Cerpen #77: “Keberadaan Bumiku”

Pada suatu pagi yang cerah, sedang dilaksanakannya kegiatan pembelajaran di sekolah SMK

Scaptorium membahas perubahan iklim yang drastis di bumi. “Baik anak-anak, sekarang Ibu akan akan menerangkan materi ini dengan mengaitkan kejadian konkret yang terjadi di permukaan bumi ini. Perubahan iklim terjadi karena pemanasan global yang diakibatkan oleh perbuatan manusia. Pemanasan global yang terus terjadi ini akan membuat permukaan bumi ini semakin kacau seperti kekeringan, peningkatan suhu, populasi hewan yang berkurang, menyebarnya bakteri penyakit, dan terakhir yang paling berbahaya adalah runtuhnya es di kutub utara. Selanjutnya dari pembahasan Ibu tadi, Ibu memberikan tugas kepada kalian yaitu membentuk kelompok yang terdiri dari lima anggota, kemudian kalian melakukan penelitian terhadap dampak dari pemanasan global tersebut dan setelah itu kalian presentasikan.” jelas bu guru.

Anes yang merupakan seorang pelajar yang mengerti segala hal mencari anggota kelompoknya yang terdiri dari Anes, Derry, Farius, Santo, dan Landa. “Mari kita bahas materi ini lebih lanjut!” Anes membuka pembicaraan. “Pertama yang akan kita bahas adalah…..” saat Anes berbicara ia memikirkan sesuatu, “Ada apa, Nes?” tanya Derry. “Tidak apa-apa” jawab Anes. Mereka pun sedang berdiskusi hingga “Bagaimana jika kita melakukan penelitian dengan menggunakan pesawat terbang kecil yang sudah selesai dikerjakan oleh perusahaan Ayah ku?” tanya Derry “Tentu saja kita mau” sahut Farius, “Lalu pesawat itu akan kita gunakan untuk apa?” tanya Landa “Untuk melakukan penelitian dengan mengunjungi setiap tempat secara langsung” jelas Derry, “Jadi bagaimana, setuju?” lanjut Derry “Setuju!” jawab mereka. “Kita akan memulai perjalanan hari esok, jadi persiapkan diri kalian.” Derry menerangkan.

Keesokkan harinya, mereka berkumpul di lapangan dekat rumah Derry. Di sana telah disediakan satu pesawat terbang kecil yang cukup untuk mereka berlima. “Anak-anak, ini adalah pesawat yang dirancang dan dibuat oleh perusahaan kami pada tahun ini. Pesawat ini telah sempurna dengan perlengkapan yang memadahi. Jangan khawatir tentang pesawat ini dan manfaatkan pesawat ini dengan semaksimal mungkin. Sekarang, silakan kalian masuk ke pesawat dan selamat menikmati perjalanan.” jelas ayah Derry. Setelah itu mereka berlima langsung memasukki pesawat itu dan yang mengemudi adalah Derry. Saat lepas landas Ayah Derry meninggalkan pesan “Berhati-hatilah, semoga kalian semua selamat.” Mereka pun memulai perjalanan. Di dalam pesawat mereka sedang berbincang “Pesawat terbang buatan Ayahmu ini keren ya Derry!” puji Santo, “Enaknya bisa duduk santai di sini sembari menikmati pemandangan di luar dari kaca ini.” kata Landa. “Kita harus berterima kasih kepada Ayah Derry karena sudah bersedia meminjamkan pesawat ini untuk kami.” Farius berkata dengan berlagak hormat “Tidak masalah, ini adalah pesawat yang cukup dan boleh kita gunakan dan akhirnya Ayahku mengizinkannya.” jelas Derry. Di tengah pembicaraan mereka, Anes mendengar suara “Dsh…..dsh…..dsh…..dsh…..dsh…..” Anes merasa kebingungan namun ia lupakan. “Sampai juga di tempat ini.” kata Derry.

Mereka telah sampai di tempat di mana tanah yang sangat luas dan kosong ini kering. “Lihat! semua tanah di sini kering dan tidak ada air. Bahkan tanah ini seperti retakkan kaca.” Derry terkejut dengan tempat ini, “Adakah yang tinggal di sini?” tanya Santo “Sepertinya tidak ada dan tampaknya tidak ada tanda kehidupan di sini seperti tumbuhan, hewan, atau manusia. Pasti keberadaan mereka di sini membuat tidak nyaman.” jelas Landa. Kemudian lanjut Derry “Baiklah sekarang mulai penelitian kita terkait kondisi ini dengan mencantumkan penyebab dan akibat dari kejadian ini.” Mereka semua meneliti setiap pijakkan kaki mereka. Dengan mencatat segala kemungkinan yang akan terjadi dan dibuat dalam sebuah laporan. Setelah beberapa lama mereka pun berganti tempat dan melanjutkan perjalanan mereka. Sembari mereka menunggu di tempat selanjutnya, mereka sambil berbincang dan bercanda satu sama lain. Saat di pesawat Anes bertanya kepada Derry “Kemana tujuan kita selanjutnya?” jawab Derry “Aku tidak tahu, tapi aku tetap mengecek setiap jengkal yang ada di bumi ini.” Setelah penjelasan itu Anes berjalan dan kemudian duduk di bangku hingga mendengar suara “Dsh….dsh….dsh….dsh….dsh….” pikirnya itu adalah kerusakan dari pesawat ini, namun tidak sepenuhnya ia memercayai. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat selanjutnya.

Tempat yang baru saja mereka tiba ini memiliki suhu lima puluh enam derajat Celsius.

“Panas sekali di tempat ini, kita baru saja sampai tapi banyak keringat sudah mulai keluar dari tubuhku” kata Farius sambil mengelap keningnya yang penuh dengat keringat, “Benar sekali, aku juga tidak tahu jika kita akan mengarah dan sampai di tempai ini” sambung Derry, “Bagaimana pun juga kita tetap melakukan penelitian di tempat ini. Tapi, aku pernah dengar ada suatu tempat di sini yang di mana tempat itu sejuk” Santo memberikan petunjuk, tanya Anes “Dimana itu?”, “Seingatku ada tempat di dekat muara, di sana tinggal seorang Kakek” jelas Landa. Kemudian mereka berlima naik ke pesawat lagi untuk mencari keberadaan tempat kakek ini.

Hingga beberapa saat, mereka menemukan sebuah rumah yang tampak bersih dan anggun.

Ketika mereka memasukki kawasan ini, mereka merasakan udara yang sejuk, banyak burung berkicauan, kupu-kupu dengan ragam warna beterbangan membuat suasana menjadi nyaman. Kemudian mereka mendarat dan menghampiri rumah itu. Derry mengetuk pintu dan berkata “Permisi, apakah ada orang di dalam? Kami di sini adalah pendatang.” Pintu dibukakan, di balik pintu mereka melihat seorang kakek dengan membawa tongkat di tangannya, tanyanya “Apa yang kalian cari?”, “Tidak, kami di sini hanya berkunjung untuk melepas lelah kami.” jelas Derry, “Kami baru saja meninggalkan tempat yang suhu udaranya sangat panas.” lanjut Landa. Sebelum lebih lanjut, kakek itu memperkenalkan diri “Sebelumnya, perkenalkan nama Bapak adalah Kazi, panggil saja Pak Tua Kazi. Saya tinggal di sini sudah lama, tadi kalian baru saja sampai di tempat yang suhu udaranya sangat panas?”, jawab Landa “Betul Pak Tua.”, “Kalian baru saja tiba di tempat itu, tapi tidak apa-apa beruntung kalian mengetahui dan tiba di tempat ini sebelum kalian beranjak pergi.” jelas pak tua Kazi, “Karena udara di sini terasa sejuk, jadi kami berkunjung ke tempat ini untuk menghilangkan rasa lelah kami.” kata Farius, “Baiklah jika seperti itu, silakan kalian bersantai di mana saja di tempat ini dan setelah itu kalian melanjutkan perjalanan kalian selanjutnya.” pak tua Kazi menjelaskan kepada mereka, “Terima kasih Pak Tua” ucap Derry. Anes mendengar percakapan itu, kemudian langsung duduk di alas kursi cukup jauh dari teman-teman yang lain dan memikirkan suatu hal.

Pak tua Kazi melihat Anes dan menghampirinya. Kata pak tua Kazi “Sstt.. pasti kamu mendengar suara desisan di setiap perjalananmu ya?”, “Iya itu benar sekali, suara apa itu?” tanya Anes, “Sudah, kamu ambil dan pegang ini.” pak tua Kazi mengambil sebuah benda dari tongkatnya “Ini adalah “lingkaran kematian”. Kamu pegang dan simpan ini.” ujar pak tua sambil berbisik. Mendengar hal itu Anes bingung dan kemudian mengambil benda itu dari pak tua Kazi. Lalu pak tua Kazi menghampiri mereka berempat “Kalian boleh meninggalkan tempat ini sekarang dan melanjutkan perjalanan kalian.” pinta pak tua Kazi. Setelah beberapa saat mereka mencatat laporan, mereka pun langsung meninggalkan tempat pak tua Kazi. Setelah pesawat lepas landas pak tua Kazi berkata “Berhati-hatilah.”

Di dalam pesawat mereka sedang berbincang. ”Sejuk sekali tempat tadi, rasanya aku ingin tinggal di sana.” kata Landa mengungkapkan kesenangan isi hatinya. “Benar, aku pun rasanya juga ingin tetap tinggal di sana.” sambung Farius, “Meskipun begitu, masih ada tempat yang harus kita kunjungi.” Santo mengingatkan, “Ya, kita harus tetap konsisten dalam melakukan penelitian ini, bagaimana denganmu Agnes apakah kamu siap?” tanya Derry kepada Anes. Saat itu Anes mendengar suara “Dsh…dsh…dsh…dsh…dsh…” Kemudian Anes menjawab “Ya, aku siap.” Kemudian mereka pun sampai di tempat selanjutnya. “Kita sudah sampai.” kata Derry dengan penuh semangat.

Di tempat ini Santo merasa sedih dengan keadaan di sekeliling tempat ini. “Astaga.” Santo khawatir “Hewan-hewan ini telah mati, bagaimana bisa?” lanjut Santo. Ia pun sampai tak berhenti melihat sekeliling dan kemudian ia turun dari pesawat dan segera menghampiri hewan-hewan yang telah mati itu. Melihat kejadian itu hati Santo merasa tergerak dan ingin menyelamatkan, namun tidak bisa karena semua terlambat. “Sudahlah itu, sekarang kita tuntaskan saja penelitian ini dan kemudian kita segera bergegas ke tempat selanjutnya.” Landa menguatkan hati Santo. Setelah mereka melihat kesiksaan yang terjadi dan kemudian dicatat ke dalam laporan, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.

Di dalam pesawat suasananya hening, tanpa ada pembicaraan apapun. Kemudian untuk memecah suasana Anes menghampiri Santo dan bertanya “Mengapa kamu sampai bersedih seperti itu?”, jawab Santo “Aku merasa sedih dan khawatir jikalau itu terjadi kepada kita, bukan hanya terhadap hewan-hewan saja melainkan seluruh alam semesta ini.” Anes hanya bisa terdiam dan kemudian mendengar suara itu “Dsh..dsh..dsh..dsh..dsh..” Mereka pun sampai di tempat selanjutnya.

Di tempat itu banyak sekali peningkatan, tempat itu banyak sekali yang terjangkit penyakit. Hal itu disebabkan karena peningkatan jumlah bibit dari suatu penyakit yang menyebar luas. Ini sangat mengkhawatirkan jika sampai menimbulkan masalah yang sangat serius. “Sepertinya aku tidak berani untuk menginjak tanah di tempat ini karena berisiko sangat tinggi untuk tertular.” kata Landa, “Sebaiknya kita amati dan menulis laporan dari pesawat ini saja sehingga bisa mengurangi dampak yang akan terjadi.” terang Farius. Melihat keadaan sekitar yang kacau balau membuat mereka resah dan khawatir. Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanannya ke tempat selanjutnya.

Dalam perjalanannya mereka sedang berdiskusi. “Mengapa bumi kita seperti ini?” tanya Farius. “Sebenarnya di mana keberadaan bumi kita? Apakah telah sampai di ujung kematian?” tanya Santo. “Apakah kita harus meninggalkan bumi tempat kita singgah karena telah mulai masa kehancuran?” tanya Landa. “Bagaimana dengan kehidupan yang ada di bumi ini, apakah selamanya akan abadi?” tanya Derry. Mendengar perkataan mereka Anes hanya terdiam dan mendengar suara itu lagi “Dsh.dsh.dsh.dsh.dsh.” tanyanya dalam hati, “Mengapa suaranya lebih cepat dibandingkan dengan suara sebelumnya?” Mereka semua sedang kebingungan terhadap kondisi ini. Kemudian tiba-tiba terdengar suara ledakan dalam mesin pesawat. Mereka semua panik hendak menyelamatkan diri “Semuanya berhati-hati kita sedang dalam keadaan darurat, harap semuanya berpegangan erat karena pesawat ini akan jatuh.”, tak lama kemudian pesawat itu jatuh. Mereka berlima selamat, namun keadaan pesawat sekarang ini rusak dan tidak bisa diperbaiki. Mereka berlima juga bingung bagaimana caranya untuk perjalanan pulang. Namun kebingungan mereka telah terbayar, mereka sampai di tempat yang sangat diinginkan.

Mereka sampai di tempat yang dingin yaitu di kutub. “Akhirnya kita sampai juga di tempat yang sejuk ini.” kata Derry sambil bersemangat, “Iya rasanya ingin tinggal di tempat ini saja.” lanjut Farius. “Yuk kita berkeliling di tempat ini untuk penelitian” ajak Landa dengan penuh semangat, “Tapi kalian heran tidak? Sepertinya tempat ini baik-baik saja dibandingkan dengan tempat-tempat sebelumnya yang telah kita kunjungi.” Santo merasa heran, “Benar itu, kira-kira apa ya?” tanya Landa. Seketika itu juga terdengar suara retakkan dari bongkahan es. Sedikit demi sedikit bongkahan es itu jatuh dan menghancurkan es yang lain. Mereka semua panik melihat pesawat tidak bisa lagi digunakan untuk perjalanan pulang. Ini adalah keadaan sangat berbahaya. Bongkahan es terus saja berjatuhan dari atas dan menimpa bongkahan es yang di bawahnya hingga terjadi genangan air yang begitu dahsyat. Mereka berlari untuk menyelamatkan diri seakan kematian ingin merenggutnya. Dunia tampak seperti satu kesatuan yang utuh, mereka menyaksikan semua keadaan bumi yang sedang mengalami krisis iklim di lima tempat yang berbeda. Mereka berada di tempat itu melihat di hadapan mereka kejadian krisis di permukaan bumi dengan menampilkan pengalaman hidup secara langsung kepada mereka. Betapa kejinya perbuatan yang telah dilakukan manusia terhadap bumi ini, dan sekarang saatnya manusia yang merasakan akibatnya. “Tolong selamatkan aku!” teriak Landa. “Tolong!!!” teriak Derry. “Tolong kami, bebaskan kami dari kehancuran ini” Santo memohon. “Tolong!! Tolong!!” teriak Farius. Teriakkan mohon pertolongan semakin kencang. Ini adalah tanda kematian bumi yang artinya bumi berada di ujung kematian. Namun, Anes hanya terdiam berdiri dan menangis melihat keadaan bumi dan teman-temannya yang tersiksa. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya memegang erat benda yang telah diberikan pak tua Kazi kepadanya. Sambil memejamkan mata, ia pun bergerak satu arah dengan melangkahkan satu langkah kaki ke belakang, seketika itu juga mereka kembali dengan selamat ke tempat semula di tempat berkumpul yaitu di halaman dekat rumah Derry.

Sesampainya mereka di sana, semua merasa aman dan lega setelah mengalami kejadian mengerikan itu menimpa mereka sebelumnya. Kemudian ayah Derry menghampiri mereka dan berkata “ Bagaimana perjalanan kalian tadi? Kalian baik-baik saja? Bagaimana dengan keadaan pesawatku?”, Anes hanya tersenyum dan berkata, “Kami baik-baik saja.”

Keesokan harinya, mereka memulai pembelajaran. Hasil dari semua penelitian mereka presentasikan di depan kelas. Saat Anes menjelaskan materi dari hasil penelitiannya, bu guru dan teman-teman merasa bingung dan tidak paham, lalu dia berkata dalam hatinya

“Dsh.dsh.dsh.dsh.dsh bumi berada di tangan ku.”

Dari cerita ini bisa kita ambil pelajaran bahwa sebenarnya kita tidak tahu kejadian yang akan terjadi pada bumi kita bahkan hingga seratus tahun mendatang, untuk itu perlu dipersiapkan yaitu dengan sama-sama kita merawat bumi kita agar tetap terjaga unsur kehidupan di dalamnya, karena semua itu berarti, semua itu milik bersama jadi perlunya upaya dari sekarang untuk mewujudkan bumi yang asri di tahun yang akan datang. Usaha yang bisa kita lakukan sekarang ini yaitu di antaranya dengan tidak menimbulkan pemanasan global akibat tindakan kita seperti kegiatan pembakaran sampah, hutan, pengolahan yang terjadi di pabrik seperti pengolahan bahan yang asapnya atau sisa-sisa dari hasil pembuangan itu dapat meningkatkan iklim di bumi, penggunaan kaca yang dapat menyebabkan temperatur suhu bumi menjadi meningkat. Kita harus memposisikan bumi sebagai prioritas utama dalam keberlangsungan hidup kita, dengan hal itu telah sejalan dengan pengupayaan kita terhadap bumi untuk tetap ada dan tidak mengalami suatu kehancuran yang berarti. Maka posisikan bumi di hatimu dan taruhlah rasa cinta di dalamnya, karena dengan cinta yang mulai tumbuh bisa membuat hubungan kita antara bumi dan aku bahkan kami semua bisa sejalan dengan harmonis.

One thought on “Cerpen #77: “Keberadaan Bumiku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *