Cerpen #70: “SEMAKIN MENGHILANG”

Terik sampai saat ini masih enggan pergi untuk membiarkan hujan turun mengambil peran. Tanah meretak akibat kekeringan melanda, sungai mengering dan udara sekitar panas mencekam. Berjalan tanpa henti melihat kegaduhan yang sering terjadi pada kota ini, beberapa orang gaduh memperebutkan sumber air yang sedikit, Gadis itu membandingkan dunia dengan buku yang ia baca saat ini. Terlihat jelas seratus tahun yang lalu begitu indah dengan hutannya, musim yang bergerak teratur serta hewan hewannya yang beragam serta pepohonan yang tinggi menjulang. Bandingkan dengan dunianya saat ini benar benar dikatakan tidak layak. Oksigen terbatas, tumbuhan semakin sulit terlihat bahkan sudah jarang di temukan hewan hewan. Kemana semua hilang pikirnya. Haus tiba-tiba menyerang tenggorokannya, ia keluarkan botol mineral dari tas ranselnya. Hanya tinggal seperempat lagi dari yang ia bawa, perjalanan untuk ke tempat tujuan masih sangat jauh jika terus berjalan kaki, lupakan tentang kendaraan berbahan bakar. Sumber minyak bumi sebagai bahan bakar sudah bisa dikatakan hampir punah.

“jika kau berjalan kaki, kau akan mati seperti bapak di ujung gang sana akibat kehausan” ujar seseorang pria menghampiri gadis tersebut. Mereka berteman, memiliki teman pada masa kini sangat jarang, manusia lebih memiliki mementingkan keeogisan agar diri sendiri tetap bertahan hidup, kecuali mereka berdua. Gadis itu seraya menaiki sepeda pria itu dan mereka langsung melesat pergi. Tak berselang lama sampailah mereka berdua di suatu tempat bernama Lab Green. Ada orang-orang berjas putih membawa biji-biji yang diyakini akan menghidupkan pepohonan. Mereka para peneliti yang tersisa, masih terus berusaha mengembalikan bumi seperti 100 tahun yang lalu.

Seseorang wanita tua menghampiri mereka berdua dan berkata “berapa banyak produksi tumbuhan dari rumah kaca bagian utara?”, sang gadis dn temannya menjelaskan sembari berjalan berdampingan menuju rumah kaca paling ujung dari bangunan. “kurang lebih seratus, sebagian semakin banyak yang mati” ujar pria menjelaskan. Sesampainya disana, beberapa tumbuhan layu dan ada yang mati, suplay oksigen semakin sedikit  sedangkan jumlah karbondioksida semakin banyak memenuhi bumi. Banyak yang hanya bisa berangan terlhir di masa lalu untuk menikmati indahnya bumi, namun lagi lagi hanyalah angan yang tersembunyi dari balik pedih. Kalaupun terlahir pada 100 tahun lalu, apakah manusia punya pemikiran untuk melestarikan bumi ini agar tidak hancur? Yang ada hanya semakin terlena akan keindahan dan keserakaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *