Cerpen #86: “Alam Sang Pecinta Lingkungan”

Alam menatap langit dan menikmati udara di halaman rumahnya. Desa yang dulunya indah dan terjaga keasriannya, mengingatkan Alam akan suatu kejadian beberapa tahun yang lalu, yang membuat hatinya retak bak tergores pecahan kaca.

3 tahun yang lalu..

“ Alam…, subuh sudah lewat nak, bangun.” Ucap Ibu Alam, Lilis.

“ Baik Mak.” Ucap Alam

Alam pun pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Setelah selesai sholat, Alam biasanya keluar rumah untuk menikmati udara segar di desanya yang asri akan hutan lebat dan sungai jernih.

“Ya Oleh.” Jawab Alam

“Sholeh kok gak liat Alam di Mesjid?” Tanya Sholeh.

“Aku kesiangan Oleh.” Jawab Alam

“Ahh kesiangan rupanya.” Ucap Sholeh

“Iya duh.” Balas Alam

“Biasa ya kamu mah, subuh-subuh menikmati udara segar Alam.” Ucap Sholeh

“Iya Oleh biasalah.” Jawab Alam

“Yaudah kalo gitu, Sholeh pulang dulu ya Alam.” Pamit Sholeh

“Iya Oleh hati-hati.” Balas Alam

Alam pun masuk kembali kerumahnya dan langsung menyalakan televisi untuk menonton berita, karena Alam anak yang sedikit tidak suka terhadap kartun.

“Suhu global memanas sejak akhir 1970-an dan cenderung meningkat sampai sekarang, NASA mencatat bahwa tahun 2018 ini menjadi salah-satu tahun terpanas di bumi.” Suara seorang peyiar berita di salah-satu chanel televisi nasional, terdengar sampai ke dapur.

“Pantas saja setiap siang panas banget yang Alam.” Ucap Ibu Lilis

“Iya Mak, pemanasan global semakin meningkat, hutan disebelah selatan juga terancam kering kata Pak RW.”Jawab Alam

“Sebagai aktivis cinta lingkungan, Alam harus mengingatkan warga sebelah selatan agar menjaga hutan terutama jangan sampai warga membuang puntung rokok sembarangan, bulan kemarin kan kejadian kebakaran di hutan selatan, syukurnya itu api tidak besar.” Ucap Ibu Lilis.

“Iya ay ay Mak.” Jawab Alam

Siang harinya Alam bermain bersama teman-temannya dan berkeliling desa serasa mengingatkan warga agar hati-hati terhadap lingkungan yang sekarang mengalami krisis iklim.

“Teman-teman kita sebisa mungkin harus membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi sampah dengan menerapkan 3R, yaitu Reuse, Reduse dan Recycle agar sungai di kampung kita tetap bersih, kalian tahu kan sungai di kampung sebelah sudah terkena limbah dari pabrik tahu kotak.” Ucap Alam kepada teman-temannya.

“Iya benar tuh Alam.” Ucap salah satu teman Alam, Uwais.

Alam dan teman-temannya berjalan sepanjang sungai seraya menikmati keindahan alam sekitar. Tiba-tiba dibagian hutan selatan terdengar teriakan..

“Kebakaran-kebakaran!.”

Alam beserta teman-temannya berlari menuju arah suara dan terlihat bahwa api sudah melahap sampai bagian Barat, dimana rumah Alam berada.

“Emak-emak.” Teriak Alam

Alam berusaha mencari Ibunya sedangkan para warga berusaha memadamkan si jago merah.

“Emak disini Alam”. Teriak Ibu Lilis

“Alhamdulillah Emak selamat, bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Alam

“Waktu Emak pulang dari kampung sebelah, sudah terjadi Alam, kata Pak RT ada yang membuang puntung rokok sembarangan, sedangkan keadaan hutan sedang kering dan suhun panas.” Jawab Ibu Lilis

“Baru juga tadi pagi kita bicarakan emak.” Ucap Alam

“Sudahlah ini semua sudah takdir, kita harus lebih giat dalam menyadarkan warga sekitar, kamu diam Alam, jangan ikut memadamkan api.” Ucap Ibu Lilis saata melihat Alam ingin beranjak

Keadaan kampung Alam sungguh menyedihkan, hampir setengah kampung api melahap, hari-hari sekolah terpaksa diliburkan.

Setelah mengingat hal itu Alam merasa sedih, tetapi didalam hatinya ia bertekad tidak akan pernah menyerah untuk memberikan penyuluhan terhadap pentingnya cinta lingkungan, oleh sebab itu kita sebagai generasi masa depan senantiasa cinta akan tanah air harus senantiasa menjadi teladan dan dengan menjaga kelestarian Alam sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *