Cerpen #83: “Pemuda Kampung Alergi Panas 39′ C”

Ari adalah seorang pemuda yang beranjak dewasa dengan kedua orang tuanya yang renta sedang makan dalam keadaan sunyi meski sesekali diselingi obrolan tentang masa depannya, kehidupan dunia pendidikannya yang akan menempuh ke perguruan tinggi, dan juga kisah asmaranya. “Bagaimana rencana kuliahmu mas? tanya ibu padaku. “Masih Ari pikirkan lagi bu, takutnya kalo terburu – buru ambil keputusan nanti malah ga sesuai sama kemampuan Ari,” jawab Ari dengan wajah bimbangnya. Bapak yang melihat hal tersebut pun tersenyum, dengan penuh kasih sayang ia menepuk pundak anak semata wayangnya. Seolah mengetahui isi kepala putranya, Bapak pun berkata, “Bagaimana kalau kamu ikut merantau dan berkuliah di Jakarta bersama pamanmu? Supaya kamu juga bisa lebih mandiri nantinya.”  “Eh, Bapak serius kasih tawaran seperti itu ke Ari?” dengan nada agak tinggi Ibu menyela pembicaraan bapak. “Bapak tidak salah ngomong ke Ari, kan? Ibu mana mau mengizinkan kalo Ari pergi merantau dan kuliah di Jakarta apalagi harus ikut sama paman” ucapku yang masih bingung dengan maksud tawaran bapak. Ibu berdecak. “Loh, kata siapa Ibu tidak kasih izin kamu pergi. Kamu boleh saja pergi, apalagi kalo bareng si Anto.” Yah, Anto adalah paman dari keluarga Ibuku. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Ari sudah berada di teras rumah sambil mengikat sepatu hitam yang warnanya mulai memudar dengan semangat dan bibir yang terus tersenyum. Ia bahagia karena hari ini adalah hari terakhir Ujian Nasional untuk para siswa/I SMA. Andi datang untuk mengajaknya berangkat ke sekolah bersama karena Ari tidak memiliki kendaraan yang dapat digunakan untuk pergi ke sekolah. “Yuk ri, buruan udah keburu siang nih,” ajak Andi dengan tergesa – gesa. “Sabar geh bro, kamu juga jemput gue kesiangan.” Jawab Ari sembari berpamitan dengan Ibu yang sedang duduk di bangku teras rumahnya. Di perjalanan mereka berdua hanya mengobrol sambil menyapa para warga yang sudah berangkat ke sawah dengan peralatan dan juga bekal makan siangnya. “Selamat pagi Pak Gimin” sapa Andi pada salah satu tetangganya yang juga ia temui di jalan. “Pagi nak, walah…kamu to bapak kira siapa tadi” jawab Pak Gimin sambil mengelus dada karena terkejut. “Maapin temen saya pak, bu. Dia emang suka iseng kalo sama orang berumur.” Jawabku yang coba membantu Andi agar tidak dimarah oleh Bu Susi yang juga ikut terkejut karena ulah Andi. Kami berdua kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah karena melihat matahari yang kian tinggi menandakan waktu yang terus beranjak siang.

Ujian Nasional berjalan dengan tertib, seluruh peserta menaati peraturan yang sudah ditetapkan oleh guru dan panitia selama ujian berlangsung. Untuk peserta yang sudah selesai ujian dipersilahkan meninggalkan ruangan dan diharapkan untuk segerapa pulang ke rumah masing – masing. Andi dan Ari terlihat berjalan menuju kantin Mbak Sum dengan raut muka yang masam dan rambut yang acak – acakan karena sulitnya soal – soal ujian yang mereka kerjakan. Setibanya di kantin mereka langsung mencari tempat kosong untuk duduk. “Eh..ri, setelah lulus gimana rencana kamu buat kedepannya?” Tanya Andi sembari menarik kursi dari kolong meja kantin. “Bapakku tadi pagi nawarin buat ikut merantau ke Jakarta dan kuliah disana” jawabku dengan muka malas. “Hah…Jakarta? Bapak kamu ga salah ngomong kan? Tumben amat, heran aku” Andi dengan wajah terkejut dan tanpa sadar dia hampir saja jatuh karena kursi yang ia duduki tidak seimbang dengan lantai. Kemudian ku jawab dengan sedikit candaan kepada Andi, “Iya, awalnya juga aku kaget bahkan sampe sekarangpun belum percaya kalo tawaran itu beneran keluar dari mulut bapakku atau jangan – jangan tadi bukan bapakku ya ndi, HAHAHAHA.” “Durhaka kamu ri, bisa – bisanya meragukan bapak sendiri,” Jawab Andi diiringi tawa lepas keduanya. Karena terlalu asyik mengobrol, mereka lupa untuk memesan makan dan minuman di kantin Mba Sum. Kemudian Andi memanggil Mba Sum sang penjaga kantin yang parasnya cantik seperti seumuran dengan kedua pemuda tersebut, “Mbaaaa, kita berdua pesen nasi sama sayur yaa jangan lupa minumnya es beng – beng termantap sejagat kantin,” “Oiyaa mba, jangan lupa tempe nya 2 ya mba.”sambung Ari yang selalu tak bisa makan tanpa tempe. Cuaca hari ini sangat panas sehingga membuat keduanya merasa sangat lelah, es beng – beng yang dipesan pun sudah habis tak tersisa bahkan es batu yang biasanya tidak mereka nikmatipun hari ini habis hanya menyisakan gelas serta sedotan dan sisa – sisa coklat di pinggirannya. “Ri, mager banget aku mau pulang panas banget cuaca” suara serak Andi sambil mengibaskan baju seragam karena sudah basah dengan keringat yang terus mengalir dari dalam tubuhnya. “Kayanya nanti malah hujan deras nih bro,” ucapku dengan yakin. “Ga usah ngedukun elah..makin gerah nih otakku denger lu ngedukun begitu, HAHAHA.” Setelah beberapa saat, mereka pun bergegas kembali kerumah karena matahari yang tak kunjung meredup dan juga mengingat tugas – tugas membantu orang tua di ladang tidak bisa diabaikan. Ari dan Andi menuju parkiran untuk pulang, tiba – tiba di perjalanan “Loh, perasaan tadi di sekolah panas banget deh. Ini kenapa di daerah rumah kita mendung gini sih kan jadi aneh” Ucap Andi dengan wajah bingung. “Apa aku bilang udara panas itu pasti nantinya bakalan turun hujan” Jawabku dengan sedikit menyombong. Kemudian, mereka sampai di depan rumah Ari dan segera juga Andi berpamitan pulang karena tak kuasa menahan terik matahari siang yang membakar kulitnya.

“Assalamualaikum..,” ucapku sambil mengetuk pintu dengan lemas. Tak lama setelah aku mengucap salam, terdengar suara pijakan kaki yang tak lain adalah Ibu ku. “Waalaikumsalam, eh udah pulang ri?” Tanya ibu. “Sudah lah bu, ini loh anakmu yang tampan sudah berada di istana mewah milik keluarga Pak Samsul” Jawabku sambil mencium tangan Ibu ku yang bau bumbu dapur. “Kamu ini bisa aja buat Ibu tertawa dengan lelucon recehmu itu, HAHAHA” tawa ibu pecah dan tak lupa diiringi tepukan manja di lengan anaknya. Setelah itu, aku langsung menuju ke kamar untuk mengganti pakaian sekolahku dengan baju rumahan, dan segera menghampiri Ibu yang sedang memasak di dapur. “Bu, ada yang bisa Ari bantu?” tanyaku pada ibu yang terlihat lelah. “Iya ri, setelah masakan Ibu matang tolong kamu antar ke ladang yaa. Bapakmu belum makan siang soalnya,” “Siap bu, yasudah kalo begitu Ari tunggu di teras ya bu”. Sembari duduk aku kembali memikirkan tawaran bapak perihal merantau dan berkuliah di Jakarta, aku berpikir bahwa nantinya kalau aku pergi lalu siapa yang akan menjaga bapak dan ibu. Tak lama setelah aku merenung, kehadiran Ibu menyadarkan lamunanku, “Ri, ini sudah siap. Tolong antarkan ke bapak yaa! Hati hati di jalan,” “Yaudah bu, kalau begitu Ari pamit ya bu. Assalamualaikum” bersalaman sambil mengenakan sandal jepitku. “Iya, waalaikumsalam”.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 300 meter dari rumah, Ari sampai di gubuk pinggir sawah milik bapaknya. “Pakkk, ini makan siang dari Ibu sudah datang” Ucapku sambil agak berteriak. “Oiya nak, tunggu dulu sebentar lagi bapak selesai” Suara lirih bapak yang sudah lelah sejak pagi sudah berkutat dengan cangkulnya. Tak lama setelahnya bapak sudah mulai membersihkan diri dan siap menyantap makan siang yang sudah aku siapkan di gubuk sawah, “Ayok ri, temani bapak makan.” ajak bapak padaku. “sebentar pak Ari mau melihat sawah bapak yang sebelah timur, sepertinya daun jagung nya agak menguning seperti layu ya pak?” tanyaku heran. Dengan wajah masam bapak menjelaskan, “Iya nak, cuaca makin hari makin ga ke kontrol panasnya  mendung juga Cuma lewat aja dan gak turun hujan. Bapak bingung harus gimana, pohon jagung juga daunnya sudah mulai kaya mau mati,” “Bener banget pak, tadi Aku sama Andi waktu di sekolah juga ngerasa kalo cuaca panas banget padahal pas kita masuk desa sini cuaca nya agak mendung”. Bapak mulai meyuap nasi ke mulutnnya dan akupun melanjutkan perjalanan untuk menengok ladang jagung di sebelah timur sawah milik bapakku. Setibanya aku di bagian timur, benar bahwa daun daun dari pohon jagung sudah mulai menguning dan juga mengelinting karena udara panas dan juga kekurangan air untuk pertumbuhannya. Aku kembali ke gubuk sawah lagi untuk ikut bersama menyantap masakan Ibu yang tiada duanya. Di tengah fokus makanku , tiba – tiba bapak membuka pembicaraan “Bagiamana ri jawabanmu soal tawaran merantau dari bapak?”Tanya bapak padaku.  “Ari belum bisa jawab pak, nanti kalo semisal aku ikut paman terus Ibu sama Bapak siapa yang jagain di sini?” jawabku sambil bersedih. “Kamu ga perlu khawatir nak, kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Bapak pengen kamu sukses walaupun Bapak cuma petani jagung biasa dan Ibu mu juga Cuma mengurus rumah saja. Ayolah nak, pikirkan baik – baik sepertinya di sana kamu bisa mendapatkan nasib yang lebih baik daripada bapakmu ini” sedikit nasihat dari Bapak kepadaku. Aku hanya terdiam bingung dan belum bisa menanggapi obrolan Bapak, aku bingung harus bagaimana karena kehidupan di sana juga tidak mudah pastinya. Perlu modal untuk aku kuliah dan juga kebutuhan sehari – hari yang terbilang cukup besar untuk kalangan orang kampung seperti keluargaku.

Setelah kegiatan makan siang selesai, bapak kembali turun dengan cangkulnya ke kebun dan aku menapakkan kaki untuk kembali ke rumah karena harus menyelesaikan beberapa tugas akhir yang diberikan oleh guru. Sesampainya di rumah aku melihat Ibu sedang menatap langit sambil bergumam, “Ini mendung doing atau mau hujan deres Ya Allah, semoga hujan biar jagung – jagung yang di tanem suamiku tumbuh subur,”ucap Ibu seraya memelas kepada Allah. Aku menghampiri Ibu sambil menenteng wadah makan siang bapak “Bu, ini wadahnya sudah kosong, bapak tadi lahap banget loh bu. Cuaca nya panas jadi bapak lebih semangat untuk menyantap sop buatan ibu, hehehe”. “Oiya nak, gimana kabar tanaman jagung bapak?”. Tanya Ibu padaku. Kemudian Ari dengan ragu menjawab “Anu bu, emm..tanaman jagung bapak daunnya pada kuning lay uterus pada ngelinting karena kepanasan”. Terlihat raut kecewa dari wajah ibu membuatku tak kuasa untuk melihat itu, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dalam dan segera mengerjakan tugas seperti tujuan awalku pulang ke rumah. Duduk di meja belajar dengan setumpuk buku – buku tebal sumber tugasku, aku kembali merenung dan teringat tawaran merantau dari bapak, aku sangatlahbimbang untuk memutuskan iya atau tidak karena menurutku hal ini tidak bisa dibuat mainan, kuliah pun harus perlu biaya banyak dan juga niat yang penuh untuk menjalaninya. Aku hanya takut nantinya jiwa aku main main dengan keputusan yang telah aku buat malah akan mengecewakan Bapak dan Ibu di kampung. Aku berpikir untuk memohon petunjuk dari Allah agar nantinya aku tidak salah langkah di masa depan hanya karena keputusan yang ku ambil terlalu terburu – buru. Malam itu, aku merasa kulitku mulai panas dan juga sedikit menggelap karena seharian berada di luar rumah. Sejak kecil aku tidak bisa untuk terkena teriknya matahari siang secara langsung apalagi ditambah cuaca ekstrim yang makin hari suhunya makin meningkat. Ibu pergi ke kamar sembari membawa salep rutinku, “Nak, ini dipake dulu biar besok pagi tidak makin parah alergi nya” ucap Ibu sambil menyodorkan salep yang sudah digulung ujungnya. “Iya bu, terimakasih” jawabku sambil bangun dari duduk. Setelah Ibu meninggalkanku sendirian di kamar aku langsung mengoleskan salep itu ke bagian tangan dan juga bagian dahi seperti biasanya yang ku lakukan setiap malam jika alergi kambuh.

Keesokan paginya, Andi mengajakku pergi ke sekolah untuk menemaninya mengurus berkas – berkas guna keperluan mendaftar TNI. Aku sebagai teman yang baik selalu mengiyakan ajakan temanku itu, sesampainya di sekolah aku bertemu dengan salah satu guru favoritku sedang duduk beristirahat sendiri, lalu ku hampiri seraya menyapa. “Assalamualaikum, Bu Dewi apa kabar nih? Lama banget ga ketemu Ari kayanya yah,” “Eh waalaikumsalam ri, iya ibu jarang banget ketemu kamu. Akhir – akhir ini kan ibu mengawas ujian di sekolah lain jadinya tidak bertemu sama kamu”. “Oiya ri, gimana kelanjutan pendidikan kamu? Ibu dengar dari Andi kamu mau kuliah di Jakarta ya?” Tanya Bu Dewi antusias. “Eh si Andi kok cerita – cerita ke Ibu sih, padahal kan belum pastisaya keterima di kampus Jakarta” Jawabaku kikuk. “Sudahlah ri jalani semuanya seperti air mengalir saja, ya walaupun sekarang udara lagi panas – panasnya tapi kan hidup harus tetep adem” Bu Dewi yang terkekeh sambil menyemangatiku. “Tapi bu, Ari takut nantinya malah mengecewakan orang tua karena keputusan yang ga sesuai sama kemampuan Ari.” “Nak, semua itu perlu proses, perlu perjuangan. Kalo kamu belum mencoba ya gimana kamu mau tau hasil akhirnya kan? Lihat anak muda sekarang banyak yang pengangguran, apa kamu mau menyusul mereka?” “IHHH…amit amit dah bu, saya mau membanggakan orang tua saya bu” jawabku spontan karena takut omongan Bu Dewi benar benar ku alami sendiri. Setelah mengobrol banyak dengan Bu Dewi tak lama Andi menghampiri kami berdua dan menyalami Bu Dewi, “Eh..Ibu makin hari makin cantik aja nih,” goda Andi pada Bu dewi. “Halah kamu ndi kebiasaan menggoda temen wanitamu, Ibu juga malah ikutan kamu goda. Dasar pemuda” Ucap Bu Dewi meremehkan godaan Andi. “Ari, ayok balik rumah. Keburu panas lagi ntar badan kamu makin menghitam. HAHAHA” ajak Andi sambil bercanda, “Oalah alerginya si Ari masih melekat dengan kuat to nak? Biasanya kalo alergi begitu nantinya setelah menikah bisa sembuh loh” sela Bu Dewi pada obrolan kedua pemuda tersebut. “Ahh Ibu, saya menikah juga masih lama bu bahkan belum ada bayangan untuk kesana karena calonnya juga belum ada” jawab Ari sambil bernada malas. “Yaudah ayok ndi pulang, malah keasyikan ngobrol nanti sama Bu Dewi”. Kami berdua pun berpamitan dengan Bu Dewi dan segera bergegas ke parkiran dan pulang menuju rumah.

Setibanya di rumah Ari melihat bapaknya yang sedang duduk beristirahat di bangku teras rumahnya, “Assalamualaikum pak, kok tumben sudah pulang dari ladang?” tanyaku heran. “Iya nak, bapak lelah karena cuaca juga panas banget jadi mending pulang dulu lanjut nanti sore biar terik mataharinya agak reda” jawab Bapak sambil mengibaskan topi capil miliknya. Aku kemudian memutuskan untuk duduk dan mengobrol dengan bapak, “Pak, satu minggu lagi Ari pengumuman kelulusan. Doakan semoga Ari lulus dengan nilai yang memuaskan ya pak” Ucapku dengan nada memohon. “Lalu nak, bagaimana soal merantau yang pernah bapak tawarkan ke kamu?” Tanya bapak padaku. “Oiya pak, Ari udah memutuskan besok 2 hari setelah kelulusan mungkin kalo boleh sama bapak dan Ibu saya mau pamit buat ke Jakarta menyusul paman. Bagaimana pak?” tanyaku ragu. “Ya kalo memang itu keputusan kamu bapak dan ibu akan selalu mendukung dan terus mendoakan yang terbaik buat kamu nak”. jawab bapak dengan mantap. “Baik pak kalo gitu nanti Ari juga izin ke Ibu juga, terimaasih pak,” sambil memasuki rumah meninggalkan bapak yang masih setia duduk di bangku teras rumah.

Hari pengumuman kelulusan pun tiba, semua siswa sudah saling berpelukan satu sama lain dengan kawan karibnya. Aku dan Andi duduk di bawah pohon beringin dekat lapangan sambil sesekali bergurau. “Ga nyangka ya ndi, 3 tahun itu ternyata singkat banget buat kita. Oiya, 2 hari lagi aku berangkat ke Jakarta ikut pamanku merantau doain ya aku lancar di sana, kamu juga semoga lancar dan lolos seleksi TNI nya,” ucapku sambil merangkul pundak Andi. “Iya ri, kalo udah sukses jangan lupain ya kalo kita pernah berkawan. Tiap pagi kan aku yang jemput kamu di depan teras rumah kalo sampe dilupain parah banget dehh, HAHAHA,” Setelah mengobrol di bawah pohon, mereka berdua akhirnya kembali ke kelas untuk segera bergegas pulang karena cuaca terik sudah mulai terlihat.

Dua hari berlalu, akhirnya aku diantarkan bapak menuju terminal bus menuju Jakarta. Dalam perjalanan Bapak tak henti – hentinya menasihatiku untuk tidak lupa meninggalkan ibadah dan juga mengabari Ibu dan Bapak bagaimana kehidupan di sana nantinya. Sesampainya di terminal, “Pak, Ari pamit dulu yaa jaga Ibu ya.”pamitku dengan menahan tangis. “Iya nak kamu ga usah khawatir bapak udah pasti akan jaga Ibu. Kamu jaga kesehatan disana yaa sampaikan salam Bapak dan ibu untuk paman” ucap bapak sembari memelukku. Setelah berpamitan aku langsung menuju bus keberangkatan dan memberikan tiket kepada petugas bus langsung menuju kursi nomor 23. Selama di perjalanan aku tertidur pulas karena tadi malam aku tidak bisa beristirahat. 6 jam perjalanan menuju Jakarta, akhirnya aku sampai di terminal tujuanku dan di pintu keluar aku sudah melihat pamanku yang sudah menunggu keponakan tampannya. “Assalamualaikum paman,” “waalaikumsalam Ari” Jawab Paman sambil menjabat tanganku. Aku yang baru keluar dari terminal pun merasa terejut dengan udara Jakarta yang menurutku lebih panas dari udara di desa, aku cemas dengan alergi yang ku punya. Aku takut nantinya tak bisa bertahan hidup karena cuaca Jakarta yang panas terik. “Udara Jakarta panas banget yaa man” ucapku sambil memasangkan manset lengan untuk melindungi kulitku. “Iya ri, hari – hari di Jakarta ya begini panasnya kalo untuk warga desa sii katanya ga umum” jawab paman sambil terkekeh. “yasudah ayok motor paman di parkiran” Ajak paman dan aku pun mengikutinya. Sesampainya di kontrakan paman, aku bergegas untuk membersihkan diri dan juga mandi karena udara luar sangat panas membuatku sangat gerah.

Malam harinya, Paman menghampiriku duduk di ruang tamu dan bertanya, “Kapan kamu tes masuk perguruan tinggi, Ri?” “sepertinya masih satu bulan lagi paman”. “Emm masih lama juga yaa, kalo begitu besok ikut paman kerja di proyek saja dulu daripada kamu Cuma diem di kontrakan. Gimana? Tanya paman padaku.”Oke man, aku ikut daripada bosen disini sendiri. Hehehe”. Malam itu kami habiskan untuk mengobrol karena sudah lama aku dan paman tidak berjumpa dan juga bercerita masa kecilku yang menurut paman nakalnya di atas rata – rata. Suara ayam berkokok sudah terdengar di telingaku dan cahaya matahari mulai menembus jendela kamar dan mulai menganggu mataku, kemudian aku pun mengingat ajakan Paman semalam untuk ikut dengannya ke proyek tempat kerjanya dan aku pun segera bergegas untuk mandi dan bersiap siap. Selesai mandi aku keluar kamar dan sudah melihat paman yang sudah siap dengan sarapannya kemudian aku duduk di sampingnya “Maap paman, Ari terlalu lelah sepertinya jadi tidurnya terlalu nyenyak hehe” ucapku dengan kikuk. “Iya tidak papa, nih paman sudah beli nasi uduk untuk kita sarapan. Sok dimakan atuh” sambil menyodorkan nasi uduk pada ku. Setelah sarapan kami pun berangkat ke tempat proyek selama 10 menit dari kontrakan. Aku terkejut ketika sampai di daerah kawasan proyek tersebut karena disana udara sangatlah panas dan tidak ada sama sekali pepohonan, seketika itu aku dibuat ketar ketir memikirkan alergi ku. Apabila alergi makin parah takutnya menganggu fungsi organ tubuhku yang lain, aku langsung berbicara dengan paman. “Paman, ini tempat proyeknya?” tanyaku berharap bahwa jawabannya adalah bukan. “Iya ri, ini teempat paman bekerja, ada masalah?” “Emm man, apakah paman lupa kalo keponakanmu ini alergi udara panas matahari yang tinggi? Lagian ini bukannya awalnya hutan rimbun ya kenapa sekarang jadi gersang begini man? Apa gak mengganggu ekosistem alam dan nantinya juga pasti berdampak ke iklim Jakarta ini” tanyaku beruntun pada Paman. “Ya mau gimana lagi ri, pembangunan di era globalisasi memang berdampak buruk untuk kehidupan. Tapi kan ini salah satu bentuk kemajuan untuk Indonesia juga” Jawab Paman dengan pasti. “Tapi man, kalo hutan di Indonesia makin habis nantinya juga kan bakalan banyak bencana yang terjadi, apalagi di Jakarta kan sering banjir harusnya hutan dijaga bukan malah di buat gundul lalu digunakan untuk membangun bangunan bangun besar begini”. “Sebelumnya mohon maaf man, tapi sepertinya Ari ga bisa ikut kerja disini karena alergi nya pasti setiap malam akan kambuh dan pasti akan merepotkan paman nantinya.” Ucapku sambil menahan sakit karena kulitku yang sudah mulai memerah. “Maap ya ri, yaudah kamu bawa motor paman aja sana pulang ke kontrakan daripada alerginya nanti makin parah.” Suruh paman sembari memberikan kunci motornya padaku. Aku segera bergeas pulang, namun karena diperjalanan tanganku makin terpapar sinar matahari mengakibatkan tanganku membengkak dan selama perjalanan aku banyak melihat bangunan bangunan tinggi perkantoran dan juga rumah – rumah mewah yang rata rata temboknya kaca. Aku berpikir bahwa udara panas ini merupakan krisis iklim di daerah Jakarta dan juga dampak dari penghabisan lahan hutan untuk kepentingan kemajuan Indonesia itu sendiri. Miris melihatnya, apalagi untukku yang punya alergi panas ini. aku bingung bagaimana bisa aku bertahan hidup di udara panas seperti ini sedangkan alergi ku dihari ke dua aku di Jakarta pun sudah kambuh dengan lumayan parah. Perkembangan zaman yang pesat ini membuat iklim cuaca di daerah kota semakin panas dan membuat masyarakatnya kadang resah dengan perubahan yang semakin hari semakin menyiksa suhu normal mereka. Krisis iklim seperti ini juga dipengaruhi oleh banyaknya kendaraan pribadi yang digunakan oleh warga Indonesia, salah satu alternatif untuk mencegah krisis iklim mungkin pemerintah dapat membantu membangun fasillitas transportasi umum yang dapat digunakan oleh para warga Indonesia yang tinggal di daerah kota Jakarta. Selain itu, bisa juga ditanami pohon di pinggir jalan agar polusi yang dihasilkan kendaraan dapat diserap oleh tumbuhan tersebut supaya udara yang ada di Jakarta tidak begitu panas.

Sesampainya di kontrakan aku merasa badanku semakin lemas karena dalam perjalanan aku terus berusaha menahan sakit karena alergiku yang kambuh. Tangan yang merah dan mulai membengkak sudah terlihat di mataku, aku bergegas mandi untuk meringankan sakit di tanganku. Namun, saat didepan kamar mandi Ari terjatuh dan pingsan. Tak lama setelah Ari pingsan di kontrakan paman pun pulang dan langsung terkejut melihat keponakannya sudah tergeletak di lantai dengan muka pucat. Paman dengan sigap langsung membawanya ke puskesmas terdekat. Sesampainya di sana Ari langsung ditangani oleh mantra yang bertugas, tak lama kemudian Paman diberitahu bahwa kondisi Ari baik – baik saja hanya tadi karena dia panik dan terlalu menahan sakit akhirnya mengakibatkan dia pingsan tanpa ada yang tahu. 2 jam setelah beristirahat, Ari diperbolehkan pulang dari puskesmas. “kamu kok bisa seperti ini sih ri, besok besok bagaimana kegiatanmu diluar rumah. Jakarta panas begini kan juga setiap hari, apa mau kamu hari hari harus ke puskes karena alergi kumat” omel paman padaku. “Aku juga tidak tau harus gimana paman, awal datang kesini aku pun terkejut dengan udara panas Jakarta. Apalagi hari ini aku ikut paman ke tempat kerja yang sama sekali tidak ada pepohonan disana” bela Ari. “Yaudah besok kamu istirahat saja dirumah, Negara kita ini sudah banyak melakukan pembangunan yang melibatkan dan mengorbankan lahan pemukiman dan hutan untuk kepentingan kemajuan Negara maupun pribadi. Jadi, wajar saja jika pembangunan ini akan berdampak ke iklim Negara kita” penjelasan paman. Akhirnya aku kembali ke kontrakan bersama paman sambil tertatih – tatih. Sudah satu bulan aku hanya berdiam diri di rumah paman sambil sesekali bercengkrama dan bersosialisasi dengan tetangga kontrakan. Melihat kondisi panas seperti ini membuatku mulai bisa beradaptasi walau kadang masih tetap harus meminum dan memakai salep anjuran dari mantra puskesmas. Aku bersyukur masih dapat bertahan hidup dengan suhu udara tinggi dengan alergi yang ku idap. Besok aku sudah mulai berkuliah di perguruan tinggi negeri yang tak jauh dari kontrakan milik paman, aku kembali bertemu dengan teman – teman baru yang nantinya akan menjadi temanku selama 4 tahun kedepan. Semoga aku bisa tetap bertahan hidup walaupun alergi panas matahari 390C masih tetap ada dalam diriku.

Pembangunan yang merata di kota Jakarta membuat perubahan pesat tentang masalah iklim, semula Jakarta yang bisa dikatakan tidak begitu tinggi suhu dalam hari – harinya sekarang malah bisa mencapai 400C. sebagai generasi penerus kita seharusnya mengimbangi antara pembangunan dan juga menjaga iklim agar tetap normal. Akibat pembangunan di Jakarta saat ini, krisis iklim pun melanda dan jika dibiarkan terus menerus dapat membahayakan warga Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *