Cerpen #67: “Beberapa Pilihan Sulit Hari ini”

Makam Mamak harus dipindahkan Mbak, hari ini nisan Mamak gak kelihatan.

Setelah salat subuh seadanya aku duduk lagi di kasur. Membaca kembali pesan WhatsApp semalam, seolah pesan-pesan itu akan berubah ketika dibaca ulang. Pesan Ina belum kubalas dari semalam. Adikku itu sudah dua kali mengirim pesan yang sama minggu ini, tiga kali bila dihitung dari minggu lalu. Baru ingin membalas pesan Ina ada telepon Erwin masuk. Mungkin sudah sepuluh kali lebih Erwin meneleponku, seluruhnya tidak kuangkat.

“Akhirnya diangkat, aku jemput ya, pulang ke Jawa. Kamu,”

Aku tutup telepon laki-laki yang sudah kupacari tiga tahun itu. Kumatikan ponsel, mengambil handuk dan mandi. Tidak ada air panas pagi ini, aku ingin menghukum diri dengan air dingin.

Beberapa bungkus kopi instan di meja. Menyeduh kopi, perkara mudah yang bahkan bisa dilakukan anak SD kelas tinggi. Aku menarik napas dalam-dalam, seolah bisa mengirim uap panas dan aromanya masuk ke kepala, paru-paru, hati, dan segala rongga di tubuhku yang perlu ditenangkan. Menghirup uap panas kopi ini membuatku senyum-senyum sendiri. Kata Erwin kopi instan seduhanku adalah yang terbaik.

“Gelas diciptakan sudah dengan ukuran yang pas untuk satu bungkus kopi instan. Aku cuma memindahkan air panas ke gelas. Meledek ya?”

“Enggak sayangku, masalahnya ini satu-satunya hal yang bisa aku puji.” Erwin tertawa tanpa suara, hanya nyengir, walau kalimat itu menyebalkan, aku ikut tertawa kecil bersamanya. Sebagai keturunan Cina dia turut mewarisi mata sipit rasnya. Ketika tertawa Erwin nyaris tak punya mata, tapi matanya yang segaris itu begitu melekat dan seperti menekan tombol restart: mengembalikan debaran-debaran saat awal aku menyukainya.

Mamak sudah sering membujukku untuk belajar masak. Kata Mamak kebahagiaan seorang istri adalah ketika melihat suaminya makan dengan lahap masakan istrinya.

“Mamak, ada banyak warteg, nasi ayam, sate kambing, lontong, koyor, soto, bubur, yang canggih ada teknologi yang namanya  go food,” aku mengatakannya sambil memegang satu persatu jari, seolah sedang menghitung.

“Beda Sa…”

Aku duduk kembali di atas kasur, secangkir kopi masih kupegang dengan dua tangan. Kasur ini terasa lebih nyaman dan lembut ketika bersanding dengan ingatan percakapan receh dengan Erwin dan Mamak.

“Sebentar lagi ya Mak,” ucapku lirih.

Makam Bapak dan Mamak sudah lama tenggelam. Pemakaman Tambakrejo Semarang memang sudah sejak lama tenggelam. Kami harus menunggu air laut surut untuk bisa ziarah. Air laut masuk merusak banyak nisan, menghapus banyak nama, juga ingatan yang melekat di sana. Satu persatu warga desa memindahkan makam keluarga mereka. Waktu kecil aku dan Ina pertama kali melihat makam Bapak basah air laut. Dulu jarak makam Bapak sudah cukup jauh dengan laut, sekarang air semakin mendesak kami.

Ada hari di mana kami menangis tidak berhenti. Ketika tabur bunga untuk Bapak Mamak, sekejab saja air menyapu bunga dari kami. Setiap ada warga yang memindahkan makam, aku dan Ina selalu berdoa agar tabungan kami lekas cukup untuk memindahkan makam Bapak Mamak. Bersyukur, makam Bapak dipindahkan minggu lalu dengan uang Paklik.

Paklik adalah adik Bapak, orang yang menampung kami. Keluarga Bapak yang menyekolahkan aku dan Ina. Mereka hanya mampu menyekolahkanku sampai SMA. Aku melanjutkan dengan beasiswa bidikmisi. Mengambil jurusan pertanian dan bertemu Erwin di sana.

Kusruput pelan-pelan kopiku. Bersamanya kutelan ingatan-ingatan menyesakkan itu. Kuraih ponselku, hendak melihat jam. Aku lupa tadi mematikannya. Kuhidupkan kembali. Lalu meneguk beberapa kali kopi yang mulai jinak di bibirku, sembari menunggu ponselku menyala.

Pukul enam. Masih beberapa jam lagi menuju pukul sepuluh. Walau hari libur, aku harus mengecek kedatangan bibit sawit di kebun. Memastikan jumlahnya genap dan segera bisa ditanam. Tidak akan memangkas terlalu banyak waktu liburku, karena hanya sedikit bibit yang datang hari ini.

Tepi barat kebun tempatku bekerja, beberapa hari lalu dirusak warga. Seringkali aktivis lingkungan menggerakkan masa untuk merusak perkebunan. Keberadaan sawit memang pro dan kontra. Di pulau ini banyak masyarakat yang bekerja di perusahaan sawit. Baik masyarakat lokal atau perantauan sepertiku. Banyak juga yang merasa keberadaan sawit merapuhkan tanah, menyulut kebakaran, dan memangkas hutan.

Isu ini yang dulu membuatku dekat dengan Erwin. Sekarang isu ini pula yang membuat hubungan kami terancam. Di depan Kantor Gubernuran Semarang Erwin pertama kali naik ke atas truk dan berorasi di depan kami yang berdesakan di bawah.

Aku tahu dia gugup, tapi bukan masalah dia orang paling berani di kampus kami, aku tidak ragu. Keringat mengalir di samping mata dan pipi Erwin. Matanya seperti elang mencari mangsa. Tangannya mantap mengepal, memberi energi lebih untuk dia membangkitkan semangat kami.

“Kawan-kawanku semua, RUU ini secara terang-terangan mengabaikan aspek lingkungan hidup. Mengancam hutan kita! Saudara sebangsa kita di Kalimantan sedang berjuang memadamkan api kebakaran hutan. Berjuang mendapatkan udara bersih seperti yang kita hirup saat ini kawan-kawan.”

Semalaman kami membuat naskah orasi bersama, mendiskusikan poin penting yang harus disampaikan. Sebelumnya setiap hari kami belajar memaknai draf RUU tidak jelas ini. Beberapa bagian orasi Erwin kuubah pagi tadi. Kekagumanku meningkat ketika dia bisa menghafal begitu cepat. Bukan hanya menghafal, tapi juga dapat menyampaikan dengan baik seperti tidak menghafal.

“RUU ini pro pengusaha! Tidak terkecuali pengusaha sawit. RUU ini akan merampas hutan kita. Bukan api kebakaran hutan yang mereka padamkan kawan-kawan, Bukan! Tapi api nurani mereka, yang dipadamkan sampai mati! Nurani mereka mati! Di sini negeri kami, tempat padi terhampar…” 

Erwin menutup orasi dengan menyanyikan lagu “Darah Juang”. Tanpa diminta ribuan peserta aksi ikut bernyanyi bersamanya. Tentu suara sumbang dia yang paling terdengar dari pengeras suara. Tapi hari itu, suara sembernya termaafkan. Sebelum turun Erwin melempar pandangan ke arahku. Seolah bilang terima kasih. Aku tersenyum ke arahnya.

Sa, pulang ya, aku bantu cari pekerjaan lain.

Keras kepala.

Pesan-pesan Erwin masuk setiap waktu. Kami berdebat sehari sebelum aku terbang ke Kalimantan. Mungkin sudah tiga minggu lalu. Erwin harusnya paham apa yang aku utamakan saat ini. Dia memang orang yang paling memahamiku, tapi bukan untuk yang satu ini.

“Itu. Justru hal sebesar itu Sa, yang membuat makam Mamakmu tenggelam! Kamu tahu itu kan?”

“Win, kamu juga tahu bagaimana usahaku melamar pekerjaan di mana-mana. Ini kesempatan untuk aku bisa memberikan Mamak tempat istirahat terakhir yang nyaman.”

“Kamu hanya kurang sabar.”

“Ina juga butuh sekolah dan kuliah. Paklik sudah banyak membiayai kami, aku malu.”

“Aku lebih malu Sa, ternyata pacarku munafik.”

Kata terakhir itu bagiku seperti luka baru yang tak sengaja ketumpahan garam. Aku tidak pernah melihat Erwin sekeras ini. Mungkin juga karena kata itu begitu jujur. Kami diam cukup lama dan tentu saja aku menangis. Erwin menarik napas, lalu memegang tanganku pelan. Aku membiarkannya menguasai tanganku.

“Sa, dengar aku. Ingat perkataanmu sendiri, mereka tidak akan berhenti merampas semua hutan. Pikirkan, kamu akan terlibat di dalamnya. Di dalam hal yang selama ini kamu kutuk. Akan lebih banyak anak menangis melihat makam ibunya tenggelam. Kamu paham kan?”

“Orangtuamu masih utuh Win, Kamu yang gak paham kehilangan seperti apa.”

Aku mengabaikan WhatsApp Erwin yang menumpuk. Kugeser dan melihat kalender di layar ponsel. Menghitung lompatan demi lompatan tanggal beberapa saat. Selanjutnya kucari nama Ina dan mengetik pesan: Dik, dua minggu lagi kita pindahkan makam Mamak. Bilang Paklik, Mbak udah ada uang.

Selesai mengirim pesan ke Ina, dua pesan baru Erwin masuk. Aku memanaskan motor untuk bersiap ke kebun. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *