Cerpen #93: “Cerita 100 Tahun Lalu”

Letih, memilih duduk paling belakang, menilik jalan mencari tanda yang ku tanam saat pergi di asingkan. Rasanya begitu jarang merasakan sejuk di siang hari, dini hari terlampau dingin membentuk suara gemeletuk gigi. Padatnya jalanan membuat napas tidak teratur, betapa kuatnya sombongku si manusia sampai mencengkram bumi tanpa ampun.

Disela kesibukannya sebagai wanita karir yang gila dunia, Ibuku pernah bercerita, cerita lama yang juga ia dengar dari neneknya. Dahulu terdapat tugu tinggi di sebuah kota yang kini ku kenal dengan kota padat sampah tak berpenghuni. Ceritanya dulu kota itu ramai, hampir dari seluruh pelosok negeri semua berkumpul mencari rupiah menggadaikan diri. Dari para petinggi semuanya disana sampai pengemis tanpa kaki. Aku masih ingat gerakan bibir Ibuku yang merah terang dan matanya yang sayu menyelesaikan cerita. Seperti halnya Ibu, aku juga mencoba merayapi jejak-jejak gemilang kota yang kini hampir tenggelam. Sebelum ia melanjutkan ceritanya entah ke kota tua mana lagi, mataku tak sengaja melihat lukisan baru di dekat jendela,

“Itu pohon apa Bu?” bibirku bergerak bersuara begitu saja, “Ouh iya, itu pohon pisang. Sudah sulit ditemui disini, buahnya kau makan tiap hari di beli Ibu langsung dari pulau seberang.”

Aku mengangguk mengiyakan, sekaligus menambahi kenyataan yang barusan Ibu lontarkan. “Bukankah di kota ini tanah yang tersisa hanya di dalam pot saja? Mana mungkin pohon sebesar itu mampu bertahan hidup.”

Obrolan itu kemudian menjadi sebab aku diasingkan dalih pendidikan bekal masa depan, jauh di pulau seberang penghasil pisang. Menyerap ilmu-ilmu para petani penyangga pangan yang kini malah lebih kesulitan dengan jadwal tanam yang sudah acak-acakan.

Dalam kebingunganku di bis tentang krisis iklim yang sudah menjadi-jadi, menduga-duga salah generasi mana ini terjadi. Aku mengutuk nenek moyangku yang rakus, berpikiran pendek dan egois sampai menelantarkan dan hanya mewarisi kesengsaraan pada generasi-generasinya sebumi. Haus menyergap tenggorokanku yang rasanya sudah kering kerontang, celakanya penggunaan air sudah dibatasi bahkan di jual mahal sehingga hanya mampu di timbun pemilik dompet-dompet tebal. Dalam cuaca yang semenyengat ini tak ada toleransi bagi penderita kantong kering, hanya mengandalkan uluran tangan pemerintah pemberi minum sehari-hari. Haus tak tertahankan, terpaksa mengobrak-abrik tas gendongku menguras habis isi dompet sisa perjalanan demi dua teguk air mineral. Bis tiba-tiba berhenti, kepalaku terbentur sisi kursi depan. Mataku terbuka menampilkan langit-langit kamar yang bersih tanpa noda, ternyata aku mimpi. Memimpikan keadaan seratus tahun mendatang, bahkan mengutuk diriku sendiri sebagai nenek moyang. Apa maksudnya mimpi ini, kenapa begitu mengerikan?

Aku harus bangun dan membenahi semuanya. Berperan dalam menyelamatkan bumi untuk seratus tahun selanjutnya sebagai manusia yang peduli generasi dan bertanggung jawab pada peran sebagai khalifah di bumi.

52 thoughts on “Cerpen #93: “Cerita 100 Tahun Lalu”

  1. Mantapp,keruntutan kalimatnya sudah bagus dan kekomunikatifan juga bagus, dan saya mudah memahami isi cerita tersebut.

  2. Hdayah datang setelah mimpi menyerang, kita sebagai generasi muda harus selalu menjaga lingkungan supaya tetap asri. Maka terjaminlah kehidupan makmur kedepannya. Mantap thor!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *