Cerpen #87: “SI HITAM”

Lucas! Cepat kemari! Ada pameran bumi di taman kota. Kita tunggu di tempat biasa.

15 menit!”—tut

 

Telfon dimatikan dan aku segera bersiap. Aku nyalakan flying boardku dan segera melaju menuju taman. Kau tahu? Dimasa saat ini, sulit sekali menggunakan daratan dan jalanan kota. Jadi, ehm, yah, perkembangan teknologi itu luar biasa bukan?

 

“Ini dia yang ditunggu,” ujar Bobby lalu maju dan memukul ringan pundakku. Aku tertawa dan segera menghampiri satu kawanku yang sedang memelototiku dari bawah pohon, Bryan si penelfon tadi.

 

“Maaf terlambat…,” Kugaruk belakang tengkukku yang tidak gatal sambil menyengir.

 

Bryan menghembuskan napasnya pelan. “Sudahlah. Ayo masuk!”

 

“Ayok!!!” Bobby dengan semangat merangkul kami sambil tertawa memasuki area pameran.

 

Pameran ini cukup luas. Ada banyak spot menarik yang ingin sekali kukunjungi satu persatu. Kami berjalan pelan sambil melihat-lihat pameran keren ini. Harus kuakui, siapapun itu penyelenggaranya, aku sangat-sangat berterimakasih. Dengan adanya pameran ini, aku dapat mengetahui keadaan kilas balik bumi dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Sejujurnya, materi tentang bumi ini hanya sedikit yang tersisa saat ini dikarenakan pada saat ini kami berlomba-lomba memajukan teknologi dan, yah, melupakan bahwa alam dan manusia harus tetap seimbang bukan?

 

Bryan menghentikan langkahnya dan menyilang kedua tangannya di depan dada, “Uhh, aku bingung sekali. Semuanya terlihat menarik. Hei, Lucas! Ada ide?”

 

Aku terkejut. “Oh? Ehm, bagaimana jika kita masuk ke bagian iklim itu? Kelihatannya menarik.”

 

Bobby dan Bryan tersenyum lalu kami masuk ke dalam spot pameran tersebut. Suhu dingin yang teramat sangat langsung manyambut kami. Uhh, sepertinya aku harus kembali ke rumah untuk mengambil jaket.

 

“Halo! Selamat datang di pameran bagian Iklim!” seseorang tiba-tiba berseru dari belakang dan mengejutkan kami. “Namaku Dion dan aku akan memandu kalian.”

 

Kak Dion sangat ceria dan energik. Dia menjelaskan setiap bagian atau stand yang kami kunjungi di bagian iklim ini dengan baik. Orang ini ramah dan baik sekali, pikirku.

 

“Perubahan Iklim ini terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas lainnya di atmosfer sehingga menyebabkan efek rumah kaca,” jelas Kak Dion.

“Apa itu efek rumah kaca?” tanyaku

 

Kak Dion tersenyum dan menjelaskannya sambil mengajak kami berjalan pelan menuju stand lain. “Efek rumah kaca adalah kondisi dimana suhu bumi mengalami peningkatan yang drastis sehingga mampu melelehkan gunung es di kutub utara dan selatan.”

 

“Oh begitu,” komentar Bobby. “Apa ada efek lain selain melelehnya es di kutub utara dan selatan?”

 

“Tidak hanya itu,” imbuh Kak Dion. “Ada banyak hal lainnya seperti meningkatnya permukaan air laut dan perubahan suhu iklim yang drastis.”

 

Bryan mengernyit, “Apa orang-orang saat itu tidak melakukan sesuatu untuk mencegah efek rumah kaca? Setidaknya mereka tau cara mengurangi efeknya?”

 

“Saat itu teknologi belum semaju saat ini. Walaupun teknologi seperti sudah ada. Tapi masyarakat masih memiliki motivasi untuk mengubah bumi ini menjadi lebih baik lagi seperti mengurangi pemakaian listrik dan kendaraan umum serta melakukan reboisasi hutan,” jelasnya.

 

“Reboisasi?” monolog Bobby.

 

“Aku pernah membaca di salah satu e-book, disitu di tulis reboisasi adalah usaha penanaman tumbuhan kembali sehingga mencegah terjadinya longsor,” terangku. “Dasar kau ini! Tahunya hanya game saja, haha.” Bobby mendelik.

 

Setelah memutari stand bagian iklim kami pun berencana untuk bersantai sebentar di kedai makanan. Sayangnya, spot itu terlalu ramai hingga kami memutuskan untuk duduk saja di bawah lorong.

 

“Hey kalian!” teriak sebuah suara. Kami menoleh dan mendengus mengetahui bahwa itu adalah teriakan dari Keano dan teman-temannya. Sejujurnya, hubungan kami tidak terlalu bagus walaupun kuakui Keano adalah anak yang pintar.

 

“Pergilah, Ken. Aku tidak mau bertengkar denganmu.” Ujarku mencoba menengahi sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Mengingat Bryan punya tempramen yang buruk.

 

Keano terkekeh. “Kenapa? Aku kan hanya ingin mengobrol denganmu.”

“Apa kau tidak punya telinga Keano?” marah Bryan. O-oww! Ini bukan pertanda baik. “Haha, sudahlah Bryan. Aku tidak bermaksud buruk kok.” Tawa Keano lalu segera

duduk disamping Bobby. “Aku bermaksud untuk mengajakmu bertanding di acara inti pameran

ini akhir minggu.”

 

“Acara inti? Apa lomba itu?” heboh Bobby. “Lomba?”

Keano tertawa. “Astaga, ternyata kau tidak tahu? Apa orang-orang sepertimu tidak membaca brosur pameran sebelum berangkat? Haha.” Bryan mendengus.

 

“Jadi bagaimana? Apa kau berminat mengikutinya? Oh, ayolah! Hadiahnya lumayan kok! Lagipula teman-temanmu akan membantu bukan? Hei! Kalian tidak akan membiarkannya berjuang sendirian kan?”

 

Aku diam, memikirkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi apabila aku mengikuti perlombaan ini, tapi sungguh perkataan Keano ada benarnya juga, Bryan dan Bobby merangkulku lalu mengangguk meyakinkan. Baiklah! Apa salahnya mencoba, bukan?

 

“Baiklah, aku akan ikut lomba tersebut. Tapi harus kamu ketahui aku tidak bermaksud untuk bersaing, oke? Kita berlomba dengan damai siapapun yang akan jadi pemenang nantinya.”

 

Keano tertawa. “Begitu dong! Daritadi aku menunggu kesediaanmu! Baiklah kita akan bersaing secara damai.”

 

Setelahnya Keano pergi dan menjauh dari kami. Aku kembali diam, memikirkan ide apa yang akan aku gunakan untuk mengikuti lomba tersebut. Jarak dari rumahku ke pusat informasi kota sangat jauh, pasti sangat menyita waktu apabalia pergi mencari sumber informasinya disana.

 

“Tenanglah, Lucas,” Ucap Bryan. “Apa yang kau butuhkan? Katakan saja. Kami pasti membantumu kok.” Bobby juga ikut tersenyum.

 

Aku menghela nafas. “Baiklah, aku butuh beberapa informasi dan bahan ntuk membuat alat peraganya. Apa kalian bisa membantuku?”

 

“Kau bercanda ya?” Bobby menepuk bahuku. “Kamu tahu aku paling pintar di bagian merancang! Katakan saja idemu oke? Aku akan membantumu untuk membuatnya.”

 

Aku tertawa, senang sekali rasanya berteman dengan orang-orang yang memahamiku. Oke, Lucas! Ayok bersiap! Perlombaan ini mungkin hal kecil tapi kam tidak boleh menganggapnya kecil! Ayo berjuang! Semangatku pada diriku sendiri.

 

Kami membagi tugas. Bryan bertugas mengumpulkan informasi dan beberapa barang bekas di rumahnya. Bobby juga membantuku dengan memberikan beberapa ide yang sangat aku akui, dia adalah sang kreatif jenius. Bryan juga seperti gudangnya ilmu, hampir semua informasi yang aku butuhkan dapat dijelaskan dan diterangkan dengan mudah.

 

Hampir setiap hari aku, Bryan, dan Bobby bergelut mempersiapkan karya lomba ini. Waktu yang tersisa pun semakin sedikit setiap harinya. Sedikit demi sedikit persiapan materi dan alat peraga yang kami persiapkan sudah hampir siap. Meskipun ini lomba individu atau perorangan, Bobby dan Bryan selalu menolak ketika aku ajak untuk ikut mendaftar.

“Lomba ini bukan untuk kami, Lucas. Kamu punya gaya bicara yang unik dan dapat menarik perhatian dengan mudah. Aku dan Bobby ikut berpartisipasi denganmu saja.” Elak Bryan.

 

“Ah, kau ikut juga akhirnya. Baguslah.” “Apa maumu Keano?” sinis Bryan.

“Bryan sudahlah.” Bobby menatap Keano jengah. Anak ini memang pintar tapi sayangnya begitu sombong! Pikirnya.

“Kenapa? Aku hanya ingin menyapa rivalku. Bukan begitu Lucas?” Keano menatap Bryan. “Ahaha, baiklah baiklah, aku hanya bercanda, oke? Hey, Lucas! Sampai jumpa diatas panggung!” ujarnya lalu pergi meninggalkan kami.

 

Setelah kejadian tersebut, kami memilih duduk di kursi pengunjung dan menunggu giliranku dipanggil. Harus aku akui aku sangat gugup. Kupandangi nomor urut pesertaku yang bertuliskan angka 22. Ah, apa ini adalh ketidak sengajaan yang tiba-tiba? Mengapa tanggalnya?

 

Peserta nomor 21 silakan naik. Keano Heinry!!”

 

Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi aula ini. Kuangkat wajahku dan memperhatikan anak itu yang entah mengapa terlihat sangat tampan dan berwibawa sekali. Mereka yang tidak mengenal Keano pasti akan berasumsi dia adalah anak baik yang terlihat menghabiskan waktunya hanya dengan membaca buku.

 

Kuamati dan mendengarkan dengan seksama apa yang Keano presentasikan. Dan, oh!

Lihatlah karya perganya itu! Dia luar biasa sekali dalam menggunakan jabatan Ayahnya. “Selanjutnya mari kita sambut peserta nomor 22. Lucas Caspian!”

Aku tersentak dan segera naik ke atas panggung tidak lupa dengan membawa alat peragaku. Serangan rasa gugup tiba-tiba menerjangku. Namun senyuman Bryan dan Bobby di ujung sana sunguh membuat semangatku naik. Ya! Mereka sudah membantuku semaksimal ini! Aku tidak boleh mengecewakan mereka.

 

“Terima kasih semuanya! Saya Lucas Caspian akan memberikan pertunjukkan menarik kepada kalian semua saat ini! Apa kalian sudah siap?!”

 

“SIAP!!!”

 

Aku terkekeh. “Ah, nampaknya semangat kita masih tetap membara. Baiklah! Mari kupersembahkan karyaku! Si Hitam!” kutarik kain penutup alat peragaku dan seketika ruangan menjadi sunyi. Aku tiba-tiba panik namun saat melihat reaksi mereka, aku paham mereka bukan tidak terfokus padaku, tapi sedang menikmati karya alat peragaku ini.

 

Aku harus mentraktir Bryan dan Bobby setelah ini! Pikirku.

“Oke semuanya! Mari aku mulai dari sejarah bumi ini terbentuk!” ucapku mengawali presentasi. Kuputar alat peragaku dan menampilkan beberapa gambaran tiga dimensi dan mulai bercerita.

 

Aku tidak menyangka bahwa semua penonton akan seantusias ini. Rasanya sangat menyenangkan dan aku akan mengingat ini untuk kedepannya.

 

“Limbah adalah salah satu masalah terbesar saat itu. Banyak sekali jenis limbah yang dikeluarkan dan sayangnya tidak dapat diurai dengan benar saat itu. Hal tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa tanah mudah longsor serta maraknya banjir. Hal ini tidak lain pastinya dikarenakan kurangnya daerah resapan air dan akar pohon yang sudah tidak maksimal dalam menyerap nutrisi dari air karena airnya sudah bercampur limbah.”

 

“Oleh karena itu, menanam pohon atau reboisasi sangat penting. Aku tahu teknologi kita saat ini sudah sangat maju. Namun, tidakkah kita merindukan oksigen alami? Apa kalian tidak penasaran rasa buah asli dari pohon? Kemajuan teknologi kita yang berkembang pesat saat ini memang sangat menguntungkan. Namun aku merasa masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga bumi ini.”

 

“Aku tidak akan memaksa kalian untuk ikut serta melakukan reboisasi. Namun, aku mengajak kita semua untuk tetap peduli pada lingkungan kita ini! Karena kalau tanpa itu-“

 

Kubuka bagian terakhir alat peragaku yang memperlihatkan bumi yang berwarna hitam legam. “Ini belum terjadi. Tidak! tidak boleh terjadi! Karena bumi ini adalah tempat kita menggantungkan nafas. Kalau bumi ini mati apalagi nasib kita?”

 

Kututup presentasi ini dengan khidmat dan baik. Para pengunjung masih merenung tentang presentasiku. Seseorang menepuk bahuku dari belakang, “Kau hebat sekali kawan.”

 

Aku tertawa, “Terima kasih Bryan.”

 

“Hei! Itu tidak ada dalam naskah presentasimu! Wahh kamu pintar sekali Lucas! Aku bangga sekali berteman denganmu.” Protes Bobby mengacak rambutku.

 

“Wah, wah, lihat siapa yang sedang berpesta disini.”

 

Kami menoleh dan menemukan Keano tersenyum. Tunggu, dia bisa tersenyum semanis itu? Keano, apa kamu sakit?

 

“Jangan berburuk sangka. Aku datang untuk menyampaikan apresiasiku terhadapmu, Lucas. Kuakui presentasimu sangat baik sekali. Nanti ajari aku ya cara berbicara seperti itu. Haha”

 

Tawa Keano berhenti, “Baiklah, kuarasa aku harus menyampaikan ini. Lucas, maukah kamu ikut bersamaku? Kita bisa membangun project tentang bumi ini bersama. Bagaimana?”

 

“Huh, apa-apaan itu? Tiba-tiba kau baik sekali, Keano.”

“Tenanglah, Bryan. Maksudku baik kok. Dari semua peserta aku hanya tertarik padanya. Memang kamu tidak menilai kemampuan berbicara Lucas tadi? Sebenarnya aku ada project tentang permasalahan bumi ini. Jadi aku meminta Ayahku agar di buatkan lomba. Kebetulan sekali sedang ada pameran bertema sama. Jadi kupikir, kenapa tidak mencoba mencari teman kerja melalui kesempatan ini saja?”

 

“Harus kamu ketahui, aku tidak memberitahukan hal ini ke sembarang orang. Setelah aku memilih siapa partnerku aku akan membawanya untuk melakukan beberapa riset tentang permasalahan bumi ini di luar kota. Ah, ada tempatnya namun itu menjadi rahasia. Jadi, Lucas, bagaimana? Kau tertarik ikut denganku?”

 

Aku merenung sebentar. Tidak mudah rasanya mengatakan ‘Ya’ tapi aku penasaran dan ingin sekali ikut. Huh, membuat pusing saja.

 

“Apa aku boleh membawa Bryan dan Bobby juga? Presentasiku tidak akan berjalan sebaik tadi tanpa mereka. Aku membutuhkan mereka, Keano. Jika kamu perbolehkan, aku akan terima tawaranmu.”

 

Bryan dan Bobby jelas terkejut. Sudah kuduga mereka akan protes. Tapi sebelum itu, Keano sudah angkat bicara, “Ahahaha, aku sudah menduganya! Tentu saja boleh, Lucas! Lagipula kedua temanmu itu cukup pintar, kurasa.”

 

“Hey!-“

 

“Shh, cukup Bryan. Tenanglah.” Lerai Bobby.

 

Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya kami semua memutuskan untuk pergi. Surat izin akan diurus oleh Ayah Keano. Aku senang sekali dapat berpartisipasi di acara sebesar ini. Tanpa sadar, pameran sudah mulai sepi dan kami mulai membereskan barang-barang kami, bersiap untuk pulang ke rumah. Pengumuman pemenang akan diberitahukan satu minggu lagi.

 

Namun masih ada satu kalimat yang Keano bisikkan kepadaku sebelum kami berpisah tadi. Dan kata-kata itu masih mengangguku.

 

“Kau tahu Lucas, semua ini ada hubungannya dengan kau dan hasil karyamu itu. Si Hitam benar-benar sesuatu ya!”

 

Huh? Apa artinya itu?

 

*TAMAT*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *