Cerpen #66: “BUMIKU TAK SEINDAH DAHULU”

Tahun 2021 hampir menuju titik pergantian, berbagai cerita senang mapun sedih terukir di bumantara luas ini. Berbagai tangis, jerit, dan tawa menghiasi sepanjang tahun 2021. Sejujurnya jika aku tulis lebih rinci lagi bagaimana keadaanya mungkin membutuhkan waktu sewindu lamanya. Semakin bertambah usia bumi kita semakin tidak karuan.

Pada suatu malam, aku yang sedang berada di meja makan mendengar suara televisi yang membacakan berita tentang krisis iklim di dunia. “Studi baru menunjukkan bahwa perubahan iklim dunia akan semakin memperburuk pemanasan global secara drastis pada tahun 2040-an. Protokol Montreal disebut dapat menyelamatkan Bumi dari kehancuran krisis iklim. Para ilmuwan telah melakukan berbagai pemodelan yang menggambarkan kehancuran dunia yang bisa dihindari. Krisis iklim yang saat ini mulai membuat Bumi semakin panas, mungkin akan jauh lebih berap-api di masa yang akan datang” seru seorang pembawa berita itu

Mendengar berita tersebut membuatku merenung dan takut “Huh bagaimana nasib bumiku di masa yang akan datang, apakah akan terus dihancurkan oleh tangan orang-orang tak bertanggung jawab itu” ucapku dalam batin.

“Disa, ayo dimakan, lalu bergegas tidur besok kau harus berangkat sekolah lebih pagi bukan?” seru Ibu yang sontak membuatku terkejut

“Iya Ibu aku akan segera menghabiskan makanannya dan bergegas tidur” jawabku

Keesokan harinya aku melihat Koran tergeletak di meja ruang tengah, hanya sekilas aku membaca tentang berita apa yang sedang ramai. Ternyata dalam berita tersebut kembali aku temui bahasan tentang kebakaran hutan dan banjir.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu mencatat banjir turut mengakibatkan 2 jembatan gantung rusak berat, 2 gedung balai desa, 1 gedung sekolah dan 1 tempat ibadah terendam banjir. Kurang lebih 140 rumah terendam banjir dengan tinggi muka air (TMA) 50-150 cm” tulis berita itu

Membaca berita itu membuatku tertegun, merasakan bagaimana keadaan mereka setelah musibah banjir menimpa mereka belum lagi masalah pandemi covid-19 yang belum jua rampung. Seketika aku berfikir kontribusi apa yang dapat dilakukan oleh generasi muda agar bumi yang kita tempati dapat terus terjaga.

Setiba aku di sekolah pelajaran geografi menanti, pokok materi hari ini juga cukup menarik yakni “Bumi Semakin Tua Semakin Rusak”. Sepanjang pelajaran geografi pembelajaran dilaksanakan dengan cara diskusi dan penayangan video mengenai kondisi bumi di zaman dahulu dengan kondisi sekarang

“Berbagai fenomena alam seperti tsunami, banjir bandang, gunung meletus, hutan gundul, kebakaran hutan, longsor tidak hanya melanda negara Indonesia saja melainkan negara di belahan bumi turut merasakannya. Banyak ribuan jiwa melayang akibat keserakahan manusia yang tidak beradab. Untuk itu ibu ingin memberi kalian tugas kelompok untuk mengamati bagaimana keadaan alam di daerah kalian maupun referensi internet. Tugas dibuat bentuk makalah dan video. Tugas dikumpulkan satu minggu sebelum uas dan pada saat itu pula video dari tiap kelompok ditayangkan” seru Ibu Hartini

“Baik bu” jawab kami dengan kompak

Saat pembagian kelompok untuk tugas akhir nanti kelompok terbagi menjadi 5 kelompok dengan bahasan pokok yang berbeda juga. Aku mendapati tugas mengenai subab longsor dengan mendapati tugas itu mungkin aku akan lebih megetahui lebih dalam lagi mengenai keadaan alam yang belum terungkap.

“Disa bagaimana untuk tugas kelompoknya kita kerjakan hari sabtu, kebetulan pamanku minggu kemarin baru saja terkena musibah longsor di daerah gregor” ajak Seruni

“Oke ser, kita kumpul di rumahku jam 8 pagi ya” jawabku dengan penuh antusias

Hari sabtu telah tiba, aku dan teman kelompok yang lain sudah berkumpul dan bergegas untuk berangkat menuju daerah gregor yang baru saja terkena longsor. Dengan penuh keyakinan kami berangkat untuk mengamati keadaan di sana seperti apa.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa terdiam melihat pemandangan yang sudah berubah 180 derajat. Daerah gregor yang terkenal dengan keasriannya kini sudah hancur berantakan, tiada lagi pepohonan yang menghiasi sepanjang jalanan, sampah berserakan dimana-mana, disertai gerimis tipis yang membasahi jalanan.

“Akhirnya sampai juga” seru Diana

“Iya, aku ingin segera mengambil videonya” jawab Dita

“Lihat daerah gregor yang terkenal dengan keasriannya kini sudah tertimbun tanah longsor nan lebat itu” seru Anin sembari menunjuk timbunan longsor

Akhirnya kami langsung menuju ke pemukiman penduduk dan tenda pengungsian yang jaraknya terbilang jauh dari pemukiman. Banyak balita dan perempuan yang kelaparan terkena dampak dari bencana ini. Meskipun beberapa penduduk sudah kembali menuju rumahnya namun beberapa warga masih ingin menetap di tenda pengungsi.

“Untung saja tanah longsor itu tidak juga melahap pemukiman warga” seru Bima

“Iya bantuan pemerintah juga terus mengalir, semoga musibah ini lekas usai dan penduduk dapat kembali ke rumahnya dengan selamat” jawab Seruni

Aku sangat merasa kasihan pada para penduduk di sana, tanah longsor yang terjadi merupakan kemarahan alam pada manusia yang terus saja merusak dan tidak bisa menjaga lingkungan. Bayangkan akan seperti apa bumi 100 tahun mendatang? Dimana kesadaran manusia untuk menjaga alam tempat tinggalnya? Sangat disayangkan jika bumi yang semakin tua justru semakin rusak oleh tindakan manusia, kita akan hidup dimana jika tidak di bumi?

Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami sudah mengambil video dan mewawancarai penduduk disana. Kami segera berpamitan dan bergegas untuk pulang. Sejujurnya aku enggan untuk meninggalkan tempat ini, aku masih ingin bercengkrama dengan balita dan penduduk disini.

“Diss, ayo kita pulang” seru Bima dengan suara lantang yang sontak membuatku terkejut

“Eeeh iya ayo ayo” jawabku dengan nada yang sedikit terkejut

“Aku lihat sedari tadi kamu melamun, apa yang kau pikirkan dis?” Tanya Diana

“Sebenarnya aku sangat kasihan pada mereka dan aku masih sangat berat meninggalkan tempat ini. Jika bumi kita terus dirusak akan seperti apa bumi yang kita tempati pada masa mendatang?” jawabku dengan nada memelas

“Yaampun dis aku kira kamu kenapa, iya dis kami ngerti kami juga turut sedih dengan bencana disini tapi kami tidak bisa berbuat apapun kecuali menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya” jawab Dita

“Sudah, kami semua disini juga turut prihatin, lebih baik kita juga mengirimkan doa agar bencana tidak terjadi lagi. Hari sudah mulai sore, lebih baik kita bergegas pulang” seru Anin

Setiba di rumah dengan baju yang sedikit kotor dan basah karena selama perjalanan gerimis, aku segera membersihkan diri dengan air hangat. Namun, belum sempat menuju kamar mandi terdengar berita televisi yang menyiarkan kebakaran hutan di negara Bolivia

“Kebakaran hutan di dataran rendah Bolivia telah menghanguskan sekitar 150.000 hektar hutan dan padang rumput. Petugas pemadam kebakaran berjuang untuk memadamkan api yang tersebar sejak pekan lalu di wilayah timur Santa Cruz. Kebakaran menyebar ke wilayah Amazon dan Chaco di Bolivia. Kementerian Pertahanan Sipil melaporkan bahwa titik api sudah turun dari 800 menjadi 170 selama seminggu terakhir” seru penyiar berita itu

Aku mendengar berita itu dengan teliti seolah sangat disayangkan jika aku tidak menyimak

“Astaga bagaimana bisa hutan terbakar, pasti petugas pemadam sangat kewalahan untuk memadamkannya. Apalagi hutan itu sangat luas” gumamku dalam hati

“Loh disa, kamu sudah pulang tapi lihatlah baujumu itu kotor” suara Ibu seketika membuatku terkejut

“Eeeh iya bu tadi ada berita kebakaran hutan jadi disa tertarik mendengarkannya” jawabku terbata-bata

Aku langsung bergegas menuju kamar mandi dan segera membersihkan badanku yang sudah tidak karuan ini. Aku sudah tidak mendengar berita itu lagi, namun pikiranku masih saja mengingat pembawa berita membacakan musibah itu.

***

Pagi ini sangat cerah bertepatan dengan waktu untuk pengumpulan tugas geografi, itu artinya uas akan segera datang dan aku akan segera naik ke kelas 12. Setiba aku di kelas, teman-temanku ramai membahas tentang kebakaran hutan yang sedang ramai. Kali ini tidak hanya di negara Bolivia namun negara Amerika Serikat seakan menyusul.

“Eh, berita kebakaran hutan ini sedang ramai diperbincangkan. Baru saja minggu kemarin negara Bolivia, kini di susul oleh negara super power Amerika Serikat” seru Kila yang seakan menjadi pembuka topik kali ini

“Iya betul kebakarannya meluas, para petugas pasti kewalahan memadamkannya” jawab Sinta

“Kalau berbagai bencana terus saja melanda di bumi ini bagaimana keadaan bumi di masa mendatang?” Tanya Diko

“Ini merupakan hal yang harus jadi perhatian bagi kita semua bukan hanya pemerintah saja, seharusnya para oknum tak bertanggung jawab diberikan sanksi yang tegas” jawabku penuh rasa semangat

“Ini bahasan yang seru jika nanti kita bawakan saat presentasi kelompok atau diskusi bersama” saut Dinda

Setiba Ibu Hartini di dalam kelas kami segera melakukan persiapan presentasi penayangan tugas video secara urut sesuai kelompok. Dimulai dari kelompok pertama yang menampilkan suasana daerah osha.

“Daerah osha kini menjadi tanah rata, tidak ada lagi pepohonan rindang disana. Para warga mengeluhkan tentang cuaca yang semakin tidak kondusif dan panas karena tidak adanya lagi pepohonan yang dapat memberi kesejukan. Dapat ditemui setiap sudutnya terdapat alat berat untuk membangun lahan perumahan elit maupun pusat wilayah daerah osha” seru Sinta yang memberi deskripsi singkat video kelompoknya

“Lihat dis, ternyata daerah osha lebih parah” bisik Seruni dengan lirih

“Betul, daerah osha berubah drastis” aku hanya mengiyakan

“Baik untuk kelompok selanjutnya daerah gregor untuk segera menampilkan video dan berikan deskripsi singkat mengenai kondisi yang terjadi” saut Ibu Hartini

“Untuk selanjutnya kelompok dua akan menampilkan video bencana alam tanah longsor. Pada video tersebut daerah gregor tertimpa tanah longsor, tidak ada korban jiwa karena longsor juga tidak menimbun pemukiman warga. Bantuan dari pemerintah terus mengalir, meskipun begitu beberapa warga juga sudah kembali ke rumah masing-masing” seru Bima sembari menunjuk pada video yang sedang diputar

“Untuk mempersingkat waktu langsung saja dilanjut kelompok tiga dan seterusnya” jawab Ibu Hartini

“Baik Ibu terima kasih untuk kesempatannya. Kali ini saya perwakilan dari kelompok tiga akan menampilkan video mengenai kebakaran hutan di negara Amerika dan Bolivia. Pada video tersebut kebakaran lahan teradi karena beberapa akibat yaitu pembakaran liar dan batang rokok yang masih menyala dibuang begitu saja. Kebakaran lahan yang menyebabkan kerugian terbilang cukup besar ini ternyata juga menyebabkan satu orang tewas dan membuat petugas kewalahan untuk memadamkan api yang terus menjalar” lanjut Vendra dengan nada yang serius

“Selanjutnya kami dari kelompok empat dan lima akan menampilkan tugas video mengenai gempa dan gunung meletus di daerah tumun. Yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu pada pukul 6 pagi. Sampai pada minggu kemarin kami mewawancarai para warga, kondisi disana sudah stabil” seru Dinda

“Untuk tenda pengungsian masih tersedia, meskipun kondisi cukup stabil beberapa warga masih ingin menetap di tenda pengungsian. Pemerintah juga menghimbau warga untuk waspada. Terlihat pula hutan gundul akibat penebangan liar. Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam ini. Namun warga sangat berharap agar para instansi atau oknum tidak lagi melakukan penebangan secara liar demi keberlangsungan hidup mereka” tambah Dilan sebagai penutup penayangan tugas kelompok kali ini

“Baik anak-anak karena semua kelompok sudah menampilkan tugasnya masing-masing, ibu akan sedikit menyampaikan kesimpulan bahwa bumi kita sudah tua. Berbagai kerusakan alam terjadi dimana-mana, bukan hanya dalam negeri tapi luar negeri juga merasakan akibatnya. Banyak oknum yang tak bertanggung jawab merusak alam yang ditempatinya. Mereka hanya memikirkan keserakahan dan kepentingan bagi dirinya masing-masing. Sampai saat ini apakah ada pertanyaan?” tanya Ibu Hartini pada para murid

“Saya izin bertanya bu, bagaimana tindakan yang tegas untuk para oknum yang tak bertanggung jawab itu? Apakah mereka tidak dikenai hukuman pidana? ” tanyaku dengan rasa penasaran

“Baik, untuk hukuman bagi orang yang merusak lingkungan dengan sengaja mereka pasti terjerat hukuman pidana penjara 15 tahun” jawab Ibu Hartini

“Apakah masih ada pertanyaan?” Tanya Ibu Hartini

“Tidak bu” jawab kami kompak

“Baiklah, berbagai bencana alam bisa terjadi karena kesengajaan, kelalaian, ataupun memang bumi yang semakin tua. Bagaimana nasib alam dan bumi kita jika kita merusak dan membiarkannya begitu saja? Kita sebagai generasi penerus harus menjaga alam tempat kita tinggal. Dengan begitu alam pasti akan memberikan dampak yang positif pula untuk keberlangsungan hidup kita sendiri” tambah Ibu Hartini yang seakan menjadi kata penutup pembelajaran pada semester ini

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku bergegas untuk pulang. Sepanjang jalan aku masih terbayang mengenai tayangan video bencana alam dari berbagai daerah tadi.

“Kini kenyataannya bumi tak seindah dahulu, suasana yang semula sejuk, rindang penuh pepohonan kini semua itu hilang dihancurkan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Kerusakan dimana-mana, tangis para korban pecah bahkan sampai harus kehilangan anggota keluarganya. Para relawan berjuang mati-matian untuk menyelamatkan para korban bencana. Sudah menjadi tanggung jawab bagi kita semua untuk menjaga bumi yang kita tempati” gumamku dalam batin.

Setiba aku di rumah aku menceritakan tentang hal yang menarik di hari ini pada ibu, mendengar celotehanku yang tiada hentinya ibu sangat antusias untuk menanggapi segala kisahku hari ini.

“Maka dari itu nak, menjaga bumi ini merupakan tugas bersama bukan hanya pemerintah atau pejabat tinggi saja namun kita sendiri juga turut berpartisipasi menjaga lingkungan agar dapat terhindar dari krisis iklim yang ada  apalagi jika bencana itu hadir karena ulah manusia sendiri yang merusaknya. Kita harus melakukan dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau bisa saling mengingatkan untuk tidak merusak lingkungan” jawab ibu dengan nada halusnya

“Baik bu” aku tersenyum lebar sembari mengangguk

Meskipun keadaan bumi pada masa dahulu dengan yang sekarang sangat berbeda, namun tidak ada kata terlambat untuk menjaga kelestariannya yang masih ada dan jangan sampai membuat bumi semakin rusak. Karena jika bukan kita yang menjaga siapa lagi? Jangan biarkan tangan-tangan kotor itu membuat bumi semakin murka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *