Cerpen #91: “Perubahan Cuaca yang Tak Biasa”

Langit biru mendadak berubah menjadi kelabu. Udara panas yang mengepung

membuatku yakin akan satu hal, bahwa hujan akan turun dalam curah yang lebat. Namun

ternyata dugaanku salah, nyatanya tidak turun hujan sama sekali. Musim hujan memang

nyatanya tidak konsisten seperti dulu. Lihat saja, akibat perubahan iklim yang membabi buta.

Kini bulan Oktober yang seharusnya musim hujan tetap saja cuaca panas.

 

Kemarau melanda bumiku ini. Cuaca amat begitu terasa panas sekali, “panasnya

memang tak seperti biasanya,” gumamku. Apalagi ketika terjebak macet di jalan raya, debu-

debunya pun mengepul. Parahnya lagi debu-debu itu bertebangan kemana-mana. Jarang

sekali ada orang yang terlihat waktu siang di jalan. Mayoritas orang keluar rumah di pagi hari

ataupun sore menjelang maghrib, karena menghindari teriknya panas matahari.

 

Kini, sawah pun mulai kekeringan. Bahkan bunga di pekarangan rumahku terlihat

layu. Daunnya saja sudah mengering. Kemana aku harus mencari air untuk menyiram

tanaman? Sedangkan saat ini sedang krisis air. Hujan tak lagi turun, bahkan sekarang cuaca

sangat ekstrem. “Ya ampun tanamannya pada layu dan sebagian ada yang mati, cuaca ini

sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman,” ucap Ibu (kaget dan prihatin

melihat akan kondisi sekarang). “Entahlah Bu, padahal semua tanaman sudah ku sirami, tetap

saja tanaman menjadi kering. Memang sekarang panasnya super ekstrem,” sahut ku. “Iya

Nak, saat ini bumi sedang terjadi krisis iklim. Meskipun dunia masih dilanda dengan

pandemi. Namun ancaman krisis iklim tidak bisa dibiarkan. Dampak dari pandemi tidak akan

seberapa dibandingkan dengan dampak dari krisis iklim di masa mendatang,” jelas Ibu.

“Mengapa krisis iklim ini bisa terjadi Bu?”, tanya ku. “Karena peningkatan suhu secara

mendadak di kawasan yang mengalami kemarau. Peningkatan suhu akan menyebabkan cuaca

panas terik sehingga mencapai 38°c. Udara menjadi kering disebabkan kelembaban udara

yang rendah. Ketiadaan badan air menyebabkan suhu terus meningkat dan membentuk

kawasan gurun yang sukar didiami oleh manusia,” jawab Ibu.

 

Aku pun lebih sering diam di rumah dan jarang keluar rumah. Karena saat keluar,

terik matahari yang begitu panas membuat kulitku rasanya seperti terbakar. Di luar sana

udara juga berdebu. Tenggorokanku kepanasan, tak lupa aku mengambil air dari kulkas dan

meminumnya "ah, begitu segarnya" ucapku. Tak lama kemudian “tok.. tok.. tok..” (terdengar

 

suara orang yang mengetuk pintu rumahku). Dan aku bergegas membukanya “iya sebentar,

siapa ya?” ucapku. Setelah ku buka pintu, ternyata yang datang itu temanku. “ayo keluar,

main yuk” ajakan elin kepadaku. “Ehmm.. maaf ya bukannya aku menolak, tetapi saat ini

cuaca begitu terik dan aku pun malas keluar rumah hehe,” jawabku. “Apa kamu tidak bosan

diam dirumah terus menerus?” sahut dimas. “Ya bosan sih tapi ya mau gimana lagi” jawabku,

dengan mengangkat salah satu alis.

 

Hampir setiap hari langit cerah. Udara selalu terasa panas, sehingga tubuh mudah

berkeringat. Matahari bersinar terik membantu pakaian yang dijemur cepat mengering.

Musim kemarau yang panjang dapat menyebabkan kekeringan. Saat kekeringan, kita

mengalami kesulitan air bersih dan banyak tanaman mati karena kekurangan air. Sawah yang

kerontang. Irigasi yang mengering. Angin pun bertiup kencang. Tentunya suhu yang panas.

 

Semua serba kering. Tanaman yang dulunya hijau dan banyak menghasilkan

buah, namun sekarang menjadi kering tanpa tersisa apa-apa. Hujan jarang sekali turun.

Pepohonan tampak coklat karena kurang air. Banyak dedaunan yang berguguran. Tanah retak

dengan celah yang agak lebar dan gersang. Rumput pun berwarna coklat.

 

Siang yang cukup terik. Seorang warga di desa sebelah tengah berada di area

persawahan. Kondisi tanahnya sudah retak-retak, meski masih ada tanaman padinya.

Sebagian masih hijau, tetapi yang lainnya telah menguning. “Saya disini untuk mencari pakan

ternak. Daripada mengering, tanaman padi yang nyaris mati ini saya potong saja. Lumayan,

masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak,” ucap petani itu. Tak hanya di desa itu, di desa

ku pun kondisinya juga hampir sama. Sawahnya mengering. Tanaman padinya tidak dapat

diselamatkan. “Di sekitar sini ada embung yang sebelumnya menampung air, tetapi saat

sekarang volume air sudah sangat minim. Sehingga tidak dapat dialirkan ke sawah-sawah.

Petani disini pasrah tidak dapat panen karena mengalami kekeringan,” jelas petani daerahku.

 

Sebenarnya sudah ada embung, waduk serta aliran sungai agar menjadi andalan pada

saat kemarau. Tetapi, karena tidak ada hujan sehingga pasokan air sangat minim yang

akhirnya juga berdampak pada area pertanian. Bagi petani harus pandai memilih tanaman dan

mengatur pola tanam, agar tanaman tidak terkena dampak kekeringan. Cerita kekeringan

boleh jadi berulang, tetapi seharusnya dampaknya dapat diminimalkan.

 

Hujan tak kunjung turun. Sebagian daerah, sangat sulit mendapatkan air bersih. Itu

pun pengambilan air dijatah, tidak boleh berlebihan karena masih banyak orang yang

membutuhkan air. Tumbuhan para petani banyak yang gagal panen karena minimnya air.

Akibatnya, pasokan barang di pasar hampir habis. Sungai besar di desaku juga sudah

mengering. Apalagi sampahnya sudah mulai terlihat.

 

Mau apa lagi? Aku serta warga desa lainnya hanya bisa bersabar menghadapi

krisis iklim ini yang tak kunjung berhenti. Semoga saja hujan bisa turun hari ini agar dapat

menghilangkan sedikit penderitaan warga desa ini.

 

Kini saatnya kita bersama mengambil langkah yang ambisius guna mencegah

dampak buruk krisis iklim. Dimulai dengan pengurangan emisi secara besar-besaran dengan

menutup PLTU lebih cepat dan beralih ke energi terbaru. Ekonomi dapat, emisi pun

berkurang. Hutan Indonesia janganlah dibuka lagi, apalagi untuk tambang. Alih alih

merusaknya, mari kita pulihkan alam dengan bekerja sama melindungi dan memperbaiki

alam yang rusak. Berkolaborasi bersama, karena masa depan kita lah yang akan

dipertaruhkan. Apa kita tega penerus generasi masa depan merasakan kepedihan? Padahal

mereka sama sekali tidak ikut merusak bumi, tetapi malah terkena dampaknya. Marilah kita

bangkit dan bijak dalam melestarikan bumi dengan baik agar kelak generasi masa depan

dapat merasakan bagaimana keindahan bumi tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *