Cerpen #65: “Tangisan Alam”

Matahari sudah menyapa lewat jendela kamar, Rika bergegas bangun dan bersiap untuk memulai hari barunya, hari ini tepat pada tanggal 25 agustus 2021, ayah Rika yaitu pak Anton dipindah tugaskan oleh perusahaan  ke Pontianak, sehingga mengaharuskan pak Anton beserta anak dan istrinya pindah ke Pontianak dan meninggalkan Palangkaraya.

Tok…tok…tok…

Rika segera membuka pintu kamarnya setelah mendengar ketukan pintu dari luar.

“ada apa bu?” tanya Rika pada ibunya

“kamu udah siap? Sebentar lagi kita akan berangkat menuju bandara” ucap bu Sari pada anaknya

“sebentar lagi bu,tinggal memasukan beberapa barang ke dalam koper saja” jawab Rika

“baiklah, kalau sudah siap langsung turun saja ya, bapak dan ibu mau pamit ke tetangga sebentar” bu Sari tersenyum sambil meninggalkan kamar Rika

“siap bu” ucap Rika

Tidak lama kemudian Rika turun sambil membawa 2 koper besar yang berisi barang miliknya dan memasukannya ke dalam bagasi mobil. Setelah selesai Rika melihat rumah dan sekelilingnya, sulit rasanya bagi Rika untuk meninggalkan tempat yang sudah ditempati dari ia lahir hingga sekarang.

“Rika,ayo masuk ke dalam mobil nak nanti kita bisa ketinggalan pesawat” ucap pak Anton ayahnya Rika

“iya yah” jawab Rika dengan raut wajah murung

“jangan sedih sayang, nanti di tempat tinggal kita yang baru pasti kamu dapat rumah yang lebih nyaman dan teman baru” ucap pak Anton yang berusaha menyemangati anaknya.

 

Kurang lebih 4 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke bandara supadio Pontianak, pak Anton dan keluarganya langsung menuju tempat tinggal baru yang akan mereka tempati. Sepanjang perjalanan Rika hanya memandangi jalanan kota Pontianak yang  ramai dan banyak asap kendaraan yang membuat jarak pandang kabur .

“ayah, apakah kita yakin akan tinggal di kota ini?” tanya Rika pada ayahnya

“memangnya kenapa? Bukankah kota ini sama saja dengan kota Palangkaraya?” pak Anton bertanya balik kepada Rika

“jalanan nya terlihat sangat padat padahal sekarang bukan jam pulang sekolah ataupun jam pulang kantor dan polusi udaranya dapat terlihat dengan jelas” jawab Rika

“beginilah kehidupan di kota, dunia dan teknologi semakin berkembang, kita tidak bisa menyalahkan itu semua akibat perkembangan zaman, tetapi kita dapat mengurangi efek dari penggunaan teknologi yang dapat memberikan pengaruh buruk bagi bumi” ucap pak Anton

Rika menganggukan kepalanya, ayahnya selalu mengatakan kepadanya bahwa perkembangan zaman dapat memberikan pengaruh positif dan negatif bagi bumi,manusia,lingkungan dan yang lainnya sehingga manusia harus bijak seiring perekmbangan zaman agar tidak menimbulkan masalah dan bencana bagi semuanya.

30 menit kemudian, pak Anton dan keluarganya tampak memasuki sebuah kawasan perumahan yang cukup nyaman,beberapa rumah ditumbuhi oleh pepohonan dan di depan komplek terdapat tempat pembuangan sampah warga. Pak Anton dan keluarganya tiba di salah satu rumah yang tidak terlalu besar namun cukup untuk mereka tempati bertiga, di halaman rumahnya terdapat 2 pohon dan lahan parkir yang masih ditumbuhi rumput-rumput.

“bagaimana rumahnya?” tanya pak Anton kepada istri dan anaknya

Bu Sari tersenyum melihat keadaan sekitar rumah baru mereka “bagus, semoga kita betah di sini ya”

“bagus yah rumahnya” jawab Rika

Sesampainya di dalam rumah, Rika langsung menuju kamar miliknya untuk istirahat karena sudah melewati waktu yang panjang di perjalanan.

Hari sudah sore, Rika terbangun dari tidurnya karena mendengar bunyi mesin yang ia tidak ketahui bunyi mesin apa dan dimana bunyi itu berasal. Rika keluar dari kamarnya untuk mencari tahu, dan sesampainya di depan rumah, Rika melihat tetangga di sebelah rumahnya sedang menebang pohon yang ada di halaman rumah tetangganya tersebut, disana juga ada ayahnya yang sedang berbincang dengan tetangganya dan terdengar oleh Rika.

“kenapa pohonya di tebang pak Agung?” tanya pak Anton

“mau saya jadikan lahan parkir mobil pak Anton” jawab pak Agung yang merupakan penghuni rumah di sebelah rumah Rika

“bukannya pohon ini tidak menggangu keluar masuknya mobil ya pak?” tanya pak Anton yang terlihat penasaran karena jika dilihat dari posisi tumbuhnya pohon tidak mempengaruhi arah masuk dan keluarnya mobil sama sekali

“rencananya halaman rumah saya ini akan di semen semuanya pak Anton, saya ingin membuat rumah saya ini terkesan modern, lagian pohon ini tidak ada manfaat nya juga karena tidak mengasilkan buah.” Jawab pak Agung

“begitu ya pak, sayang sekali sebenarnya pohon ini harus ditebang karena pohon ini bisa memberikan manfaat baik untuk sekarang maupun nanti di masa depan pak.” Ucap pak Anton

“apa manfaatnya pak? Yang ada istri saya kelelahan setiap hari harus menyapu daun pohon yang berguguran, begitu juga dengan pohon yang ada di depan rumah bapak, lebih baik ditebang saja daripada menghasilkan daun kering yang tidak berguna.” ucap pak Agung.

“sepertinya saya tidak akan menebang pohon yang di depan rumah saya, baik pak Agung silahkan lanjutkan pekerjaan bapak” pamit pak Anton yang kemudian masuk ke dalam rumahnya

Anton melihat Rika yang ada di teras rumahnya, dan mengajak Rika untuk masuk ke dalam.

“ayah,kenapa tetangga kita itu bisa mengatakan pohon yang ia tebang tidak memiliki manfaat” ucap Rika terlihat kesal mendengar pernyataan tetangga baru nya tadi

“sepertinya pak Agung masih kurang paham tentang manfaat pohon, ayah cuma bisa mengingatkan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena pohon itu ada di kawasan rumah pak Agung” Anton berusaha menjelaskan keadaan kepada Rika

“ada apa ini? Seperti ada pembicaraan yang serius” ucap bu Sari yang tampak penasaran dengan pembahasan suami dan anaknya

“itu bu tetangga sebelah rumah kita menebang pohon yang ada di depan rumahnya dengan alasan pohon itu tidak memiliki manfaat padahal satu pohon saja bisa memberikan banyak manfaat bagi manusia.” Ucap Rika terlihat sangat kesal

“sudah-sudah, orang seperti itu suatu saat akan merasakan akibatnya. Ayo kita makan malam ibu sudah selesai masak” Ucap bu Sari

“baik bu” jawab Rika dan ayahnya

Mereka menikmati makan malam dengan bahagia, dan menghentikan semua aktifitas mereka untuk hari ini dengan istirahat.

Tidak terasa sudah satu bulan Rika dan keluarganya tinggal di Pontianak, tetapi mereka masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka,karena warga di komplek tempat mereka tinggal sangat tidak peduli dengan lingkungan dan terus melakukan pembangunan yang berlebihan terutama pak Agung dan pak Rendi yang merupakan tentangga di samping rumah pak Anton.

Memasuki bulan September yang dimana bulan tersebut sudah mulai memasuki musim penghujan, pak Yogi selaku pak RT mengumumkan kepada semua warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti untuk mengatasi bencana yang bisa ditimbulkan akibat musim penghujan.

Sejak jam 7 pagi, pak Anton sudah bersiap untuk berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti, sesudah bersiap ia bergegas menuju rumah pak Rendi untuk pergi bersama.

“permisi pak Rendi.” Ucap pak Anton mengetuk pintu rumah pak Rendi

“ada apa ya pak Anton?” tanya pak rendi setelah membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat pak Anton

“apa pak Rendi tidak mendapat pemberitahuan dari pak RT bahwa hari ini jadwal kerja bakti?” tanya pak Anton

“oo kerja bakti, pekarangan rumah saya sudah bersih pak, jadi apa yang perlu saya bersihkan lagi” jawab pak Rendi

“sesuai pemberitahuan pak RT tadi malam kita akan kerja bakti di taman depan komplek pak Rendi,pekarangan rumah bapak memang sudah terlihat bersih tetapi kita juga perlu memperhatikan lingkungan komplek kita pak.” Ucap Pak Anton

“saya tinggal di sini sudah lama pak Anton, jadi saya tahu bahwa yang dikerjakan di taman depan komplek itu hanya membersihkan daun-daun kering, saya sudah pernah mengusulkan kepada pak RT untuk menebang semua pohon yang ada di taman itu karena pohon-pohon yang ada di taman itu hanya membuat pekerjaan yang tidak ada manfaatnya dan malah merepotkan warga saja.” Ucap pak Rendi terlihat kesal

“maaf pak Rendi, saya kurang setuju dengan saran bapak untuk menebang pohon yang ada di taman depan komplek, pohon-pohon disana memberikan banyak manfaat bagi kita walaupun tidak bisa kita rasakan secara instan, tetapi pohon-pohon tersebut bisa membantu kita di masa depan.” Sahut pak Anton

“hahaha….pak Anton ini ada-ada saja, pohon disana hanya menghasilkan daun kering.” Ucap pak Rendi tertawa mendengar ucapan pak Anton

Pak Anton menghela nafas “baiklah jika pak Rendi tidak ingin ikut kerja bakti saya permisi dulu pak.”

Pak Anton meninggalkan rumah pak Rendi dan bergegas menuju rumah pak Agung dengan maksud yang sama yaitu untuk mengajak pak Agung kerja bakti di taman komplek. Kebetulan saat itu juga pak Agung ada di depan rumahnya.

“selamat pagi pak agung, mari pak kita ikut kerja bakti.” Ucap pak Anton

“selamat pagi pak Anton, sepertinya saya tidak bisa ikut pak, saya mau menutup saluran di depan itu.” pak Agung menujuk saluran air atau parit yang ada di depan rumahnya.

Pak Anton tampak terkejut “kenapa di tutup pak?”

“saya mau memperluas jalan masuk ke rumah, jadi dengan menutup saluran akan membuat jalan nya semakin kuat dan terlihat lebih bagus.” Jawab pak Agung dengan senyum lebarnya

“sebaiknya jangan di tutup pak, nanti air yang ada di saluran tersebut bisa terhambat dan bisa menyebabkan air meluap.” Pak Anton memberi saran

“sudahlah pak Anton, kalau mau kerja bakti silahkan pergi saja saya tidak bisa ikut, saluran nya tetap akan saya tutup lagian ini kan kawasan rumah saya jadi pak Anton tidak perlu ikut campur.”

Pak Anton lagi-lagi mengela napas dan berjalan menuju tempat kumpul kerja bakti yaitu di taman komplek, sesampainya di sana pak Anton hanya melihat pak RT yang sedang duduk di salah satu bangku taman dan menundukan kepalanya, menyadari kedatangan seseorang pak RT mengkat kepalanya.

“pulang saja pak Anton, kerja baktinya tidak jadi, saya sudah menunggu 2 jam disini dan baru pak Anton yang datang” ucap pak RT yang tampak lesu

Pak Anton terdiam, ia merasa masyarakat di sekitar komplek tempat tinggalnya sangat tidak peduli dengan lingkungan dan mementingkan diri sendiri. Marah,kecewa dan kesal itulah yang dirasakan pak Anton, padahal kerja bakti ini untuk kepentingan bersama mengadapi musim penghujan dan untuk masa depan.

Pak Anton pulang ke rumah dan meceritakan semuanya kepada bu Sari dan Rika, betapa tidak pedulinya masyarakat dengan lingkungan sekitar, dan bu Sari juga bercerita bahwa ia ditertawakan oleh ibu-ibu komplek karena mendaur ulang botol plastik menjadi pot bunga, ibu-ibu komplek mengatakan bahwa tindakan bu Sari sangat norak dan kampungan untuk dilakukan di kota.

Mendengar cerita dari ayah dan ibu nya Rika merasa ada sebuah pisau yang menancap di dadanya. Rika bergegas masuk ke dalam kamarnya dan langsung merasakan hawa panas yang luar biasa, seketika air mata nya turun saat melihat suhu udara mencapai 37 derajat celsius, banyak pertanyaan yang muncul di pikirannya, ia membayangkan bagaimana bumi ini 100 tahun kedepan, apakah masih bisa melihat pohon, apakah masih bisa melihat dan merasakan air bersih atau yang ia lihat hanya lautan sampah dan air yang tercemar. Pikiran-pikiran tersebut membuat air mata Rika mengalir semakin deras dan lama-kelamaan membuatnya masuk ke alam mimpi.

Mata Rika yang sembab perlahan-lahan terbuka karena mendengar hujan yang sangat deras, padahal tadi sebelum tidur ia merasakan suhu udara yang sangat panas dan sekarang sudah hujan. Rika keluar dari kamarnya dan melihat ayah dan ibunya memindahkan barang-barang ke lantai 2 rumahnya.

“kenapa barang-barang nya di pindahkan bu?” tanya Rika

“hujan sangat deras dan air hampir masuk ke dalam rumah, cepat bantu memindahkan barang-barang ke atas” jawab bu Sari

Benar saja, dari dalam rumah sudah terlihat air mulai memasuki rumah sedangkan langit masih menangis dengan kencang, dengan perasaan khawatir Rika mulai membantu memindahkan barang-barang ke lantai 2.

Sudah lebih dari 4 jam tetapi langit belum menujukan tanda akan berhenti menangis, dalam diam Rika berdoa agar langit berhenti menangis dan hari ini bukanlah hari terakhirnya, bagaimana tidak, barusan ayahnya mengatakan bahwa air sudah masuk ke dalam rumah dan hampir mencapai pinggang ayahnya.

Rika dan pak Anton menuju balkon untuk melihat keadaan di luar rumah, dan betapa terkejutnya mereka melihat air yang sudah menutupi setengah dari rumah warga ditambah dengan langit yang gelap dan kilat yang terus menampakan cahaya nya.

Pak Anton melihat ke arah rumah pak Agung, ia dapat melihat pak Agung yang tampak gelisah serta anak dan istrinya terlihat mennagis melihat kejadian ini. Tidak lama kemudian pak Agung keluar dan menuju balkon rumahnya.

“pak Anton, apa yang harus kita lakukan?” tanya pak Agung dengan suara yang bergetar

“kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi pak Agung, alam sudah murka melihat tingkah manusia yang seenaknya terhadap lingkungan dan inilah imbas yang kita dapatkan, berdoa saja semoga tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Jawab pak Anton

Pak Anton dan Rika masuk kembali kedalam rumah, hanya suara hujan dan gemuruh petir yang terdengar, bu Sari tampak bolak-balik melihat ke lantai 1 untuk memastikan air tidak naik sampai ke lantai 2, pada situasi sekarang Rika hanya bisa berdoa agar tuhan masih memberikan waktu yang lebih panjang lagi untuk dirinya dan keluarganya.

Air mata Rika kembali mengalir, mengingat ketakutan nya tentang alam yang rusak sekarang menjadi nyata,sudah 2 hari air yang masuk ke dalam rumah masih enggan meninggalkan jejaknya, tidak ada yang bisa diperbuat selain berdoa dan berdiam diri dengan keadaan yang rapuh dan kebutuhan yang serba terbatas.

“ayah berapa lama lagi kita harus menunggu?” tanya Rika pada ayahnya

“bertahanlah sebentar lagi, berdoa agar semuanya segera membaik.” Jawab pak Anton

5 hari sudah berlalu, kejadian mengerikan masih terbayang di benak Rika walaupun sekarang tuhan sudah mengabulkan doa-doa nya, air sudah surut dan tidak ada lagi langit yang menangis. Rika dan seluruh warga komplek sibuk membersihkan lingkungan rumah dan lingkungan sekitar komplek yang kotor dan hancur akibat kemurkaan alam terhadap manusia.

Sekarang semua warga komplek berkumpul di taman atas arahan pak RT, semua warga menyapaikan ketakutan dan kegelisahan mereka saat kejadian banjir besar yang terjadi beberapa hari lalu dan mulai menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan.

“selamat pagi semuanya, kita telah melewati masa sulit yang terjadi beberapa hari lalu, dan agar kejadian tersebut tidak pernah datang kembali, saya meminta partisipasi dan kepedulian seluruh warga terhadap lingkungan terutama yang ada di sekitar kita, mari kita bersama menjadikan alam dan lingkungan sebagai penolong kita di tengah kemajuan teknologi dan zaman. Sekarang mari kita mulai memebersihkan lingkungan kita.” Ucap pak RT

“pak Anton, apakah bapak mau membantu saya membongkar tutupan saluran air yang ada di depan rumah saya?” tanya pak Agung

“dengan senang hati pak Agung akan saya bantu.” Jawab pak Anton

Setelah mendengarkan penjelasan dari pak RT, seluruh warga mulai membersihkan lingkungan sekitar komplek, mulai dari membuat instalasi penanggulangan banjir, menanam pohon, memasang biopori di hapir setiap rumah warga agar air dapat diserap tanah, serta memanfaatkan dan mendaur ulang sampah menjadi barang bermanfaat.

Senyum lebar terlihat di wajah Rika, melihat semua orang mulai peduli terhadap lingkungan membuat Rika siap untuk mengadapi bumi 100 tahun mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *