Cerpen #73: “Sandyakala”

Indonesia, negara yang dikenal sebagai Heaven of Earth atau surganya dunia. Hal tersebut tentu bukan omong kosong belaka, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah dan juga alam yang sangat indah. Siapa pun pasti akan senang jika harus tinggal di Indonesia. Ya, setidaknya seperti itu yang diceritakan oleh kakekku dulu. Sayangnya generasiku sudah tidak dapat menikmati keindahan alam Indonesia saat ini. Perusahaan tambang yang semakin banyak, sikap sekelompok orang yang tidak peduli dengan lingkungan dan orang lain, semua itu telah merubah langit biru menjadi langit abu-abu gelap, rusaknya alam, dan tercemarnya lingkungan.

Saat ini, aku hanya bisa melihat kerusakan dimana-mana. Bahkan, untuk sekedar bernafas pun kami membutuhkan bantuan alat penyaring udara agar tidak keracunan. Kemajuan teknologi yang ada pun tidak pernah sedikitpun dapat membantu menangani permasalahan lingkungan ini. Energi terbarukan yang ramah lingkungan bagaikan mimpi yang tidak pernah terwujud. Aku juga bingung kenapa para konglomerat lebih suka mengeksploitasi energi yang jelas-jelas bisa merusak alam. Bahkan kami dipaksa untuk bekerja di pertambangan dengan diawasi oleh robot. Para robot setiap saat, selalu saja mengatakan bahwa apa yang kami lakukan saat ini untuk membangun teknologi yang dapat menciptakan alam yang lebih baik seperti dulu. Entahlah itu sebuah kebohongan atau kebenaran, yang jelas mana berani aku melawan, bisa-bisa aku akan dihabisi oleh para robot itu.

Pada suatu pagi, secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang gadis yang sedang terburu-buru. Ternyata, gadis itu sedang dikejar oleh pasukan robot pengawas. Aku yang sudah paham betul kondisi daerah itu pun langsung mengajaknya bersembunyi di tumpukan bangkai robot tambang. Untung saja para robot itu tidak berhasil menemukan kami. Akhirnya, aku bisa bernapas lega setelah para robot itu pergi. “Hai, makasih udah nyelamatin aku. Salam kenal namaku Sandy.” ucap gadis tadi mengagetkanku. “Eh, iyaa sama-sama. Salam kenal juga aku Akala.” balasku gugup. Gadis itu lalu menjawab “Wah, nama kita kalau digabung cocok juga yaa.”, “Cocok di bagian mana?” jawabku. Dia pun berdiri sambil menjawab “Kalau nama kita digabung jadi Sandyakala itu artinya gurat merah di langit senja, terdengar indah kan? Ya walaupun sekarang langit kita sudah tidak seindah seperti yang ada di cerita dulu.”. Gadis itu pun langsung pamit untuk pergi ke suatu tempat, dan setelah berjalan beberapa langkah gadis itu pun memutar badannya dan bilang kepada ku untuk bertemu lagi ditempat ini besok pagi, setelah itu ia langsung berlari meninggalkan aku yang masih diam ditempat. Aku yang tersadar kalau aku terlambat ke pertambangan pun langsung bergegas meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya, aku pun bergegas untuk menemui gadis kemarin. Sesampainya aku ditempat itu ternyata tempat itu masih kosong, “Sandy, siapa dia sebenarnya dan untuk apa aku menuruti permintaannya untuk kesini hari ini?” tanyaku didalam hati. Tidak lama kemudian gadis itu datang, dia pun melambaikan tangan sambil memanggil namaku. Entah kenapa aku justru membayangkan dia yang sedang berjalan sambil tersenyum dibalik alat penyaring udaranya itu, “Ah, apa yang aku pikirkan.” ucapku dalam hati. “Hai Akala, kamu udah lama nunggu ya? Maaf ya aku telat” ucap gadis itu, “Tidak kok, aku juga baru sampai disini. Emm, ada apa kamu meminta aku kesini hari ini?” Balasku. Ternyata hari ini Sandy mengajakku pergi ke suatu tempat yang sangat asing, aku sempat berpikir apakah aku harus terus mengikutinya atau aku harus kembali ke tempatku. Tanpa aku sadari tiba-tiba kami telah sampai di sebuah ruangan, yang anehnya di tengah ruangan itu ada sebuah ruangan kaca yang berisi sebuah pohon di dalamnya. “Apakah itu pohon asli?” ucapku. Sandy pun menjelaskan bahwa pohon itu adalah pohon yang berusaha ia dan kelompoknya lindungi. Hal itu bertujuan agar semua pohon yang ada di bumi tidak habis ditebang oleh manusia. Tiba-tiba, ada seseorang yang memukulku dari belakang hingga aku tidak sadarkan diri.

“Ahh, sakit sekali.” ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian Sandy menghampiriku “Akala, kamu baik-baik aja? Maaf ya, tadi kakakku mengira kalau kamu adalah penyusup.”. “Aku gapapa kok, tenang.” balasku. Sandy pun memanggil seorang laki-laki yang sejak tadi melihat kami, “Maaf, saya salah paham.” ucap laki-laki itu. “Tenang, sakitnya gak seberapa kok.” ucapku untuk mencairkan suasana. Lalu laki-laki itu meninggalkan kami dan Sandy pun mengatakan padaku kalau laki-laki tadi adalah Pram, kakaknya. Setelah itu, aku dibantu berdiri oleh Sandy dan kami menghampiri Pram yang sedang berdiri menatap pohon yang ada di tengah ruangan tersebut. Pram menceritakan bahwa ia dan kelompoknya berusaha untuk mengembalikan lingkungan seperti semula. Mereka akan melakukan segala cara untuk mencegah lingkungan lebih hancur lagi, mereka juga ingin mengembalikan lingkungan seperti sedia kala. Aku pun hanya bisa berdiam diri mendengar semua cerita dari Pram. Tak terasa hari sudah malam, aku pun memutuskan untuk pulang.

Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan Sandy. Aku pun bertanya apakah dia tidak takut melawan kelompok orang yang berkuasa saat ini. Sandy pun menjawab “Takut? Tentu aku takut, tapi apa dengan berdiam diri kita bisa mewujudkan impian kita? Aku hanya ingin kerusakan alam ini cukup sampai generasi ku saja, aku ingin anak dan cucuku nanti bisa kembali menikmati alam yang indah.”. ”Bukannya hal itu akan dilakukan oleh para pengusaha tambang nantinya ya? Buktinya para robot selalu mengatakan bahwa mereka akan menciptakan teknologi yang dapat mengembalikan kondisi alam, lagipula menurutku apa yang kalian lakukan juga sudah terlambat.” tegasku. “Kamu pernah kepikiran gak sih, mana ada seseorang yang ingin menciptakan lingkungan yang baik tapi ia mulai dengan menghancurkan lingkungan itu terlebih dulu, dan juga menurutku lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” balasnya. Mendengar ucapan Sandy membuatku tersadar, ternyata dengan aku berserah pada keadaan dan hanya mengikuti arus membawaku bukanlah hal yang baik. “Huh, baiklah aku sudah memutuskan, mulai hari ini aku akan membantu kamu dan kelompokmu.” ucapku kepada Sandy yang langsung dibalas dengan anggukan darinya.

Aku pun akhirnya bergabung dengan Sandy dan kelompoknya. Kami mulai menyusun rencana untuk bisa menghentikan kegiatan tambang dan mengembalikan kondisi alam. Setelah itu, kami mulai menjalankan rencana kami. Kami memberi tahu kepada masyarakat bahwa apa yang dikatakan oleh para robot itu hanyalah kebohongan belaka dan pertambangan hanya akan memperburuk kondisi alam. Tanpa kami sadari, ternyata usaha kami diketahui oleh para pengusaha tambang, mereka juga tidak tinggal diam. Mereka menyerang tempat kami dan membakar pohon di ruangan tengah. Mereka juga berhasil menangkap kami semua. “Lepaskan kami, dasar bajingan kalian.” teriak Pram pada seseorang yang memimpin penyerangan. “Kalian pikir, kalian siapa? Kalian hanya tikus kecil yang berusaha melawan tuannya. Didunia ini, uang lah yang paling penting, bukan alam atau apapun itu seperti yang kalian pikir.” ucap pria pemimpin pasukan penyerang itu. “Ketika pohon terakhir terakhir telah ditebang, sungai terakhir dikosongkan, dan ikan terakhir ditangkap, aku yakin kalian akan menyesali pemikiran kalian itu.” balasku kepada orang itu. “Berisik!!! Habisi mereka!” Perintah pria itu. Tak lama kemudian, aku merasakan ada benda yang membentur kepalaku.

“Gelap sekali, dimana ini? Apakah aku sudah tiada? Tunggu bagaimana dengan Sandy dan yang lain? Apakah semua yang kita lakukan akan sia-sia? Tidak, andaikan aku bisa mengembalikan waktu, aku akan melakukannya meskipun aku harus mematahkan setiap jarum jam di dunia. Aku ingin mencegah orang-orang merusak alam lebih jauh lagi, aku ingin tidak jadi pengecut lagi.” tidak lama kemudian aku melihat sebuah cahaya yang menghampiriku, dan tiba-tiba saja aku berada disebuah tempat dengan kondisi alam yang sangat indah. Aku tidak tau apa-apa tentang tempat itu, tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga alam ditempat itu, aku ingin mewujudkan impian Sandy. Pada sore harinya, aku memutuskan untuk melihat senja di sebuah taman. Lalu ada seorang gadis yang menghampiriku dan gadis itu pun berkata “Sandyakala hari ini indah yaa.”. Aku langsung termenung mendengar ucapan gadis itu. “Hai, perkenalkan namaku Akala.” ucapku kepada gadis itu.”Hai juga, namaku Sandy.” balasnya. Sontak membuatku kaget sekaligus senang karena bisa bertemu dengan Sandy kembali meskipun kali ini sepertinya dia tidak mengenaliku. Kami pun tersenyum dan secara bersamaan mengatakan “Wah, nama kita kalau digabung cocok juga yaa.”

40 thoughts on “Cerpen #73: “Sandyakala”

  1. Ceritanya bagus banget, banyak pesan moral yang disampaikan. Selain itu juga mengajak pembaca untuk selalu menjaga kekayaan alam Indonesia. Semangat terus buat nulisnya!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *