Cerpen #74: “Bumi Menelan Masa Depanku”

Kuhirup aroma sampah dalam-dalam. Bau busuk pelan-pelan merambat masuk memenuhi  seluruh rongga paru-paruku. Bukan karena aku menyukai aroma itu, tapi karena nenekku pernah bilang bahwa menghirup aroma itu penting bagi pembiasaan hidungku sebelum bekerja. Agar aku tak merasa terganggu lagi dengan aroma busuknya sampah saat aku memungut kertas kardus, botol-botol kaca maupun plastik yang terbenam dalam tumpukan sampah yang menggunung. Topi usang berwarna pink yang kudapat kemarin di sekitaran pintu depan tempat pembuangan akhir menjadi teman setia saat aku bekerja di bawah terik mentari yang rasanya membakar kulit.

Aku baru berumur 10 tahun. Jam tujuh pagi begini, harusnya anak seusiaku berangkat ke sekolah seperti anak tetanggaku yang rumahnya hanya bisa kulihat dari celah pintu pagar setinggi tiga kali lipat tubuhku. Anak itu sering membuatku cemburu ketika ia dan adik perempuannya yang cantik berada dalam mobil sambil melirik ke arahku yang bersembunyi di balik tembok tinggi yang mereka bangun.

Rumah kami berdekatan, hanya berbatasan dengan tembok tinggi itu saja. Tapi serasa begitu jauh karena kami tak bisa sekalipun bisa bertegur sapa apalagi berkunjung. Pintu pagarnya selalu tertutup tak seperti rumahku yang ayam saja bebas keluar masuk dan meninggalkan kotoran di merata tempat.

“Zara, kenapa melamun, Nak? Kamu capek ikut kerja bersama Nenek, ya?.”

Nenekku biasa dipanggil Wan Minah. Umurnya sudah tua. Kata nenek, tahun ini genap 65 tahun. Harusnya di usia sekarang nenek sudah bisa istirahat sambil menimang cucu yang lucu-lucu. Tapi setelah kakek sakit karena kecelakaan di pertambangan 7 tahun yang lalu, nenek lah yang kemudian ikut memenuhi kebutuhan keluarga.

Ayahku? Ayah pergi bekerja ke negara tetangga. Katanya untuk mencari rezeki di luar sana. Ayah pernah di penjara di sana karena tak punya izin masuk. Ayah itu pendatang haram, begitu katanya. Ibuku? Ibu menjaga 2 adikku, Ziya yang berumur 7 tahun dan Zizi 5 tahun. Ibu sibuk di rumah.

“Zara. Sini, Nak.” Nenek memintaku duduk di sampingnya. Kulihat nenek menatap jauh ke depan. Entah apa yang nenek pandang nun jauh di sana, di pemukiman warga elit yang gedungnya tinggi dan megah. Nenek menarik napas kemudian melepaskannya dengan berat.

“Zara.” Diam sejenak. “Dulu gunung tegak berdiri di atas sana, di tempat permukiman real estate yang kau bilang istana itu. Di sana udaranya dingin, pemandangan di sana hijau dan udaranya sangat segar. Nenek biasa bermain ayunan sambil berlarian di bawah kaki gunung. Namun sekarang, semua itu sirna. Coba kau lihat apa yang ada disana, Zara?.”

Kutatap sekeliling bangunan megah dan berwarna-warni di ujung sana. “Ada banyak rumah, Nek. Besar-besar, tinggi-tinggi. Ada mobil truk dan jumbo penggali tanah juga di atas gunung sana.”

“Bangunan-bangunan itulah yang membuat udara menjadi panas, Zara. Bangunan-bangunan itulah yang membuat udara jadi berdebu. Mereka mengeruk tanah di atas gunung sana untuk membuat bangunan megah nan tinggi. Merekalah yang merubah warna pohon yang menghijau menjadi tanah kuning dan bebatuan yang gersang. Mereka yang membuat kita warga asli menjadi kuli di tanah sendiri. Kita hanya jadi penonton di rumah sendiri.”

Meski aku taklah begitu mengerti, namun aku jadi tahu bahwa bangunan-bangunan itu begitu jahat, merampas kebahagiaan masa kecil nenekku sekaligus merampas kebahagiaan masa kecil kami. Mereka berada di rumah-rumah megah sementara kami tetap di sini, menikmati debu mobil mereka yang melewati rumah kami. Mereka tinggal membuang sampah di depan rumah sementara kami harus menunggu sampah-sampah mereka di sini, tempat pembuangan akhir hanya untuk mencari recehan hasil mengais sampah yang mereka tumpuk di sini.

“Zara. Kau tau, Nak. Dulu, desa ini adalah desa yang terkenal bersih, rapi, asri dan sejuk. Bahkan pernah mendapat hadiah dari pemerintah karena keindahannya. Air yang mengalir dari mata air gunung sangatlah jernih. Kami biasa minum langsung dari mata airnya secara gratis.”

“Lalu ke mana larinya air itu, Nek?,” tanyaku.

“Masih ada di sana, Zara. Tapi sudah dialirkan ke gedung-gedung mewah itu dan harus dibayar. Sedang kita orang-orang miskin, tak lagi bisa menikmatinya karena kita tak punya cukup uang untuk membayarnya.”

Kulihat nenek mengurut lembut dadanya. Mungkin sakitnya kambuh. Nenek memang sering mengeluhkan dadaya yang sering terasa sesak. Nenek mengidap asma kronis. Berawal sejak mobil jumbo pengeruk gunung datang ke  desa kami dan mobil truk yang hilir mudik mengangkut tanah kuning maupun bebatuan dari pegunungan.

“Dulu sungai yang tidak jauh dari rumah kita, itu airnya jernih. Tak seperti sekarang, penuh sampah dan limbah, warnanya kabut dan berbau. Zara sendiri juga sering melihat orang-orang membuang sampah ke sana. Bahkan tempat tidur juga pernah Zara lihat terapung di sana, kan?.”

“Iya, Nek. Zara pernah menyaksikan itu semua. Oh ya, Nek. Zara suka mengais sampah di dekat rumah-rumah megah di sana, Nek. Sampah-sampah mereka masih bisa kita pakai. Termasuk sampah tetangga kita, Nek. Kemarin sebelum truk sampah menjemput sampah tetangga kita, Zara sempat membuka plastik sampahnya. Ada banyak botol, kaleng dan roti juga.

Sayangnya Zara hanya sempat mengambil 1 boneka Barbie pink yang Zara berikan kepada Ziya. Padahal Cuma patah sebelah tangannya saja kok sudah dibuang ya, Nek.”

“Kamu jangan ke sana lagi, Zara. Mereka memiliki anjing yang galak.”

“Zara suka anak perempuan yang ada di sana, Nek. Semua mainan, pakaian dan apa pun yang dia pakai berwarna pink. Dia juga cantik, Nek. Zara pernah ngintip dari celah pagar mereka. Halaman rumahnya luas, ada taman bermain yang dipenuhi bunga-bunga indah berwarna-warni. Waktu itu Zara lihat anak perempuan yang cantik itu sedang menaiki ayunan yang tinggi dan besar. Zara ingin sekali main ke sana.”

“Zara, ayo kita pulang. Dada nenek sakit.” Nenek bangun dari duduknya. Aku mengikutinya dari belakang sambil menjinjing bekal makanan siang yang ibu siapkan namun belum kami makan. Aku dan nenek pulang dengan mengayuh sepeda sambil membawa pikiran masing-masing.

Sampai di rumah, hari sudah mulai panas. Gerah. Padahal ini masih belum terlalu siang. Langit sudah lama tak menurunkan hujan. Di siang hari panas makin menjadi-jadi. Serasa membakar kulit. Ditambah dengan debu yang beterbangan, membuat mata menjadi perih, bernapas menjadi susah. Mau mandi airnya keruh dan kotor. Mau tidur siang di dalam panas, mau tidur siang di luar, hingar bingar juga oleh suara truk yang lalu lalang.

Aku tak jadi tidur, lebih baik bermain saja dengan Ziya dan Zizi. Tak terasa sudah mulai sore. Awan hitam tiba-tiba datang berarak-arak. Langit menjadi gelap. Ku dengar ibu berteriak-teriak dari dapur.

“Zara, angkat jemuran. Sebentar lagi turun hujan. Tutup pintu dan jendela.” Kulihat ibu setengah berlari ke belakang rumah mengangkat jemuran ikan asin dan kerupuk nasi. Pintu dan jendela segera kututup. Nenek mempersiapkan beberapa baskom dan bak untuk menampung air hujan yang selalu berhasil menembus atap rumah yang bocor di sana-sini meski sudah berulang kali ibu tutupi dengan kotak kardus berlapis-lapis.

Tak lama, hujan benar-benar turun dengan begitu lebat. Kilat sambar menyambar. Suara petir pun menggelegar. Listrik seketika padam. Malam menjadi gelap gulita. Nenek memasang dua batang lilin yang kemudian diletakkan ke tempat yang tak terkena hujan. Ziya dan Zizi memainkan air yang jatuh ke dalam bak. Kudengar suara kakek memanggil nenek dari dalam ruangan yang dibatasi tarpal.

“Minah, Yati, bantu  ayah berkumpul bersama kalian.” Nenek dan ibu memanggilku untuk membantu mengangkat kakek ke ruangan di mana kami semua berkumpul. Kakek, nenek, ibu, aku, Ziya dan Zizi saling memandang. Kakek membuka pembicaraan sambil berbaring.

“Minah, Yati. Kita tidur bersama di sini saja. Ayah khawatir jika hujan ini tak kunjung berhenti, akan ada banjir bandang atau longsor seperti yang terjadi 7 tahun yang lalu. Jika mendadak bencana datang, kalian bisa langsung keluar. Pakaian yang diperlukan bisa langsung dibungkus, demikian juga persiapan makanan dan minuman.”

Kulihat nenek dan ibu saling berpelukan dan mulai bertangisan. Meski aku taklah begitu mengerti, tapi entah kenapa aku mulai cemas. Mulai cemas dengan keluarga besar ini. Khawatir pada kakek yang takkan mungkin untuk lari. Aku khawatir pada nenek yang sesak napasnya mudah kambuh jika panik. Aku lebih khawatir kepada adik-adikku yang masih kecil, bagaimana mereka bisa lari dalam keadaan hujan dan gelap begini. Dan ibu, bagaimana dengan ibu? Aku pun akhirnya menangis sendiri. Menangisi sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.

Nenek dan kakek berbaring berdekatan. Ibu berada di tengah-tengah antara Ziya dan Zizi. Aku tak tahu apakah mereka tidur atau hanya memejamkan mata. Aku sendiri masih menahan mata agar tidak tertidur. Aku khawatir atap rumah ini menimpa kepala karena angin tak juga mau berhenti menggoncang tiang rumahku yang sudah rapuh.

Samar-samar mataku tertuju pada jam di tiang rumah yang menunjukkan pukul 22.20 malam. Mataku kejang. Jangankan mau tertidur, terpejam saja enggan. Nenek kulihat masih mengelus-elus dadanya sambil sesekali membetulkan kain tipis yang menyelimuti tubuh ringkih kakek. Ibu memeluk Zizi sementara Ziya memeluk ibu. Aku di sini, berada di samping pintu, mengintip ke rumah tetanggaku yang tetap terang benderang. Entah kenapa rumah mereka tetap bisa terang benderang sementara rumah kami gelap gulita. Entah kenapa tetap ada aroma ayam panggang dari rumah mereka di jam selarut ini saat kami tidur dalam keadaan makan malam yang tidak mengenyangkan.

Aku masuk ke dalam kainku. Memegang perutku yang berbunyi. Betapa aku ingin sekali menikmati ayam bakar yang dulu pernah kulihat di jual di pinggir jalan. Tapi harapan tinggal harapan. Mimpi tinggallah mimpi. Nyatanya aku masih di sini, di rumah reyot yang bakal runtuh tak lama lagi. Air mataku mengalir. Tak tahu apa yang kutangisi, tapi hidupku serasa menyedihkan sekali. Mengapa aku tak bisa seperti anak tetanggaku yang kaya raya itu. Kami berdiri di bumi yang sama, di tanah yang sama tapi mengapa Tuhan memperlakukan kami berbeda. Aku menangis tanpa suara dalam kainku yang mulai basah. Entah berapa lama aku berada dalam keadaan yang demikian.

Tidak lama aku mendengar suara teriakan dari luar. Tapi terlalu samar. Aku membuka pintu dan lari keluar. Orang-orang berlarian ke jalan. Semua sibuk. Mobil pink tetanggaku sudah terparkir di jalan. Anak perempuan pink itu pun sudah ada di jalan. Ia menjatuhkan Barbie pinknya ke luar kaca jendela. Ia menatapku dan aku pun menatapnya. Kaca mobil ditutup bersamaan dengan terlindasnya boneka Barbie oleh ban mobil pink tetanggaku.

Aku menangis lagi. Remuk rasa hati ini. Aku berjalan menuju pintu rumah yang terbuka lebar. Terlambat. Baru saja aku berdiri di tengah pintu, menatap nenek dan kakek yang masih terbaring, menatap ibu yang duduk sambil memeluk Ziya dan Zizi. Sekelip mata longsoran tanah menghantam rumahku. Aku berlari keluar dan menjauh ketika datang lagi longsor yang berikutnya secara bertubi-tubi. Perlahan lilin di rumahku padam. Tak ada cahaya lagi. Tak ada bayang kakek, nenek, ibu, Ziya dan Zizi lagi. Gelap.

Begitu mata ini terbuka, yang kulihat hanya hamparan tanah yang jatuh dari atas gunung. Inilah longsor yang kakekku khawatirkan semalam? Inikah yang dikatakan oleh nenek bahwa orang-orang kaya itu mengeruk keuntungan karena mereka memiliki uang sedang kami yang miskin jadi penonton di tanah sendiri? Mereka bisa mengevakuasi diri karena mereka punya mobil dan rumah di tempat lain. Sedang kami yang miskin tak bisa lari ke mana-mana. Kami tetap di sini karena tak ada lagi tempat untuk pergi.

“Nenek benar, bangunan mewah, real estate dan sampah di sungai  telah merusak alam kita. Alam tak lagi ramah karena kita manusia tak ramah lagi kepada alam. Inilah akibatnya, alam rusak oleh tangan sendiri dan merusak diri sendiri pula”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *