Cerpen #76: “Lenyap”

Pagi itu muncul seorang pria berbadan tegap diambang pintu, mengenakan seragam pelindung lengkap, terengah lelah seperti berjalan  ratusan kilometer.

“ Aku butuh beberapa pemuda baik hati yang bersedia menolongku kembali ke markas pusat!” teriaknya sambil melihat ke sekeliling.

Tak ada jawaban. Dia pun mulai berjalan menyusuri setiap sisi tempat perlindungan  kecil yang diberikan kepada kami dengan penerangan seadanya. Aku yang saat itu melihat dan mendengar pria itu datang, langsung berlari ke arah adik perempuan ku yang sedang tertidur pulas. Aku hanya ingin bersamanya lebih lama, melihatnya tumbuh menjadi gadis periang dan penyayang.

Selamat datang di bumi yang sudah dapat kau bayangkan sebelumnya. Ya, itu benar-benar terjadi saat ini. Kata orang dulu bumi indah, indah sekali. Tapi tak pernah dapat ku bayangkan arti kata indah itu. Apa yang kulihat selama ini jauh dari kata indah. Segala kerusakan dan perbuatan kalian yang hina tak dapat lagi di argumentasikan, kami terlalu sibuk mempertahankan diri, saling menunggu untuk pergi. Sementara mereka yang mampu membayar lebih, dapat tenang sejenak walau hanya untuk beberapa bulan tak pasti.

Tak tahu persis apa yang sedang terjadi di bagian belahan bumi lain, pastinya tak jauh berbeda dari apa yang kami rasakan saat ini. Akan kuberi tahu beberapa yang kuketahui. Dari tiga kebutuhan pokok, hanya tempat tinggal yang dapat terpenuhi walau terlihat tak layak, pakaian yang itu-itu saja dan makanan seadanya sangat sulit didapatkan. Mereka yang katanya dulu berkuasa, sekarang tak ada bedanya dengan mereka yang hanya memiliki uang lebih. Mereka yang berilmu merupakan pemimpin saat ini. Setiap pergerakan diawasi dan terus dievaluasi untuk setidaknya dapat membuat keadaan baik-baik saja untuk sesaat.

Keadaan bumi yang semakin tidak dapat ditebak membuat mereka panik. Membatasi segala hal bahkan sumber informasi. Teknologi yang dulu diagung-agungkan tak lagi dapat digunakan sebebasnya untuk mengurangi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Katanya dulu pernah ada peringatan bahwa perkembangan digital ekonomi dan pertumbuhan ekonomi hijau tidak bisa berjalan bersamaan, tanpa ada aksi dengan sistem menyeluruh oleh segala pihak ataupun pelaku usaha dan pemangku kebijakan. Itu justru dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca, memperburuk krisis iklim dan mengancam kemanusiaan. Namun, hanya sebagian kecil orang yang sadar.

Sebagian orangtua yang masih bertahan berkata, semuanya akan hancur, yang dapat kami lakukan saat ini hanyalah menunggu dan bertahan. Disaat mereka yang berilmu berjuang berupaya mengurangi keadaan ini. Sangat sering terlintas dipikiran ku cara-cara tidak masuk akal untuk dapat bebas dari ini semua. Namun rasanya tak mungkin, aku selalu berhenti pada tahap berpikir, tak pernah dapat kesempatan. Ini merupakan masalah bersama, namun kalian lah dalang dari ini semua. Sesulit itukah saling mengerti? Egois, alam yang hanya bisa diam terus tertindas.

 

“ Apa yang kau inginkan dari kami?” Tanya seorang anak muda dengan lantang.

“ Mobilku berhenti mendadak saat perjalanan pulang semalam, aku ingin kalian membenarkannya, kalian ahli dalam bertukang kan? Setidaknya hanya itu yang dapat kalian lakukan di tempat ini.”

“ Berhentilah menjatuhkan kami, tak ada waktu untuk berdebat, katakan saja dimana mobilmu itu!” ku potong perkataannya yang hanya akan terus menjatuhkan.

“ Ikutlah dengan ku, tapi ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang untuk mengawalku agar dapat kembali ke markas pusat tepat waktu. Dan ya, tak semua dapat mengenakan pelindung lengkap,” kata pria itu tenang.

 

Pergi keluar tanpa menggenakan pelindung lengkap, mustahil untuk dapat bertahan dalam waktu yang lama. Kau sudah dapat membayangkan bagaimana panasnya, bagaimana rusaknya permukaan bumi yg kulalui. Katanya tak ada lagi pulau-pulau kecil, air laut terus memaksa masuk. Banjir masih terjadi bahkan lebih sering, asma, kanker kulit bahkan katarak semua orang sangat rentan terhadap segala penyakit. Memang sebaiknya kami diam saja, menunggu waktu itu datang.

Cepat atau lambat ini pasti terjadi, mereka hanya butuh pemuda yang dianggap lebih kuat. Dari cerita Ayah padaku, belum pernah ada yang datang lagi meminta pertolongan secara mendadak seperti ini sejak ayahku masih kecil, Mereka yang ikut pergi tak pernah kembali. Katanya mereka sudah mendapatkan tempat yang layak di markas pusat. Namun sekarang, aku dapat menyimpulkan, mereka yang ikut pergi sudah lama pergi, demi membuat keadaan baik-baik saja walau hanya sesaat.

 

“ Baiklah aku bersedia membantu,” tak perlu pikir panjang, bagiku kita di lahirkan untuk pergi dan melakukan sesuatu yang berguna sebelum waktu itu datang. Maut tak pernah memandang umur.

Semua orang menatapku perihatin, namun penuh kerelaan. Bahkan Ibu dan Ayah, mereka terlihat tegar, seolah sudah terlatih merasakan kehilanganku dari jauh-jauh hari. Hanya ada satu makhluk kecil yang selalu memberikanku harapan, ya adik perempuan ku yang masih tertidur pulas. Aku akan sangat merindukannya tapi akan ku lakukan apapun yang dapat membuatnya bertahan agar bisa mendapatkan kesempatan keluar, melihat apa yang sebenarnya terjadi.

 

“ Katakan pada nya aku pergi bermain keluar, maaf karna tidak mengajaknya, ku harap semua akan baik-baik saja.” Hanya itu yang dapat kukatakan sebagai perpisahan.

 

Semua akan punah, semua akan lenyap. Tapi setidaknya akan selalu ada cara untuk bertahan.

 

*hanya karangan, latar tempat tidak diketahui pasti di bagian bumi mana, yang pasti hanya beberapa informasi tentang krisis iklim, mari saling mengingatkan dan terus berbenah sebelum terlambat.

*sudut pandang orang pertama berada di masa depan dimana bumi sudah hancur akibat kelalaian kita. Tokoh adik perempuan melambangkan generasi yang akan terus ada. Ayah, ibu dan orang-orang lainnya melambangkan manusia yang akan dapat terus bertahan dengan kekuatan seadanya. Dan pria berseragam pelindung lengkap, ialah mereka yang berilmu, satu-satunya harapan yang dapat memimpin dunia dengan penuh kesadaran. Berhati-hatilah, kita membawa nama alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *