Cerpen #80: “API DI TELAPAK TANGAN”

21 Maret 2065

“Claire, belanja makanan dong.”

Aku sedang sibuk berkutat dengan laptop waktu Mama menyuruhku.

“Oke deh.” balasku kemudian menutup layar laptop. Akhir-akhir ini memang Mama terus yang pergi berbelanja. Aku juga harus menggantikannya sebelum aku semakin menjadi anak durhaka.

Aku mengganti bajuku dengan t-shirt berwarna abu tua. Aku memadukan bajuku itu dengan jas hujan. Setelah itu aku mengambil masker kain yang ada di dalam lemariku. Aku memakai sandal, tapi aku akan menggantinya menjadi sepatu saat aku sampai di mall. Jadi, aku menenteng sepatu sneakers-ku di dalam kantong plastik.

Hal yang tak pernah terlupa kalau aku ingin pergi keluar adalah aku harus selalu mengenakan payung. Payung dengan motif bunga lily selalu menjadi favoritku.

Aku membuka pintu luar rumah dan kemudian berhadapan dengan hujan yang tak pernah berhenti selama 2 bulan. Ketika aku keluar menembus air hujan itu dengan payung, payungku mengeluarkan suara yang sangat berisik karena ribuan tetesan air yang sangat deras membasahinya.

Dulu aku sangat suka hujan karena membuat pemandangan yang sejuk. Tapi sekarang aku sudah membencinya dan merindukan musim panas. Sayangnya ‘musim panas’ yang kudambakan itu tidak boleh terjadi.

Aku harus mencelupkan kakiku di genangan banjir agar bisa berjalan sampai ke mall. Tetanggaku terkena kutu air karena terlalu sering berjalan di air sungai yang meleber ini. Mau bagaimana lagi? Karena hujan yang terus berkepanjangan, air sungai dan danau meluap karena kapasitas air yang terus naik. Banjir selalu ada di jalan sejak 2 bulan yang lalu. Semakin hari tinggi air semakin naik saja. Kali ini airnya sudah melebihi tinggi lututku.

Aku menghela napas, meratapi nasib. Kalau begini terus, kapan aku bisa membuat vlog, mengambil foto untuk dipost di sosial media, dan jalan-jalan seperti dulu?

Air banjir itu bahkan sampai memenuhi lantai satu mall. Ketika aku sampai di mall, aku naik eskalator mati sampai ke lantai dua. Aku lega karena sudah tidak harus berjalan di banjir lagi. Tetapi rasa air banjir itu masih menggerayang di kakiku.

Aku pergi menitipkan payungku di tempat penitipan, kemudian aku pergi ke toilet untuk mengeringkan kaki, sekalian untuk mengganti sandal basahku dengan sneakers putih. Aku baru masuk ke supermarket setelah itu selesai kulakukan.

Ketika aku sedang jalan, pundakku ditepuk oleh seseorang.

“Kamu Claire Samantha kan?”

Yang bicara padaku itu adalah seorang laki-laki, yang sepertinya umurnya tak jauh beda denganku.

“Iya, benar.” Meskipun aku memakai masker, ternyata ada saja yang bisa mengenaliku.

“Wah, aku fansmu lho! Boleh minta foto?” ujar laki-laki itu bersemangat.

Aku mengangguk dan akhirnya berfoto selfie dengannya. Aku melepas masker supaya aku bisa menunjukkan senyum terbaikku di foto, sedangkan laki-laki itu membuat gaya peace dengan jarinya disebelahku.

“Terima kasih. Oh ya, Nolan apa kabar?” tanyanya sambil mengecek foto yang tadi diambil di ponselnya.

Sepertinya topik soal partner vlog-ku itu tidak akan pernah berhenti dibicarakan tiap kali ada yang bertemu denganku.

“Dia baik saja.” jawabku seadanya.

“Nolan selalu bekerja keras kan? Sampaikan salamku ke dia ya.” balas laki-laki itu.

“Oke. Aku pergi dulu ya. Ada urusan setelah ini.” kataku mencari alasan sebelum dia bertanya-tanya yang lebih detail.

“Oh, baik! Senang bertemu denganmu.”

Dia orang yang ramah, tapi aku tidak mau bertemu dengan lebih banyak orang seperti dia, yang bertanya-tanya tentang Nolan. Karena kenyataannya aku tidak tahu apa-apa soal Nolan dan pekerjaannya. Kami sudah lama tidak bertemu.

Aku memasukkan bahan-bahan masakan yang dibutuhkan Ibuku ke dalam tas belanja, kemudian aku pergi ke kasir, sambil berharap penjaga kasir itu tidak mengenaliku. Untungnya aku pergi dari toko itu tanpa ada siapapun yang menegurku lagi.

Aku akhirnya harus kembali melewati air banjir. Aku kembali ke tempat penitipan untuk mengambil payungku dan turun ke lantai dasar.

Saat aku kembali ke jalan raya, aku harus kembali dihadapkan dengan banjir. Tidak ada satupun kendaraan di jalan raya. Semuanya menggunakan perahu karet, kalau tidak, jalan kaki sepertiku. Pemerintah melarang semua orang untuk menggunakan kendaraan yang dapat menimbulkan polusi udara.

Apartemen Nolan cuma tinggal beberapa blok dari sini. Aku akan mampir ke apartemennya dulu sebentar untuk beristirahat. Berjalan dalam air banjir terus-terusan membuat kakiku terasa menjijikan.

Ketika sudah sampai di apartemen, napasku sudah hampir habis. Aku terlalu terburu-buru untuk bisa sampai kesini. Aku pergi ke lantai 5 dan mencari kamar 108. Ketika menemukannya, aku membuka pintunya dengan kunci cadangan yang pernah dia berikan padaku. Aku selalu menyimpannya di dalam dompet.

Ruangannya sunyi waktu aku masuk ke dalam. Aku menghela nafas. “Nolan?”

Dia tidak menjawab, seperti dulu ketika aku masih sering ke rumahnya. Tapi meskipun dia seperti itu aku akan selalu memanggil namanya setiap kali masuk, untuk menandakannya kalau aku ada di rumahnya.

Aku melepaskan jas hujanku di ruang tamunya yang gelap. Dia bahkan tidak menyalakan lampu.

Nolan selalu berada di kamarnya. Waktu aku masuk, dia akan ada di depan komputer, mengerjakan sesuatu. Kegiatannya itu selalu bisa kuprediksi dan selalu terbukti benar.

Rambut Nolan yang tadinya rapi itu menjadi berantakan. Karena proyek yang dia lakukan, dia jadi malas berbenah diri. Dia juga jarang tidur, aku tahu dari kantung matanya dan kulitnya yang pucat. Tapi aku tidak pernah mengomentari hal-hal itu.

Satu-satunya hal yang bisa kukatakan adalah, “Gimana progress-nya?”

“Baik seperti biasa.”

Tiap hari Nolan mengerjakan proyeknya di kamar. Dia bekerjasama dengan profesor-profesor di universitasnya.

Aku duduk di kasur memandang Nolan yang sibuk menatap komputer dan sama sekali tidak melihat kearahku. Sekarang Nolan mungkin akan berhenti menjadi partner vlog-ku. Aku merasa tidak bisa melakukan apa-apa kalau tidak ada Nolan, tapi aku tidak akan menyalahkannya kalau dia mau berhenti. Nolan sedang berusaha melakukan sesuatu demi kesejahteraan dunia ini.

“Claire, apa pendapatmu tentang dunia yang seperti ini?” tiba-tiba Nolan bertanya, membuyarkanku dari lamunan.

Aku meremas bantal Nolan. “Buruk. Aku mau semuanya cepat kembali normal.”

Nolan tertawa pendek. Aku tidak mengerti apa yang lucu.

“Semua orang pasti berpikiran sama seperti kamu.” katanya. “Tapi bagaimana kalau dunia ini nggak bisa kembali normal?”

“Jangan bilang begitu.”

Nolan tidak bilang apa-apa lagi setelah kalimat terakhirku itu. Senyumnya memudar dan dia menggaruk rambutnya.

“Maaf, bisa pulang? Aku mau kerja sendiri.”

Aku langsung pulang setelah Nolan mengatakan itu, sadar diri bahwa keberadaanku hanya akan jadi beban baginya. Waktu berjalan pulang, aku tidak memikirkan apa-apa selain sikap Nolan yang mengganjal perasaanku.

 

30 Maret 2065

Aku mulai membuat video baru untuk diunggah di sosial media. Konten videonya adalah tentang make-up tutorial.

Aku sedang memakai maskara untuk bulu mataku waktu tiba-tiba aku menyadari pemandangan di jendela kamarku.

“Hah?”

Aku tidak salah lihat kan? Hujannya berhenti.

Aku membuka jendela. Cahaya matahari menerpaku. Langit yang tadinya mendung sudah memberikan celah untuk matahari.

Ini tidak mungkin terjadi. Seharusnya tidak seperti ini.

Aku melihat ekspresi keresahan dari orang-orang diluar. Semuanya berkasak-kusuk membicarakan ini.

Aku pun sudah tahu apa artinya ini. Kejadian 3 bulan yang lalu akan terjadi lagi.

Matahari diatas bersinar sangat terang, sangat menyilaukan sampai membuat mataku sakit.

 

1 April 2065

“Percobaan hujan buatan itu rusak karena adanya kesalahan di dalam sistem.”

Aku tidak menyangka akan ada hari dimana Nolan diliput di TV nasional.

“Seharusnya hujan buatan tersebut terus dilanjutkan sampai kami berhasil memperbaiki atmosfer yang menipis. Saat ini kami akan terus berusaha keras.” ucap Nolan dengan sebuah mic yang disodorkan kearahnya.

Para ahli lain tidak berani berbicara sehingga Nolan mewakilinya. Mungkin mereka takut akan pandangan orang-orang yang menuduh mereka tidak kompeten.

Saat ini Nolan sibuk bekerja dengan banyak peneliti. Aku cuma bisa menontonnya yang tampil di TV dan berdiam diri di rumah. Udara di luar sangat panas, bahkan hutan di negara ini sampai terbakar karena panasnya yang menyengat. Api bisa keluar dari tempat manapun sekarang.

Selama 2 bulan, Nolan dan para ahli lainnya membuat program hujan buatan untuk mencegah manusia hidup dalam dunia yang panas diluar batas normal. Itu karena lapisan atmosfer di dunia ini sudah semakin menipis.

Suhu dari matahari menjadi lebih panas dari biasanya karena lapisan yang biasanya melindungi bumi dari matahari mengalami kerusakan. Menurut peneliti, ini terjadi akibat banyaknya polusi udara yang terbang sampai ke atmosfer dan merusak lapisannya.

Aku melihat ke arah jendela. Pemandangan di jendela terlihat buram karena udara yang sangat panas diluar.

Tapi aku bisa melihat sesuatu. Ada seorang anak kecil yang berjalan di tengah terik sinar yang tidak masuk akal itu.

Aku membuka kaca jendelaku dan memanggilnya, “Hei, dek!”

Dia menoleh kearahku. Anak laki-laki itu cuma memakai kaus oblong dan celana pendek. Kausnya basah kuyup karena keringat.

“Bahaya kalau jalan-jalan di tengah hari begini!” aku memperingatinya.

Tapi dia balas meneriakiku. “Terserah aku! Dunia ini bakal kiamat! Aku cuma mau jalan-jalan sebelum dunia ini kiamat!”

Setelah mengatakan itu, dia berlari pergi dengan cepat. Aku memanggilnya lagi tetapi dia tidak mendengarkanku.

‘Dunia ini akan kiamat’, akhir-akhir ini memang banyak yang berpendapat seperti itu di internet. Tapi aku tidak mau mempercayai hal itu. Nolan bersama dengan para peneliti sedang mencari cara untuk mengembalikan atmosfer menjadi seperti semula. Aku percaya mereka akan bisa melakukannya.

Itulah satu-satunya hal yang bisa kupikirkan untuk mengusir perasaan negatifku terhadap semua ini.

Aku baru saja menutup jendelaku lagi ketika tiba-tiba aku menyadari kalau tiang listrik di depan rumahku mengeluarkan percikan api.

Gawat.

Tiang listrik itu terbakar. Di dekat tiang listrik itu, ada sebuah rumah. Apinya dengan cepat menjalar menuju ke rumah tersebut.

“Kebakaran! Tolong, ada kebakaran!” aku berteriak kencang.

Untungnya pemilik rumah itu segera menyadari apa yang terjadi dan keluar dari rumah. Rumah itu cepat dilalap oleh api. Tetanggaku sudah menelepon pemadam kebakaran.

Meskipun akhirnya api berhasil dipadamkan, sebagian rumah itu sudah hangus. Si pemilik rumah menangis, sementara semua tetangga berkumpul untuk menghiburnya.

Aku sudah muak dengan keadaan ini. Kalau ini dibiarkan, berbagai bencana akan terus terjadi.

Aku menghabiskan waktuku membaca berita sore itu, mencoba mencari tahu apakah peneliti sudah membuat progress terhadap perbaikan atmosfer. Bukan cuma aku saja, banyak orang yang mencari tahu tentang hal ini. Tapi tidak ada berita yang memberitahu secara detail. Proyek perbaikan atmosfer itu dirahasiakan sampai dapat membuahkan hasil yang signifikan.

Tapi aku kan berteman dengan Nolan, jadi aku bisa meneleponnya untuk membicarakan soal itu.

Ada nada dering yang panjang sebelum akhirnya telepon itu diangkat.

“Ada apa, Claire?” Sudah lama aku tidak mendengar suaranya yang berat itu.

“Nolan–”

Tadinya aku mau menanyakan soal perkembangannya, tapi kemudian aku malah teralihkan pada suara berisik di tempat Nolan berada. Aku bisa mendengar orang-orang yang saling bersahutan meneriakkan sumpah serapah.

“Kamu dimana? Disana baik-baik saja?” tanyaku.

“Aku di tempat kerja. Semua orang ribut. Nggak apa-apa.” Nolan mengatakannya seperti itu hal biasa.

“Kenapa?”

Nolan menghela napas. “Claire, aku akan memberitahumu sesuatu. Ini adalah rahasia. Kamu nggak boleh membocorkannya kepada siapapun bahkan orangtuamu sendiri.”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Karena orang-orang akan heboh dan mereka akan membuat konflik dimana-mana.”

Aku tidak paham. Tapi akhirnya Nolan mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar.

“Claire, kemungkinan besar kita sudah tidak bisa diselamatkan lagi.”

Tidak mungkin.

Tanganku gemetaran. “T-tapi..kalau kalian terus berusaha..” ucapanku menjadi terbata-bata.

“Situasinya semakin parah.”

“Kamu harus terus berusaha melakukannya untuk semua orang.” aku masih berharap.

Nolan terdiam beberapa saat sebelum membalasku, “Ya, terus saja bilang begitu, seolah-olah ini semua cuma tanggung jawabku seorang.” ucapan Nolan terdengar sarkas. “Claire, kamu tahu kenapa semua ini bisa terjadi?”

Sekarang giliran aku yang terdiam.

“Polusi udara.” lanjut Nolan. “Sebelum ini semua terjadi, beberapa pihak sudah memberitahu orang-orang untuk memakai bahan hemat lingkungan.”

“B-benarkah?”

“Nah, kamu bahkan nggak tahu kan? Segitulah rasa toleransi orang-orang terhadap lingkungan. Meskipun sudah diberitahukan dari lama, tidak ada yang peduli. Semakin tahun bertambah, teknologi semakin maju. Pencemaran udara juga semakin banyak karena teknologi-teknologi yang digunakan. Tidak ada satupun yang memperhatikan kondisi lingkungan. Manusia memang egois. Sekarang ketika sudah terjadi bencana, baru semua orang panik.”

Aku hanya bisa tertegun mendengarkan Nolan. Nolan tidak pernah bicara sepanjang itu padaku sebelumnya.

“Ketika terjadi bencana, semua orang berbondong-bondong memohon agar kami memperbaiki atmosfer secepatnya. Kalau gagal, yang disalahkan siapa? Kita, para ahli yang bertanggung jawab memperbaikinya. Kamu juga sama saja seperti mereka, Claire.”

Aku merasa malu.

“Sekarang semuanya sudah terlambat.” kata Nolan dingin.

Aku tak sadar ketika setetes air mata jatuh menuruni pipiku. “J-jadi sekarang apa yang harus kita lakukan..?”

“Berdoalah supaya aku berhasil memperbaiki atmosfer.”

Setelah itu teleponnya ditutup oleh Nolan. Aku menangis sejadi-jadinya karena tidak bisa menerima kenyataan.

 

9 Februari 2066

Percakapanku dengan Nolan membuatku sadar bahwa aku harus memperhatikan lingkungan sekitarku dengan baik, demi keselamatan bumi ini.

Aku memberitahu banyak orang untuk memakai bahan bakar yang hemat lingkungan lewat video yang kemudian kuunggah di media sosial. Video itu untungnya mendapat respon yang positif. Aku jadi banyak mengunggah video dengan tema konten ‘menjaga kelestarian lingkungan’.

Kemudian aku juga memutuskan untuk membantu Nolan dalam pekerjaannya. Aku menjadi asistennya.

Setelah setahun berlalu, para ahli akhirnya berhasil membuat atmosfer buatan. Banyak orang bahagia dan bersorak-sorai seperti orang kesetanan karena keberhasilan tersebut.

Namun tidak lama berselang, atmosfer buatan itu pecah.

Bagaimanapun, para ahli sudah melakukan semampunya.

Semua orang kemudian menyalahkan ahli-ahli yang ikut andil dalam pembuatan atmosfer tersebut. Mereka ingin pembuatannya diselesaikan secepat mungkin. Jika Nolan tidak menyadarkanku, mungkin aku akan marah bersama dengan orang-orang itu.

Aku menemui Nolan yang berada di ruangan kerjanya. Lagi-lagi dia tidak tidur semalam. Rambutnya berantakan dan kantung matanya terlihat jelas.

“Hai.” aku menegurnya. “Gimana progress-nya?” tanyaku.

“Nggak bagus.”

“Begitu ya.” aku tidak menunjukkan ekspresi kekecewaan atau sedih.

“Claire,” Nolan menorehkan kepalanya padaku. “Kalau aku bilang semua ini mustahil, bagaimana pendapatmu?”

Aku sudah lama berpikir sesuatu seperti ini mungkin akan dikatakan oleh Nolan.

“Mungkin berusaha lagi,” kataku. “Kalau pada akhirnya nggak bisa, kita tinggal menikmati hidup ini sampai akhir.”

Manusia banyak melakukan kesalahan. Aku pun juga melakukan kesalahan.

Semua orang kebanyakan menikmati hidup tanpa memedulikan keadaan disekitarnya. Ketika bencana terjadi, mereka tidak berpikir untuk introspeksi diri. Mereka lebih berpikir lebih baik mengandalkan orang untuk menuntaskan masalah.

Kita seharusnya bisa mengubah sesuatu.

Tapi semuanya sudah terlambat.

BRAK!

Seseorang tiba-tiba masuk dan mendobrak pintu ruangan tempat aku dan Nolan berada. Napasnya tersenggal-senggal.

“Hei, kalian! Tahu nggak? Diluar hujan!”

“Mana mungkin.” balas Nolan ketus.

“Aku serius! Lihat sendiri kalau nggak percaya.”

Aku dan Nolan akhirnya pergi keluar dari ruangan untuk memeriksa. Aku masih setengah tidak percaya. Karena situasi semakin meresahkan, memang banyak ahli yang jadi sering bercanda sebagai pelampiasan stres. Aku pasrah saja karena bisa memahami perasaan mereka.

Tapi yang mengejutkan, ternyata diluar memang hujan.

Banyak ahli yang mendekati jendela untuk menyaksikan tetesan air yang sangat banyak jatuh memukul tanah. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

“Tapi kenapa bisa? Nggak mungkin ini bisa terjadi dengan kondisi iklim kita yang buruk.” kataku bingung.

Aku menoleh pada Nolan. Dia sedang mengusap matanya.

“Keajaiban.” kata Nolan parau, seperti ingin menangis.

Aku tidak tahu apa ini. Tapi yang jelas, aku yakin akan sesuatu.

Aku menggenggam tangan Nolan. “Kita pasti bisa melalui semua ini.”

Mungkin ini pertanda bahwa kita tidak boleh putus asa. Tidak ada yang tahu bagaimana cerita di hari esok. Yang penting kita harus terus berjuang dan melihat ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *