Cerpen #82: “Sang Tukang Kebun”

Hiruk pikuk terjadi di ruangan kerja berukuran lima kali empat meter ini. Ada tiga orang berpakaian dinas Brimob berwarna hitam dengan rompi anti peluru, lengkap dengan aksesori yang wajib dipakai manusia pada tahun ini, 2121. Tahun dimana penggunaan masker merupakan sebuah kewajiban untuk mempertahankan hidup. Sangat ironi memang, di tengah pesatnya kemajuan industri Kecerdasan Buatan, manusia kini dituntut untuk menggunakan alat penopang hidup. Berbeda dari 100 tahun lalu, saat pandemi Covid 19 membuat manusia harus menutup alat respirasinya dari virus, kini makhluk yang niscaya serupa dengan gambar Allah ini harus menggunakan masker untuk mendapatkan oksigen. 

Masker yang dipakai ketiga orang ini, merupakan masker transparan berbahan lateks ini dilengkapi dengan dua mesin bulat di sebelah kanan dan kiri, tepat di bagian rahang pemakainya. Mesin seukuran tutup botol ini berfungsi selain menyaring udara, fungsi utamanya adalah melepaskan senyawa oksigen yang disimpan di tabung yang mencuat mendatar di bagian depan mulut.

Seorang di antara mereka bertiga, bernama Jared. Postur pria ini terlihat paling besar di antara mereka, 180 sentimeter, lengkap dengan lencana Garuda berwarna perak pada bagian atas saku kanan pakaiannya, menjelaskan posisinya sebagai pemimpin di satuan tugas itu. Garuda melambangkan kebebasan dan pengabdian, sesuatu hal paradoksal dan ambivalen mengingat segala sumber perintah berasal dari sosok yang berpangkat lebih tinggi, dan kini Jared pun mencapai puncak kulminasi pergolakan batinnya.

“Rekan-rekan, aku tidak ingin kita gegabah mengambil keputusan saat menjalankan misi ini.” Sambil membersihkan punggung pistol MAG10 nya, Jared memperingatkan kedua rekan setimnya. “Situasi kini semakin kacau, dimana tingkat polusi udara sudah mencapai 280 AQI US. Banyak orang di luar sana akan iri melihat kita memakai Masker Bane-Tek ini.” Imbuh Jared seraya menunjuk logo Bane-Tek di tabung oksigen pada masker transparan yang dipakainya itu.

“Siap Komandan. Laksanakan!” Teriakan keluar dari mulut Iqbal sambil membuat sikap hormat senjata dengan senapan laras panjangnya. Personil termuda di Satuan Tugas Garuda Kencana Tujuh ini memang paling aktif dan terlihat paling serius di antara yang lainnya. Postur Iqbal lebih pendek daripada kedua rekannya, dengan badan yang sedikit berotot. Terlihat ada bekas luka gores melintang di bawah mata kirinya.

“Sudahlah, Bal. Tidak perlu berteriak seperti singa. Di sini bukan Akademi tempat kamu diplonco hingga mendapatkan luka di pipi halusmu itu.” Kalimat ini meluncur dari Aksan, satu-satunya anggota yang berkacamata, yang sambil duduk menasihati Iqbal. Jemari tangannya sedang mengetikkan sesuatu di depan laptop canggih berwarna putih. Penampilan Aksan meskipun setinggi Jared, cenderung lebih kurus dan lebih rapi dibandingkan kedua rekannya yang lain.

“Apa informasi yang sudah kamu dapatkan dari satelit, Aksan?” Tanya Komandan Jared pada rekan ahli komputernya itu.

“Satelit mengindikasikan, bahwa ada penimbunan senyawa oksigen skala besar terjadi di daerah Kota Tua. Di sebuah gudang yang beradu punggung dengan Museum Bank Indonesia. Daerah itu kini merupakan kekuasaan Geng Hamit-Hakan, kakak-beradik mafia peranakan Turki.”

“Aku pernah bertemu mereka sekali di penggerebekan narkoba kawasan Menteng. Mereka berdua sangat licin, dengan kawalan paling tidak lima orang untuk seorang dari mereka.” Jelas Komandan Jared Sandofal.

“Apakah mereka Residivis, Komandan?” Tanya Iqbal membuntuti keterangan atasannnya.

“Mereka bersih, tidak pernah sekalipun tertangkap. Tipikal pedagang perantara. Jadi aku sendiri agak heran, mengapa bisa ada barang bukti sebanyak ini di gudang miliknya.” tambah Sang Komandan.

“Kemarilah, Jared. Ada sesuatu yang janggal.” Seketika panggilan dari Aksan ini membawa kedua rekannya beranjak untuk berdiri di samping kiri dan kanan tempatnya terduduk.

“Lihat peta oksigen hasil pemindaian. Satelit menunjukkan seluruh gudang yang luasnya dua puluh kali dua puluh meter itu penuh dengan oksigen. Seharusnya penuh dengan 400 tabung.  Tapi kadar oksigennya hanya setara dua tabung enam meter kubik saat ini. Apa mereka sudah menemukan jenis tangki yang tidak bisa dipindai satelit?” Aksan tampak bingung karena kepercayaannya pada sains dan teknologi yang melebihi apapun, menjelaskan bahwa citra satelit tak mungkin salah.

“Aku pernah mendengar tentang penggunaan tembaga pada campuran besi membuat daya panasnya akan meningkat jika dipindai oleh sinar. Tapi akan beresiko mengantarkan arus listrik dan merusak isi nya.” Demikian Komandan Jared coba berhipotesa. 

“Masuk akal juga, Jared. Asalkan pengiriman tabung itu dipastikan tertutup, maka tidak akan ada resiko konduksi pada tabung nya.” Kalimat Aksan mempertegas bahwa baginya tidak ada perbedaan tingkat antara komandan militer dengan seorang Master sains dan teknologi sepertinya. Malah ia menganggap dirinya lebih superior dibandingkan Jared, apalagi seorang kadet culun seperti Iqbal Putra.

“Jadi, menurut Komandan, pasti ada 400 tabung oksigen di lokasi itu? Dan kita akan menangkap tangan mereka disana hanya dengan bukti satelit ini?” Tanya Iqbal pada Komandannya.

“Dengan kemajuan Teknologi sekarang, hukum sudah bisa ditegakkan dengan penggunaan Kecerdasan buatan, Kadet.” Sembur Aksan melihat kepolosan rekannya itu.

“Benar apa yang dikatakan Aksan. Sudah terlampau kuno jika kita menunggu terjadinya transaksi dahulu baru menangkap mafia-mafia ini. Kita harus melihat kegagalan penanganan Narkoba. Tidak ada yang bisa dipindai dari serbuk setan itu hingga kita selalu kecolongan menangani peredarannya, tidak seperti mafia oksigen ini.” Jelas Sang Komandan.

“Sedang dikembangkan, Jared. Tenang saja. Kami para spesialis teknologi pasti akan dengan cepat memastikan alat yang sudah prototype ini segera berfungsi, dan tugas Kepolisian Satuan Pemberantasan Narkoba akan menjadi ringan.” Aksan dengan kepercayaan dirinya menjelaskan bidang dari perusahaan yang mempekerjakannya, yakni Bane-Tek.

“Maaf. Saya sepertinya tidak sependapat dengan Aksan, Komandan. Menurut saya..” sebelum menyelesaikan kalimatnya, Iqbal dikagetkan oleh teriakkan marah Aksan.

“Siapa yang meminta pendapatmu, Kadet Bodoh! Tugasmu disini hanya menuruti perintah dari Jared dan atas analisa dataku!”

“Sudah tenanglah, Aksan. Kembali buat analisamu. Iqbal, mulai kini coba tutup mulutmu karena kita sedang diburu oleh Jendral untuk penanganan kasus ini. Lakukan apa yang kami perintahkan saja.” Demikian cara Komandan Jared Sandofal melerai kedua rekannya seperti ketua RT mendamaikan majikan dan Asisten Rumah Tangga yang saling cek-cok.  

“Selesaikan analisamu, Aksan. Dan kita akan berangkat dalam lima belas menit lagi. Iqbal, Ayo ikut aku menaikkan amunisi kita ke bagasi.” Perintah Jared ini segera dilaksanakan dengan cepat oleh Iqbal, namun dibalas dengan tak acuh oleh Aksan Momota.

Sesampainya di belakang mobil SUV hitam, mobil militer empunya Komandan Jared Sandofal, mereka berdua segera memasukkan dua buah kardus. Dimana masing-masing nya berisi satu senapan laras panjang lengkap dengan dua lusin longsongan pelurunya yang dipercayakan pada Iqbal untuk mengisinya.. Setelah mereka meletakkannya di atas karpet hitam bagasi, Jared menarik tubuh Iqbal ke dekatnya untuk memberinya wejangan.

“Dengar, Iqbal. Bane-Tek kini merupakan BUMN dengan tingkat pendapatan terbesar di Indonesia. Kamu tahu posisi mereka untuk militer kini, kan?”

“Siap, Komandan. Mohon maaf, saya tahu Komandan,”

“Ya, dengan statusnya sebagai penyandang dana untuk seluruh anggaran militer negara, bisa dipastikan mereka akan selalu mengawasi setiap gerak-gerik kita. Aksan Momota adalah salah satu mata dari Bane-Tek.”

“Siap, Komandan. Jadi saya harus bersikap bagaimana, Komandan?”

“Untuk saat ini hingga nanti di Tempat Kejadian Perkara, asumsikan pendapatnya adalah benar. Tapi ketika di lapangan, perintahku sebagai atasanmulah satu-satu nya sumber kebenaranmu. Paham?”

“Siap, paham Komandan. Maaf ijin tanya Komandan, apakah Komandan mengenal Aksan secara personal?”

“Ya, Iqbal. Aku masih mengingatnya sejak kami bertemu sepuluh tahun lalu di sebuah konferensi Sains di Surabaya. Ketika itu aku masih setahun memasuki pendidikan kepolisian dan dikirim oleh satuan untuk pertukaran info dalam konferensi itu.”

“Jadi Aksan merupakan peserta juga, Komandan?”

“Bukan. Aksan Momota, Master Sains dan Informatika lulusan terbaik Universitas Indonesia, merupakan salah satu pembicaranya.”

“Berapa umurnya saat itu, Komandan?”

“Dua puluh satu tahun, Bal. Dia seumuran denganku. Hanya dua tahun lebih tua darimu, dengan segudang prestasi yang dia tunjukkan bagi Negara. Dia sewaktu itu membicarakan tentang gagasannya membuat pohon buatan dengan nano teknologi, yang kini sudah menghiasi wajah Negara kita.”

“Apakah Komandan merasa inferior dibandingkan dengannya?”

“Enak saja, sama sekali tidak! Kamu tahu bahwa selalu ada kepentingan yang lebih diutamakan dalam sebuah tindakan. Kita tidak bisa membahagiakan semua orang. Kepentingan Negara berada di urutan pertama. Aku sudah sepuluh tahun menjalankan sejumlah misi untuk Negara sejak lulus dari kesatuan. Aku merasa tahu lebih banyak tentang hal-hal di lapangan, daripada seorang kutu buku yang mengandalkan Internet untuk mendapatkan data. Sekarang dia merupakan sekutu kita, tetapi suatu saat di bisa menjadi lawan kita, Iqbal. Jadi waspadalah.”

“Kutu buku yang mengandalkan data, seperti itu besarnya kebencian Komandan pada para ilmuwan ini.”

“Jangan panggil mereka ilmuwan, Iqbal. Cukup panggil mereka teknokrat.”

“Ahli Teknologi yang menjadi birokrat. Semakin dangkal arti cendekiawan sepertinya Komandan.”

“Boleh juga pengetahuan umum mu, Kadet Iqbal. Tidak rugi bagiku kesatuan menempatkanmu jadi partnerku.”

“Siap Komandan. Terimakasih pujiannya Komandan”

Selang beberapa detik pembicaraan mereka selesai, Aksan terlihat keluar dari pintu gedung itu menuju ke kedua rekannya. Ia terlihat hanya menjinjing laptop di genggaman tangan kirinya, sedangkan matanya terus memperhatikan layar pada ponsel pintar yang digenggam tangan kanannya. 

“Sudah kutandai lokasinya, Jared. Mobil akan autopilot menuju ke tenggara Museum Bank Indonesia. Di sana kita akan berhenti di Pasar Glodok.”

“Lalu bagaimana dengan informasi keberadaan Hamit dan Hakan?” Jared menanyakan detail kepada Aksan.

“Ayo masuk, kujelaskan di dalam. Panjang ceritanya.” Jawab Aksan yang disambut seringai tidak enak dari Sang Komandan Regu itu.

Mobil ini berbentuk tidak jauh berbeda dengan mobil SUV 100 tahun lalu, hanya saja cara mengemudinya menjadi autopilot. Menggunakan sensor di sekeliling mobil plus penggunaan GPS untuk menentukan arah, membuat mobil di waktu kini bisa berjalan tanpa menggunakan jasa pengemudi di dalamnya. Mobil dinas ini berwarna hitam, baik eksterior maupun interior di dalamnya. Khas sekali warna Detasemen Khusus yang menangani masalah kegawatan seperti teroris dan narkoba. Hanya saja yang berbeda adalah ketiadaan kursi supir di bagian depannya. Dimana ada dua baris kursi yang masing-masing cukup untuk dua penumpang. Sementara kursi penumpang yang biasanya berada di kiri depan, kini diganti oleh layar LCD yang serong ke arah tengah untuk menunjukkan enam layar kecil yang dapat diganti inputnya sesuai kebutuhan.

Mobil inipun berjalan meninggalkan gedung itu, dimana di bagian gapura depan tertulis dengan warna hitam, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, dengan melewati tol dalam kota Jakarta. Waktu yang cukup bagi Aksan Momota untuk menjelaskan detail kasus ini kepada Komandan Jared Sandofal. Sementara justru perhatian Kadet Iqbal Putra tidak bergeming dari pemandangan yang berada di setiap bahu kanan jalan yang dilewati, dimana ia duduk sendirian di kursi paling belakang sebelah kanan. Dengan senapan laras panjang di pelukannya, Nampak tidak memperhatikan sepatah katapun dari Aksan.

“Akan aku jelaskan dengan cepat. Aku harap kalian yang kurang mengerti teknologi dapat menyerapnya dengan baik.”

“Lanjutkan.”

“Di dalam gedung itu ternyata bukan tabung oksigen seperti yang aku duga sebelumnya. Akan sangat terlihat mencolok apabila menimbun sebanyak itu di dalam sebuah gudang terbuka. Tepatnya, ada 200 pohon sintetis ciptaanku yang ada di  sana.”

Wajah Iqbal akhirnya bergeming dan menatap tajam ke arah Aksan. Kemudian ia melihat lagi ke luar jendela. Kali ini dilihatnya langit yang berwarna biru muda bercampur aprikot. Tampak lumayan cerah untuk masa ini, dimana tingkat polusi sudah jamak di angka 280 AQI US, sementara waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

“Dalam sebuah konferensi sepuluh tahun lalu, tesisku mendapat perhatian yang sangat baik dari Menteri Riset dan Teknologi. Penelitian yang aku jalankan adalah menciptakan pertumbuhan buatan dengan menggunakan nanoteknologi untuk mempercepat fase vegetatif pada tanaman. “

“Ya, aku mengetahuinya. Aku juga hadir di Konferensi itu.”

“Wow. Bagus kalau begitu, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Langsung pada intinya, akhirnya Pemerintah menyetujui proposalku dengan bantuan dana dari Bane-Tek, kami mulai penelitian itu hingga akhirnya lima tahun lalu kami mulai menjualnya secara massal. Tidak ada yang menolak gagasan brilianku ini selain tukang kebun sialan di Konferensi itu.”

Pandangan Iqbal kali ini kembali terarah ke Aksan yang menjelaskan Konferensi yang tadi juga diceritakan Komandannya itu. Sempat beradu mata dengan Aksan, akhirnya Iqbal paham ketidaksopanannya dan mengarahkan lagi pandangan kali ini ke pohon yang berada di sepanjang pinggir jalan. Deretan pohon trembesi yang cukup besar dan kokoh, namun terlihat tidak memiliki jiwa dan terlihat hanya seperti manekin makhluk hidup kasta ketiga itu. Dimana di setiap batang tertera papan besi yang melingkar di tengah batang, bertuliskan Bane-Tek.

“Tukang kebun yang aku segera amankan saat itu juga, Aksan,”

“Oh begitu. Kalau begitu terimakasih atas bantuanmu, Jared. Maaf aku tidak mengingatmu dari saat itu hingga bulan lalu.”

“Tidak mengapa. Lanjutkan.”

“Setiap pohon sintetis itu menggunakan oksigen sebagai sumber tenaga nanoteknologinya, sama seperti kita bernafas. Proses oksidasinya dipercepat menggunakan Kecerdasan Buatan sehingga tumbuhan cepat tumbuh secara vegetatif. Kita tidak memperdulikan fase generative lagi, karena semua hasil tanaman untuk makanan kita, seperti buah, umbi, daun, maupun batang kini dapat direkayasa buatan dengan kandungan nutrisi yang lebih baik daripada kita menunggu masa panen yang lama. Belum lagi apabila kita mempertimbangkan resiko kegagalan panennya. Maka dari itu, oksigen yang sudah ada di alam ini kita proses sehingga menjadi bahan baku yang tak pernah habis untuk temuanku ini. Oksigen adalah pemberian absolut dari alam.”

“Lalu bagaimana mereka bisa menggunakan pohon Bane-Tek itu sebagai alat untuk menyelundupkan oksigen?’ Jared masih mengejar alasan utama dirinya untuk menangkap kakak beradik Hakan-Hamit ini.

“Pohon itu sebenarnya mulai dijual bebas sejak dua tahun lalu. Lisensi untuk pembuatannya sudah diperjualkan ke tiga perusahaan swasta lain, sehingga Bane-Tek tidak fokus lagi dengan urusan produksi. Sebagai regulator, kami memonitor langsung pasokan oksigen untuk pengisian bahan baku tanaman sintetis itu.”

“Berapa kali frekuensinya pengisian oksigennya?” Jared bertanya lagi.

“Setiap tahun diisi enam meter kubik setara dengan satu tabung oksigen milik negara.”

“Jadi mereka tidak melanggar kan?”

“Kami tidak pernah menjual pohon-pohon itu dalam kondisi oksigen penuh. Selain itu, kami pasti mendata proses pengisian oksigennya. Dan lihat, tingkat oksigen di data satelit menunjukkan angkanya semakin meningkat. Ada kemungkinan mereka sekarang melakukan pengisian saat ini.”

“Jadi dengan kata lain mereka mengoplos oksigen tabung kedalam pohon sintetis itu agar hilang dari pantauan Negara?”

“Tepat Jared, sama seperti nenek moyang kita dulu mengoplos tabung elpiji bersubsidi untuk dimasukkan ke tabung besar dengan harga non subsidi.”

“Baiklah, kau begitu sudah jelas motif pelaku dan kita tinggal mengamankan barang buktinya. Lalu dimana posisi Hakan dan Hamit?”.

“Intelejen swasta memberitahukan bahwa mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju Kota Tua. Seharusnya mereka sekarang sudah di lokasi.”

Analisa dan seluruh persiapan dari penggerebekan mafia oksigen ini terlihat begitu rapih. Di sinilah peran kedua Bane-Tek bagi negara, selain mengurusi pendanaan para aparatur Negara. Pada masa ini pajak sudah tidak bisa diandalkan lagi sebagai sumber pendapatan Negara. Maka dari itu Negara harus ikut berdagang. Aksi monopoli dilakukan Negara karena selain sebagai operasional, mereka memerankan dwifungsi sebagai regulator. 

Sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi, termasuk oksigen di dalamnya, jika di Undang-Undang Dasar pasal 33 dijelaskan hanya dikuasai oleh Negara, kini diperdagangkan pula oleh Negara. Proses pemisahan Oksigen dari udara yang dulunya bisa dilakukan siapapun, kini hanya boleh dilakukan oleh Bane-Tek selaku pemegang tunggal lisensi pengolahan Sumber Daya Alam di Bumi Pertiwi. Proses pemisahan, dimana jika 100 tahun lalu ada 21 persen oksigen di udara, kini menyisakan 15 persen saja. Dimana selisih angka enam persennya kini diisi oleh karbondioksida. Inilah yang membuat udara di bumi kini sangat pengap dan panas. Sebuah kajian yang sudah dibeberkan dan diramalkan oleh para aktivis lingkungan seabad lalu, namun redam oleh keserakahan manusia memperoleh keuntungan lewat industrialisasi dan teknologisasi.

“Baiklah, kalian berdua dengarkan rencana di lapangan.” Kini Komandan Jared mulai mengambil alih seputar teknis penggerebekan di lokasi kejadian nanti.

“Aku akan masuk ke dalam secara sembunyi lewat pintu selatan, dan Iqbal jaga jarak sepuluh meter di belakangku dengan senapan jarak jauh. Sementara Aksan akan tetap di dalam mobil untuk memantau perkembangan di luar.” Demikian penjelasan dari Sang Komandan.

“Siap Komandan. Laksanakan.” Kini Iqbal Putra terlihat antusias dan mematuhi perintah atasannya.

“Aku tidak setuju, Jared. Jangan pernah sekalipun meragukan kemampuanku memegang senjata. Kita akan masuk berdua sementara Iqbal akan memantau dengan senapan jarak jauh dari sini. Aku yakin mereka tidak akan berani menyerang Polisi. Lokasi sangat dekat dengan keramaian dan banyak kamera pemantau di sekitarnya.” Aksan mulai menunjukkan taringnya sebagai teknokrat yang mampu membawa kemampuan seorang ilmuwan menembus birokrasi militer sekalipun.

“Jangan kamu campuri urusan di lapangan, Kutu buku! Dengan kacamatamu itu, membidik jarak lima meterpun kamu akan dengan sangat mudah diganggu oleh musuh. Aku sudah berpengalaman sepuluh tahun di urusan ini. Lebih baik mulai sekarang kamu diam saja!” Emosi tak terlakkan lagi dari Komandan Jared Sandofal atas ketidaktaatan rekannya Aksan Momota untuk menuruti rencananya.

“Ingat Jared. Kamu hanya seorang polisi. Pengawal. Akulah kuda Troya yang harus kamu kawal agar bisa masuk ke sana dan membuktikan bahwa mereka melakukan pemindahan oksigen itu. Ini kasus pertama temuan Bane-Tek. Kalian Polisi tidak akan paham seluk beluk dunia teknologi ini. Turuti apa kataku, atau apakah perlu sekarang aku minta persetujuan oleh Jendral?” ancaman Aksan ini menaikkan tensi dari Sang Komandan. Tepat sekali di depan hidungnya,  namun dirinya sadar bahwa seberapa tinggipun pangkatnya, selalu ada perintah dari sosok yang lebih tinggi. Sementara sang atasannya itu, akan membuat keputusan dari pihak lain yang berkepentingan. Jika dulu pembisik itu adalah para politikus busuk, kini para ahli Sains dan Teknologi yang menguasai posisi penasihat di setiap bidang aparatur Negara.

“Baiklah kalau itu maumu. Iqbal, kamu berjaga di mobil, pantau radius satu kilometer. Sementara aku dan Aksan akan masuk tanpa menunjukkan senjata. Kita lakukan upaya preventif.” Akhirnya sebuah keputusan terpaksa dibuat oleh Jared mengingat bagaimana karirnya akan terancam bila tak mengindahkan perintah Aksan Momota.

Tak lama berselang mobil dinas Brimob ini pun berhenti di utara Pasar Glodok. Pasar yang dahulu kala dipenuhi hiruk pikuk warga untuk membeli kebutuhan pokoknya, kini dipenuhi oleh drone yang lalu-lalang membawa kardus ataupun tas plastik yang tergantung di bawahnya. Hanya ada tiga manusia terlihat di sekitar tempat mereka berhenti, itupun bukan pembeli di pasar itu. Mereka merupakan seorang teknisi drone dan dua orang polisi yang membuka isi paket dari masing-masing barang bawaan drone tersebut. Supaya tidak didapati pengiriman barang-barang illegal yang melanggar hukum.

Inilah wajah kemenangan dari Teknologi, peran manusia benar-benar digantikan oleh robot. Sementara manusianya hanya duduk di rumah sambil bekerja di depan layar, ataupun hanya menikmati hidup dengan menonton saluran video yang disukainya. Paling tidak, ketakutan Komandan Jared Sandofal akan adanya ancaman masyarakat yang iri dan menyerang mereka tidak terbukti. Masyarakat yang paling menjadi ancaman di masa kini, adalah masyarakat yang menginginkan Bumi kembali menjadi 100 tahun lalu. Dimana langit masih terlihat biru, dan sapaan antar manusia terlihat sangat hangat dengan jabatan tangan. Suatu pemandangan yang langka di jaman ini, dimana interaksi sudah terbiasa menggunakan layanan panggilan video berbasis internet. Dunia hanya segenggam tangan.

Akhirnya Komandan Jared dan Aksan keluar dari pintu tengah mobil. Mereka memantau sekeliling, terlihat ada selusin kamera pengintai yang terhubung dengan Institusi Kepolisian untuk mengamankan setiap ancaman. Seorang polisi yang bertugas memeriksa paket pengiriman dari Pasar Glodok nampak melihat mereka dan memberikan salam hormat militer kepada Komandan Jared, dan dibalas dengan salam hormat pula dari Sang Komandan, sementara Aksan tidak memedulikannya. Iqbal kini di dalam mobil tengah menyiapkan teropong untuk dipasangkan di senapan jarak jauhnya.

Jared dan Aksan berjalan beriringan untuk memasuki sebuah bangunan tua tak berpenghuni di seberang utara Pasar Glodok, mereka tahu bangunan itu terhubung langsung dengan gudang Hamit-Hakan. Mata Sang Komandan memincing sangat waspada dan mulai merasakan kecurigaan di tengah kesunyian yang terjadi di kawasan ini. Sekalipun memang jarang ditemukan manusia yang berjalan keluar rumah untuk beraktifitas, tetapi kesunyiannya ini menandakan potensi ancaman yang siap untuk menerkam mereka jika lengah.

Bangunan yang dimasuki mereka adalah sebuah kafe yang tidak beroperasi lagi. Terlihat ada puluhan kursi yang ditata rapi di pojokkan kiri ruangan yang bau pengap ini. Jared melompati meja panjang besar tempat dahulunya digunakan sebagai meja kasir dari kafe yang menjual kopi dan kudapan kering ini. Langkahnya pun diikuti oleh Aksan yang tampak agak terengah-engah menirukan kelincahan Sang Komandan,

“Sebentar Aksan, ada panggilan dari pusat.” Jared menghentikan langkahnya tepat di lorong di belakang meja kasir. Lorong ini sangat gelap, dan terlihat di ujungnya ada sebuah pintu berwarna merah. Pintu yang akan menjadi tabir bagi kejahatan terstruktur penimbunan dan peredaran oksigen di Indonesia. Sementara Jared Sandofal mengambil ponsel pintar di saku celana hitamnya, ia melihat sebuah panggilan dari Markas Pusat, dan menggulirkan layar untuk menerimanya.

“Ya, Jared Sandofal disini.”

“Komandan Jared, batalkan misi sekarang. Para tersangka sudah menyerahkan diri.”

“Apa? Bagaimana maksud anda? Siapa yang menyerahkan diri, Jendral?”

“Hakan dan Hamit, mereka kini sudah di Mabes Polri. Mereka mengakui kesalahan yang mereka lakukan.”

“Kesalahan yang mana? Apakah ini berkaitan dengan misi yang kami jalankan sekarang?”

“Penjelasannya nanti di kantor, Komandan. Sekarang batalkan misi dan kembali ke Markas. Biarkan Tim Inafis yang akan ke lokasi dan memeriksa bukti-buktinya.”

“Tapi, saya sudah dekat dengan lokasi.. “

“Batalkan sekarang, Komandan! Ini perintah dari Jendral! Paham!”

“Siap, laksanakan Jendral.” Digulirkannya ke atas layar pada ponsel pintarnya untuk menutup sambungan telepon tersebut. Berkecamuk sekali pikiran dari Sang Komandan, karena dipermalukan oleh atasannya tepat di depan Aksan Momota, sang teknokrat yang dia anggap sebagai musuh dalam selimutnya. 

Namun janggalnya, kali ini Aksan sependapat dengan Jared. Ia tampak menggelengkan kepalanya, memberikan sinyal kepada Jared untuk tidak mengindahkan apa yang menjadi perintah Sang jendral. Aksan benar-benar ingin tahu apa yang ada di balik pintu berwarna merah tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan di luar gedung tempat mereka berada.

Dor…Dor….Dor…Dor…. Dor…

Ada sekitar lima belas tembakan, yang bersumber dari satu senapan yang sama, terdengar dari kesamaan bunyinya. Secara reflek Jared dan Aksan membungkukkan tubuhnya di bawah meja panjang di belakangnya.

“Aku akan lihat apa yang terjadi. Kamu akses kamera pengintai di depan, Aksan.” Perintah Sang Jendral sambil berjalan merangkak untuk melihat melalui celah sempit di kaca kafe yang bernama Kafe Tentang Kopi ini. Nama kafe yang baru disadari Jared setelah melihat tulisan terbalik di kaca yang digunakannya mengintip apa gerangan yang terjadi di jalan Pintu Besar Selatan ini.

Betapa terkejutnya Komandan Jared melihat dua orang Polisi pengawas pasar Glodok, beserta seorang teknisi yang dilihatnya beberapa menit lalu, kini terbaring tak sadarkan diri di tanah. Ia segera melihat ke arah mobil dinas nya yang terparkir tak jauh dari situ. Dilihatnya ada kaca yang pecah di bagian kanan mobil tempat Kadet Iqbal Putra bersandar memantau sekitar. Hancur hatinya membayangkan kemungkinan rekan dinasnya itu mati tertembak. 

Kemudian ia pun segera melihat ke atas tempat kamera pengawas yang seharusnya merekam seluruh kejadian itu, namun semuanya kini hancur karena tembakan dari teroris tak dikenal ini. Komandan Jared pun merangkak mundur untuk kembali ke posisi di balik meja kasir, tempat Aksan Momota disana sibuk mengutak-atik ponsel pintar nya.

“Laptopku ada di mobil, Jared. Akses yang ku punya terhadap kamera pengantai terbatas, dan semua kameranya..”

“Mati… Semua kamera ditembaki. Begitu juga dengan tiga orang di pasar Glodok dan juga, Iqbal.”

“Ya ampun, siapapun itu mereka mengincar kita sekarang Jared. Apa yang harus kita lakukan?” kali ini suara bergetar terdengar dari kalimat Aksan yang tidak dapat menyembunyikan ketakutannya.

“Kita tetap merangkak, masuk ke pintu merah itu. Jika asumsimu ada ratusan pohon di dalam sana, kita dapat berlindung di balik batang pohonnya, dan kita akan keluar lewat Kota Tua.” Perintah yang segera dijawab dengan gerakan merangkak membabi buta Aksan ke pintu merah di depannya itu. Jared mahfum dengan kengerian yang sedang mendera pikiran Aksan, tapi disini dia dituntut lebih tenang untuk melindungi kuda Troya nya itu. Akhirnya mereka pun membuka pintu merah itu, dan menutup dengan rapat gagang pintu dengan sebilah kayu yang ada di dekat mereka.

Mata mereka berdua terbelalak, melihat ada ratusan pohon yang berada di sana. Masing-masing tingginya kurang lebih lima meter. Ada berbagai berbagai jenis, seperti trembesi, tanjung, beringin, bahkan jenis pohon buah seperti mangga, pisang, dan sawo ada semua di sana. Yang membuat mereka berdua terbelalak adalah dua hal yang mereka tidak pernah lihat di semua tanaman dalam lima tahun terakhir ini. Pertama adalah adanya buah pada semua jenis tanaman buah. Mangga, sawo, pisang, semuanya menggantung dengan indah di tempatnya berada. Tampak sangat jelas karena semua daun-daun tanaman itu diikat dengan indahnya tersusun rapi seperti jalinan kepang pada rambut panjang wanita. 

Yang kedua, adalah tulisan yang seharusnya tercetak Bane-Tek pada batang besar pohon, ternyata telah berganti menjadi tulisan MILIK TUKANG KEBUN. Hal inilah yang sontak membuat mereka terpana dan saling berpandangan, beradu memori untuk saling mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu di Surabaya. Namun, tidak ada waktu bersantai bagi keduanya. Jared menyuruh Aksan untuk berlari dan bersembunyi di balik pohon beringin yang besar tepat lima meter di depannya. 

Sambil bersembunyi di balik pohon beringin itu, Aksan segera membuka ponsel pintar nya. Dicarinya data seputar Sang Tukang Kebun yang diusirnya dari konferensi Sains di Surabaya dahulu. Komandan Jared pun demikian, dicobanya melakukan panggilan kepada Kantor Mabes Polri, namun hanya nada pesan suara saja yang didapatinya. Ia pun mengetikkan pesan singkat kepada nomor telepon Sang Jendral, “Siapa yang membuat Hamat-Hakan mengaku?”.

“Ramadhan Effendi, nama orang tua tukang kebun itu, Jared. Dia sudah meninggal lima tahun lalu. Sepertinya tidak mungkin dia yang sedang menyergap kita disini. Tidak ada data penunjang bahwa dia memiliki usaha perdagangan pohon sintetis ini.”

“Aku juga sedang menunggu siapa dalang di balik ini semua, sampai Hamit dan Hakan menyerahkan diri ke Mabes. Coba kamu cari tahu siapa anak atau kerabatnya yang mempunyai sejarah kejahatan.”

Tangan Aksan dengan cepatnya menggulirkan ponsel pintar itu seperti seorang maniak permainan online. Dia pasti punya jutaan cara untuk membobol data pribadi Warga Negara Indonesia, dan akhirnya ia menemukan satu nama yang membuatnya terperanjat. Ia segera menoleh ke arah Jared. Sebelum sempat mengeluarkan sepatah kata, Jared memperingatkan Aksan. 

“Jangan bergerak Aksan. Di dahimu kini ada pointer merah senapan jarak jauh. Kita sudah tertangkap.” Bisik Jared Sandofal.

Tiba-tiba terdengar suara di ponsel pintar milik Jared. Sang Jendral sepertinya sudah membalas pesan di ponsel nya. Ia pun dengan perlahan membuka ponsel itu, dan dengan kagetnya ia menyebut sebuah nama berbarengan dengan Aksan Momota.

“Iqbal Putra.”

“Iqbal Putra.”

“Ya, ini aku Komandan. Iqbal Putra Ramadhan. Anak pertama dari Ramadhan Effendi. Sang Tukang Kebun yang sepuluh tahun lalu Anda seret dari tengah Konferensi Sains di Islamic Center Surabaya. Beliau sudah meninggal lima tahun lalu karena radang paru-paru.” Suara yang sudah familiar bagi Jared dan Aksan ini, awalnya terdengar samar, namun semakin jelas seiring rekan mereka yang disangka mati tertembak ini berjalan dari arah yang dipersiapkan Jared menjadi pintu keluar mereka.

“Sialan kamu, Kadet! Akan kubunuh kamu sekarang!” Raungan Aksan Momota ini disertai dengan gerakan mengambil pistol di saku celananya dan menembakkan sebuah peluru. Namun, bukannya peluru yang keluar, hanya suara desing tanpa adanya benda apapun.

“Semua pistol kalian telah aku kosongkan. Tidak perlu bersusah payah lagi. Aku disini hanya butuh untuk kalian dengarkan.” Demikian penjelasan Iqbal yang kini berdiri dengan jarak sepuluh meter. Pointer senapan kini diarahkannya ke leher Komandannya. 

“Apa maumu, Iqbal?” Tanya Sang Komandan’

“Sepuluh tahun lalu, Komandan. Anda mengamankan ayah saya untuk dibawa ke Polsek Dukuh Pakis dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum di Konferensi Sains Aksan Momota. Anda masih ingat apa yang beliau teriakkan?”

“Maaf aku tidak mengingatnya, Iqbal.”

“Kalau kamu, Aksan. Apa kamu masih mengingat apa yang Ayahku teriakkan.”

“Tidak akan kuturuti apa maumu, Kadet Culun! Kamu akan ditangkap dan habislah karirmu!”

Dorrrrrr

Sebuah tembakan tepat mengarah di sebelah kiri tubuh Aksan, membuatnya meloncat terkejut. Tembakan ini tentunya dari satu-satunya orang yang membawa senapan berpeluru, yakni Iqbal.

“Aku tidak mau ada darah yang tertumpah disini. Cepat Jawab, Aksan!”

“Tapi kamu sudah membunuh tiga orang di depan sana, Iqbal?” Tanya Sang Komandan. 

“Mereka hanya pura-pura pingsan, Komandan. Mereka bagian dari kami, para Aktivis Pecinta Bumi.”

“Jadi untuk apa semua ini, Iqbal?” Jared Sandofal masih saja bingung tetapi terkesan tidak akan menyerang Sang Kadet.

“Hanya Aksan yang bisa menjawabnya. Bagaimana Aksan? Apa yang Ayahku katakan sepuluh tahun lalu?”

Akhirnya luruh sudah pendirian Aksan, kata demi kata terluncur dari mulutnya yang tertutup masker bane-Tek itu.

“Biarlah tumbuhan ini bernafas dengan bebas. Mereka makhluk hidup sama seperti kita.”

“Benar, tumbuhan adalah makhluk hidup sama seperti kita. Mereka butuh keleluasaan untuk hidup, yang bahkan usianya bisa lima kali lipat lebih dari usia kita. Yang kamu lakukan dengan Bane-Tek itu adalah sebuah hal keji kepada mereka. Kamu paksakan oksigen masuk dengan Kecerdasan Buatan mu untuk memperoleh batang pohon yang besar di fase vegetatif dengan paksa. Itu sama saja dengan menggelonggong sapi kurban dengan air supaya terlihat gemuk. Kalian juga menggagalkan fase generatif mereka, itu sama juga dengan mengebiri semua pria yang ada di dunia ini. Mereka sama seperti kita. Itulah pesan Ayahku.”

“Jadi kamu dendam dengan apa yang terjadi dengan ayahmu?” Aksan mencoba menyudutkan Iqbal dengan pertanyaan ini.

“Jika aku dendam, itu juga dendam untuk mewakili jutaan manusia lain yang meninggal karena radang paru-paru setelah pohon sintetis itu kalian buat. Kalian tidak paham tentang alam, maka alam akan mengambil tumbalnya. Dan disinilah nasib si miskin akan dipertaruhkan.”

“Tahu apa kamu tentang teknologi, Iqbal?” Kali ini Aksan mengeluarkan senjata pamungkasnya.

“Ini bukan tentang teknologi, Aksan. Ini tentang Alam. Tempat dimana kita dan anak cucu kita hidup. Kita menginginkan yang terbaik bukan hanya untuk generasi kita, tapi juga untuk mereka. Semua kesalahan kita tidak boleh mereka tanggung.”

“Jangan mengguruiku, Kadet. Katakan apa yang salah dengan temuanku?”

“Kamu salah jika mengasumsikan Oksigen tidak akan habis, Aksan. Oksigen itu bisa habis. Seperti sekarang sudah menyentuh angka 15 persen.”

“Mustahil, bagaimana bisa? Data dari komputer pintar telah mengkalkulasikan sampai sejuta tahunpun oksigen tidak akan habis selama kita bisa menghasilkannya lewat proses filterasi dan menggunakan masker ini. Itu siklus yang berputar.”

“Berarti kamu tidak memahami alam, Aksan.”

“Coba jelaskan apa saja yang kamu ketahui, Iqbal. Aksan, tutup mulutmu sekarang.” Perintah Komandan Jared membuat Aksan menutup rapat-rapat mulutnya.

“Tanaman adalah sumber terbesar kedua untuk oksigen yang ada di bumi. Tapi dengan cara kita memperlakukan tanaman seperti ini, dengan pembakaran hutan, pembuatan pohon sintesis dan mengebiri hak-hak mereka, kita akan menghilangkan peran mereka. Dimana mereka juga merupakan subyek di rantai makanan yang paling pokok. Terutama proses yang sudah dilupakan oleh para teknokrat seperti Aksan ini, adalah proses fotosintesis.”

“Maksudmu?” Aksan kini terlihat bingung.

 “Coba kalian buka masker kalian dan lihat kadar oksigen di ponsel pintarmu, Aksan.” Perintah Iqbal itu juga dilakukannya untuk dirinya sendiri. Kedua rekannya terlihat kaget.

“Ini siang hari, waktu bagi tanaman untuk melakukan fotosintesis. Angka di ponselmu tidak salah, Aksan. 60 AQI US. Itu karena semua tanaman yang ada di sini adalah tanaman asli. Bukan sintetis.” Demikian penjelasan Iqbal Putra yang membuat kedua rekannya terperanjat.

“Apa?”

“Sebelum ayahku meninggal, dia mewariskan tumbuhan-tumbuhan ini untuk tujuan mulia. Aku rawat mereka mulai usianya sepuluh tahun ketika ayauhku meninggal, dan kini mereka berusia lima belas tahun dari pembibitan. Usaha selama itu untuk kehidupan yang baik, Komandan. Waktu yang dipangkas dengan sangat brutal oleh temuan manusia yang mengatasnamakan Kecerdasan Buatan. Biarlah apa yang menjadi hak alam, tetap menjadi miliknya.”

“Lalu untuk apa semua ini kamu lakukan, Iqbal?” Tanya Sang Komandan

“Hakan dan Hamit menyerahkan diri karena anak mereka terkena radang paru, Komandan. Mereka ingin wajah negeri ini berubah lebih baik. Demi anak cucu mereka.” Pungkas Sang Tukang Kebun mengakhiri.


 

2 thoughts on “Cerpen #82: “Sang Tukang Kebun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *