Cerpen #68: “Petualangan Ibran & Alat ajaib”

Ada tiga hal yang sangat aku benci di dunia ini pertama adalah tugas sekolah kedua anak pintar yang caper kepada guru dan ketiga adalah air hujan. Entah mengapa aku sangat membenci ketiga hal itu dan hari ini adalah hari dimana aku harus mengalami kesialan itu secara bersamaan, bagaimana tidak ini adalah hari minggu seharusnya saat ini aku sedang rebahan di rumah sambil main PS di temani bantal guling dan selimut yang tebal akan tetapi impianku harus pupus saat pak Darwin—seorang guru kimia menelponnya dan menagih tugas kelompok kimia yang belum dia kerjakan. Masalahnya bukan karena malas hanya saja dia tidak suka dengan kelompoknya yang notebene anak-anak pintar yang caper di tambah hujan yang mengguyur kota saat ini semakin menambah penderitaannya.

“Huh! Awas aja lo Darwin! Kalo bukan karena nilai gak bakal gue nurut perintah lo!” Aku menggerutu mengingat wajah datar guru killer itu saat membagikan tugas kimia dengan kelompok yang tidak kusukai.

“Mana hujan lagi!” Sudah kukatakan jika aku tidak menyukai hujan karena menurutku hujan itu membuat ribet, seperti sekarang—aku harus membawa motor dengan susah payah karena jalanan yang licin di tambah cuaca yang dingin membuat tubuhku begitu menggigil. Semuanya menjadi mengesalkan karena hujan, bahkan aku lebih menyukai cuaca panas daripada hujan.

“Hujan lagi! Hujan lagi! Heh hujan! Kapan sih lo berhenti! Nyusahin benget tau gak?!” aku menengadah ke atas tidak peduli saat pengendara lain melihatku dengan tatapan aneh.

Aku mempercepat laju kendaraanku, di depan sana sudah terlihat gedung sekolahku bertuliskan ‘SMA NEGERI 1 BAGATAN’ dengan cat berwarna putih begitu mencolok diantara bangunan lainnya.

“Heh! Ibran! Lama banget sih kamu! Tau gak, tadi pak Darwin udah kesini dan liat kamu belum datang jadi kita disuruh nungguin kamu tau!” cerocos cewek berkuncir kuda ketika aku baru saja memarkirkan sepeda motorku. Namanya Rara namun aku lebih suka memanggilnya Rampir alias Rara si mak lampir.

“Pasti dia sengaja telat supaya kita dapet nilai minus.” Seloroh manusia berbadan gempal, aku mendengus mendengar perkataannya. Dia adalah Beni manusia setengah gajah yang mengaku-ngaku anak kesayangan guru, kacamata bulat yang di kenakannya membuat penampilannya semakin cupu.

Aku lekas turun dari motor matic kesayanganku lalu tersenyum miring, “Mata lo yang minus kayaknya.” tunjukku padanya.

Dia menggeram marah, “lo berdua gak liat kalo sekarang hujan? Dan gue naik motor?” aku mengibaskan tanganku mengusir dan meninggalkan mereka di belakang namun langkah kakiku terhenti saat melihat seorang wanita yang tengah bercengkrama dengan lelaki yang menjadi musuh bebuyutan sekaligus anggota kelompokku. Aldo dan Melda, mereka berdua tengah mengobrol riang di hadapan mataku.

“Pasti kamu cemburu, kan sama Aldo?” suara Rara si Rampir membuatku terlonjak.

“Gak! Ngapain cemburu sama mantan.” Hatiku sedikit berdenyut saat menyebut julukan itu.

“Keliatan kali, lo itu masih ngarep!” ejek Beni.

“Heh! Jangan sembarangan lo!” ucapku tidak terima.

“Gimana rasanya satu kelompok sama pacar mantan? Sakit gak? Atau malu?” aku menggeram mendengar ejekan Rara.

“Secara si Aldo kan ganteng.” Mereka berdua terkekeh geli, ingin sekali aku menyumpal mulut mereka berdua dengan sendal jepitku.

“Aldo! Ayo kita ke lab!” teriak Rara, aku memutar mata malas saat melihat mereka berdua saling bercium tangan berpamitan.

Kemudian Aldo berjalan ke arah kami.

“Baru dateng lo, Bro?” tanya Aldo setelah sampai dan berjalan diantara kami.

“Heh! Kamu gak denger si Aldo nanya?” Rara bersuara, aku melirik tajam padanya.

Lalu aku melihat Aldo yang memang wajahnya sangat good looking, aku menatapnya sinis.

“Menurut lo?” ucapku ketus.

Dia mengedikkan bahu, aku mendengus melihat itu.

Aku menengok ke belakang, Melda melihatku—kami saling bertatapan, aku melihat wajahnya yang terlihat sendu.

Aku kembali berbalik dan mencoba menetralkan detak jantungku. Tidak, aku tidak boleh baper lagi padanya.

“Mending sekarang kita mikirin tugas yang belum selesai.” Rara memecah tatapan dingin anatara kami.

“Tugas kita? Gue gak pernah mau sekelompok sama lo!” umpatku di hadapan wajah Rara.

“Heh! Ini tuh karena pak Darwin tau, kamu pikir aku mau sekelompok sama cowok males kayak kamu!”

“Eh, eh udah-udah! Kita udah sampe nih!” Beni menghentikan langkahnya dan membuka lab dengan kunci yang dia bawa.

“Lah, kok kuncinya ada di kamu sih?”

Dia nyengir, “katanya tadi pak Darwin mau pergi, jadi kuncinya di titipin.”

“Kenapa gak dari tadi aja malih! Jadi, kita gak perlu cape-cape nungguin dia!” serunya menunjukku, aku mendelik.

Ceklek …

Bau alkohol dan cairan kimia menguar ketika pintu laboratorium di buka.

“Suka banget sama bau lab.” ujar si Rampir, aku menggeleng melihat tingkah anehnya.

“Tugasnya apa sih? Kenapa harus ngerjain di lab?” tanyaku pada si Rampir.

Mereka mendelik padaku, “lo sebenernya dengerin gak sih tugas yang pak Darwin kasih?” tanya Beni.

“Gak.” balasku singkat.

“Ini semua karena lo! Lo tau gak? Tugas kita belum selesai itu karena lo!” sentak Aldo, seketika aku begitu emosi.

“Maksud lo apa?!” aku maju mencekal kerahnya, kami saling menatap tajam.

“Hey! Udah deh, kalian gak bisa apa sekali aja gak berantem?” ujar Rara.

“Gak!” seruku dan–Aldo bersamaan, aku mendengus mendengarnya lalu melepaskan cekalan tanganku dengan kasar.

Rara mengeluarkan beberapa benda dalam tasnya, yang pertama ada buah jeruk, sabun dan garam, aku mengerut ketika dia mengeluarkan ketiga benda itu.

“Lo mau apa? Ngerujak?”

Dia berdecak, “Kamu pikir kita mau ngerujak di lab?” ujarnya kesal.

“Ini tuh tugasnya kita nentuin pH dari ketiga benda itu!” seru Beni.

“Dasar bego!” balas Aldo, aku berdecih.

“Udah! Dariapada kalian berantem mending sekarang kalian cari gelas ukur atau gelas apa aja buat ini sama kertas lakmus.” Rara memberi perintah.

“Kenapa kita gak searching aja di google sih? Kenapa harus segala pake ke lab, mana ini hari minggu, hujan pula.” Aku menggerutu.

Rara memutar bola mata, “lo niat sekolah gak sih? Lo gak tau kalo tugasnya itu membuat video?!” Aku kicep saat si Beni menggeluarkan kamera dan tripod dari dalam tasnya.

“Daripada sekarang kalian berdua gak ada kerjaan, mending cari apa yang gue suruh atau lo berdua gak gue masukin kelompok!” ancamnya.

Aku berdiri diam, menatap malas pada Aldo yang kini berdiri di sebelah Beni.

“Kok malah diem! Cari sekarang!” teriak Rara.

Kemudian aku bergegas pergi berjalan di belakang Aldo.

Saat ini aku sedang mencari kertas lakmus, sebuah kertas untuk menentukan pH suatu larutan dan sekarang aku tengah menilik di setiap sudut rak sedangkan Aldo dia mencari wadah untuk tempat larutan. Aku memandangi punggungnya yang lebar dan tangannya yang berotot, Aldo memang cowok yang sangat hits di sekolah pantas saja Melda—mantanku—dengan mudah menerima cintanya.

Aku menggeleng, menyadarkan lamunanku sendiri namun tiba-tiba saja tanganku menyengol sebuah cairan berwarna merah yang di bawahnya bertuliskan ‘Minumlah, masa depan menantimu’.

“Minumlah, masa depan menantimu.” ucap Aldo tiba-tiba di hadapanku.

Aku mendelik, “Apaan lo!”

“Santai dong, wah! Jangan-jangan itu cairan ajaib.” Dia merebut cairan itu.

Aku tersenyum mengejek, “Lo percaya hal gituan?”

Dia mengedik, lalu memerhatikan cairan itu.

“Katanya cairan ini dari masa depan, lo gak penasaran?”

Kemudian matanya mengerling, “Lo gak penasaran siapa jodohnya Melda?” dia tersenyum mengejek.

“Oh, jangan-jangan lo takut karena Melda itu jodohnya gue? Lo pasti takut kalah lagi dari gue, kan?”

Aku tertawa, “Lo pikir gue percaya tahayul kayak gini? Gak usah cari gara-gara sama gue!”

“Bilang aja lo takut liat masa depan lo yang suram!”

Dug!

Aku mendorong tubuh Aldo dan merebut cairan itu dan meneguknya setengah.

“Lo yang pengecut!” balasku, Aldo mendorongku lalu dia merebut cairan itu dan meneguknya hingga tandas.

Aku tertawa seperti orang gila atas apa yang kami berdua lakukan.

“Masa depan? Hahahah … Itu semua gila!” seruku pada Aldo.

Namun, entah mengapa pengelihatanku begitu buram lalu pusing menyergap kepalaku.

Kemudian tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.

🕳️🕳️🕳️🕳️

 

Mataku mengerjap karena panas yang aku rasakan bahkan saat ini bajuku sudah basah karena keringat.

“Huh … Panas banget.” Aku menepuk-nepuk leherku yang sangat gatal karena keringat dan aku baru saja menyadari jika saat ini aku terbaring di tengah-tengah jalan.

Aku lekas berdiri, begitu syok dengan pemandangam yang ada di hadapanku.

“I …ini dimana?” aku tergagap saat melihat kini di hadapanku tersebar puing-puing bangunan yang roboh bahkan disini tidak ada satupun pepohonan yang tumbuh.

Kepalaku berdenyut, aku mengingat samar kejadian yang baru saja kualami dan Aldo! Ya! Aku meminum cairan aneh itu bersama Aldo. Aku melihat sekeliling tak menemukan keberdaannya.

“Aldo! Dimana lo!” aku berteriak namun kerongkonganku saat ini begitu kering bahkan aku merasa jika sebentar lagi aku akan dehidrasi.

“Uhuk … Uhuk!” aku mendengar suara batuk di bawah puing-puing bangunan, aku lekas berlari dan menemukan tubuh Aldo yang tertimpa puing bangunan bajunya begitu lusuh dan dia terluka.

Apa yang terjadi? Apa cairan itu benar-benar membawa kami ke masa depan? Tapi dimana ini? Tempat apa ini sebenarnya? Mengapa begitu banyak puing-puing reruntuhan disini? Dan satu lagi ke tahun berapa kami pergi? Mengapa bumi sehancur ini?

Masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di dalam otakku namun suara Aldo mengembalikan kesadaranku. .

“Ibran! Tolong gue bran ….” lirihnya, aku mengulurkan tangan dan membawanya keluar dari reruntuhan bangunan itu.

“A …apa yang terjadi? Kenapa sekolah kita jadi kayak gini? Kenapa bangunan-bangunan ini runtuh?” ujar Aldo seolah bisa membaca apa yang kupikirkan.

“Gue gak tau tapi sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari air atau kita bakal mati kehausan.” balasku, disini terik matahari sangatlah panas bahkan sekarang aku berharap hujan turun untuk membasahi kerongkonganku sedikit saja.

Aldo mengangguk, “Apa ini karena cairan ajaib itu?” tanya Aldo membuatku terdiam.

“Sebaiknya kita mencari orang untuk bertanya.” Aku memapah Aldo yang masih lemah, kami sangat kehausan.

“Ibran, itu ada orang-orang di sana!” seru Aldo.

Aku berbinar tatkala menemukan orang-orang yang tengah berkumpul mengerumuni sesuatu.

“Ayo kita kesana.” Aku melangkahkan kakiku dengan semangat namun saat melihat lebih dekat napasku tercekat melihat apa yang di lakukan orang-orang itu.

Kami berdua bergetar ketika salah-satu dari orang-orang itu melirik kami lapar, ya! Mereka tengah mengerumuni bangkai manusia!

“Bran ….” tubuh Aldo bergetar hebat, “apa sekarang kita bakal mati kayak gitu?” dia menangis, andai saja ini bukan situasi darurat pasti aku akan mengejeknya sekarang.

“Jangan bicara sembarangan! Hitungan ketiga kita harus lari ….” bisikku di telinga Aldo, dia menggeleng frustasi.

“Gak bisa! Ini semua gara-gara lo!”

“Huft! Ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan!” aku mencoba bijak meski saat ini ketakutan menyelimutiku.

Orang-orang itu berlari pincang, ada juga yang merangkak di tanah dengan darah yang masih menempel di mulut, membuat perutku mual..

“Ayo lari!” seruku tanpa aba-aba, kami berdua berlari terseok.

“BRAN! AWAS!” Aldo berteriak saat sebuah tangan penuh luka dan bau akan menggapai kepalaku.

BRUK!

Aku menonjok dengan sekuat tenaga kepala manusia kanibal itu. Dia tersungkur dan mati di tempat.

“Gue ngebunuh orang.” Aku membekap mulut saat manusia setengah monster itu mati begitu saja.

“Bran! Ayo lari! Mereka masih ngejar kita!” seru Aldo, aku kembali berlari meski kakiku saat ini begitu pegal dan lemas.

Aldo berlari terseok, aku melotot ketika sebuah tangan menggapai kakinya.

“Aldo!” dia di seret oleh salah satu manusia kanibal itu.

“Bran! Tolong gue!” Aku berlari mengejar Aldo.

“Do! Bertahan!” sebuah batang kayu yang runcing kutusukan ke sebelah tangan manusia kanibal itu.

Namun di belakang sana empat manusia kanibal menatap Aldo dengan wajah mereka yang mengerikan.

“Bran! Gue gak mau mati kayak gini!” teriak Aldo, aku semakin menusukan bambu itu.

“Tenang aja do, gue gak akan ninggalin lo.” Aku berusaha menenangkannya.

Sedikit lagi dan ….

CRAK!

Tiba-tiba saja empat buah anak panah melesat, membuat keempat manusia kanibal di belakang Aldo mati seketika.

Dug! Aku membenturkan kepala manusia kanibal itu ke batu yang ada di sana, untuk kedua kalinya aku membunuh manusia kanibal.

Aku kemudian berbalik karena penasaran siapa kiranya sang pemberani yang dengan hebat membunuh manusia kanibal dengan anak panahnya. Seorang yang memiliki perawakan tinggi berdiri di sana, aku tidak tau orang itu laki-laki atau perempuan karena dia memakai masker hitam dengan topi yang menghiasi kepalanya.

Dia berjalan ke arahku, aku tersenyum ke arahnya dan mengulurkan tangan untuk berterimakasih namun orang itu melewatiku begitu saja.

“Menjijikan!” desisnya, lalu mencabut keempat anak panah yang tertancap di dada keempat manusia kanibal itu.

Lalu dia kembali kemudian melirikku.

“lain kali kalian harus berhati-hati dengan manusia kanibal.”

Aku terdiam.

“Apa kalian orang-orang yang selamat dari peristiwa krisis iklim?” aku semakin tidak mengerti dengan ucapan wanita ini. Ya, aku yakin jika dia adalah seorang wanita.

“Krisis iklim?” aku bertanya bingung.

“Hey Nona, sebelum itu bisakah kau memberi kami air?” tanya Aldo yang wajahnya masih terlihat pucat.

Dia mengambil sebotol air dari dalam tas yang isinya tinggal setengah.

“Jangan di habisin sendiri, itu stok air terakhirku.” Aku melongo mendengar penuturannya.

Aldo meneguk air itu sedikit bahkan sepertinya dia masih kehausan kemudian dia  menyodorkannya padaku, aku menerima botol itu lalu meneguknya dan menyisakannya sedikit karena ucapan wanita itu padahal saat ini kerongkonganku masih sangat kering.

Aku mengembalikannya pada wanita itu.

“Sebenarnya apa maksudmu tadi? Apa yang kau katakan tentang kami selamat dari krisis iklim?” tanyaku penasaran.

Dia menatap curiga.

“Kenapa kau bertanya hal itu?” balasnya, aku gelagapan.

Aku melirik Aldo.

“Jika boleh tau Nona, ini tahun berapa?” Aldo mengatakan hal yang membuat wanita itu semakin mengerutkan keningnya.

“Pertama jangan panggil aku Nona dan kalian tau? Pertanyaan kalian sangat aneh, kalian seperti datang dengan mesin waktu dan bertindak seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa, padahal krisis iklim adalah peristiwa yang sangat besar yang tidak mungkin semua orang yang hidup di zaman ini tidak mengetahuinya.” cerocosnya, aku semakin penasaran dengan ucapan yang di katakan wanita ini.

“Jika kami mengatakan bahwa kami adalah manusia yang datang dari masa lalu apa kau akan percaya?” aku memberi pertanyaan yang sangat tidak masuk akal di zaman yang mungkin saja sudah modern disini.

“Jadi, bertahu kami apa yang di maksud krisis iklim? Dan bisakah kau jawab saja pertanyaan ini tahun berapa?” sergah Aldo.

Dia menatap kami berdua dalam, “Apa kalian berdua bersungguh-sungguh dengan apa yang kalian ucapkan?”

Aku mengangguk pasti, “Apa kau bisa melihat kebohongan di mata kami?” Dia terdiam saat di beri pertanyaan seperti itu.

“Baiklah, aku belum percaya tentang apa yang kalian katakan hanya saja sekarang kalian tinggal di tahun 2121 dimana sudah 50 tahun berlalu setelah peristiwa krisis iklim terjadi di bumi.” Dia menunduk sendu.

Mataku membola, seperti ada ribuan jarum yang menusuk tubuhku saat ini, aku begitu syok. 2121? Apa aku sedang bermimpi? Ini pasti gila! Aku pergi 100 tahun ke masa depan, ini benar-benar seperti mimpi!

Sepertinya Aldo mengalami hal yang sama denganku, dia terlihat pucat dan syok mungkin dia mengingat betapa mengerikannya manusia di zaman ini.

“Bisakah kau ceritakan tentang peristiwa krisis iklim kepada kami?”

Dia mengangguk, “Hanya saja kita harus mencari tempat yang aman untuk berbicara.”

🕳️🕳️🕳️🕳️

Saat ini kami sudah berada di suatu pos yang konon katanya dulu adalah tempat pengungsian orang-orang yang terampak krisis iklim bahkan tadi di perjalanan banyak sekali hal mengerikan yang kulihat.

“Apa tadi bangkai manusia lagi?” tanya Aldo dengan wajah menahan mual.

“Ya.” balas wanita itu singkat, seakan apa yang di lihatnya adalah sesuatu yang biasa.

“Apa tempat ini yang kau sebut aman? Tidak ada lagi kah tempat aman yang lebih dari ini?” tanyaku, karena saat ini bahkan tempat yang di sebut aman oleh wanita itu masih mengerikan dalam penglihatanku. Banyak sekali lalat dan juga aroma busuk yang—aku tidak ingin menjelaskannya lebih detail.

“Tidak ada tempat yang aman lagi di bumi.” balasnya, dia menatap lurus ke depan.

“Oh, ya, sebenarnya apa yang menyebabkan peristiwa krisis iklim? Mengapa peristiwa itu sangat mengerikan?” cercaku.

“Tapi sebelum itu bisakah kami tau siapa namamu?” balas Aldo.

“Ya, bisakah kami melihat wajahmu?” pintaku karena sedari tadi wanita ini tak sedikitpun melepas maskernya.

Dia menghela napas, “Pertama namaku Sherrin, aku tidak bisa menunjukkan wajahku pada kalian karena terakhir kali aku menunjukkan wajahku pada orang lain mereka takut padaku.” ujarnya.

“Kami janji tidak akan takut padamu,” aku membujuk, “Dan namaku Ibran.” Aku mempekenalkan diri.

“Namaku Aldo.” Aldo mengulurkan tangannya namun Sherrin tidak membalas sedikit pun.

“Kalian datang dari tahun berapa?” tanya Sherrin tanpa melihat kami.

“Umm, apa sekarang kau percaya pada kami?” tanyaku hati-hati.

“Jawab saja pertanyaanku.” ketusnya, dia begitu dingin.

“Kami datang dari tahun 2021.” balasku.

“Apakah di sana masih turun hujan?” Apakah di sana pepohonan masih tumbuh dengan lebat?” dia memberi pertanyaan yang menurutku sangat aneh sekali.

“Tentunya, di tahun 2021 hujan masih turun dan pepohonan masih lebat hanya saja ada beberapa manusia yang tidak bertanggung jawab dan merusak alam.

Dia mengangguk, “Apa kalian tau apa penyebab terbesar terjadinya krisis iklim?”

Kami menggeleng.

Sebenarnya aku pernah mendengar tentang krisis iklim di sekolah hanya saja aku tidak pernah serius mendengarkannya dan aku tidak tau betapa berdampak besar krisis iklim yang terjadi pada bumi di zaman ini.

“Itu semua karena ulah manusia di masa lalu, manusia-manusia serakah dan tidak bertanggung jawab yang merusak alam, menebang hutan dan peringai buruk lainnya.” Dia menjeda, terlihat kilat amarah di matanya.

“Banyak sekali manusia-manusia yang egois sehingga alam murka, ini semua adalah balasan untuk mereka manusia yang tidak pernah menjaga alam.” Napasnya memburu.

“Ya, kau benar, bahkan di tahun 2020 di zaman kami ada satu virus yang membuat umat manusia sangat kesulitan, banyak manusia yang mati karena virus itu dan menimbulkan pandemi yang sangat merugikan manusia itu adalah satu dari banyaknya keegoisan manusia pada alam.” jelasku.

“Aku pernah mendengar cerita itu dari almarhum nenekku,” balasnya, “Manusia sangat serakah sehingga mereka di serang wabah penyakit yang mematikan.”

“Tapi … Menurutku krisis iklim lebih parah dari pandemi di zaman kami karena bisa menjadikan manusia kanibal, sebenarnya apa yang membuat manusia menjadi kanibal seperti itu?” potong Aldo.

“50 tahun yang lalu manusia menjadi sangat rakus, mereka tidak pernah menjaga alam dengan baik, banyak sekali manusia yang merusak hutan dan menebang pohon dengan tidak bertanggung jawab untuk kepentingan mereka sendiri alhasil bumi semakin panas, lapisan ozon kian menipis dan hujan bahkan jarang sekali turun dalam kurun waktu yang lama.” Dia mulai bercerita.

“Orang-orang gagal panen setiap tahun sedangkan cadangan makanan kian menipis, dari tahun ke tahun banyak sekali manusia yang kelaparan dan dari situlah kanibalisme berasal, terlalu banyaknya orang yang kelaparan sehingga pemerintah pun tidak bisa membantu seluruh warga.” Matanya yang tertutup masker terlihat berkaca-kaca.

Aku begitu syok mendengar penjelasan Sherrin, ternyata hujan sangat di harapkan disini. Aku sangat menyesal karena pernah membenci hujan dan menyumpahi hujan agar berhenti, tidak pernah bersyukur dan tidak peduli pada alam sekitar.

“Apa tidak ada cara lain untuk mengembalikan bumi seperti semula?” tanyaku.

“Jika kalian benar-benar orang-orang dari masa lalu, yang harus kalian lakukan hanya satu, jagalah alam, jangan sampai krisis iklim yang besar terjadi karena itulah yang akan kulakukan untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim jika aku hidup di sana.” Aku sedikit tersentil.

“Kalian hanya perlu menjaga alam dengan baik agar masa depan tidak seperti ini ….” lirihnya.

Aku kembali termenung. Benar, jika aku kembali ke sana aku berjanji untuk menjaga alam, menumpas orang-orang yang merusak alam dan tidak akan membiarkan hal ini terjadi di masa depan namun saat ini bahkan aku tidak tau bagaimana caranya untuk kembali ke sana.

“Sekarang jalan satu-satunya yang harus kalian lakukan adalah kembali ke masa lalu.” ucap Sherrin.

“Itulah masalahnya kami tidak tau bagaimana caranya kembali kesana.” balasku.

Dia terlihat berpikir, “Apa kalian mengingat bagaimana caranya kalian bisa sampai disini?” tanya Sherrin.

Kami saling bertatapan, “Kami berdua bertengkar dan meminum suatu cairan yang membuat kami tak sadarkan diri.” Aku baru menyadari jika saat ini diriku dan Aldo tidak lagi betengkar dan kami berdua malah saling menolong.

“Dimana kalian menemukan cairan itu?” tanya Sherrin.

“Sekolah, kami waktu itu berada di sekolah.”

Dia mengangguk, “ kalo begitu, ayo kita cari gedung sekolah kalian.” Sherrin akan beranjak.

“Tunggu! Gedung sekolah kami adalah puing-puing tempat dimana kau membunuh para manusia kanibal itu.” Aku menelan ludah membayangkan harus kembali ke tempat yang penuh monster itu.

“Enggak! Gue gak mau balik kesana!” seru Aldo panik.

“Tidak ada cara lain, kalian harus pergi ke tempat pertama kalian datang kesini.”

Aku menatapnya ragu.

“Demi masa depan, kumohon ….” dia menatap kami penuh harap.

🕳️🕳️🕳️🕳️

Saat ini kami tengah mengendap-endap takut ada manusia kanibal yang tiba-tiba saja menghadang, di temani oleh Sherrin dan anak panahnya kami berjalan di antara puing-puing bangunan.

“Apa kalian yakin ini adalah bangunan sekolah kalian?” tanyanya.

Aku mengangguk yakin, “Aku yakin ini adalah bangunan sekolah kami.” Aku menatap ngeri pada bangunan sekolahku, membayangkan sekolahku menjadi puing bangunan di masa depan membuat hatiku sedikit teriris.

“Kalian berdua harus mencari ruangan yang menjadi tempat pertama kalian masuk ke dunia masa depan.” ujarnya.

Aku mengangguk, “Tapi apa yang akan kita cari disana? Aku ingat jika waktu itu Aldo menghabiskan cairan ajaib itu.”

“Pasti ada satu petunjuk disana.” ucap Sherrin yakin.

“Aku akan berjalan di belakang kalian, jadi berhati-hatilah dan lakukan yang terbaik.”

Aku mengangguk tegas.

Kami melanjutkan berjalan diantara puing-puing bangunan sekolah, semuanya begitu mengerikan, banyak sekali tulang belulang yang membuatku semakin bergidik bahkan tulang-belulang itu sangatlah banyak aku lupa untuk bertanya mengapa tempat-tempat ini menjadi hancur.

“Sherrin, mengapa bangunan-bamgunan ini runtuh? Apalagi di zamanku bangunan ini sangatlah kokoh.” tanyaku.

“Itu semua karena gempa yang dahsyat yang terjadi puluhan tahun lalu.” Dia membalas.

Puluhan tahun lalu? Tapi kenapa Sherrin seakan tau semuanya? Padahal dia sepertinya seumuran denganku, itu sungguh aneh bahkan dia mengetahui tentang peristiwa 50 tahun yang lalu.

“Kenapa kau sangat mengetahui semuanya? Padahal umurmu terlihat seperti belasan tahun.”

Dia menatapku dengan mata yang sendu, “Aku hidup dengan nenek dan kakek yang hebat, mereka selalu menceritakan semuanya padaku tapi sepuluh tahun yang lalu mereka—“ dia menjeda lalu menunduk, kami menghentikan langkah.

“Maapkan aku, aku tidak bermaksud.” ucapku, dia mengangguk.

Kami kembali berjalan, aku berbelok mencoba mengingat letak laboratorium meski saat ini gedung sekolahku sudah hancur namun aku masih bisa mengingat letaknya, semoga tidak berubah setelah ratusan tahun.

Dan gotcha! Di depan sana sebuah tulisan yang sangat berdebu dan di penuhi sarang laba-laba menyambut kami, meski begitu aku masih bisa membaca jika ruangan itu adalah lab.

“Itu dia! Ayo!” seruku pada Sherrin dan Aldo.

Namun ketika mengatakan hal itu di belakang kami tiba-tiba saja terdengar suara mengerikan.

“Lapar! Lapar! Lapar!” lima orang manusia kanibal berlari terpincang ke arah kami.

“Cepat pergilah! Biar aku mengurus mereka!” Sherrin memberi perintah.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu!” aku maju ke depan.

“Pergi! Cari sesuatu yang bisa mengembalikan kalian ke masa depan! Dan berjanjilah untuk mengubah semuanya!” dia mengeluarkan anak panah dan memanah dengan gesit.

“JANGAN MEMBUANG WAKTU, CEPAT!” teriaknya.

“Ayo bran!” Aldo menarik lenganku.

Aku melihat Sherrin tengah berjibaku menghadang makhluk kanibal itu. Aku lekas berlari dan menuju laboratorium namun entah mengapa hatiku sangat sakit ketika meninggalkannya.

“Belok!” seru Aldo karena aku begitu kehilangan fokus.

“Sekarang lo harus inget-inget dimana letak terakhir lo nemuin cairan ajaib itu.” Aku mengangguk.

Sepertinya ruangan ini sudah di tinggalkan berpuluh tahun lamanya karena letaknya masih sama persis seperti di zamanku.

“Lo nemuin cairan ajaib itu dimana?” tanya Aldo.

Aku mengingat-ingat terakhir kali aku menemukan cairan itu, di sebuah sudut lemari tempat alat-alat praktik. Aku mencoba melongokan kepalaku ke dalam sana dan persis sebuah tempat dimana cairan itu di temukan olehku, aku mengambilnya namun cairan itu tinggal tersisa sedikit bahkan hampir mengering.

Aku mengangkatnya dan menunjukkannya pada Aldo, “gak bisa, kita gagal.” ujar Aldo frustasi.

“Kita gak bisa kembali lagi kesana.” Dia mengacak-acak rambutnya kasar.

“Do! Lo harus tenang!” Aku menenangkan Aldo yang sudah tersungkur.

“Apa kalian sudah menemukannya?” Sherrin berlari tergesa.

Aku menggeleng lemah, “Cairan itu mengering, gak tersisa.” Aku menunjukannya pada Sherrin.

“Gawat! Manusia kanibal itu semakin banyak!” saat ini di depan kami para manusia kanibal berjalan terpincang mengepung kami.

“Anak panahku sudah habis,” ucapnya panik.

Aku memejam, mengingat betapa tidak bersyukurnya aku di masa lalu, selalu membenci hujan dan tidak pernah menjaga alam maupun lingkungan. Wajah kedua orang tuaku terbayang begitu saja mengingat mungkin saat ini mereka tengah bersedih karena aku menghilang dan sekarang di hadapanku manusia-manusia kanibal itu berjalan menatap kami lapar, aku tidak pernah menyangka jika akhir hidupku akan berkahir tragis.

Sherrin melihatku, “Jika kalian kembali ke masa lalu tolong sampaikan pesan pada nenek dan kakekku jika aku sangat merindukan mereka.” ujar Sherrin ketika kami melawan para kanibal itu sekuat tenaga.

“Siapa nama kakek dan nenekmu?” ucapku terengah.

“Nek Rara dan kakek Malik, tolong sampaikan pesanku untuk mereka.” Aku tertegun sebentar, Rara? Mengapa namanya persis seperti nama si Rampir.

“Kau akan ikut dengan kami.” ucapku, dia membuka maskernya kemudian tersenyum padaku, aku tertegun saat melihat wajahnya.

“Aku tidak akan pernah bisa ikut denganmu namun kau harus berjanji jika kau kembali ke sana, kau harus memperbaiki semuanya, kau harus menjaga alam, jangan pernah merusaknya demi masa depanku.” aku mengangguk pasti.

“Tapi kau harus ikut dengan kami.” Dia menggeleng.

“Ibran!” sebuah suara memanggil namaku.

“Rara?” aku begitu kaget saat Rara berdiri di sana bersama kedua orang tuaku.

“Ibran! Kenapa lo gak bangun-bangun!” teriaknya kemudian sebuah cahaya membuat mataku silau.

🕳️🕳️🕳️🕳️

“Rara!” Aku terlonjak.

“Ibran! Kamu sadar, Nak.” Tiba-tiba saja Ibuku memeluk dengan erat.

Seketika bau rumah sakit menguar menusuk penciumanku, kepalaku sangat sakit dan begitu pusing.

“Ibran, kamu baik-baik aja?” di depanku Rara menangis tersedu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah tadi aku tengah melawan para kanibal? Lalu kenapa sekarang aku berada di rumah sakit? Mengingat itu semua membuat kepalaku sakit.

“Arghh!” aku memegang kepalaku yang semakin pening.

“Dokter! Dokter!” Ibuku memanggil dokter, lalu seorang petugas berbaju putih segera memeriksaku.

“Ini hanya efek karena anak Ibu tertidur sangat lama, penggunaan obat tidur yang terlalu tinggi juga menjadi faktor sakit kepala yang di alaminya.” ucap dokter itu.

Obat tidur? Tidak! Jelas-jelas aku tidak tidur.

“Oh, ya, dan alat yang di pasang oleh oknum guru itu membuat syaraf otak anak ibu selalu aktif meski anak Ibu tertidur.” ujar dokter itu lagi.

“Apakah itu sangat berbahaya dokter?”

“Kami belum tau pasti tentang alat yang di gunakannya namun jika tadi kalian terlambat sedikit saja maka kemungkinan terburuknya adalah anak ibu tidak akan selamat.”

Aku syok mendengarnya, sebuah alat? Alat apa yang di maksud dokter itu? Dan Aldo, dimana dia sekarang?

“Ra, dimana Aldo?” ucapku serak, bahkan sekarang tenggorkanku begitu kering.

“Dia ada di ruangan sebelah.”

Berarti benar, aku memang benar-benar mengalami semua itu bersama Aldo.

“Aku gak nyangka kalo pak Darwin ternyata orang gila.” ujar Rara, aku mengerutkan kening.

“Pak Darwin? Apa maksudnya?”

“Ceritanya panjang intinya pak Darwin sudah melakukan kejahatan.” Aku semakin tidak mengerti.

“Aku akan menceritakannya setelah kamu keluar dari rumah sakit.” balas Rara melihat aku kebingungan.

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, tepat hari ini aku di perbolehkan pulang, bersama Ayah dan Ibu aku berjalan beriringan entah mengapa aku merasa bersyukur masih bisa melihat mereka berdua sekarang.

“Kamu mau makan apa nanti? Ibu bakal masakin masakan yang enak buat kamu.”

“Apa aja Bu, aku suka semua masakan Ibu.”

Setidaknya aku bisa merasakan masakan Ibu tanpa kelaparan.

🕳️🕳️🕳️🕳️

Pagi ini hujan mengguyur kota, jam menunjukkan pukul 06.30 dan saat ini aku sudah berdiri di depan sebuah bangunan yang bertuliskan ‘SMA NEGERI 1 BAGATAN’ yang berdiri kokoh. Entah mengapa suasana pagi ini membuatku sedikit terharu karena saat ini aku masih bisa melihat air hujan yang turun ke tanah dan bangunan yang masih beridiri kokoh bukan puing-puing seperti yang kulihat di masa depan.

“Bran!” seru Aldo menghampiriku, dia terlihat lebih segar.

Aku tersenyum padanya, “Gila ya, apa yang kita alami gak akan pernah terlupakan. Gue gak nyangka kalo kita bisa pergi ke masa depan dan melihat hal yang sangat mengerikan.” ucapku padanya.

“Maksud lo?” dia meraba keningku, “lo sakit? Masa depan apa sih?”

Deg!

Aku melihat Aldo, benar ini Aldo tapi mengapa dia tidak mengingat kejadian itu?

“Lo jangan bercanda! Lo gak inget kita ngelawan kanibal terus ketemu sama Sherrin?” tanyaku memastikan.

Dia tertawa geli, “Apa sih gue gak ngerti omongan lo, kanibal? Sherrin?”

“lo jangan main-main sama gue! Kita pergi ke tahun 2121 dan ngelawan kanibal! Lo inget?!” ucapku geram karena sedari tadi Aldo hanya menanggapiku dengan kekehan.

“Lo pasti kebanyakan nonton film action jadi pas di rumah sakit lo mimpi itu.” ujarnya.

Gak! Itu semua tidak mungkin, bahkan aku bisa melihat bekas cakaran para manusia kanibal itu di tanganku tapi kenapa Aldo tidak mengingat apapun?

Alat! Ya, sebuah alat yang Rara katakan ketika di rumah sakit, aku harus menanyakannya.

“Hey! Lo berdua kok malah ngobrol disini sih?” Rara datang di belakangku.

“Ini si Ibran, pagi-pagi udah halu.” ujar Aldo terkekeh.

“Halu apa sih?”

“Ra, gue perlu bicara.” Aku menarik tangannya menjauh.

“Pagi-pagi udah pacaran aja lo berdua!” ledek Aldo, aku tidak menggubris.

“Sekarang jelasin sama gue apa maksud lo tentang alat dan kejahatan pak Darwin?” cercaku.

“Kenapa kamu mau tau banget?’”

“Ini penting! Karena menyangkut masa depan bumi.” ujarku namun dia malah tertawa keras.

“Bener kata Aldo, kamu pagi-pagi udah halu.” ujarnya dengan sisa-sisa tawa.

“Begini … Jadi waktu kita mau ngerjain tugas di lab kamu sempet minum suatu cairan gitu gak?”

Aku mengangguk.

“Nah! Itu tuh jebakan pak Darwin buat menjadikan kita sebagai objek praktik dia untuk menguji alat buatannya, aku sama Beni beruntung belum di pasang alat itu, kita berdua cuma di pukul pake kayu sampe pingsan.”

“Itu pasti cairan ajaib untuk menuju masa depan.” Aku berkata pasti karena aku juga menemukan satu catatan disana.

“Hahahah!” Rara tertawa, “Kamu kebanyakan nonton film! Yang aku denger itu tuh obat tidur dengan dosis tinggi supaya kamu dan Aldo pingsan dan pak Darwin dengan leluasa bisa ngetes alat buatannya sama kalian.”

Aku mengerut bingung.

“Sebenarnya alat apa yang pak Darwin buat?”

“Katanya sih alat untuk mengatur otak manusia tapi aku gak tau pasti, ngeri banget gak sih kalo alat itu sampe bisa mengatur otak kamu kayak robot?” dia bergidik ngeri.

“Untung aja, aku dan Beni sempet kabur dan ngelaporin pak Darwin,” ujarnya bangga.

Tidak! Itu bukan alat untuk mengatur otak manusia seperti robot akan tetapi itu adalah alat untuk mengantarkan manusia ke masa depan lewat syaraf pusat di otak dan membawa manusia ke masa depan lewat jalur alam bawah sadar mereka.

Ya, sekarang aku mengerti tapi mengapa disini hanya aku yang mengingat tentang kejadian itu? Apa mungkin pak Darwin sendiri masih meragukan tentang alatnya? Bahkan, mungkin alatnya masih di teliti lebih lanjut oleh para ilmuwan.

Tapi apapun itu aku harus berusaha untuk menjaga alam, mencegah kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi di masa depan. Aku sudah berjanji pada seseorang di sana jika aku akan memperbaiki semuanya disini. Ya, mulai hari ini aku akan menjaga alam sekitar, tidak akan membiarkan manusia-manusia serakah merusaknya.

“Ibran Malik! Kamu denger aku ngomong gak sih?” sentak Rara menyadarkanku.

Tunggu!

Apa tadi Rara menyebut nama belakangku?

Tiba-tiba saja aku mengingat perkataan Sherrin.

“Nek Rara dan kakek Malik, tolong sampaikan pesanku untuk mereka.”

Aku tertegun.

Aku menggeleng frustasi, “Gak mungkin! Itu pasti gila!” aku berlari meninggalkan Rara.

“Ibran nyebelin banget sih!” teriaknya mengejarku.

 

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *