Cerpen #69: “Surga Yang Musnah”

Pagi yang cerah saat sang surya telah memenuhi seruannya untuk melaksanakan kewajibannya. Dari ufuk timur terlihat jelas saat ia telah keluar dari pelukan sang bumi dan Kembali lagi untuk menyinari negri. Terlihat dari rerimbunan tumbuhan selarik cahaya mulai muncul untuk pertama kalinya. Terdengar berisik sang ayam yang telah mendampingi pagi untuk Kembali lagi, membuat para manusia yang sedang tertidur ikut serta menyaksikan pagi.

Keindahan dan keasrian negeri mulai terlihat Kembali, di pucuk pohon terlihat sekilas cahaya matahari mulai menyinari. Burung-burung beterbangan dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mencari makan, begitupun para hewan-hewan yang lain baik hewan melata hingga yang bisa terbang. Semua sibuk melakukan aktifitas dan kesibukan masing-masing.

Keasrian dan keindahan negri pada saat itu melebihi indahnya surga, hijau terbentang luas, biru kesegala penjuru, segar dimanapun kaki berpijak. Hingga dunia menyebut bumi kita dengan sebutan paru-paru dunia, yang memiliki keasrian dan kesuburan tanah yang tidak dimiliki di dunia luar. Hingga hewan-hewan dari luar ikut serta pindah ke bumi kita untuk mencari rumah sekaligus makanan yang sangat layak bagi mereka.

Tapi itu dulu, bumi yang indah bagai surga, hanya sejuk yang membuat sesak dimapun kaki berpijak. Sekarang bagaimana? Hanya polusi dan kerusakan yang sedang terjadi, pepohonan yang rindang dan rindang kini hanya menjadi tanah kosong bersisakan serakan kayu bekas penebangan, yang akan dijadikan pabrik-pabrik penambah polusi. Penambah kerusakan yang akan terjadi di bumi pertiwi ini hingga tidak ada lagi kerusakan dan keindahan lagi.

Kenangan-kenangan keindahan dan keasrian hanya bisa dibuktikan dengan ucapan ditak dengan pemandangan, karena yang telah berlalu tidak dapat diulang Kembali, mereka kira keasrian dan keindahan itu akan bertahan lama namun apalah buktinya, hanya sementara saja. Hewan-hewan yang datang untuk berlindung malah ikut serta dalam korban keserakaan manusia, dan juga para hewan yang datang mencari makan hanya menjadi bahan makanan bagi manusia-manusia tak berhati.

Lantas bagaimana dengan anak cucu kita nanti? Yang ingin merasakan keasrian ini, yang ingin menikmati keindahan sang sedang terjadi, yang ingin melihat hewan-hewan mencari makan sendiri. Apakah mereka tidak akan bisa lagi melihat pemandangan itu yang disebabkan ulah kita hari ini. Mereka juga ingin seperti kita, mereka ingin merasakan apa yang kita rasakan kesegaran air bersih yang belum ternodai sama sekali. Mereka tidak bisa lagi menikmati itu mereka hanya bisa mendengar cerita-cerita dari kakek-kakek mereka. Surga yang mereka rindukan ternyata telah dimusnahkan oleh kakek-kakek mereka sendiri.

Sudah cukup. Jangan ada lagi kerusakan yang terjadi bumi ini butuh renovasi bukan menambah polusi, jika kerusakan ini yang kalian inginkan maka teruskan saja biar anak cucu kita nanti tidak bisa merasakan ap aitu yang Namanya surga, apa itu yang disebut keindahan dan ap aitu yang dinamakan kesuburan. Kalua masih terus ingin merusah surga maka rusaklah, biar tuhan membantumu memusnahkan surga itu.

,

,

,

,

,

“jagalah bumi pertiwi ini, ingat masih ada anak cucu yang ingin merasakan surga ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *