Cerpen #89: “Tanah Harapan”

Pada masa itu hampir semua hewan dan tumbuhan musnah akibat perubahan iklim yang ekstrim, bumi menjadi tempat paling berbahaya bagi makhluk hidup. Kaum manusia yang tersisa dan mampu bertahan hidup, kini tinggal di goa-goa dan ruang-ruang bawah tanah. Mereka tidak berani keluar pada siang hari karena suhu panas matahari yang sangat tinggi dan bisa merusak kulit, bahkan bisa membakar apapun hanya dalam hitungan menit. Mereka hanya bisa keluar pada malam hari, itupun dengan suhu dingin yang terasa menusuk ke tulang. Jika tidak memakai pakaian khusus, manusia bisa mati membeku.

Kehidupan manusia pada masa itu seperti kembali pada masa awal peradaban. Gelap dan terbelakang. Semua alat penopang kehidupan tidak ada yang berfungsi, karena semuanya rusak oleh medan elektromagnetik matahari yang sangat tinggi. Tidak ada alat komunikasi, transportasi modern, maupun mesin-mesin elektronik. Semua peralatan menggunakan mesin manual. Semua jenis bahan bakar dari gas, batu bara, sampai minyak telah habis. Tidak ada lagi sumber bahan bakar yang bisa diperbaharui, karena terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim. Ditambah siklus badai matahari yang dahsyat karena posisinya makin mendekati bumi.

Di tengah kehidupan yang sangat berat itu, hidup satu keluarga yang tinggal di sebuah goa. Sepasang suami istri separo baya dengan tiga anak mereka yang sudah dewasa. Mereka adalah bagian dari kelompok masyarakat yang selamat dari badai siklon matahari satu dekade lalu. Dorman, seorang ayah dan kepala keluarga, yang mengalami gejala stroke. Sedangkan Zema, istrinya, mengalami kebutaan akibat serangan badai panas matahari. Ketiga anak mereka; Zoe, Luki, dan Jave. Si bungsu Jave satu-satunya anak perempuan. Jave banyak membantu ibunya memasak makanan.

Zoe dan Luki sehari-hari berburu tanat, semacam ulat tanah yang hidup di akar pohon mati dan buli, umbi langka yang masih tumbuh di kedalaman goa. Kedua jenis bahan makanan itu yang aman dikonsumsi karena bebas dari racun. Sementara hewan dan tanaman lainnya yang kedapatan masih hidup di bawah tanah maupun permukaan tanah sudah terkontaminasi bahan radioaktif matahari. Bahkan semua jenis ikan yang hidup di palung goa dan ceruk air tidak bisa dikonsumsi. Manusia akan mati jika memakannya. Tak ada penawar dan obat yang bisa mengatasinya.

Malam itu keluarga Dorman berkumpul di meja makan untuk menikmati masakan tanat dan buli hasil buruan Zoe dan Luki. Makanan olahan Jave sangat enak karena dibumbui dengan rempah hasil racikan Zema. Meskipun buta Zema masih hapal resep yang pernah diajarkan almarhumah ibunya. Sementara Jave diajari Zema meramunya dalam masakan. Mereka memasaknya dengan air sulingan. Tanat dan buli yang sebenarnya tidak ada rasanya jika dimakan mentah jadi enak dan lezat setelah dimasak oleh bumbu rempah.

Tidak seperti biasanya acara makan malam bersama itu berubah jadi ajang perdebatan seru antara Zoe dan Luki. Bermula dari ucapan Luki yang memancing reaksi dari orangtua dan saudara-saudaranya. Luki berkata, “Kita tidak bisa selamanya seperti ini. Kita harus pergi dari sini.”

“Apa maksudmu, Luki?” tanya Dorman kepada anak keduanya itu.

“Aku mendengar tentang sebuah tempat yang bisa kita tinggal di atas permukaan bumi tanpa takut pada radiasi panas matahari,” jawabnya.

“Omong kosong! Itu cerita dongeng yang tidak ada faktanya,” tukas Zoe, kakaknya, sambil tertawa sinis.

“Tapi ini benar, Kak. Ada yang sudah melihatnya….”

“Siapa?”

“Kata Viandra, beberapa waktu lalu ada kabar dari klan Orex yang mendiami goa di pegunungan Almaz, jika di sebelah utara Bumi ada sebuah tempat bernama Greenland, tapi orang-orang menyebutnya Tanah Harapan. Di sana cuaca relatif ramah untuk kehidupan makhluk hidup. Hewan dan tumbuhan bisa hidup serta berkembang biak, bahkan manusia bisa membangun rumah dan beraktivitas di permukaan tanah. Di sana matahari hanya muncul selama tiga jam, tapi suhunya tak sampai melebihi batas normal. Meskipun malam lebih panjang dari siang, namun mereka menghidupkan dengan cahaya yang berasal dari tangkapan sinar matahari,” tutur Luki panjang lebar.

Kembali Zoe tertawa, kali ini lebih keras. Dia sepertinya ingin menertawakan kebodohan adiknya. Sementara ayah dan ibu mereka hanya terdiam. Jave jadi penasaran dengan cerita Luki.

“Benarkah itu, Kak?” tanyanya sangat antusias.

“Bohong itu!” tukas Zoe mendahului menjawab. “Apa yang diceritakan Luki itu cuma omong kosong. Itu cerita yang sudah lama usang dan terus diulang-ulang oleh orang halu.”

“Tapi, Kak…,” Luki hendak membantah, tapi segera dipotong Zoe.

“Bumi ini sudah rusak. Tidak ada lagi satu tempat pun di muka bumi ini yang selamat dari badai panas matahari seratus tahun lalu akibat peningkatan gas rumah kaca. Semuanya kering dan terpapar radiasi. Beruntung kita sekelompok manusia yang selamat dari bencana. Meskipun tinggal di goa dan ruang bawah tanah, tapi kita bisa hidup. Cerita tentang Tanah Harapan itu cuma bualan belaka. Omong kosong!” tandas Zoe dengan nada sinis.

“Itu bukan omong kosong, Kak. Beberapa orang sudah berangkat ke sana!”

“Dan mereka mati konyol di tengah jalan!”

“Tidak! Beberapa dari mereka mungkin sudah tiba di sana dan menikmati kehidupan yang lebih baik. Karena itu kita harus ke sana. Kita bawa ayah dan ibu ke sana!”

“Tidak! Kita tidak akan pergi ke sana. Kita tidak akan bawa ayah dan ibu ke sana. Kalau kamu mau ke sana, berangkat saja sendiri. Aku tahu, kamu terpengaruh pacarmu Viandra. Karena keluarganya akan bermigrasi ke sana. Iya, kan?”

Luki terdiam. Dia terlihat gundah. Dia lalu beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan makanannya yang belum habis. Semua tercekat. Zoe kemudian juga beranjak pergi. Tinggal Jave dan orangtuanya. Zema yang dari tadi diam, berkata untuk mencairkan suasana. “Ayo, teruskan makan. Biarkan saja Zoe dan Luki. Mereka sudah sama dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya.”

Sejak itu hubungan Zoe dan Luki jadi renggang. Suasana di dalam ruangan keluarga mereka berubah beku. Setiap kali mereka berkumpul di meja makan tak ada lagi percakapan yang hangat. Tak ada pembicaraan mengenai Tanah Harapan. Tapi diam-diam tanpa sepengetahuan Zoe, Luki berusaha membujuk orang tua dan adiknya agar mengikuti keinginannya. Tapi mereka belum bisa memutuskan. Jika mereka memang harus pergi ke Tanah Harapan, maka semua harus ikut, tidak boleh ada yang tertinggal. Karena mereka adalah keluarga, sebuah keluarga harus selalu bersama.

Pada suatu kesempatan Dorman dan Zema membicarakan masalah ini berdua saja.

“Aku tidak bisa membiarkan semua ini berlarut-larut. Sebagai kepala keluarga aku harus ambil keputusan,” kata Dorman.

“Apakah ayah akan menuruti Luki?” tanya Zema.

“Apa yang diinginkan Luki menyiratkan semangat meraih sebuah harapan dan melakukan perubahan besar. Tapi itu juga bukan tanpa resiko dan pengorbanan.”

“Tapi bukankah setiap usaha untuk meraih keberhasilan akan selalu membutuhkan pengorbanan?”

“Ya, aku tahu. Tapi pengorbanan yang tidak setara dengan hasil itu sama saja sia-sia. Seperti yang dikatakan Zoe, jangan sampai mati konyol.”

“Jadi ayah mendukung Zoe?”

“Aku belum mengambil keputusan. Pilihan Zoe yang ingin tetap tinggal menyiratkan sikap yang statis dan konservatif. Dia ingin mempertahankan status quo. Tapi sikap ini pun bukan tanpa kelemahan. Kita akan terus terkurung dalam kegelapan dan keterbelakangan jika tidak melakukan perubahan. Karena kehidupan berjalan ke depan. Sementara di sini kita hanya berputar pada rutinitas yang sama dan berulang. Kita tak ubahnya tikus yang terjebak dalam putaran roda. Sekeras dan sekencang apapun berlari, tidak pernah sampai ke mana-mana. Hanya tetap berdiam di tempat. Kita hidup di sini hanya menunggu mati, bahkan kematian setiap saat mengintai kita. Tak ada pilihan lain lagi….”

“Jadi bagaimana, Yah?”

Dorman terdiam. Sepertinya dia pun sulit mengambil keputusan. Laki-laki yang semakin renta dan tangannya selalu gemetaran itu menarik napas dalam. Bias wajahnya dalam bayangan api obor makin terlihat getas oleh kegalauan.

###

Sementara itu Jave menemui Luki yang sedang duduk menyendiri di sudut relung goa. Dia masih penasaran dengan cerita Luki tentang Tanah Harapan.

“Benarkah apa yang kamu ceritakan, Kak? Di Tanah Harapan kita bisa hidup dengan aman dan damai? Kita bisa menghirup udara bersih? Kita bisa melihat tanaman hijau dan hewan-hewan?” cerocos Jave seperti mitraliur yang tak henti menembakkan peluru.

Luki tersenyum dan mengangguk. “Bahkan di sana semua manusia hidup sehat. Teknologi pengobatan sangat canggih dan modern,” kata Luki menambahkan.

“Kalau begitu ayah dan ibu bisa disembuhkan sakitnya?”

“Ya! Itulah kenapa aku ingin membawa ayah dan ibu ke sana. Aku ingin mengobatkan mereka, agar mereka bisa hidup sehat dan normal. Ibu bisa melihat kembali dan ayah bisa beraktivitas dengan normal, tangannya tidak gemetaran lagi.”

Jave tercenung. Apa yang dikatakan Luki membuat hatinya jadi bersemangat. Terbayang di benaknya jika ayah dan ibu sembuh. Betapa bahagianya. Jave sangat senang sekali. Ibu masih sempat melihat wajahnya saat dirinya kanak-kanak. Tapi setelah mengalami kebutaan Ibu tidak tahu rupa wajah putrinya yang sudah beranjak dewasa. Ibu hanya bisa meraba lekuk-lekuk wajah Jave dan membayangkannya. Jika Ibu bisa melihat lagi, tentu beliau akan sangat senang menyaksikan wajah anak gadisnya yang cantik.

Tapi sejurus kemudian Jave ragu. Dia masih sangsi karena apa yang dikatakan Luki baru katanya, Luki hanya mendengarnya dari orang lain. Mungkin benar apa yang dikatakan Zoe. Cerita tentang Tanah Harapan hanya ilusi belaka. Faktanya, belum ada satupun orang yang membuktikan pernah tinggal di sana. Semua masih berbau spekulasi dan dugaan semata. Luki bersemangat ingin pergi kesana, karena dipengaruhi Viandra, kekasihnya. Luki tak ingin berpisah dengan Viandra yang berencana bermigrasi ke Tanah Harapan bersama keluarganya. Motivasi Luki semata karena cinta.

“Kakak yakin Tanah Harapan itu ada?” ujar Jave kemudian meminta kepastian.

“Aku yakin!” jawab Luki mantap.

“Keyakinan kakak lemah!”

“Maksud kamu?”

“Keyakinan kakak bukan datang dari dalam diri kakak sendiri, melainkan dari pengaruh orang lain. Selama ini kakak tidak pernah membicarakan tentang Tanah Harapan. Tapi setelah kakak tahu Viandra dan keluarganya akan bermigrasi ke sana, kakak jadi terobsesi pada Tanah Harapan. Kakak takut kehilangan Viandra, takut berpisah dengan wanita yang kakak cintai. Padahal sebenarnya kakak belum yakin. Kakak mempertaruhkan jiwa kakak demi cinta. Iya, kan?”

Luki merasa tertohok oleh perkataan adiknya. Dia jadi jengah. Sesungguhnya dalam lubuk hatinya dia mengakui ucapan Jave. Sebelumnya dia masih ragu dengan tempat bernama Tanah Harapan. Tapi ajakan Viandra yang terus membujuknya dengan harapan-harapan manis membuat Luki tertarik. Di Tanah Harapan mereka bisa hidup normal, menikah, memiliki anak, dan bebas melakukan apa saja tanpa rasa takut. Luki lalu mencoba mencari tahu tentang Tanah Harapan pada orang-orang. Hampir semuanya membenarkan adanya Tanah Harapan, meskipun belum ada yang ke sana. Keraguan Luki berganti dengan keyakinan kuat yang disulut api semangat dan harapan besar.

Tapi sekarang keyakinan kuat itu kembali dikikis keraguan oleh perkataan adiknya. Luki bertanya pada dirinya sendiri, benarkah Tanah Harapan itu ada. Tapi Luki menepis keraguannya. Ia memang terpengaruh oleh Viandra karena cinta. Ia tidak ingin kehilangan Viandra dan berpisah dengannya. Jika cinta adalah harapan, maka cinta akan memberi kehidupan. Begitu yang pernah Luki dengar dari seorang pujangga. Jadi Luki berusaha tetap meyakini bahwa Tanah Harapan itu ada, sebagaimana keyakinannya akan cintanya pada Viandra.

“Aku akui jika keyakinanku dipengaruhi oleh Viandra. Aku sangat mencintainya. Tapi bukankah cinta menumbuhkan keyakinan? Kita memang belum tahu seperti apa Tanah Harapan, tapi dengan keyakinan kita bisa menciptakan harapan. Dan harapan akan menuntun kita menemukan masa depan, menemukan Tanah Harapan. Jika cinta adalah harapan, maka ia akan memberi kehidupan. Akan memberi kita masa depan,” kata Luki dengan kalimat berapi-api, penuh semangat.

Jave diam tercenung, mencoba memahaminya.

###

Di sisi lain, Zoe yang menentang keras keinginan adiknya pergi ke Tanah Harapan juga mulai goyah dengan pendiriannya. Sesungguhnya ia sudah muak dan bosan tinggal di relung goa. Kehidupan yang mereka jalani di sini tak ubahnya roller coaster, melaju kencang dan berputar pada tempat sama tanpa tujuan pasti. Mereka akan kembali melewati jalan sama dan berulang, tak ada yang baru. Semua serba monoton, tak ada kebaruan. Tapi perjalanan roller coaster itu juga tak lepas dari bayang-bayang kengerian dan kematian yang setiap saat merenggut jiwa.

Jika lengah sedikit saja penumpang wahana roller coaster bisa jatuh di perjalanan dan menemui kematian. Karena kehidupan di relung dan lorong goa sangat berbahaya. Ancaman menghirup gas beracun, disengat binatang berbisa, terperosok di jurang goa, hingga sambaran badai panas matahari yang menerobos masuk ke celah goa. Tempat ini sungguh bukan tempat tinggal yang aman bagi mereka yang lemah dan para orangtua. Itulah yang jadi beban pikiran Zoe. Dia sangat menghkawatirkan kedua orangtuanya. Dia takut sewaktu-waktu mereka lengah.

Tapi haruskah bermigrasi ke Tanah Harapan? Jika memang tempat itu ada dan nyata, maka tanpa berpikir seribu kali Zoe akan membawa kedua orangtuanya ke sana. Masalahnya, apa yang diceritakan orang tentang Tanah Harapan berdasar katanya, belum ada yang membuktikan kenyataannya. Itulah yang membuat Zoe tak yakin dan menentang keinginan Luki membawa kedua orang tua mereka ke sana. Zoe tak mau orang tuanya mati konyol di tengah jalan mengejar sesuatu yang tak nyata. Tapi bukankah bertahan tinggal di sini juga sama bahayanya?

Zoe jadi bimbang memikirkan hal ini.

###

Malam ini keluarga Dorman kembali berkumpul di meja makan. Kali ini Dorman memulai pembicaraan.

“Anak-anakku, ada satu hal yang ingin ayah sampaikan pada kalian. Ayah tahu, beberapa waktu ini kita dibuat resah oleh polemik tentang Tanah Harapan. Sebagai kepala keluarga ayah ingin mengakhiri polemik ini.” Sejenak Dorman berhenti, memandang satu persatu anak-anaknya. Ketika pandangannya tertuju pada Zoe, bibir Dorman tersenyum.

“Zoe,” kata Dorman.

“Ya, Ayah,” sahut Zoe.

“Aku tahu, kamu tidak setuju dengan keinginan adikmu bermigrasi ke Tanah Harapan. Ketidaksetujuanmu didasari rasa khawatirmu pada kami, karena kamu tidak ingin terjadi apa-apa pada orangtuamu. Kami, aku dan ibumu, merasa terharu oleh perhatianmu. Terima kasih atas perhatian dan cintamu yang besar pada kami.”

Zoe mengangguk dan tersenyum haru. Dorman lalu beralih pada Luki.

“Luki.”

“Ya, Ayah,” sahut Luki.

“Ayah bisa memahami keinginanmu yang ingin membawa kami ke Tanah Harapan agar kami bisa hidup lebih baik di sana. Keinginanmu menunjukkan betapa besar rasa cintamu kepada kami. Sungguh kami sangat tersanjung,” kata Dorman.

Luki tersenyum senang dan lega. Tapi ekspresi wajahnya berubah ketika Dorman melanjutkan kata-katanya. “Ayah dan ibu menghargai niat baikmu. Namun demikian, kami memilih mengikuti keinginan Zoe. Kami tidak akan pergi ke Tanah Harapan.”

Zoe merasa lega dan senang. Luki pun protes. “Kenapa ayah dan ibu tidak mau mengikuti aku pergi ke Tanah Harapan?” ujarnya jadi kecewa.

“Luki, ayahmu belum selesai bicara. Dengar dulu penjelasannya,” tukas Zema menenangkan Luki.

“Begini, anakku. Setelah ayah pikir dan pertimbangkan dengan masak, ayah dan ibu memutuskan untuk tetap tinggal disini bersama Jave. Sementara kalian berdua pergilah ke Tanah Harapan,” kata Dorman.

Zoe kaget. “Tapi, Yah…?” ujarnya hendak protes, tapi Dorman buru-buru memotongnya.

“Ayah tahu, kamu tidak mempercayai Tanah Harapan. Tapi ayah juga tidak bisa menahan Luki untuk pergi. Ayah tidak bisa membiarkan dia pergi sendirian. Kamu harus mendampinginya. Kita tidak bisa selamanya tinggal di sini, terkurung dalam kegelapan. Kita harus menemukan harapan, menemukan hidup yang lebih terang. Jika nanti kalian tiba di Tanah Harapan dan menemukan kehidupan yang lebih baik di sana, kalian bisa kembali ke sini menjemput kami,” kata Dorman menjelaskan maksudnya.

Zoe tertegun. Dia tak bisa membantah ucapan ayahnya. Dia hanya mengangguk, setuju.

“Kenapa ayah meminta kalian berdua yang pergi, karena kalian masih muda, kuat, dan siap menghadapi tantangan. Perjalanan ke Tanah Harapan mungkin akan sangat berat dan penuh rintangan, tapi dengan kemampuan kalian ayah yakin kalian bisa melaluinya. Kalian bisa membuat peta jalan menuju ke Tanah Harapan, yang kelak bisa berguna ketika kalian kembali ke sini menjemput kami. Harapan dan doa ayah agar kalian selamat sampai di sana,” lanjut Dorman penuh keyakinan.

“Saya berjanji akan menjemput ayah dan bunda, serta Jave,” ucap Zoe dengan mata berkaca-kaca.

“Saya juga berjanji akan menemukan Tanah Harapan untuk keluarga kita, agar kita bisa berkumpul lagi!” tegas Luki bersumpah.

Dorman dan Zema mengangguk-angguk. Sementara Jave tak kuasa lagi menahan rasa sedihnya, karena akan berpisah dengan kedua saudaranya. Air matanya berlinangan.

“Satu hal lagi yang perlu kalian ingat, jika nanti telah menemukan Tanah Harapan dan tinggal di sana. Jangan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan leluhur kita. Karena ulah dan keserakahan manusia pada masa dahulu yang dengan semena-mena mengekploitasi alam tanpa mengindahkan keseimbangan lingkungan hidup, menyebabkan dunia ini menjadi rusak dan hancur. Alam yang memberi kita kehidupan, maka sudah kewajiban kita menjaga, melindungi, dan melestarikannya. Kalian mengerti, kan?” kata Dorman menyampaikan pesan penting kepada kedua putranya.

Zoe dan Luki hanya mengangguk.

###

Hari itu Dorman bersama istri dan putrinya melepas keberangkatan Zoe dan Luki menuju ke Tanah Harapan. Mereka membawa bekal makanan dan peralatan secukupnya. Mereka akan berangkat bersama rombongan. Walaupun hati terasa berat dan sedih harus berpisah dengan kedua putranya, tapi Dorman dan Zema berusaha untuk tegar. Mereka ingin menguatkan jiwa putra-putra mereka dengan dorongan semangat dan doa. Karena sebuah keberhasilan tidak akan tercapai tanpa perjuangan dan ikhtiar keras, juga butuh pengorbanan. Dan pengorbanan terbesar mereka adalah berpisah dengan orang-orang tercinta.

Setelah matahari tenggelam di ufuk barat, rombongan orang-orang yang berangkat ke Tanah Harapan keluar dari lubang-lubang goa. Mereka mulai bergerak menuju ke arah utara, arah di mana Tanah Harapan konon berada. Mereka seakan sedang berjudi dengan nasib. Hanya ada dua pilihan yang akan mereka dapatkan, sampai di tujuan dengan selamat atau mati di tengah jalan. Meskipun tujuan yang ingin dicapai masih berupa harapan dan belum nyata. Tapi mereka meyakini harapan itu akan terwujud nyata. Karena hidup sesungguhnya tumbuh dari harapan yang berkembang dalam pikiran manusia. (*)

Wonogiri, 25 Oktober 2021

9 thoughts on “Cerpen #89: “Tanah Harapan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *