Cerpen #84: “Berdamai dengan Masa Depan”

Suara itu terdengar lagi, suara seseorang yang berbisik berasal dari balik pintu lemari baju terbuat dari kayu mahoni yang sudah terlihat tua tepat berada di pojok dalam rumahku. Setiap hari aku berusaha menyadarkan diriku bahwa aku sedang berhalusinasi. Sekeras apapun aku berusaha namun kenyataannya aku sudah sadar dan suara itu benar-benar nyata. Aku pergi ke halaman belakang rumahku untuk berfikir, bahwa ada sesuatu yang ada di dalam lemari tua itu. Sudah hampir 15 tahun aku merasakan ada yang aneh dengan lemari yang entah sejak kapan sudah berada disana. Namun kenyataannya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semua kejadian aneh belakangan ini memaksaku menutup mata untuk terlalu lama. Sekarang tidak lagi, karena aku sudah putuskan untuk membuka mataku dan mencari tahu prihal apa yang ada dibalik pintu lemari tersebut.

Pagi itu tepatnya pukul delapan lebih dua puluh lima menit aku memulai memberanikan diri untuk mendekati lemari itu. Ketika aku mulai membukanya, aku melihat isi lemari itu namun yang aku temui tidak lain hanya pakaian lama tergantung dengan rapi selayaknya lemari pada umumnya. Tidak cukup sampai di situ, akupun mencoba memasuki lemari itu, hingga aku mendapati sebuah gagang pintu berwarna coklat keemasan berada tepat di dalamnya, tanpa berpikir panjang aku mencoba meraih gagang tersebut dan memutarnya. “ha apa ini? kog bisa?” (kataku dalam hati) ternyata gagang tersebut bukan hanya gagang pintu yang nempel iseng di dalam lemari melainkan gagang dari pintu yang bisa dibuka.

Pada awalnya aku berfikir kalau itu adalah pintu menuju sisi lemari yang paling belakang. Namun tidak diduga, pintu tersebut menuju sebuah tempat dimana tempat itu begitu asing di mataku. Itulah hari dimana aku menemukan masa depan.

Aku menengok sebentar untuk melanjutkan langkahku ke dalam. Hingga tanpa sadar kakiku sudah melangkah masuk ke suatu tempat yang berbeda. Tempat apa ini (pikirku) kenapa bisa ada tempat seindah ini didalam lemari? Aku mengira bahwa aku sedang berhalusinasi, mimpi atau hanya hayalan yang berputar di kepalaku saja.

Tiba-tiba

“Minggiir…”(brakkk) “maaf, kau tidak apa-apa?”

“Iya, aku baik-baik saja” (jawabku bingung)

“Kamu dari mana? Apa kamu tersesat?”

“Iya, benar aku tersesat. Bisakah kamu menolongku? (pintaku)

“Tentu saja, mari ikut aku. Rumahku tidak jauh dari sini” (ajak dia)

Entah kenapa aku tidak khawatir, takut ataupun ragu, tanpa berpikir panjang aku menerima ajakan orang yang baru saja aku temui. Rasa penasaranku mendobrak semua ketakutanku, menguatkanku untuk menyusuri tempat tersebut.

“Kamu dari mana?” (tanya dia mengawali percakapan)

“Aku, mmm.. entah aku cuma tersesat saja” (jawabku ragu)

“Namaku Dian, siapa namamu? (tanya dia memperkenalkan diri)

“Amalia, panggil saja Lia” (jawabku)

“Oh, Lia .. maaf iya tadi aku tidak sengaja menabrakmu, jalanan akhir-akhir ini lagi ngambek karena orang-orang industri memperlakukan jalanan dengan seenak jidat untuk kepentingan pribadi” (jelas dia)

“Iya tidak masalah, aku juga salah karena berdiri ditengah jalan seperti tadi, maaf iya Dian” (jawabku)

Aku bingung dengan apa yang dikatakan Dian, jalanan ngambek? Orang-orang industri? Siapa mereka, dan apa maksudnya. Namun aku hanya menyimpan semua pertanyaanku dalam pikiranku saja. Hingga tidak lama kemudian kami sampai di sebuah rumah kecil di tengah hutan.

“Selamat datang di rumahku Lia”

“Kamu tinggal sendiri?”

“Tidak, aku tinggal berdua dengan kakakku, tapi sepertinya hari ini dia akan pulang terlambat” (jelas Dian)

Aku masih terdiam lagi untuk menyimpan semua pertanyaan yang masih berputar di kepalaku.

“Kamu bisa istirahat disini Lia, santai aja”(sambil menunjuk ke sebuah tempat tidur)

“Iya Dian, terimakasih”

“Oh ya, kamu tinggal dimana?”

“Aku,. Hmmm, tapi tolong kamu jangan kaget ya”(pintaku)

“Kenapa?”

“Sebenarnya aku bukan dari sini Dian.”(jawabku ragu)

“M.m.maksudnya?”

“Aku bukan berasal dari tempat ini, aku berasal dari dunia lain”

“Dunia lain?, aku masih belum mengerti Lia”

“Janji iya, jangan bilang ke siapa-siapa?”

“Iya janji”.

Aku pun menceritakan awal kenapa aku bisa masuk dan menemukan tempat ini, sampai Dian paham bahwa dalam sejarah kaum dia, memang ada suatu kepercayaan tentang sebuah pintu yang bisa menembus dimensi lain. Namun dalam sejarah tidak diketahui dengan jelas apa kapan dan bagaimana proses itu terjadi. Namun lebih pentingnya sekarang aku berada dalam sebuah dimensi masa depan.

Hari mulai gelap, akupun meminta Dian mengantarkanku ke tempat dimana aku dan dia bertemu. Sampai di sana aku mencari pintu jalan aku kembali ke duniaku. Namun sebelum itu kami berjanji untuk bertemu lagi.

“Pasti aku akan kembali lagi Dian”

“Iya Lia, aku pasti akan menunggumu”

Setelah berpelukan aku pun kembali ke duniaku. Dengan segera aku keluar dari lemari itu namun tak disangka, hampir sehari di dalam lemari kenyataannya aku kembali diwaktu yang sama aku masuk ke dalam lemari. Itu artinya waktu duniaku dengan masa depan berbeda, seakan-akan di masa depan itu bergerak lebih cepat dari duniaku ini, bahkan di duniaku sendiri tidak ada perubahan waktu sama sekali itu artinya aku bisa lebih lama lagi di sana (pikirku).

Setelah itu aku kembali ke kamar dan menghabiskan waktuku untuk berfikir tentang semua kejadian yang aku alami. Aku sempat berfikir, jika itu masa depan, berarti aku sekarang hidup di masa lalu, jika aku hidup di masa lalu, itu artinya masa depan itu adalah masa depan aku. Berarti apa yang aku lakukan di masa ini akan berdampak di masa depan yang sekarang aku bisa ketahui langsung.

Karena masih ragu dengan semua perkiraanku, aku pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan di pusat kota, tempat dimana aku pasti akan menemukan jawabannya. Perpusatakaan itu tidak jauh dari rumahku, aku hanya perlu naik sepeda untuk bisa sampai disana. Namun tiba-tiba

“Stop, dilarang lewat sini anak muda”

“Tunggu pak, mengapa? Apa ada yang salah?” (jawabku)

“Jalanan ini sedang ditutup untuk proyek baru kami, lihat disana (sambil menunjuk ke beberapa alat berat yang sedang mengerjakan tugasnya)

“Maaf pak, kalau boleh tahu proyek apa iya?” (tanyaku)

“Kamu tidak tahu anak muda? Sudah tiga hari kami disini untuk menjalankan tugas kami. Seorang milyader yang berasal dari pulau seberang sudah membeli tanah disini dan akan dijadikan pusat perbelajanaan yang besar. Hebat bukan?” (jelas petugas)

Apa?, pusat perbelanjaan? Mengapa bisa?, ini kan jalanan umum yang dulunya khusus dibangun untuk para pejalan kaki dan bersepeda. Siapa milyader itu. (gumamku dalam hati)

“Maaf pak, lantas bagaimana nasib kami?” (tanyaku)

“Oh, kalau itu saya tidak tahu anak muda, kan masih banyak jalan, kamu bisa ambil jalan memutar yang berada disebelah toko kelontong di sebelah sana” (sambil menunjuk ke sebuah toko kecil di sebrang jalan)

“Baik pak, terimakasih”

Akupun meninggalkan petugas bangunan itu dan meneruskan perjalananku ke perpustakaan, namun untuk sekarang jalan yang harus aku tempuh cukup jauh karena harus memutar. Sesampai di perpustakaan aku berfikir akan kejadian yang telah aku alami. Sempat aku memikirkan bahwa kejadian itu ada kaitannya dengan yang ada di masa depan.

Aku mulai menulis di buku catatanku mengenai alur kejadian di masa depan dan yang baru saja aku hadapi. Dimasa depan, Dian berkata bahwa akhir-akhir ini jalanan lagi ngambek karena orang industri sedang asyik mengeruk kekayaan. Kemudian ada proyek bangunan yang sedang proses dikerjakan. Dalam otakku dipenuhi pikiran tanpa jawaban, sampai aku menemukan sebuah buku tentang curahan hati sepasang suami istri yang dilanda kebahagiaan diantara hijaunya pohon pinus dan birunya air laut. Buku tersebut berisi tentang harapan-harapan seorang istri diakhir hidupnya. Karena si istri mengidap penyakit kanker dan diprediksi mempunyai waktu hanya satu bulan. Dalam waktu satu bulan tersebut sang suami memberikan kebahagiaan penuh. Namun mataku terfokuskan pada satu penggal kalimat yang berbunyi “ketika aku bisa bahagia dan bebas menghirup segarnya udara, itu artinya alam dan perubahan sedang bersahabat” dan kalimat tersebut diteruskan dalam paragraf lain yang berbunyi “Aku bisa bahagia untuk waktu sekarang, bukankah indah jika besok, dan besoknya aku juga bahagia, andai aku bisa merubah waktu akan kupastikan alam dan perubahan akan terus bersahabat”

Aku tertegun dengan kalimat terakhir, kalimat tersebut telah membuka pikiran dan hatiku untuk bisa mewujudkan impian mereka. Namun aku tidak bisa berjalan sendiri, aku membutuhkan bantuan dari Dian dan masa depan.

Sudah aku putuskan tengah malam nanti aku akan menemui Dian.

Setalah kembali dari perpustakaan aku bergegas untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai proyek baru yang ada di jalan tadi. Namun aku membutuhkan banyak informan untuk bisa menjelaskan dengan detail bagaimana awal mula proyek tersebut, mengapa ada milyader yang akan merubah tempat itu menjadi pusat perbelanjaan. Aku mengitari sepanjang jalan lokasi tersebut, aku megamati sekitar sampai aku bertemu dengan seorang lelaki tua sedang duduk sendiri di bangku dekat lokasi penggusuran tersebut.

“Selamat siang kek?”(sapaku)

“Siang anak muda”

“Kakek kenapa duduk disini sendirian? Apa sedang menunggu seseorang?” (tanyaku lanjut)

“Tidak anak muda, sudah tidak ada yang kakek tunggu, kakek hanya ingin melihat monster perusak segala itu” (sambil menunjuk kearah mesin besar dekat bangunan-bangunan yang telah roboh)

“Sebenarnya itu ide siapa kek? Mengapa ada ide yang mengerikan seperti itu” (tanyaku ingin tahu)

“Dunia makin hari makin keras anak muda, makin mengerikan, perubahan makin menjadi-jadi hingga lupa akan suatu yang sangat penting dalam kehidupan” (jawab kakek tersebut)

“Apa itu kek?” (tanyaku ingin tahu)

“Kebahagiaan, dan senyum sehat dari orang-orang di sekitarmu” (jawab singkat kakek tersebut, sambari beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan aku sendiri)

Selang beberapa menit, aku mencoba meresapi makna dari perkataan kakek tersebut sampai aku sadar bahwa ucapan dia barusan adalah kekecewaan akan orang-orang sekarang yang lebih mementingkan perubahan tanpa mementingkan kebahagiaan orang lain.

Apakah ini pertanda kalau aku harus menebus semua kekecewaan kakek tersebut? meskipun aku tidak kenal dengan kakek itu, aku merasakan kata-kata beliau tulus dari hatinya. Kesedihan yang tergambarkan dalam matanya membuat tekadku semakin bulat. Dan satu-satunya cara adalah menghentikan proyek tersebut. (pikirku dalam hati)

Waktu menunjukkan pukul tengah malam dimana aku harus pergi ke masa depan dan menemui Dian. Aku pun kembali ke dalam lemari dan berjalan menyusuri jalan hingga aku mendapati sebuah pohon yang tidak asing di mataku. Pohon tersebut sangat indah, dilihat dari bentuk batangnya, pohon tersebut pasti berumur lebih dari puluhan tahun, tinggi, dan besar namun rasa kagumku terhenti akan suatu yang menakutkan. Orang industri.

Aku bisa menebak kalau mereka adalah orang industri, karena ketika aku di rumah Dian kemarin, ia menjelaskan sedikit tentang orang industri tersebut yang berbuat seenaknya terhadap hutan didunia ini, satu-satunya hutan yang belum mereka rusak adalah hutan dimana Dian dan kakanya tinggal di dalamnya. Namun malam ini aku melihat orang-orang itu berusaha memasuki hutan ini.

Aku pun menyelinap masuk dan berlari secepat mungkin menuju ke rumah Dian untuk memberitahukan kabar buruk ini.

Sampai di rumah Dian

“Dian, Dian, buka pintunya, ini aku Lia (sambil mengetuk pintu)

“Lia, cepat masuk” (ajak Dian)

“Dian, kamu harus tahu ini, orang industri itu Dian, mereka sedang di hutan ini” (jelasku panik)

“Iya Lia, kami sudah tahu, hari itu, hari dimana kamu sudah kembali ke duniamu, ada perwakilan dari mereka kesini dengan membawa banyak uang untuk membeli rumah dan semua yang ada disini, namun aku dan kakaku menolak untuk memberikannya, kami melawan, namun mereka tetap bersihkeras untuk mendapatkan apa yang mereka mau” (jelas Dian)

“Sekarang dimana kakakmu Dian?”

“Dia bersama teman-temannya sedang menyiapkan rencana penyerangan, penolakan akan penghancuran ini Lia”

“Dian, dengar ini baik-baik iya, (aku pun menjelaskan tentang semua kejadian yang ada di duniaku, dan aku juga menceritakan apa yang sedang aku alami kemaren kepada Dian)

“Jadi, semua ini sangat berkaitan Lia, apa saja yang sedang orang-orang di duniamu lakukan dampaknya ada disini, di masa depan?”

“Iya Dian, aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkan semuanya Dian” (pintaku)

Namun tiba-tiba

“Keluar kamu dari rumahku, dasar manusia tidak punya hati” (teriak seorang pemuda yang belum pernah aku temui, dan itu adalah kakaknya Dian)

“Maaf kak, apa salahku?”(tanyaku ketakutan)

“Kamu kan, orang dari masa lalu itu, yang tidak punya hati dan hanya mementingkan egomu saja” (jelas dia dengan marah)

“Kak, tunggu dulu kak, Lia tidak tahu apa-apa, malah dia yang akan menolong kita” (sambari memisahkan kita berdua)

Kemarahan Kakak Dian pun mereda, setelah beberapa saat aku menjelaskan semua yang sedang aku alami. Kami pun bersepakat untuk menyelamatkan masa depan ini. Kami pun menyusun rencana, dimana Dian dan Kakaknya beserta teman-teman dia yang lain berjaga disini dan menghambat orang-orang industri tersebut. Sedangkan aku kembali ke duniaku untuk berusaha mengehentikan proyek baru yang sedang dikerjakan di masaku.

Aku beregas kembali ke duniaku, tepatnya masih sama, yaitu pukul dua belas tengah malam. Aku pergi menuju proyek tersebut dan aku mendapati kakek yang tadi siang aku temui sedang berada disana. Akupun melihat beliau sedang menanam sesuatu di sekitar jalan bekas galian proyek tadi siang.

“Kek, izinkan aku membantu kakek” (pintaku)

(tersenyum)

Aku membantu kakek menanam pohon pinus disekitar jalan tempat proyek tersebut, hingga tidak lama kemudian mobil suv berwarna putih menghampiri kami. Keluarlah seorang dengan memakai jas, dan berpenampilan rapi layaknya milyader.

“Ayah?” (sapa lelaki itu)

Aku kaget, dan mengira bahwa kakek itu adalah ayah dari lelaki tersebut. namun kakek tidak menghiraukan sapaan tersebut dan meneruskan menanam.

“Apa yang sedang ayah lakukan?” (sambari mendekati kakek tersebut)

Kakek itu hanya terdiam

“Ayah, apakah ayah masih marah denganku? Mari kita pulang ayah?(pintanya)

“Apakah senyum orang-orang berdasi lebih penting dari senyum kami?”(jawab kakek)

“Tidak ayah, tidak ada yang lebih penting dari senyum ayah” (jawab lelaki itu)

“Lantas apa semua ini? (mulai dengan nada tinggi)

“Aku melakukan semua ini untuk ayah”(jelas lelaki itu)

Aku hanya bisa diam melihat perdebatan seorang anak dengan ayahnya.

“Aku tidak perlu semua ini nak, Ibumu juga pasti begitu, tapi kenapa kamu tidak pernah mengerti?” (mulai dengan nada rendah)

“Maafkan aku ayah” (sambari memeluk kakek)

Malam yang sangat panjang dipenuhi dengan percakapan mendalam antar ayah dan anak. Memberhentikan semua masalah yang sedang dan akan terjadi.

Keesokan harinya

Di depan bekas galian proyek

“Selamat pagi semuanya, nama saya Ali Mahera, dan di samping saya adalah ayah saya Mahera Surya. Dengan berkah dari Tuhan dan keinginan ayah saya, saya nyatakan untuk membatalkan proyek pembangunan ini dan sebagai gantinya, akan saya bagun hutan kota, dimana banyak pepohonan, bunga-bunga, siapa saja bisa datang dan main di dalamnya. Saya juga berjanji dan menghimbau untuk seluruh pengusaha kaya dimanapun kalian berada, seperti yang sudah ayah saya katakan bahwa “perubahan itu perlu namun alangkah baiknya jika perubahan tersebut bersahabat dengan alam karena senyum bahagia dan sehat dari orang lain adalah kebahagiaan yang tidak akan bisa ditukar dengan apa saja“(sambung lelaki itu).

Sorak ramai dari banyak orang, senyum bahagia dari setiap kalangan, membuatku teringat dan bertanya bagaimana kabar kalian dimasa depan? Atau lebih tepatnya aku dimasa depan. Pasti lebih bahagia bukan?

One thought on “Cerpen #84: “Berdamai dengan Masa Depan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *