Cerpen #92: “Kotaku dan Seorang Perempuan Bernama Liza”

Jika Tuan dan Puan datang ke kotaku, sudah hampir pasti kalau Tuan dan Puan tidak akan menemukan pasir pantai; tempat orang berekreasi bersama keluarga dan melepas penat selama kerja seminggu. Sekarang lokasi tempat pantai itu berada sudah diisi penuh dengan hotel – hotel berbintang, restoran – restoran mahal dan tempat – tempat hiburan yang semuanya hanya bisa dinikmati kalau Tuan dan Puan punya uang. Bahkan bila hanya sekedar ingin melihat pemandangan laut Sawu dari pesisir pun, orang harus merogoh kocek. Alhasil, anak – anak yang lahir di kotaku sekarang tak pernah menikmati sejuknya desiran angin pantai dan indahnya deburan ombak menyentuh pesisir.

Di sekolah, guru – guru sering mengeluhkan kalau anak – anak zaman sekarang kesulitan mendeskripsikan situasi pantai. Pernah di dalam sebuah les mengarang, seorang guru menyuruh mereka mengarang sebuah cerita dengan mengambil latar pantai. Beberapa orang siswa tak bisa menulis satu kata pun karena situasi pantai tidak ada di dalam pikiran mereka. Beberapa di antara mereka memulai cerita mengarang mereka dengan, ‘seperti yang saya lihat di Televisi, di pantai kita bisa berenang bebas di air laut…’ naas benar nasib pantai di kotaku.

Sekarang aku jadi benci dengan kota kelahiranku. Aku ingin sekali setiap akhir pekan pergi ke kota seberang untuk sekedar menikmati pantai tetapi untuk sampai ke sana butuh waktu berhari – hari. Aku sama sekali tak menikmati apa – apa di kota ini. Semuanya berubah; tak seperti dulu lagi. Satu – satunya hal yang membuat aku tetap bertahan di sini hanyalah tuntutan pekerjaan. Jika bukan karena pekerjaan aku pasti sudah pergi jauh dan melepas semua kenangan tentang kotaku yang dulu indah memesona. Rasa muak terhadap kotaku kian memuncak dan kian menggelora karena di kota yang tak punya pantai ini, aku gagal merebut hati seorang gadis yang sudah aku taksir sejak kuliah dulu di kota seberang. Kegagalan itu betul – betul membuatku trauma bercinta dan bahkan sempat memaksaku angkat kaki dari kota ini selama beberapa minggu hingga pekerjaan memanggilku kembali.

Suatu siang seorang teman kuliahku menelepon dan menyampaikan kehendak hatinya untuk datang menjumpaiku sebab sudah bertahun – tahun kami tidak pernah bertemu; dilepas – pisah oleh pekerjaan di kota kelahiran masing – masing. Di ujung telepon ia berkata, “ teman, jika teman tak sungkan, saya ingin mengunjungi teman di kota kelahiran teman dan di sana nanti kita akan berlibur bersama dan menikmati indahnya pantai di kota kelahiran teman sebab dahulu teman pernah bercerita kalau kota kelahiran teman terkenal dengan pasir pantainya yang indah tiada duanya. Saya ingin merasakannya. Sudah sangat lama saya ingin menikmatinya. Bagaimana teman? Teman punya waktu untuk itu?”

Aku senang teman karibku akan datang mengunjungiku jadi tanpa berpikir panjang lagi aku katakan kepadanya bahwa aku sudah siap menjamunya di kota kelahiranku dan seluruh waktuku akan selalu ada untuknya. Teman yang akan datang ini bukan sembarang teman. Dia adalah seorang gadis cantik yang aku kenal dulu waktu kuliah di tanah Jawa. Saat OSPEK, ia memperkenalkan diri sebagai Maria Astuti Liza. Panggil saja dengan Maria, atau Astuti atau bisa juga Liza. “Tetapi demi efisiensi, panggil saja dengan Liza. Juga kelihatan lebih netral secara agama.” ujarnya disambut gelak tawa para mahasiswa baru saat OSPEK memasuki hari kedua.

Aku dan Liza berteman akrab sejak suka duka menjadi seorang mahasiswa itu menghampiri hidup kami. Kami terlibat dalam banyak kegiatan kampus dan kegiatan komunitas. Ia suka seni klasik dan kontemporer; sering terlibat dalam diskusi – diskusi komunitas sastra di kampus dan pernah memerankan tokoh Kartini dalam teater kampus. Ia suka membaca karya – karya Leo Tolstoy, Anton Chekov, Dostoyevsky, Shakespare dan penulis – penulis kaliber nasional seperti Pramoedia Ananta Toer, Sutan Takdir Alisahbana, Goenawan Mohhamad, Mochtra Lubis dan lain – lain. Ia  juga meminati masalah – masalah sosial budaya dan politik hingga selama dua tahun ia pernah bekerja sebagai penulis lepas di salah satu majalah budaya terkenal di Bandung. Di penghujung studinya, ia mulai meminati tulisan – tulisan yang berbau Marxisme dan mempelajari filsafat Marx secara otodidak dan sejak itu ia jadi salah sorang gadis dari jutaan gadis di Indonesia yang anti – kapitalisme. Dalam sebuah bincang – bincang malam, ia bahkan berani berucap, “saya seorang Marxis, tetapi teman – teman jangan berpikir kalau saya atheis sebab bagi Marx urusan agama itu hanya urusan sekunder. Maka, saya tetap seorang yang beriman kepada Allah, tetapi karena urusan beriman itu urusan di dalam batin, saya menolak bahkan mengutuk segala macam fundamentalisme radikal atas nama agama.”

Setiap kali ia berbicara, orang – orang selalu terpukau bukan hanya karena kemampuan retorikanya yang bagus tetapi juga karena setiap kalimat yang ia ucapkan menampakan isi pemikirannya yang orisinal dan bernas.

Dari semua rentetan ‘selera’ nya itu tak pelak lagi orang pasti akan menilai Liza sebagai seorang gadis sempurna dengan kriteria tingkat tinggi pula. Namun, bagiku, sebuah upaya mengkonfrontasikan ‘selera’ tinggi Liza dengan kodratnya sebagai seorang perempuan sama saja dengan membuat diskriminasi yang tidak perlu terhadap seorang perempuan hebat nan cerdas sepertinya.

Toh, dengan semua anugerah yang dimiliki, di mataku dan semua orang yang mengenalnya dengan baik, ia tetap seorang perempuan yang rendah hati; punya respek terhadap pandangan orang lain dan terbuka menerima kritikan. Ia selalu ingin belajar dari orang lain tetapi juga punya hasrat besar untuk teguh berpihak pada kebenaran. Mungkin di sinilah letak kekuatannya.

Semuanya itu tentang seorang Liza yang beberapa pekan lagi akan datang mengunjungi kota kelahiranku. Sedangkan aku? Siapakah aku sehingga ia mau berteman karib denganku hingga meski kami sudah berpisah sekali pun ia masih saja meneleponku dan menyampaikan maksud hatinya untuk datang ke kotaku?

Yang ia kenal dariku hanyalah satu; seorang sahabat yang tidak pernah kenal lelah bercerita tentang keindahan alam khususnya keindahan pantai di kota kelahirannya di ujung timur Indonesia. Setiap saat aku selalu memperkenalkan kota kelahiranku dengan segala macam keunikannya.

“Teman, mengapa kamu getol sekali memperkenalkan kota kelahiranmu itu?” tanya Liza penasaran waktu kami duduk – duduk di salah satu warung kopi dekat kampus.

“Supaya kamu semua tahu kalau Indonesia bukan hanya Jawa. Daerah – daerah di luar Jawa adalah juga Indonesia bahkan bisa saya katakan Indonesia sejati ya yang ada di luar Jawa itu. Hanya mungkin sayang sejak dulu kurang diperhatikan,” Kataku agak diplomatis.

Ia menganggukan kepala.

“Waktu saya SD, kami diharuskan oleh guru untuk menghafal setiap provinsi yang ada di pulau ini lengkap dengan ibu kotanya masing – masing. Makanya, sejak dulu kami sudah tahu Jawa Barat itu ibu kotanya Bandung, Jawa Timur itu ibu kotanya Surabaya. Semarang, Solo itu ada Jawa Tengah. Semuanya kami hafal di luar kepala meski tak pernah bermimpi sekalipun untuk pergi ke kota – kota itu.”

Ia mendengar dengan serius sambil sesekali menyeruput segelas kopi hitam di hadapannya.

“Sampai di sini, saya kaget, terheran – heran saat orang bertanya balik kepada saya ‘NTT itu dimana? Kupang itu yang dekat Lombok, kan? Flores itu di Bali ya?’ panas hati saya mendengar pertanyaan – pertanyaan retoris itu. Konyol sekali, kan?! Itu kan sama saja dengan orang Indonesia yang bertanya lagi Indonesia itu ada dimana. Waktu SD kamu belajar apa saja?!

Mendengar keluh kesah hati saya, Liza bungkam sesaat dan hanya bisa berkata, “kamu benar, teman.”

Aku habiskan segelas kopi yang disuguhkan.

“Ya, mungkin saja saya benar.”

Pesawat yang ditumpangi Liza menggemuruh di landasan bandara kotaku. Beberapa orang petugas berlari mendekati burung besi itu saat ia mulai mengurangi kecepatan dan memutarbalik tubuhnya. Dari balik kaca di ruang tunggu, aku terus memandangi setiap penumpang yang keluar melewati pintu pesawat. Liza keluar dari dalam kabin pesawat sambil menjinjing sebuah tas kecil. Dengan gaya kasualnya, celana jins panjang ketat dan baju kaos oblong hitam ditambah kaca mata hitam gelap, ia tampak cantik dan bersemangat.

Kami berjumpa di ruang kedatangan bandara.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya sambil melempar senyum.

“Satu jam.”

“Terlalu cepat untuk seorang sahabat lama yang lama tak berjumpa.” Ia masih pandai bergurau.

“Selamat datang.” Sambil menjabat tangannya erat, aku langsung menyambar tas yang dijinjingnya dan menuju keluar bandara.

Di dalam mobil Liza serius melihat – lihat suasana kota.

“Dari atas pesawat kelihatan sepi tetapi setelah turun, di sini ternyata ramai juga.”

Aku tersenyum.

“Di sini udaranya masih cukup segar,” ujarnya sambil memperhatikan beberapa Mall besar berdiri kokoh di pinggir jalan.

”Semakin banyak Mall semakin banyak pengusaha kecil yang dirugikan.”

“Rupanya masih anti kapitalis juga ya?”

Ia tersenyum dan berujar, “nggak anti, hanya kasihan dengan pengusaha dengan modal pas – pasan.”

Selama satu minggu Liza berlibur di kota kelahiranku. Banyak waktu kami habiskan untuk berjalan – jalan mengunjungi setiap pelosok kota dan menikmati setiap tawaran kesenangan yang ada di sini; gua monyet, hutan Mangrove, Taman Ziarah Oebelo, gua Kristal, air terjun Oenesu, warung makan daging Se’i, bendungan Tilong, tempat pembuatan Sasando dan tempat – tempat lainnya. Dia tampak bahagia sekali. Setiap kali melihat tempat yang indah, ia pasti mengambil foto dengan kamera Canon yang selalu digantung di lehernya.

“Sekarang kita ke pantai, saya ingin melihat pasir pantai di kota ini yang dulu kamu ceritakan itu. Semuanya bisa dinikmati secara gratis, kan?!”

Pertanyaannya tidak perlu dijawab. Di dalam hati aku gelisah. Apa yang aku ceritakan dulu berbeda dengan sekarang. Tidak ada yang gratis kini. Namun aku tetap harus membawanya ke sana. Tanpa melihat pasir pantai itu, Liza pasti tidak mendapat kesan apa – apa tentang kota ini.

Aku berjanji akan membawanya ke pantai yang paling indah di kota ini. Sebelum menikmati indahnya pantai itu kami memasuki sebuah area Hotel berbintang. Dari Hotel itu, aku membayar beberapa rupiah untuk bisa masuk dan menikmati pantai yang ada di belakang Hotel itu. Liza tampak terheran – heran, namun masih bungkam.

Beberapa orang pengunjung tampak sedang bersiap – siap untuk berendam. Sejumlah lopo yang berderet rapi di sepanjang garis pantai dipenuhi beberapa laki – laki dan perempuan kelas atas. Para pelayan hotel (sebagian besar warga kota ini) berpakaian putih – hitam selalu siap sedia melayani permintaan para penikmat pantai. Mereka mondar – mandir sambil merekah senyum ‘standar pelayanan’ kepada semua orang yang mereka jumpai.

“Katanya semua gratis?!” lirih Liza.

Aku berusaha menjelaskan kalau pantai ini dulu berbeda sekali dengan sekarang. Sebelum pemerintah memberikan aset pantai ini kepada investor, setiap warga kota bebas datang ke sini tanpa memandang kelas sosial dan status. Kala itu pantai masih sangat alami. Orang – orang datang tanpa harus berpikir terlebih dahulu mereka harus bayar berapa untuk masuk pantai. Setiap orang datang dan pergi sesuka hati karena mereka tahu pantai ini milik bersama bukan milik segelintir orang.

Kami duduk di salah satu lopo yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Dari penataannya tentu saja Liza tahu kalau tidak sembarang orang bisa duduk di sini. Lopo ini milik orang – orang khusus. Siapa itu orang – orang khusus? Jawaban yang paling mudah ditemukan adalah orang – orang berduit.

Liza terdiam saat seorang pelayan datang kepadaku dan menyapa, “bos, ini beberapa soft drink dan makanan pembuka. Yang lainnya akan segera diantarkan.” Setelah menyuguhkannya di atas meja, pelayan itu pergi dengan sopan tetapi sedikit tergesa.

Liza pasti heran dengan sapaan bos. Aku bisa melihat gejala itu dari raut mukanya.

“Maaf Liza, semuanya sekarang sudah jelas, bukan? Itulah sebabnya saya jarang sekali, bahkan tidak pernah mengikuti aksi – aksi menentang investor dan privatisasi oleh swasta. Ayah saya adalah pemilik hotel dan pantai ini dan sekarang saya yang mewarisinya.”

Ia mengernyitkan dahi.

Tak banyak kalimat berarti yang keluar dari mulutnya hari itu. Aku pun merasa canggung untuk menjelaskan semua hal tentang hidupku sekarang. Setiap penejelasan adalah kebohongan untuknya. Kemudian, Liza kembali ke kotanya dengan senyum yang terpaksa.

Sebelum berangkat ia berujar, “kamu tahu, pantai di kotamu ini indah sekali, tetapi itu dulu. Dan sekarang ada orang yang datang dengan uang serta sedikit kebohongan membuatnya menjadi ladang untuk meraup untung. Saya hampir tidak percaya kalau orang itu adalah orang yang dekat sekali dengan saya.”

Beberapa bulan kemudian aku mendengar Liza sudah menikah dengan seorang aktivis lingkungan hidup dan bekerja di sebuah LSM pemerhati alam. Mungkin suatu saat dia akan datang lagi ke pantai ini dengan cara yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *