Cerpen #75: “Symphony Semesta”

Pagi yang cerah di sebuah perbukitan nampak seorang anak manusia yang baru saja keluar dari tenda dengan raut wajah ceria sembari menarik nafas panjang mengisi paru-parunya dengan udara pagi yang bersih. Kini ia berjalan perlahan meninggalkan mulut tenda menuju puncak bukit untuk menikmati lautan awan yang terhampar luas seperti kasur kapas tanpa balutan kain,

“Jika memang aku bisa berbaring di sana mungkin aku akan merasa sangat nyaman, aku rasa seniman terbaik memanglah Semesta, ibuku.” Gumamnya.

Ia adalah Anak Semesta, seorang manusia yang sangat mencintai Semesta hingga mendeklarasikan diri sebagai anaknya. Ia belajar sepenuhnya dari Semesta entah perihal hidup, cinta, maupun yang lainnya perihal apa saja yang bisa ia pelajari dari Semesta yang begitu luas, tulus, dan ikhlas dalam mencintai. Dia sempat berpikir bahwa suatu hari nanti dirinya akan berubah menjadi benci terhadap manusia sebab manusia itu sangat biadab baginya, manusia terus menerus menyakiti dan memperkosa Semesta bahkan ketika mereka sadar seberapa ikhlasnya Semesta dalam memberikan kehidupan kepada mereka. Tapi, dia berpikir ulang sebab dirinya juga adalah manusia maka dia juga turut bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia lain kepada Semesta.

Setidaknya beberapa tahun ini Anak Semesta kerap mendengar ibunya menangis sebab Semesta tidak lagi kuat menahan segala perilaku manusia. Anak Semesta mulai mengingat perihal perjalannya beberapa waktu lalu, ia berjalan menyusuri beberapa sudut negeri. Apa kau bisa menebak apa yang ia temui? Anak Semesta pernah bercerita kepadaku bahwa ia menemui berbagai macam pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar, ia merasa sedih aku menanyakan perihal alasan mengapa dia bersedih, dan dia pun menjawab,

“Aku merasa sedih sebab mendengar ibu Semesta menangis terisak tadi malam, matanya sembab, kondisi tubuhnya semakin memburuk setiap kali waktu berjalan. Ia mengidap penyakit kronis yang membuatnya terus menerus dihantui olah perasaan yang tidak menentu, belum lagi segala sakit yang ia rasakan ketika dicakar dan dibedah oleh beberapa manusia yang tidak punya hati tapi di sisi lain aku menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh para bedebah itu adalah demi mencukupi kebutuhan manusia, tapi apa mereka tidak mempunyai akal untuk menciptakan ataupun menggunakan bahan bakar baru yang lebih ramah terhadap Semesta? Aku rasa mereka tidak sebodoh itu, benar bukan kawan?” Curhatnya kepadaku.

Aku tidak dapat memberikan jawaban apapun kepadanya satu kata pun tidak mampu aku ucapkan, Anak Semesta nampak sangat sedih ia terus menundukkan kepala sambil sesekali terisak. Mau bagaimanapun aku harus mengakui bahwa masih banyak manusia yang tidak peduli dengan pelestarian alam yang mereka pikirkan hanya cuan, cuan, dan cuan. Tentang bagaimana mengurangi biaya produksi sebagai awal memperbesar keuntungan di sisi lain populasi manusia juga terus bertambah dan hal ini berpengaruh terhadap kuantitas kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia yang terus bertambah dibarengi dengan perkembangan teknologi yang mana semakin bergantung terhadap listrik dan mesin. Namun tetap saja berbagai inovasi yang diciptakan oleh manusia sekalu kembali bergantung terhadap Semesta dalam artian lain sehebat apapun teknologi yang diciptakan oleh manusia akan tetap membutuhkan alam sebab begitulah simphony kehidupan adntara manusia dan lingkungan hidupnya. Bagi Anak Semesta mungkin kita terlalu sombong untuk mengaku sebagai makhluk paling tinggi dan enggan mengakui bahwa hakikat manusia adalah bagian dari ekosistem yang terbentuk pada Semesta.

Bahan bakar fosil sepertihalnya batubara dan minyak bumi adalah bahan bakar paling fdisukai oleh manusia sebab selain murah, dan mudah didapatkan juga katanya bahan bakar fosil tidak akan habis. Pemikiran seperti itu adalah hal yang sebenarnya salah, yang mana bahan bakar fosil sebenarnya memiliki keterbatasan jumlah selain itu bahan bakar fosil hampir tidak dapat diperbaharui meskipun bisa, pastinya akan menmakan waktu yang sangat amat lama. Seperti yang kita ketahui keberadaan bahan bakar fosil merupakan hasil dari proses pembusukan organisme yang terjadi selama berjuta-juta tahun lamanya.

“Hey Anak Semesta.” Panggilku.

“Ada apa teman?” Jawabnya.

“Mengapa kau tidak membuat propaganda saja?” Tanyaku.

“Untuk siapa? Manusia?” Jawabnya dengan tanya.

“Untuk oknum manusia yang menurutmu tidak dapat mengerti mengenai symphony kehidupan.” Jawabku.

“Kalau hal-hal seperti itu mah sudah banyak yang bikin, bukan propaganda tapi lebih tepatnya adalah sebuah edukasi guna menyadarkan manusia tentang pentingnya melestarikan Semesta, tapi..” Jelasnya terpotong.

“Tapi apa?” Tanyaku penasaran.

“Tapi mengubah mindset bukanlah hal yang mudah, apa lagi dengan minimnya dukungan dari pemerintah yang seharusnya mampu mengatur hal-hal krusial terkait pelestarian Semesta.” Lanjutnya.

“Apa kita harus bergantung dengan pemerintah?” Tanyaku.

“Hmm aku nggak bilang kalau kita harus bergantung sama pemerintah, malah seharusnya niat untuk melestarikan Semesta datang dari diri kita sendiri. Maka dari itu tugas pemerintah adalah memberikan dukungan dengan membuat regulasi dan peraturan guna mencegah perusakan Semesta, gitu loh.” Jelasnya.

“Ohhh jadi maksudmu peran pemerintah di sini adalah sebagai support system?” Tanyaku.

“Iya benar.” Jawabnya.

“Tapi bukankah mereka sudah menerapkan SDGs dalam setiap pembangunan?” Tanyaku lagi.

“Apa kau yakin mereka menerapkan dengan benar?” dia bertanya balik.

“Ehm.. mungkin? Jawabku.

“Kalau memang benar mereka telah menerapkan SDGs dengan baik dan benar maka tidak akan ada kontroversi terhadap peresmian UU Omnibus-law dan UU Minerba terutama UU Minerba yang dianggap mempermudah pertambangan tanpa memperhatikan keberanjutan dan kelestarian Semesta. Faktanya hingga sekarang masih banyak pertambangan yang enggan bertanggung jawab terhadap Semesta bahkan untuk sekedar melakukan reklamasi terhadap bekas galian tambang, hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan.” Jelasnya.

“Bagaiman bisa hal seperti itu berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan?” Tanyaku lagi.

“Bekas galian tambang yang tidak direklamasi dapat menjadi titik berbahaya bagi masyarakat terutama jika nantinya bekas galian tersebut terisi oleh air bisa berubah menjadi lubang maut sekaligus berpotensi mencemari lingkungan sekitarnya, terlepas dari itu meskipun lubang telh direklamasi belum tentu tanah yang ada dapat kembali subur seperti semula. Kemudian kita kembali kepada regulasi, tidak adanya regulasi yang membatasi kapasitas penambangan mengakibatkan wilayah tambang terus meluas yang mengakibatkan adanya deforestri dan memungkinkan terjadinya eksploitasi terhadap sumberdaya yang ada.” Sambungnya.

“Jadi kita harus mulai memikirkan energi alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil ya?” Tanyaku.

“Benar selain berharap pemerintah akan melahirkan regulasi dan peraturan kita juga harus turut memikirkan perihal energi alternatif.” Jawabnya.

“Bagaimana dengan kelapa sawit?” Tanyaku lagi.

“Kelapa sawit ya, hmm benar sih kelapa sawit bisa enghasilkan bio oil, tapi aku rasa kita terlampau malas untuk mengolahnya sehingga menjualnya sebagai bahan mentah. Selain itu penenaman kelapa sawit juga terlampau memaksakan kemampuan tanah yang pada dasarnya terbatas. Dengan berkurangnya hutan, maka kemungkinan krisis iklim juga akan semakin parah sehingga mampu mempercepat pemanasan global, sangat berbahaya bukan?” Jawabnya.

“Iya juga sih, bahkan pengembangan tambang dan kebun kelapa sawit seringkali memicu konflik agraria, mulai dari perampasan tanah dan sebagainnya.” Sambungku.

“Begitulah, sangat banyak yang perlu dievaluasi dari kita, semoga saja beberapa waktu kedepan kita akan lebih sayang kepada Semesta dan anak, cucu, cicit kita masih bisa mengagumi keagungan Semesta Indonesia. Okey, segini saja sepertinya aku harus pergi lagi untuk belajar dari Semesta selagi ia masih ada, sampai jumpa lagi.” Katanya sambil berpamitan.

Begitulah dia, begitu banyak yang ia pikirkan terkat Semesta rasa cintanya terhadap Semesta sudah terlalu jauh bahkan rasa cintanya terhadap Semesta membuatnya sementara enggan memiliki pasangan hidup. Semoga saja kau mendapatkan kebahagiaan yang setimpal nantinya, wahai Anak Semesta dan aku yakin kau mampu menemukan kembali Symphony Semesta yang telah terdengar sumbang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *