Cerpen #78: “Diretas Benak Ale”

Ale menatap lekat satu per satu pakaian yang tumpang tindih di lemarinya. Hijau muda, putih, hitam, biru gelap, ungu pucat, merah jambu, hampir semua warna ada. Bagaimana tidak menumpuk, lah setiap ada acara baik itu yang penting sekali sampai yang tidak penting-penting amat pasti minta dibelikan baju,  Ale bergumam.

Bajunya yang paling baru adalah yang dibelinya beberapa hari silam lewat salah satu e-commerce. Kali ini dia membeli baju bukan karena akan menghadiri sebuah acara, melainkan hanya sebab iming-iming diskon yang kerap digebyarkan. Nah kan, satu lagi alasan untuk terus menumpuk baju, yaitu karena tergiur dengan tawaran diskon, dia kembali bergumam.

Tiba-tiba terbitlah sebongkah penyesalan dalam diri Ale. Ini gara-gara film pendek berjudul “The Story of Stuff” yang secara iseng dia tonton di youtube beberapa saat setelah dia menyaksikan profil si gadis pemberani Greta Thunberg. Kepopuleran Greta berhasil membuatnya menjadi penasaran. Dia bertanya-tanya tentang apa sebabnya gadis seusianya itu begitu disorot akhir-akhir ini. Maka, dicarinya profil si Greta melalui youtube. Dari perkenalannya dengan Greta itulah, dia kemudian mendapati banyak video yang menjadi muasal perasaan sesalnya.

Jadi, pada setiap pakaian yang aku beli, itu ternyata ada mereka yang terpaksa harus kehilangan hidupnya sebab digusur paksa oleh pemilik pabrik kain. What! Ale bergumam lagi. Selanjutnya, sesal kembali menyergapnya. Dia mengutuki dirinya sendiri yang tidak benar-benar mendengarkan penjelasan gurunya di sekolah tentang pentingnya melestarikan sumber daya alam. Dia menyesal karena yang dia bisa sebelumnya hanya menghapal jenis-jenis SDA yang dapat maupun yang tidak dapat diperbarui tanpa memahami makna dari pelajaran itu. Dia menyesal sebab tidak sungguh-sungguh mampu memaknai pentingnya reboisasi dan bahayanya hutan gundul yang berulang kali disampaikan oleh gurunya. Ah, betapa dia benar-benar menyayangkan tindakannya yang tidak menggarisbawahi kata “habis” tatkala menyimak sang guru berkata, “Sumber daya alam akan habis kalau manusia serakah.”

Habis. Kata itu kemudian menjadi sesuatu yang amat menakutkan bagi Ale. Bagaimana tidak ketakutan, dia mulai membayangkan apabila sumber daya alam ini akan betul-betul habis akibat gaya hidup manusia yang serakah dan konsumtif. Ale pun mengutuki dirinya sendiri yang juga termasuk dalam manusia-manusia yang hobi belanja. Kalau sumber daya alam habis, lalu manusia akan bisa bertahan hidup dengan apa?

Masih dirundung sesal, Ale memutuskan untuk menutup lemari pakaiannya dan mulai berjalan menuju ruang makan. Di meja makan keluarganya, dia kembali dibuat makin menderita lantaran memergoki beberapa gelas berisi air yang tidak ditutupi, juga beberapa perkedel kentang dan ayam goreng sisa makan kemarin yang bentuknya sudah sangat jelek akibat terlalu lama dicelupkan dalam minyak panas. Aihh, Ale menggigit bibirnya dengan menahan geram. Dia baru tersadar kalau keluarganya sangatlah sering membuang-buang makanan dan air bersih. Hari ini ada empat buah perkedel kentang, dua potong ayam, dan beberapa mililiter air yang bakal dibuang. Lalu bagaimana dengan hari-hari kemarin? Sudah berapa banyak makanan dan air yang mereka buang dengan sia-sia? Kami tidak cuma doyan belanja, tapi juga gemar membuang-buang makanan! Ale bergumam sambil mendesis dan menggosok-gosok wajahnya.

“Amal… Amal.” Teriak Ale kepada adiknya yang berumur sebelas tahun.

“Apa??” jawab adiknya dengan malas.

“Mulai hari ini, jangan pernah membuang-buang air, nasi, lauk juga!” katanya galak.

Sementara Amal hanya menatap kakak perempuannya dengan tatapan tidak mengerti.

“Heh, aku serius.” Bentaknya. Sedang adiknya makin tidak mengerti.

Buru-buru Amal menjelaskan tentang sumber daya alam yang kian menipis, juga ancaman kerusakan bumi akibat eksploitasi dan pola hidup boros manusia hasil dia browsing di youtube kepada adiknya. Di tengah menjelaskan, dia kemudian tersadar tentang betapa sulitnya memberikan pemahaman akan isu kerusakan lingkungan kepada adiknya yang tergolong masih bocah. Ah, kembali dia dirasuki perasaan sesal bercampur sedih.

Dengan menahan tangis, Ale kemudian membuang sisa makanan dan air dalam gelas yang telah terkontaminasi debu akibat tidak ditutup maupun dihabiskan oleh peminumnya. Berikutnya, dia mencuci semua gelas dan piring kotor bekas makanan yang telah dibuangnya. Sambil mencuci, dia kembali menyesali segala aktivitas pemborosan yang selama ini dilakukannya. Dia bersedih membayangkan berbagai hasil bumi yang dieksploitasi dan dihambur-hamburkan oleh kaumnya.

***

“Kak,  gimana? Kamu jadi pesan tempat di mana untuk ulang tahunmu? Mama ikuti mau kamu, asal kamu jaga prokes ya. Ini situasinya sedang berbahaya. Kamu jadinya mau undang berapa banyak temanmu?” Mama Ale bertanya kepada putrinya. Sesuai janji, kedua orang tua Ale bakal memenuhi permintaan anaknya buat mengadakan pesta ulang tahun yang ke-17 ala selebgram atau influencer di media social. Dengan lokasi berdekorasi lucu dan kekinian, kue ulang tahun mahal yang belum tentu habis dimakan lantaran saking banyaknya makanan lainnya, hingga busana ulang tahun yang belum tentu akan dipakai lagi di lain hari, juga fotrografer yang siap mengarahkan setiap pose dalam agenda itu. Permintaan itu sudah diajukannya sejak lama.

“Ma, enggak jadi ya. Ale mau ganti permintaan.” Katanya.

“Mau minta apalagi kamu? Memangnya yang rencana semula kurang apa? Awas ya jangan aneh-aneh.” Kata sang Mama.

“Kita pergi ke Omah Phadma yuk Ma. Ale mau itu jadi hadiah ulang tahun.”

“Tempat apa itu, Nak” Kali ini suara Mamanya kembali melunak.

Berikutnya, Ale menjelaskan bahwa Omah Phadma yang terletak di kaki gunung Penanggungan tidak jauh dari kotanya merupakan komunitas petani organik yang juga menyediakan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pelestarian alam seperti menanam pohon dan wisata ekologi membersihkan sungai. Pemiliknya adalah seorang seniman sekaligus pecinta alam asal Surabaya yang mantap untuk mendedikasikan hidupnya buat kegiatan sosial dan bakti alam. Ale menemukannya di instagram dan begitu tertarik buat berkunjung ke sana.

“Gimana, Ma?” tanya Ale kepada mamanya. Adapun sang Mama yang sebetulnya merasakan sebuah perubahan akan sikap putrinya belakangan ini hanya mengiyakan permintaan itu. Namun, dalam hati dia terus membatin perihal ada apa dengan putrinya sekarang. Mamanya Ale heran melihat putrinya yang tiba-tiba menjadi gusar tatkala mendapati sisa makanan maupun air di meja makan. Dia juga melihat Ale mendadak begitu tepat waktu mematikan lampu atau keran air padahal sebelumnya sang putri tidak sepeduli itu. Dia juga menjadi takjub melihat tulisan tangan Ale yang tertempel di meja makan dan dinding yang berisi peringatan untuk senantiasa menghemat energi dan berhenti membuang-buang makanan.

“Ma, Mama. Ale tadi beli sedotan besi untuk kita. Untuk aku, Amal, Mama, Papa. Mulai sekarang kita harus mengurangi pemakaian plastik Ma. Oh ya, kalau pergi ke pasar atau supermarket bawa kantong belanja. Kalau penjualnya memberi plastik jangan diambil!”

Mama Ale hanya mengangguk. Tidak mampu memahami putrinya sepenuhnya. Dia berniat untuk segera mengabari sang suami perihal perbedaan perangai anak sulung mereka. Barangkali, sang anak ini baru mengilhami kehidupan salah satu selebgram favoritnya, begitu pikir sang Mama.

“Ma, kurangi beli baju ya. Jangan setiap bulan beli yang baru. Uang Mama ditabung saja?”

Belum selesai rupanya wejangan dari sang putri, begitu gumam sang Mama.

“Ma, nanti sore Ale mau pergi sebentar, ada urusan.”

“Mau ke mana? ”

“Ale sekarang menjadi relawan komunitas Garda Pangan. Mama sudah pernah dengar tentang Garda Pangan kan?”

Sang Mama menggeleng pelan sembari mengernyitkan dahi.

“Nanti Ale ceritakan. Sekarang Ale mau mandi, takut telat. ”

 

Yogyakarta, 2021

 

* Omah Phadma merupakan salah satu komunitas lokal yang terletak di Kota Pasuruan. Anggota komunitas ini memiliki banyak aktivitas, salah satunya adalah membuat makanan dan minuman organik.

**Garda Pangan adalah salah satu organisasi sosial di Surabaya yang fokus mengelola kembali limbah makanan layak makan industri hospitality untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *