Cerpen #90: “Selamat Hari Kamis”

57, 58, 59, 60… Selamat hari Kamis. Hari entah-yang-ke-berapa aku hidup dengan penuh derita dibawah makhluk-makhluk yang tidak tahu malu ini. Makhluk-makhluk yang masih memperdebatkan bahwa aku berbentuk bulat atau datar. Makhluk-makhluk yang masih bermalas-malasan. Makhluk-makhluk yang masih menyakitiku. Mereka yang masih berlagak sok pintar. Mereka yang tinggal di atasku dengan penuh keegoisan, membuat bangunan kotak-kotak besar di atasku, membuat asap jahat yang selalu menghantuiku, dan mereka juga yang mungkin suatu hari akan membunuhku.

Sudah lewat 100 tahun sejak terakhir kali aku tertidur nyenyak. Bahkan, hari Kamis entah-yang-ke-berapa dalam hidupku ini dimulai dengan suara orokan yang sangat besar. Benda itu lagi. Benda itu berbentuk kotak berdiri tegak di atasku. Anehnya, selain menimbulkan suara, Benda itu juga mengeluarkan asap. Asap hitam. Asap itu memaksa keluar berhamburan dari tabung yang ada di atas Benda itu. Mereka keluar bebas dan mengotori selimutku yang indah. Selimut kesayanganku. Aku tahu ini masih jam 12 malam, mungkin Benda itu sedang sakit sehingga mengorok sambil mengeluarkan asap. Tetapi, berani-beraninya Benda itu mengotori selimutku. Aku tidak akan bisa tidur kalau asap itu terus mengotori selimutku.

Perlahan suara Benda itu meredup mungkin dia sudah mati pikirku, akibat terlalu banyak mengorok. Aku mencoba tertidur. Sebelum tidur aku senang mengimajinasi sesuatu hal yang tidak mungkin, seperti mengimajinasikan apabila Benda itu mati. Itu sangat menyenangkan. Tanpa ada Benda itu, mungkin aku akan bisa tidur nyenyak. Ingin sekali rasanya aku membunuh Benda itu.

“Hey, ada apa ini?” ucapku. Aku terbangun lagi. Sedang asyik-asyiknya aku mengimajinasikan Benda itu sedang kusiksa. Ternyata dia lagi. Dia selain Benda itu, juga sering mengotori selimutku. Pantas saja, ini sudah pukul 5 pagi. Dia sering mengelilingi tubuhku dengan asap yang membututinya. Aku benci asap. Rasanya, Dia seperti ingin mengajak berkelahi denganku. Seperti orang yang diatasku pada umumnya. Mengajak berkelahi dengan memberi hal yang sudah pasti tidak disukai lawan berkelahinya. Jahat sekali mereka.

Dia pergi dari ujung dada sebelah kiriku dan memutar mengelilingi punggungku, lalu kembali ke ujung dada sebelah kiriku. Rasanya seperti ada yang menggelitiki tubuhku. Dia ada yang lambat, cepat, dan lebih cepat lagi. Sebenarnya Dia keren. Badan Dia mewah, pasti harganya sangat mahal. Bahkan, Dia mempunyai sepasang roda di bawah tubuhnya. Ada yang memiliki sepasang dan juga ada yang memiliki dua pasang roda. Yang membuat Dia buruk adalah asapnya. Coba saja kalau Dia tidak berasap mungkin aku akan menyukainya.

“Maaf Kawan.” suara kecil terdengar dari atas. Suaranya sangat, sangat kecil. “Kamu siapa?” tanyaku. “Aku mobil, dia yang kecil disana adalah Motor.” jawab Dia. Dia yang ternyata bernama ‘Mobil’, mengedipkan lampu sebelah kanan yang ada di tubuhnya mengarah ke benda berjalan yang sedikit mirip dengan Si Mobil tetapi lebih ramping dan badannya terbuka. Mereka berjalan di jalanan yang sepi. Ternyata benda sekecil itu bahkan mempunyai nama. “Selamat hari Kamis Mobil, Selamat hari Kamis Motor.” sapaku. “Hey, siapa namamu?” tanya mereka. “Aku tidak tahu” jawabku. “Kamu tidak punya nama? Hmm baiklah. Sebelumnya kami minta maaf atas perbuatan kami dan juga asap–asap itu. Aku juga tidak tahu kenapa asap–asap itu selalu keluar dari tubuh kami dan mengikuti kami. Mungkin kami salah diberi makan sesuatu.” Si Mobil dan si Motor meminta maaf padaku. Baik juga mereka.

“Mau di bilang tidak apa–apa tapi ini adalah apa–apa. Sudahlah, ini sudah tugasku sebagai ‘rumah’ kalian. Kalian diberi makan oleh siapa?” tanyaku. “Kamu memang rumahku Kawan. Hmm, aku diberi makan oleh manusia yang mengendalikanku ini. Lihat mereka ada di atasku.” mereka menjawab sambil berputar mengelilingi tubuhku. Aku melihat ‘manusia’ yang dimaksud. Manusia terlihat fokus mengendarai Si Motor dilengkapi pelindung di kepalanya. Manusia di dalam Si Mobil juga terlihat fokus menyetir sambil mendengar lagu aneh dari radio. “Ohh makhluk itu, kalian tahu mereka adalah orang jahat. Mereka sering mengotori selimutku, aku tidak bisa mencucinya sendiri, dibawah sini tidak ada air hanya ada cairan panas di perutku,” aku menjawab mereka.

“Kamu benar, mereka memang jahat. Mereka terus memberikan kami makanan yang tidak enak dan membuat asap terus keluar dari tubuh kami. Ah, masalah itu disini ada air tapi aku juga tidak bisa membantumu mencucinya. Omong-omong soal asap aku punya cerita, kamu mau mendengar ceritaku tidak?” tawar si Motor. “Boleh saja, aku siap mendengarkan.” balasku. “Baiklah, aku punya seorang teman dia mirip sepertiku. Aku iri dengannya. Fungsi dia sama sepertiku, membawa penumpang. Tetapi, dia tidak diikuti penumpang gaib sepertiku,” si Motor mulai bercerita. “Maaf, penumpang gaib disini maksudku adalah si Asap Hitam. Benci sekali aku dengannya, dia selalu saja mengikutiku setidaknya dia membayarku!” lanjut si Motor. “Siapa dia? Bagaimana dia bisa terus berjalan tanpa diikuti asap?” tanyaku. Mungkin dia bisa menjadi teman baikku karena tidak ada si Asap Hitam yang mengikutinya yang akan mengotori selimutku.

“Ah, dia Sepeda. Si Sepeda temanku itu sering berkeliaran di sekitar sini. Mungkin dia sedang dimandikan oleh si Nenek. Dia akan muncul sebelum jam 12 siang bersama si Nenek. Kamu tunggu saja.” balas si Motor. Aku mengiyakan. “Baiklah, Kawan kami pergi dulu. Kami sepertinya lapar.” pamit si Mobil dan si Motor sambil membelokkan badannya ke tempat yang dipenuhi selang-selang panjang. “Hati–hati” balasku. Mereka membalas dengan mengedipkan lampu depan mereka.

Aku kembali kesepian. Terik sekali pagi ini. Terdengar makhluk kecil itu mulai bernyanyi. Mereka rajin sekali bernyanyi, hampir setiap hari. Mereka juga sering mengepakkan sayapnya sebagai suara latar nyanyiannya. Makhluk satunya juga sudah mulai tampil bernyanyi. Bedanya makhluk ini terdengar seperti berkokok dan makhluk satunya yang lebih kecil terdengar seperti mencuit.

Aku terus mengitari Matahari. Matahari sudah mulai terlihat ke bagian depanku. Si Sepeda belum kunjung datang. “Kringgg, kringg” terdengar suara bel muncul. Itu Si Sepeda! Akhirnya dia muncul juga. Di atas Si Sepeda ada seorang nenek–nenek, seperti yang dibilang Si Motor. Di bagian depan Sepeda ada sebuah keranjang terpasang disana. Di dalam keranjang ada semacam bungkusan kain yang entah apa isinya. “Halo, selamat hari Kamis Sepeda!” sapaku. Si Sepeda terlihat terkesiap kaget, sehingga jalannya sedikit oleng. Mungkin aku terdengar sedikit riang. “Selamat pagi,” balasnya. “Pa- eh, bagaimana kamu bisa mendengarku?” kali ini aku yang kaget. Yang membalas sapaanku tadi bukan Si Sepeda melainkan Nenek yang berada di atasnya. Nenek itu memakai gaun berwarna putih selutut, celana panjang ketat yang menutupi sisa kakinya yang terlihat dan juga memakai sepatu boots hitam yang sudah kotor. Ditambah dia memakai topi rajut merah menyala di kepalanya. Dia terlihat seperti berumur sekitar 60 tahunan.

Nenek itu terkekeh. “Tentu saja aku bisa. Kamu ‘Bumi’ kan?” tanya Nenek. Bagaimana bisa dia mendengarku, bahkan dia tahu namaku yang aku saja tidak tahu. “Aku bahkan tidak tahu namaku,” balasku. “Kamu tidak tahu? Makhluk disini memanggilmu begitu. Kamu pasti bertanya bagaimana aku bisa mendengarmu bukan? Aku sudah lama tinggal di atas tubuhmu. Jadi sepertinya, aku harus berterima kasih dahulu padamu. Terima kasih Bumi.” Nenek terssenyum dan tetap fokus mengendarai sepedanya. Wajahku memanas. Artinya aku sangat, sangat senang. Mungkin di beberapa tubuhku ada yang mengalami kenaikan suhu. Baru kali ini ada yang berterima kasih padaku. Sebelumnya, mereka hanya merusak tubuhku saja.

“Ini memang tugasku sebagai ‘rumah’ kalian, tapi sama–sama.” balasku. Nenek itu terkekeh lagi. Aku menunggu Nenek berbicara lagi, nyatanya dia tetap diam dan fokus mengendarai Si Sepeda. Si Sepeda juga terlihat diam saja. Nenek terus mengayuh pelan dan berhenti di sebuah ladang kuning yang kosong. Ada sebuah kardus kecil di pinggir ladang itu. Di dalam kardus itu ternyata berisikan mahkluk–makhluk kecil yang berbulu.

Nenek turun dari Si Sepeda dan mengambil sesuatu dari keranjang depannya. Dia mengambil sebotol susu dan dua mangkuk plastik yang ditutupi oleh kain. Nenek menuang susu ke kedua mangkuk tersebut dan memberikannya kepada mahkluk–makhluk kecil berbulu dalam kardus itu. Makhluk kecil itu mulai meminum susu yang diberikan Nenek.

“Mereka adalah satu–satunya temanku. Aku sebenarnya alergi kucing. Tetapi, aku menyayangi mereka. Aku setiap hari berbicara dengan mereka walau hanya dibalas oleh meongannya. Ingin sekali aku mengelus tubuh berbulu mereka,” akhirnya Nenek mulai berbicara lagi. Nenek menatap makhluk kecil yang sedang asyik meminum susu itu dari jarak yang tidak terlalu dekat. Makhluk kecil berbulu itu ternyata bernama Kucing.

“Maaf aku lupa memberitahumu aku Nenek Lenzt, Len saja juga tidak apa,” Nenek memperkenalkan diri. “Baiklah Nenek Len” balasku. “Dan sepedaku ini tidak bisa berbicara tetapi dia bisa mendengarkan kita” balas Nenek Len. Pantas saja Si Sepeda tidak pernah membalasku. “Aku bisa mendengarkanmu, itu adalah suara alam. Orang tua sepertiku rata–rata bisa mendengarnya. Aku rasa tidak semua, orang–orang yang kesepian sepertiku saja yang bisa mendengarnya,” Nenek Len menjelaskan. “Sudah jam segini, aku harus pulang. Selamat tinggal kucing,” Nenek Len naik ke sepeda, memutarbalikkannya, dan mulai mengayuh.

Nenek Len pulang ke rumahnya. Rumahnya tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Nenek Len memarkirkan sepedanya di halaman depan rumahnya. Halaman depannya sangat kotor, daun–daun berserakan di atas rumput yang aku bahkan tidak tahu itu bisa dibilang rumput atau tidak (karena sudah tidak berbentuk seperti rumput). Rumahnya bercatkan berwarna coklat muda dan pintunya berwarna merah menyala seperti warna pada topinya. Atap rumahnya juga terlihat hampir rubuh. Di sebelah rumah Nenek Len ada beberapa rumah yang sepertinya tidak berpenghuni.

Nenek Len masuk ke rumahnya dan melepaskan topinya. Dia pergi ke dapur kecilnya yang gelap. Disana ia membuat secangkir teh tanpa gula. Nenek membawa cangkir tehnya ke ruang tengah. Satu–satunya ruangan yang lebih terang dibandingkan ruangan lainnya. Ruang tengah itu dilapisi karpet berwarna abu terang yang sudah kotor dan diatasnya terdapat sofa kecil di tengah ruangan yang membelakangi jendela depan, juga terdapat meja kayu kecil di sebelah sofa yang diatasnya terdapat radio. Nenek duduk di atas sofa. Ia meminum tehnya dan menyalakan radio.

“Kabar terkini, peluncuran teknologi baru kali ini bisa membawa para manusia di Bumi menuju ke Mars! Tempat impian kita semua untuk menghindari bencana alam di Bumi. Jika Anda berminat untuk pergi ke Mars hubungi kami dengan menekan tombol yang ada pada hologram Anda. Kami tunggu kehadirannya!” radio terdengar dan lanjut menyuarakan lagu yang aneh tanpa nada.

Mars? Mereka tahu Mars? Mars adalah sahabatku, dia selalu tertidur di sebelahku. Mungkin tidak ada makhluk di atasnya makanya dia bisa selalu tertidur. Tapi, mereka makhluk di atasku ini akan pergi? Seenaknya saja mereka pergi meninggalkanku tanpa mengobatiku terlebih dahulu. Tidak akan kubiarkan.

“Hey Bumi, kau lihatkan apa yang akan mereka lakukan? Mereka sudah gila,” omel Nenek. Aku menghembuskan nafas sebal sehingga di beberapa tempat terasa hembusan angin. “Tenang, aku akan selalu disini Bumi kapanpun sampai aku mati atau mungkin sampai kamu tertidur. Mungkin saja besok aku akan mati, tidak akan lama lagi, tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang peduli,” lanjut Nenek Len dengan senyuman hangat dari bibirnya. Nenek Len kembali menyesap tehnya. Aku sekarang punya seorang teman setia!

Aku terus mengitar. Sekarang aku bergerak membelakangi matahari sehingga bagian atas tubuhku terlihat gelap dan bagian depan tubuhku terang. Nenek Len tinggal di bagian atas tubuhku. Aku suka melihat selimutku saat aku mulai berputar membelakangi matahari. Selimutku berubah warna menjadi jingga! Cantik sekali. Namun, sekarang selimutku tidak secantik dulu. Dulu sekitar 100 tahun yang lalu, selimutku pernah berwarna jingga sempurna! Sekarang tidak lagi. Ini semua akibat Si Asap dan manusia di atasku.

“Hey, kau masih disana?” Nenek memanggilku. Dia sedang berada di dapur, sedang memasak sesuatu. “Ya Nek.” aku membalasnya. “Aku lihat, sepertinya selimutmu sudah kotor, ditambah sepertinya itu sangat dipenuhi asap kotor. Biarkan aku mencucinya.” Nenek menawarkan diri dari dapur gelapnya itu. “Selimutku memang kotor. Memangnya kau bisa mencucinya?” tanyaku. Selimutku itu kan sangat–sangat besar. Bagaimana manusia seperti Nenek bisa mencucinya? Bahkan aku sendiri tidak bisa mencucinya. “Tenang saja, aku bisa. Jangan meremehkanku.” Nenek terkekeh.

“Tidak. Tidak bisa aku melepaskan selimutku ini. Bagaimana nasibnya makhluk-makhluk yang tinggal di atasku. Tanpa selimutku ini aku dan mereka akan kepanasan.” tolakku. “Buat apa kamu mengkhawatirkan mereka. Mereka kan sudah jahat kepadamu. Mereka juga yang mengotori selimutmu dengan teknologi buatan mereka sendiri.” Nenek beranjak keluar dari dapur membawa sepiring kentang rebus dan beberapa sayuran rebus. Nenek duduk kembali di atas sofanya.

“Aku rasa tidak perlu, ini memang tugasku sebagai tempat mereka.” balasku. “Hmm, kau selalu saja mengalah. Aku tahu kamu pasti membenci mereka kan? Untuk apa tetap mengkhawatirkan orang yang kau benci.” ucap Nenek sambil memasukkan sepotong kentang rebus ke mulutnya. Aku hanya diam. Aku tidak tahu. Aku terus mengitar sambil memikirkan perkataan Nenek Len.

Temanku, Bulan sudah mulai terlihat. Suara orokan si Benda itu terdengar lagi. Kali ini, asap yang dikeluarkan dari Benda itu semakin banyak. Asap yang keluar mengenai selimutku terasa sakit. Selimutku sudah seperti bagian dari tubuhku, jadi aku bisa merasakannya. Sakit sekali. Seperti ada yang menggores–goreskan pisau ke tubuhku, perih sekali. Asap yang ada di selimutku mulai menebal disana. Badanku terasa lebih panas daripada sebelumnya.

Setelah 3 jam kemudian, akhirnya Benda itu terdiam. Lega. Tetapi, suhu badanku tidak menurun juga. Panasnya hanya menurun sangat sedikit. Aku melihat manusia–manusia di atasku terbangun. Mereka kepanasan. Maafkan aku, kalian jadi tidak tertidur nyenyak. Manusia–manusia itu beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil remote. Oh tidak, itu remote penyejuk ruangan mereka. Menyalakan itu sama saja akan membuat tubuhku tambah panas. Bahan yang dikeluarkannya juga akan mengotori selimutku, bahkan merusak selimutku! Mereka membuatku tambah tersakiti lagi. Padahal, jika ingin membuat badanku lebih sejuk tanam saja tanaman atau pohon yang banyak. Apa susahnya melakukan itu.

Kulihat Nenek Len terbangun dari tidurnya. Ia tidur di atas sofanya. Sepertinya, dia juga terbangun kepanasan. “Ada apa dengan selimutmu Bumi?” Nenek bertanya sambil melepaskan selimutnya yang dia pakai. “Aku tidak tahu, sepertinya aku demam. Tubuhku rasanya panas sekali.” aku meringis kesakitan. “Sudah kubilang, selimutmu terlalu kotor, biarkan aku mencucinya.” tawar Nenek lagi. Aku terdiam. “Tidak,” tolakku lagi. “Ayolah, keras kepala sekali kamu,” Nenek kembali merebahkan dirinya ke sofa.

Pagi hari datang terasa lebih cepat dari sebelumnya. Badanku masih terasa panas. Nenek Len terlihat sudah di depan halamannya sambil memandikan Si Sepeda. “Selamat hari Jumat Nenek Len, Sepeda.” kataku sambil terengah. “Sepertinya kau belum membaik juga, disini terasa lebih panas.” kata Nenek Len sambil membasuh Si Sepeda. “Ya begitulah, aku juga tidak tahu.” ucapku pasrah.

Terdengar suara ribut dari atasku. Para manusia sedang berkumpul di depan kantor pemerintah. Entah apa yang mereka permasalahkan. Mereka teriak-teriak sambil membakar fasilitas di sekitarnya. Asap-asap bertambah banyak. Asap itu datang menyerbu selimutku. Di lain sisi, para manusia menebang pohon-pohon dalam jumlah banyak. Sehingga, asap-asap langsung kabur ke selimutku tanpa adanya filtrasi terlebih dahulu oleh pohon. Badanku bertambah panas lagi.

Teman-teman Si Mobil dan Si Motor terus bertambah, mengelilingi tubuhku bersama asap hitamnya yang dikeluarkan dari tubuh mereka. Para manusia terus menyalakan benda penyejuknya tanpa henti. Gas-gas yang sama jahatnya keluar dari benda itu. Bergerak menuju ke selimutku sebagai perhentian terakhir mereka. Selimutku bagaikan permen manis yang menarik perhatian para semut. Para semut itu adalah asap dan gas-gas jahat yang akan menghabisi seluruh selimutku.

Suhu badanku tidak kunjung turun. Rasa sakitnya menggerogoti tubuhku. Asap dan gas jahat lainnya terus berdatangan ke selimutku. Enam hari berlalu dengan rasa perih di seluruh tubuhku. Kembali bertemu dengan hari Kamis. Keadaan di atas permukaan bertambah parah. Para manusia kepanasan, tidak ada sedikit pun hujan yang turun. Ketersediaan air mulai menipis. Beberapa hewan mati kelaparan dan kehausan. Bayi dan para anak kecil terdengar menangis terjerit-terjerit. Mereka kepanasan dan kehausan. Kutub es mulai mencair. Manusia dewasa terus berkumpul di depan gedung pemerintah, menagih solusi. Manusia-manusia kaya yang egois sudah pergi meninggalkanku yang sudah dipenuhi kicau riuh dengan teknologinya.

Nenek Len masih setia di rumahnya, terkadang pergi ke tempat Si Kucing walau tanpa membawa apa-apa. Nenek hanya mengobrol dengan para kucing itu tanpa dibalas meongannya lagi. Kucing itu sudah mati. Aku tidak tahan lagi dengan kekacauan ini. Aku memikirkan banyak cara untuk mengatasi ini. Tetapi, nihil. Aku tidak tahu. Maafkan aku kucing, juga hewan lainnnya. Ini semua salahku. Aku mulai menangis. Permukaan atasku mulai turun hujan. Para manusia bersorak kegirangan. Mereka menampung air hujan ke dalam ember-ember di depan rumahnya. Aku pun terus menangis.

Setelah dirasa cukup, aku berhenti menangis. Hujan mulai mereda. Awan-awan kembali pergi. Keadaan di atasku kembali terasa damai. Beberapa jam setelah itu, manusia-manusia mulai terdengar heboh lagi. Kulihat mereka pergi berbondong-bondong menuju gedung besar di tengah kota. Gedung itu berisi orang-orang yang sedang sakit. Mereka meringis kesakitan bahkan ada yang sampai menangis. Manusia dewasa, remaja, bahkan bayi bernapas terengah-engah. Mereka kesulitan bernapas. Gedung itu terlihat sibuk. Para manusia memakai sesuatu yang menutupi hidung dan mulutnya. Para manusia itu berlari kesana kemari mencari bala bantuan. Tidak ada lagi yang bisa lakukan selain diam atau mati.

Tumbuhan yang terkena air hujan tadi jatuh layu dan tertidur menyatu dengan tanah. Tanah sudah tidak bisa ditinggali lagi. Beberapa gedung mulai rusak dan hancur. Tidak ada lagi rumah untuk mereka. Tidak ada lagi tempat untuk mereka.

Semua yang aku lakukan serba salah. Apa yang harus kulakukan. Aku sudah menghancurkan segalanya. Aku tidak lagi ‘rumah’ bagi mereka. Aku terdiam sangat-sangat lama, tanpa adanya kebisingan dari atasku lagi. Mereka sudah tiada. Sisa manusia di atasku hanya terongok bisu menatap kegelapan dunia dengan mata kosong. Bahkan menangis pun sudah tidak sanggup. Mereka kehilangan. Kehilangan semuanya, kehilangan diri sendiri. Namun, bukankah ini yang aku mau?

“Apa kabar?” tanya seseorang. Itu Nenek Len, dia masih hidup. “Aku tidak tahu.” aku menjawab Nenek dengan sedih. Nenek beranjak dari sofanya, menuju ke jendela dan menatap langit. Langit yang tidak lagi biru sempurna. Dunia yang tidak lagi indah. Hewan yang tidak lagi bernyanyi. Manusia yang tidak lagi saling peduli. Dan aku yang tidak lagi bisa dibilang Bumi tempat para manusia. “Apakah kau mengantuk?” tanya Nenek sambil terus menatap langit. “Aku tidak tahu.” jawabku lagi dengan jawaban yang sama. Aku sebenarnya sangat mengantuk. Tapi bagaimana aku bisa tertidur dengan segala kekacauan yang aku buat? Aku menatap selimutku yang masih dipenuhi asap itu. Haruskah aku mencucinya? Apakah itu akan mengubah kenyataan? Apa itu akan menyelamatkan mereka?

“Kau bilang, kau bisa mencuci selimutku. Apakah kau bisa Nek?” tanyaku pasrah. Setidaknya, aku mencoba. “Aku bisa, kau ingin aku mencucikannya sekarang?” tanya Nenek terdengar lebih bersemangat. Aku kembali memikirkannya. Apa yang akan kulakukan ini benar? Suara tangisan bayi mulai terdengar lagi. Mereka berteriak karena kelaparan. Tidak ada yang bisa mengabulkan permintaan si bayi. Manusia dewasa hanya diam. Tidak peduli. Yang mereka mau hanyalah tetap hidup. Mendengar tangisan bayi yang semakin besar, aku tidak tega.

“Baiklah, tolong cucikan selimutku Nek.” akhirnya aku memutuskan. Nenek berseru senang dan mengangguk. “Kau harus belajar merelakan. Merelakan semuanya. Semua manusia memang pernah melakukan kesalahan. Tetapi, tidak semua kesalahan mereka harus direlakan. Kita boleh sedikit dendam, tetapi jangan berlebihan. Karena kamu sendiri juga pernah salah. Nenek tersenyum. “Dengan ini, kamu akan bisa tertidur. Tutuplah matamu,” lanjut Nenek Len sambil meregangkan tangan dan punggungnya.

Aku menutup mata. Perlahan, selimutku terasa lepas sedikit demi sedikit. Terasa perih, sangat perih. Selimutku terlepas sempurna dari tubuhku sekarang. Cahaya matahari menerka langsung ke seluruh tubuhku tanpa ada pelindung. Tubuhku mengalami kenaikan suhu yang amat drastis. Nenek Len sudah tidak ada. Entah kemana dia. Nenek Len benar dia menepati janjinya, setia bersamaku. Seluruh makhluk di atasku hilang. Cahaya matahari terus datang menyilaukan. Dan akhirnya, aku benar-benar tertidur.

 

Aku Bumi, selesai sudah tugasku.

Maafkan aku,

Selamat tidur, selamat hari Kamis. 

2 thoughts on “Cerpen #90: “Selamat Hari Kamis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *