Cerpen #71: “PAMALI”

Puang Sole’, tiba-tiba tersentak bangun dari mimpi yang baru saja Ia alami. Hal itu menjadikannya kurang semangat sepanjang hari. Bahkan, istrinya pun enggan bertanya padanya. Dalam mimpi itu, Puang Sole’ baru saja diperingatkan oleh leluhurnya.

Bagi masyarakat Tana Toraja, kemunculan arwah leluhur baik di dunia nyata maupun di dunia mimpi bukanlah hal yang  tak lazim lagi. Masyarakat Tana Toraja percaya bahwa, kemuculan tersebut bisa jadi menunjukkan pertanda baik maupun pertanda buruk. Sepertinya mimpi yang dialami oleh Puang Sole’ merupakan pertanda buruk hingga lembar persetujuan kontrak dengan salah satu perusahaan tambang kayu, tampak tergeletak begitu saja. Bolpoin masih melekat pada jarinya. Rasanya Puang Sole’ enggan untuk bertandatangan diatasnya.

“ Wahai Puang Sole’, pepohonan yang tumbuh di kawasan hutan adat pinggir desa Tondon ini, jangan pernah kau berikan kepada si perut besar itu. Jika kau berikan, maka anakmu Toratu beserta keluargamu yang tinggal didesa Tondon ini akan menderita dimasa depan.”

“Tapi ini adalah kesempatan emas bagiku. Dengan ini, Aku tak perlu khawatir memikirkan  cara untuk memenuhi  kehidupanku bersama istri anakku dimasa mendatang.”

“Dasar sontoloyo. Coba kau pikirkan, berapa banyak anak desa yang menangis ketika pohon buah yang selama ini menghidupi mereka kini telah tiada? Berapa banyak penjual kayu bakar yang hidup dari hasil penjualan kayu bakar itu, kini hanya mampu meratapi dapur yang tak lagi mengepul? Dan berapa banyak hewan yang harus kehilangan tempat tinggalnya hanya gara-gara keegoisanmu ha?”

“Itu bukan salahku!! Siapa suruh mereka mengangkatku menjadi kepala desa Tondon ini.”

“Kau memang tak amanah. Sia-sia Aku mengajarkan hukum alam dan karma padamu. Kau tak pernah memikirkan nasib orang tak berdosa, yang hingga mati pun mereka masih menderita hanya karena hasrat iblismu itu. Ingat, seluruh warga desa Tondon ini  mempercayakan nasibnya padamu. Tapi, jika kau masih tak peduli, kelak desa Tondon ini akan menjadi puing-puing tak berpenghuni.  Aku takkan tinggal diam. Kita lihat saja nanti!”

Sosok itu kemudian menghilang dalam mimpi Puang Sole’. Dia adalah Puang Laki, leluhur Puang Sole’ yang pertama kali menjadi pemimpin di desa Tondon. Segala bentuk keberaniannya dalam menentang Belanda pun menjadi cerita turun-temurun di desa ini. Tak ada seorangpun yang tak mengenal sosok pemberani ini.

Hari sudah senja, namun Puang Sole’ masih saja tenggelam dalam lamunannya. Ia dikagetkan oleh kedatangan anak semata wayangnya, Toratu. Pakaiannya kumal dan bau keringat. Sepertinya, ia habis bermain dengan kawan-kawannya

“Kamu dari mana? Kok baju kamu kelihatan kotor sekali, habis jatuh ya”?

“Tidak Ayah. Aku baru saja  kembali dari hutan pinggir desa bersama Dion, Ekki, Tando dan Galla.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengambil buah-buah ini,” sahut Toratu seraya mengangkat buah dalam kantong plastik bening yang dibawanya. “Aku tahu bahwa ayah menyukai buah ini, makanya aku bawakan sebagian untuk ayah.”

“Kok hanya  sedikit?”

“Lah, aku hanya mengambil secukupnya saja. Masih banyak orang yang berhak untuk mendapatkan buah ini. Bukankah Ayah sendiri yang mengatakan kalau pamali ketika kita mengambil sesuatu yang bukan milik kita?”

Puang Sole’ tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya.

“Sana..pergi mandi, kamu kumal sekali.”

Toratu bergegas mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, terdengar ketukan dari luar. Puang Sole’ bangkit berdiri dan membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Pong Rara, warga ujung desa.

“Selamat malam, Puang.”

“Iya, selamat malam. Ada gerangan apa Pong Rara?”

“Anu Pak. Gini, Pong Sattu baru saja meninggal karena dililit ular pohon”.

“Lah, kenapa bisa?”

“Iya, karena Pong Sattu  mengambil ranting pohon Cendana, pohon leluhur itu Pak. Kemudian membakarnya tanpa sengaja . Mari ke rumah jenazah Pak. Soalnya, bakal diadakan prosesi adat pemakaman seperti ajaran leluhur Pak.”

Di desa Tondon, masyarakat percaya akan keberadaan pohon leluhur berupa pohon Cendana. Pohon ini sudah tumbuh bertahun-tahun dan tidak ada yang berani mengambil segala sesuatu dari pohon ini. Konon, katanya pohon  leluhur ini merupakan tempat bagi leluhur untuk menghormati para pendahulunya.

“Baiklah. Saya ganti pakaian dulu.”

Tak lama berselang, mereka bergegas ke rumah Pong Sattu. Sesampainya disana, Pong Sattu sudah terbaring kaku di pembaringan mayat. Istri dan anaknya duduk disampingnya menangis terisak-isak.

Menurut adat desa Tondon, orang yang sudah meninggal akan di baringkan kurang lebih tiga hari dirumahnya. Kemudian dilanjutkan  dengan runutan acara sesuai dengan prosesi pemakaman yang diwariskan oleh para leluhur.Karena kebetulan Pong Sattu masih menganut kepercayaan lokal hingga ia meninggal, maka dalam prosesi pemakamannya pun masih seperti pemakaman masyarakat adat. Ia ditempatkan didalam kuburan batu yang dipahat, karena menurut adat setempat batu lebih layak kareena tidak ada sumber kehidupan didalam batu. Dengan menggunakan batu sebagai kuburan, maka  penggunaan tanah sebagai sumber hidup dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.  Hingga kini, mayoritas warga desa Tondon masih menganut sistem kepercayaan lokal.

“Untung, Pong Sattu tidak menebang pohonnya. Kalau saja Ia menebangnya, aku tak tahu apa yang akan terjadi kepada keluarganya” ucap salah seorang yang berada dibelakang Puang Sole’.”

Warga desa tidak mengetahui bahwa Puang Sole’ akan melakukan perjanjian kontrak dengan perusahaan tambang kayu. Mereka memang melihat orang-orang berpakaian rapi, berambut klinis dan sepatu mengkilap datang berkunjung kerumah Puang Sole’.  Biasanya orang-orang seperti ini, patut dicurigai. Tapi sudahlah, mengingat Puang Sole’ merupakan keturunan langsung dari Puang Laki, warga desa Tondon mempercayakan desa Tondon ini kepada Puang Sole’.  .

Di hati masyarakat Tondon, keturunan Puang Laki selalu mendapat tempat. Entah karena sifat dari Puang Laki yang bijak dan berani menentang kebijakan yang dianggap merugikan warga desa Tondon, maupun  sikap Puang Laki yang selalu mengajarkan nilai-nilai luhur dan cinta terhadap pencipta, sesama manusia maupun terhadap alam.  Baginya, cinta terhadap ketiga hal tersebut akan menjaga kestabilan semesta. Warga desa Tondon yakin bahwa desa Tondon ini takkan jatuh kepada tangan yang salah.  Apalagi Puang Sole’ dengan semangat berapi-api, berjanji akan menjag desa Tondon ini.

Tiga minggu kemudian, pohon kawasan adat mulai tumbang satu per satu. Perlahan warga mulai mengutuki Puang Solle’ setelah mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. Suhu udara yang panas, peternak yang mulai lelah mencari rumput hijau untuk makanan ternak, sungai-sungai mengering, tak ada lagi ikan yang di pancing, tak ada lagi buah yang dapat dibawa dari hutan, warga perlahan hidup kelaparan.

“Puang Laki pasti sangat kecewa melihat semua ini”, ucap salah seorang warga.

“Tentu saja. Tapi lihatlah kedepan. Alam takkan tinggal diam. Jika bukan dia yang  terkena akibatnya , maka pasti keturunannya yang akan terkena tulah”, sahut warga yang lain.

Berbulan-bulan setelah penebangan pohon, Puang Sole’ malah bertambah kaya.  Rumahnya kini dibangun menjadi  5 tingkat, tokonya berkembang menjadi 7 cabang di kota dan masih banyak kekayaan lainnya. Sedangkan rakyat biasa semakin melarat. Tak ada lagi hutan yang menghidupi mereka. Yang ada hanya  sisa gondongan kayu yang teronggok begitu saja.

Masyarakat desa mulai tak peduli lagi dengan pamali. Mereka turut menggerus alam. Itu lebih baik katanya, daripada alam ini digerus oleh satu orang saja. Sikap rakus itu menjadikan mereka kaya sesaat, sekaligus bersenang-senang sesaat. Ketika kekayaan mereka habis, mereka akan menggerus lagi. Begitulah pola lingkaran setan itu hingga tak ada yang tersisa. Cucu mereka mati, anak mereka mati, sanak saudara mereka mati, mereka pun mati hingga yang tersisa hanya puing-puing, seperti yang dikatakan Puang Laki.

Puang Sole’ yang sebelumnya hidup bergelimang harta, kini duduk merenng di pendopo dapurnya yang sederhana. Tak ada lagi anggur, tak ada lagi buah yang dibawa Toratu daari hutan. Semua harta kekayaannyaa habis dijual untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.  Itupun dilakukan secra terpaksa sebab tak ada lagi yang diharapkan oleh perusahaan tambang kayu dari hutan adat itu.  Perusahaan tambang kayu itu pergi setelah tak ada lagi kayu yang bisa dibabat, meninggalkan sisa kenangan pahit bagi Puang Sole’ dan semua warga desa Tondon. Istri Puang Sole’ meninggal beberapa minggu lalu karena penyakit gula. Sementara itu, Toratu duduk  meringkuk disebelahnya menangisi kepergian ibunya serta teman-temannya yang tak lagi peduli padanya. Hari ini, semua penduduk desa Tondon, masing-masing berpikir keras bagaimana caranya agar mereka bisa makan.

“Untunglah hari ini hujannya tidak deras,”  ucap Puang Sole sembari menatap ember yang digunakan untuk menapuang tetesan air. Malam pun tiba, alam perlahan bangkit menyelimuti mereka dengan air dan tanah. Tubuh fana itu terombang-ambing dipermukaan. Tiga hari kemudian, tanah  bekerja sama dengan mikroorganisme untuk menghancurkan tubuh sesat itu. Menumbuhkan warna-warna hijau yang bermakna harapan.

“ Lihatlah, sudah kubilang,” sahut sosok dalam cahaya itu yang kian meredup.

Bertahun-tahun kemudian, desa itu menjadi hutan liar. Ia kembali hidup tetapi tak mengharapkan kedatangan manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *