawa panasnya tetap terasa., langitnya tidak semerah sebelumnya, namun ini tetap mengerikan.

Karena tidak kuat, Rangga pun menutup mulut dan hidungnya, ia pun hampir muntah. Diania dan kawan-kawannya yang menyadari hal tersebut membawa rangga ke sebuah tempat. Ruangan tersebut berbentuk lingkaran dan tidak terlalu luas, namun tinggi. Terdapat satu pohon yang sangat rindang dan tinggi, serta tumbuhan-tumbuhan lainnya. Mereka masuk melalui sebuah pintu besi yang dapat di buka melalui sebuah kartu yang telah dipegang oleh Diania. Mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk beristirahat.

Ruangan tersebut terbuat dari sebuah kaca yang lumayan tebal, sehingga untuk melihat ke arah luar kurang jelas. Namun, di ruangan tersebut mereka bisa bernafas lega. Dengan otomatis, dinding-dinding kaca ruangan tersebut pun mengeluarkan air embun. Tiba-tiba, ada seorang ibu membawa anaknya, membuka pintu dengan kartu yang sama seperti Diania, lalu beristirahat di sana juga. Anaknya menangis tanpa henti, namun saat sudah berada di dalam ia sudah lebih tenang.

“Ini, ruangan apa?” Tanya Rangga penasaran.

“Ini adalah salah satu eksperimen ayahku yang tersisa di sini. Ia menjadikan tanah di sini menjadi lebih agak subur, dan menanami tumbuhan, lalu mengurungnya dengan kaca. Karena alat buatannya tidak bisa dibuat banyak saat itu,” Jawab Diania menjelaskannya.

“Ayahmu, ada di mana?” Tanya Rangga.

“Tertangkap karena penemuannya dianggap membahayakan keselamatan manusia. Padahal, penemuan ayahku berusaha untuk mengembalikan bumi seperti semula,” kata Diania menjawab pertanyaan Rangga.

“Jangan lagi tanyakan hal itu padanya,” kata Garadif mengingatkan Rangga.

“Sudahlah, aku sudah terbiasa. Lagipula, aku harus kuat karena keadaan,” kata Diania

“Lama banget, jadi ngejalanin misi ga?” Tanya Sinaru dengan suara khasnya yang sinis, sambil mengeluarkan kartu, lalu membuka pintu. Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan mereka.

Mereka berjalan melewati sampah-sampah yang berserakan. Dengan kaki telanjang, mereka merasakan sakit di kaki mereka. Mereka terpaksa merasakan hal tersebut karena tidak ada alas kaki. Pakaian saja dengan kain yang lusuh, sedangkan Rangga hanya memakai kaus dan celana pendek. Mereka berjalan menanjaki reruntuhan bangunan.

“Kita mau ke mana?” Tanya Rangga penasaran.

“Pergi ke Tecjakr. Menemui ayahku, untuk melanjutkan misinya,” jawab Diania.

Merekapun terus berjalan lurus. Perjalanan jauh tersebut sangat melelahkan, kaki mereka terasa keram, telapak kaki mereka mulai terluka. Awan mulai menggelap, tidak ada lampu. Kecuali, satu titik cahaya dari jauh sangat terlihat jelas. Mereka berempat pun merasa kedinginan dengan suhu yang tiba-tiba turun secara ekstrem.

“Kok di sini kacau banget yah?” Tanya Rangga sambil terus menggesekkan telapak tangannya untuk menghangatkan tubuhnya.

“Itu karena orang-orang dulu kaya lu gak jaga alam dengan baik, ya rusaklah bumi!” Jawab Sinaru dengan nada kesal.

“Kau akan tahu, ini berkaitan dengan alasan kau di bawa ke sini,” sambung Diania.

Setelah sekian lama, akhirnya mereka sampai di gerbang masuk Tecjakr. Salah satu kota futuristik yang berpengaruh kuat dengan kota futuristik lainnya. Penjaga di sana adalah pada robot berwarna hitam polos mengkilat, dengan badan yang tinggi dan terlihat memiliki otot walau itu sebuah robot. Di sebuah pos, robot penjaga mengulurkan tangan mereka. Garadif pun mengeluarkan kartu penduduknya. Mereka pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam.

Saat masuk, mereka melihat kota yang sangat besar dan luas. Pelapis kota berupa kaca di sana lebih kokoh dan lebih tebal, namun dapat melihat ke arah luar dengan jelas. Mereka melihat orang-orang kota dengan pakaian nyentrik berjalan-jalan. Kebanyakan pekerjaan yang ada di sana dilakukan oleh para robot. Manusia di sana hanya menikmati hidup dengan pelayanan robot. Cahaya di sana sangat terang, berbeda dengan di luar yang sangat gelap. Benar-benar seperti mimpi bagi Rangga, yang selama ini ia lihat di film kini ia lihat secara langsung. Matanya hanya fokus melihat ke sekeliling, ia tidak dapat berkata-kata.

“Eh tadi kita masuk ke sini pakai kartu penduduk Garadif, kok dia bisa punya?” Tanya Rangga penasaran.

“Karena aku penduduk asli di sini. Cuma, aku gak setuju dengan pemilihan pemerintah melakukan Sebaring,” Jawab Gadarif, sekaligus menjelaskan alasannya mengikuti misi Diania.

“Jangan tanya apa-apa dulu! Waktu kita tersisa sedikit, Sebaring bakalan cepet dilakuin!” Perintah Sinaru.

Mereka bergegas berjalan menuju rumah Garadif, lalu hanya Garadif yang masuk ke dalam. Di dalam, mereka melihat keluarga Garadif yang sedang duduk bersantai menonton televisi, sambil menunggu masakan oleh robot-robot yang biasa masak untuk mereka. Garadif diam-diam mengambil telepon genggamnya, lalu kembali menemui teman-temannya.

“Pantes diajak main gak pernah mau, ternyata si Radif lagi main sama gembel!” kata salah satu remaja yang melihat mereka dari jauh. Lalu sekelompok remaja di sana pun tertawa.

“Hiraukan, kita harus fokus misi kita,” kata Garadif mengingatkan teman-temannya.

Sembari berjalan, Garadif membuka telepon genggamnya itu. Bentuknya sangat tipis, namun lebar, serta warnanya tembus pandang. Rangga memiliki banyak pertanyaan, namun ia menahannya. Garadif memeriksa info-info terbaru untuk mengumpulkan data selama menjalankan misi mereka.

Mereka sekarang sampai di penjara. Bangunan penjara benar-benar menakutkan, sangat kumuh dan kotor, berbeda dengan bangunan bangunan di sekitarnya. Mereka masuk ke dalam dan menemui robot penjaga penjara. Robot tersebut mempersilahkan mereka memencet sebuah tombol. Lalu Diania memencet tombol hijau, yang berarti ingin menemui tahanan. Muncul sebuah list nama para tahanan. Lalu, Diania memencet sebuah nama, yaitu Daraiana. Sebuah pintu pun terbuka, mereka semua masuk ke dalam. Di dalam, terdapat sebuah lorong putih dengan satu pintu. Di sepanjang lorong, tahanan dikurung di dalam penjara yang sangat kecil. Perkiraan 1 tahanan berada di ruangan 1×1 meter. Sebuah gerbang dari tahanan tersebut terbuka, lalu keluarlah seorang pria yang sekitar berusia 50 tahun. Itu adalah Daraiana, ayah dari Diania.

“Ayah, alat mesin waktu kita berhasil!” kata Diania dengan semangat sambil menunjuk ke arah Rangga.

“Bagus! Kamu adalah harapan manusia di masa depan! Kembali lah ke masa dirimu, dan perbaiki bumi!” Kata Daraiana sambil menepuk punggung Rangga.

“Sample Sebaring sudah jadi. Kalian ambil ini, jangan sampai disalahgunakan oleh pemerintah!” Kata Daraiana mengingatkan mereka sambil memberikan sebuah batu berisi serbuk Sebaring.

Waktu kunjungan sudah habis, robot penjaga di belakang memegang senjata. Daraiana kembali masuk ke sel tahanannya, sedangkan mereka berempat keluar dari penjara.

“Sebentar yah, gua mau ke kamar mandi,” kata Sinaru lalu pergi meninggalkan mereka.

Saat Sinaru sudah datang, mereka kembali berjalan menuju pintu gerbang lalu keluar dari kota Tecjakr. Mereka berlari karena tidak ingin merasakan dingin lebih lama. Dengan semangat, mereka kembali pulang. Mereka semua merasa bahwa misi mereka kali ini akan berhasil.

Saat sampai di tempat pertama kali Rangga bangun, Diania membuka selimut dari tempat tidur tersebut. Ternyata, terdapat sebuah tombol di baliknya. Saat Diania memencetnya, kasur tersebut berubah menjadi sebuah lorong dan tangga menuju ruangan dalam tanah. Mereka mengikuti tangga tersebut sampai di markas yang sebenarnya.

Di sana, banyak sekali alat-alat canggih buatan Daraiana. Ia membuat alat tersebut dari sampah kota. Alat-alat di sana sangat berantakan, karena alat mereka belum siap. Diania segera memasukkan alat Sebaring dari ayahnya ke sebuah senjata tembakan. Senjata tersebut kini telah siap. Mereka kembali naik ke atas dan ingin mengetes tembakan tersebut.

Diania menembak sebuah gunungan sampah yang ada di sekitar sana. Dari dalam tembakan tersebut, keluar sebuah laser yang dalam sekejap menghilangkan sampah-sampah tersebut. Warga sekitar yang menyaksikan merasa senang, karena mereka merasa harapan hidup telah muncul.

“Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, Rangga. Aku tahu, banyak sekali pertanyaan di benakmu,” Tanya Diania sambil duduk di samping Rangga.

“Sebenarnya, apa yang terjadi di bumi sekarang? Kok jadi kacau begini? Terus alasan gua di bawa ke sini apa? Alat tersebut kenapa harus dijaga dari pemerintah?” Kata Rangga mengeluarkan banyak pertanyaan.

“Bumi sekarang hancur karena manusia tidak bisa menjaga alam. Manusia sangat tamak dan mementingkan diri sendiri, melakukan eksperimen, tidak menjaga lingkungan sekitar. Kau ku bawa ke sini karena alat mesin waktuku mengambil orang secara acak dari tipe telepon genggam yang telah kutemukan secara acak dan kebetulan tipe handphone kita sama. Alat mesin waktuku memang bekerja seperti itu, namun pemulihannya lumayan lama. Nanti, kau akan balik ke masa sebelumnya dan kau harus berusaha mengubah kebiasaan manusia yang kacau. Mungkin ini sulit, namun aku tahu kau bisa! Kamulah satu-satunya harapan, jika memang kita tidak bisa meyakinkan pemerintah untuk bekerja sama agar tidak menghancurkan sampah dengan menyalahgunakan Sebaring. Mereka ingin menyebarkan Sebaring secara langsung ke segala penjuru bumi, namun hal itu dapat membunuh manusia yang berada di luar kota,” Kata Diania menjawab semua pertanyaan Rangga. Kini, Rangga bernafas lega karena semua pertanyaan di benaknya sudah terjawab.

Tiba-tiba, Garadif yang sedang mencari berita di telepon genggamnya panik.

“DARAIANA AKAN SEGERA DIHUKUM MATI! ANAK DARAIANA MENJADI BURONAN SAAT INI! ALAT SEBARING HILANG DIBAWA ANAK DARAIANA, YANG MENYEBABKAN MISI SEBARING GAGAL! PEMERINTAH AKAN SEGERA MENANGKAPNYA!” Kata Garadif membaca berita yang ada di telepon genggamnya.

“K-KOK MEREKA BISA TAHU!?!” Kata Diania terheran-heran dan panik.

“Kalian semua Naif! Misi kalian tidak akan berhasil! Seharusnya dari awal kita menjual alat ini ke pemerintah, dan menyelamatkan warga di sini! Aku berkhianat untuk menyelamatkan keluargaku!” Kata Sinaru yang membuat warga di sana panik. Selama ini, keluarga Sinaru tidak benar-benar di penjara, melainkan tinggal di dalam kota.

Sinaru pun berlari ke arah robot pemerintah yang datang ingin menyerbu kawasan mereka. Namun tiba-tiba, Sinaru tumbang dan ternyata ia di tembak oleh pasukan robot tersebut. Mereka menembak ke segala arah, dan membuat para warga panik berlarian dan mengumpat. Beberapa warga pun ada yang tertembak, termasuk Garadif. Ia tertembak di bagian perutnya.

“M-mesin waktu kamu sudah p-pulih?” . Tanya Garadif dengan suara pelan, tiba-tiba ia tewas di tempat.

Rangga dan Diania yang panik pun berlari dan masuk ke dalam ruangan pertama kali Rangga masuk ke masa tersebut. Diania mengecek telepon genggamnya dan ternyata alat tersebut sudah pulih. Ia pun menyambungkan kembali ke telepon genggam Rangga.

“Ambil Sebaring ini dan jaga! Dengan cara apapun, buat manusia menjaga bumi!” kata Diania yang panik mengingatkan Rangga, sambil melepaskan Sebaring dari tembakan tersebut dan memberikannya kepada Rangga.

 

“Iya, diusahakan!” Kata Rangga yang sama paniknya dengan Diania.

Diania pun bersiap memencet tombol yang ada di alatnya, namun salah satu robot berhasil membuka pintunya dan menembak kepala Diania. Untungnya, sebelum Diania tertembak, tombol tersebut sudah tertekan olehnya, sehingga sekarang Rangga kembali ke masa awalnya, tahun 2019.

Rangga kini telah kembali ke kamarnya, dan masih terkejut dengan kejadian yang telah ia rasakan tadi. Ia kembali mengecek telepon genggamnya, dan kini telah berfungsi. Internet telah berjalan di telepon genggamnya. Namun ia terus memikirkan cara untuk melaksanakan perintah Diania. Tiba-tiba, ia terdapat ide setelah melihat notifikasi dari grupnya.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Rangga pun kini sudah berada di sekolah. Di saat menunggu pembiasan sekolah, ia menceritakan semua kejadian yang ia rasakan sebelumnya dengan jelas dan detail. Teman-temannya pun terkejut mendengar cerita tersebut, dan ragu dengan keaslian ceritanya.

“Jadi, kita nanti bikin kelompok gitu kelompok peduli lingkungan, sebarin di sosmed. Nanti kalo banyak orang yang liat, terus ngikutin, jadi trend. Nah itu bisa membantu bumi kita jadi aman,” kata Rangga menjelaskan rencananya setelah menceritakan kejadian semalam.

Banyak sekali respon dari teman-temannya, ada yang percaya, namun tidak sedikit juga yang tidak mempercayainya.

“Terserah kalian mau percaya apa enggak, tapi ini kan juga nguntungin kita dan bumi kita bro, ayolah ikut!” Ajak Rangga meyakinkan teman-temannya.

“Yaudah deh kita ikut, tapi kita harus ngapain?” Tanya teman-temannya.

“Pulang sekolah, kita bersihin kali jembatan indah aja, biar sesuai namanya yekan. Ajak sekalian warga di sekitarnya. Mumpung gua juga OSIS, nanti gua usahain acara bersih-bersih lingkungan. Kita juga buat akun-akun di semua sosial media, namanya We Are Care. Kita buat promosi dan ajak orang-orang buat jaga lingkungan!” Jawab Rangga menjelaskan rencananya ke depan.

Sesuatu yang menarik perhatian teman-temannya. Sebuah organisasi terbentuk, yaitu We Are Care. Mereka semua pun setuju dan akan melaksanakan misi dari Rangga tersebut. Kini, bersih-bersih kali jembatan indah menjadi misi pertama mereka. Rangga pun bertekat untuk melaksanakan perintah Diania, karena ia tahu betapa mengerikannya masa di akan yang mendatang ketika manusia tidak menjaga alam dengan baik.

52 thoughts on “Cerpen #94: (Tanpa Judul)

  1. Saya suka sekali dengan Character diania, karena di dunia nya yang ia tinggali sedikit manusia yang peduli dengan alam, tapi ia memiliki keinginan untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Cerita keren… Dapat mengingat kan kita bahwa menjaga kebersihan lingkungan itu penting.

  2. Cerpennya bagus, futuristiknya sama keadaan bumi nya lumayan jelas tapi pengakhiran sedikit kecepatan cuma sudah bagus.saya suka cerpen dan karakter karakternya,ada sedikit plot twits

  3. Cerpennya keren, futuristiknya sama keadaan bumi nya lumayan jelas tapi pengakhiran sedikit kecepatan cuma sudah bagus.saya suka cerpen dan karakter karakternya,ada sedikit plot twits

  4. Lumayan seru, latar buminya bagus, ada plot twits nya.cuma pengakhiran nya sedikit kecepatan, tapi bagus seru

  5. Cerpennya lumayan, latar buminya ada, ada plot twist nya pula. Cuma pengakhiran nya agak kecepatan, cuma sudah bagus dan seru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *