Cerpen #64: “Tidak Ada Planet B”

‘Lawan korporasi kebakaran hutan…’

‘STOP kriminalisasi pejuang lingkungan..’

‘Stop buang sampah sembarangan!’

Berawal dari generasi muda yang menyuarakan suara tentang krisis iklim. Tentang bagaimana dan dampaknya dikemudian hari. Bagai angin lalu, suaranya hanya terdengar menyentuh daun telinga lalu menguap bersama polusi udara. Mereka berpikir jika suara barisan para pemuda-pemudi itu hanya fiksi dan bualan semata. Bodohnya mengunci hati, mata hingga telinga. Mereka memang selamat, tetapi tidak dengan anak cucu mereka. Kami menderita, bahkan untuk menghirup udara bersih saja rasanya sulit.

Dulu Kakek buyut kami tidak ramah dengan lingkungan, maka wajar saja jika lingkungan tak ramah pada kami saat ini.

Di tahun ini, tak ada lagi anak-anak kecil yang bermain layangan dengan riang di luasnya hamparan sawah. Tak ada lagi tempat bagi mereka untuk sekedar melempar canda dan tawa. Bumi akan musnah perlahan karena sikap acuh dan keserakahan para manusia pendahulu.

“Ini, di minum dulu jahenya, Nduk,” ujar Ibu padaku.

Sekarang kami sedang berada di pengungsian. Ibu membawa minuman jahe hangat untukku yang sedang mengigil kedinginan karena kebanjiran. Sedangkan Ayah sudah meninggal karena hanyut terbawa banjir dua tahun lalu.

“Nih makan. Jangan lupa dihabisin ya.” Ibu menyodorkan nasi dengan lauk pauk seadanya dari bantuan pemerintah.

Aku sedikit termangu. Memandagi wajah Ibu yang lesu. “Barengan aja ya makannya, Buk.”

Aku tak tega pada Ibu. Beliau menahan lapar demi aku. Berada di pengungsian itu artinya kita tak bebas melakukan apapun. Makan saja tidak pasti berapa kali sehari. Kita memang hanya bisa bergantung pada bantuan pemerintah.

“T-terima kasih, Nduk,” balas Ibu dengan wajah haru.

Banjir di wilayahku diakibatkan karena hutan-hutan ditebang untuk mengisi perut penguasa, demi kepentingan mereka. Padahal generasi muda sudah memperingati dengan cara diskusi dan aksi. Namun, hal itu begitu saja berlalu. Tak hanya si penguasa, masyarakat kita pun gemar membuang sampah-sampah itu ke sembarang tempat.

Ibu kembali menatap wajahku sendu. Beliau menahan sedih agar menguatkan hati. Hidup susah, makin susah. Bernapas susah, dapat air bersih susah, makanan sehat susah dan tempat tinggal aman yang layak huni sudah tidak ada.

Bumi tak indah seperti yang di gambarkan buku cerita anak yang pernah aku baca di sekolah. Katanya, suara hujan itu teduh dan cahaya matahari itu menghangatkan. Mereka akan rindu musim hujan jika sedang musim kemarau dan akan merindukan musim panas jika sedang musim hujan. Atau, rindu saat melihat kemerlap lampu di malam hari di ibu kota.

Ancaman krisis iklim itu nyata adanya. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Ribuan berita tentang bencana di siatu wilayah selalu diperbaharui setiap hari. Bumi kita makin panas, melelehkan kutub utara hingga tak jarang ada berita tentang hilangnya suatu kota dan pulau akibat terendam air lautan yang semakin bertambah.

Ada juga yang memberitakan tentang wilayah yang dilanda kekeringan parah hingga mengakibatkan kebakaran hutan yang hebat. Kondisi alam yang selalu berubah secara drastis, membuat para peneliti makin gencar mencari planet mirip bumi agar kehidupan manusia masih terus berlanjut.

Tak tahu sampai kapan kita bisa bertahan dalam kondisi ini. Bumi sudah tua, sudah rusak, sudah marah. Menyalahkan siapa, untuk apa dan karena apa pun tak ada guna. Menemukan planet lain masih jadi angan-angan, mereka tak menjanjikan kepastian.

Andai bisa kembali ke masa lalu, aku akan teriak pada orang-orang itu untuk lebih peduli. Tanpa disadari, apa yang mereka tanam, anak cucu mereka yang menuai. Mulai dari hal-hal kecil; buang sampah pada tempatnya, menanam pohon dan sadar untuk mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan pribadi. Berharap sesuatu yang di mulai dari hal kecil akan memberikan kemajuan yang lebih besar.

Mulai dari diri sendiri.

Untuk diri sendiri, anak, cucu, lingkungan dan generasi yang akan datang.

Bumi kita sudah tak mampu lagi, tolong kami.

Serang, 22 Oktober 2021

96 thoughts on “Cerpen #64: “Tidak Ada Planet B”

      1. Ceritanya keren dan realistis berisi nilai yg perlu disadari orang-orang 😭 bahasa dan penyampaiannya juga menarik.

  1. Isi cerpen lugas, alurnya jelas, dan hati terasa hangat membacanya. Semoga semakin banyak cerpen2 bertema peduki lingkungan yg lahir smacam ini. Smoga kita belum terlambat untuk berubah mnjadi lebih ramah lada alam yg kelak akan ditinggali anak cucu kita.

  2. Cerita yang realistis sama kehidupan zaman sekarang, yang sudah mulai acuh terhadap lingkungan. Keren.

  3. Wahhhh ceritanya sangat kritis dan sesuai dengan keadaan saat ini, pesan moralnya untuk menjaga bumi agar bumi menjaga kita sangat mengusik hati dan logika untuk terus bergerak demi kebaikan bersama.
    Terimakasih penulis, teruslah membuat karya yang hebat.

  4. Relate banget,, menyuarakan kondisi alam saat ini,, semoga yang masih ga peduli segera disadarkan

  5. Sebuah reminder buat kita anak muda untuk terus merawat bumi. Terima kasih penulis yang sudah membahasakannya dengan baik. Luv.

  6. Terima kasih telah menyalurkan perasaan kami tentang lingkungan. Semoga akan lebih banyak lagi yang peduli dan merawatnya, aamiin.

  7. Bagus banget. Sangat menginspiras dan sesuai banget sama kondisi sekarang. Jadi kangen masa2 tahun 90an di mana bisa main layangan.

  8. Seneng banget pas dikasih tau temen tentang lomba cerpen ini.
    Cerita ini bener2 jadi tamparan keras buat para generasi muda, untuk lebih peduli pada lingkungan terlebih melek sama krisis iklim yang sekarang udah mulai terasa.

    Good luck, Ren!!!

  9. Krisis iklim itu memang nyata adanya. Dulu lihat pohon-pohon yang ditebang terus menyebabkan banjir hanya ada di tv sekarang itu bisa terjadi disekitar kita. Selain itu sawah-sawah yang berubah menjadi perumahan juga kian menambah parah.

  10. Relate banget ya sama kejadian-kejadian sekarang, kemarin liat banjir bandang yg di Batu, Malang itu ya Allah kasian 😥. Setuju banget sama penulis, emang harus dimulai dari sekarang, dari diri sendiri. Semoga banyak pribadi-pribadi yang sadar yaaa dimulai dari hal kecil dan banyak yg ngelakuin bisa berdampak jadi besar buat ke depannya.

  11. Ngena sih
    Baru aja buang sembarang bungkus sedotan punya anak langsung aku ambil lagi 🥲 hiks
    Keren keren keren

  12. Bener. Kesadaran untuk memulai dari diri sendiri itu yg susah. Mau ditegur keras kaya apapun juga, kl emang bukan keinginan sendiri gk akan bisa kita buat ngejaga alam yg udh terlanjur rusak ini.

  13. Beautifully written!🥺 we need to take care our Mother Nature for whatever it takes. This story says it all ❤️ Good job!

  14. Bener bgt: kita ga bsa merubah org lain, tp kita bsa mulai dengan diri sndiri. Start small. But together. Yuk bisa yuk. Mulai dr sesimple buang sampah yg benar.

  15. Setuju bangettt!
    Membayangkan apakah nanti anak-anak Saya ataupun generasi berikutnya masih bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang begituuu indah & sempurna. Apa aja dikasih untuk manusia & makhluk hidup lainnya, tapi oh tapi, semakin lama semakin rusak & tak terawat demi kepentingan segelintir manusia.

  16. Aaa bagus bgt sambil di bayangin ceritanya kebawa sedih juga jadinya. Semoga cerpen ini bisa menyadarkan kita ya pentingnya menjaga bumi untuk kita dan anak anak kita nanti

  17. Yuk tanamkan pada diri dan anak2 kita “Sadar Lingkungan” mulai dari yg terdekat lingkungan rumah.
    Mulai dari hal kecil buang sampah pada tempatnya, menanam tanaman… agar bumi ini sehat kembali dan tidak marah lagi 😇

  18. Yap, menjaga lingkungan mulai dari diri sendiri, dari hal yang kita anggap kecil padahal bisa berdampak besar di masa depan nanti. Nice remeinder!

  19. Cerpen yg sangat menarik, secara lugas dan eksplisit mendeskripsikan ttg kondisi nyata lingkungan kita saat ini dan menyadarkan kita untuk lbh menjaga lingkungan baik untuk kebaikan generasi kita maupun generasi yang akan datang.

  20. Niceee!
    “ Mulai dari diri sendiri.

    Untuk diri sendiri, anak, cucu, lingkungan dan generasi yang akan datang.”

  21. Alur Ceritanya sesuai dengan keadaan bumi kita sekarang ini, pesan yang disampaikannya juga dapet banget. Tertampar banget sih buat kita yang masih kurang peduli terhadap lingkungan. Semoga kedepannya bisa lebih peduli lingkungan demi masa depan anak cucu kita nanti 👍👍

  22. Mari jaga lingkungan, dari hal yang kecil , mulai dari diri sendiri. Kalo bukan kita, siapa lagi yang peduli!!!

  23. Good job for the writer !!!
    Cerpen yang ditulis relate bgt dgn keadaan sekarang. Paling penting memang harus dimulai dari diri kita sendiri untuk perubahan kedepannya.

  24. Isi cerita yg relate dengan kejadian saat ini , dikemas secara apik, lugas dan menarik sehingga pesannya sampai pada pembaca 👍
    Kenapa harus dimulai dari diri sendiri? karena sesungguhnya mengendalikan diri sendiri untuk konsisten itu sulit. Semoga semakin banyak pribadi yg aware terhadap lingkungan dimulai dari hal kecil di sekitarnya .

  25. Ceritanya relate dengan kehidupan saat ini dan sarat makna. Semoga cerita ini mampu menjadi reminder bagi kita untuk terus menjaga bumi.

  26. Semoga tulisan nya bs menggerakkan org utk lbh peduli pda lingkungan. Makin tahun makin kerasa dampaknya.. cuaca makin ga bersahabat.. yukk lindungi bumi kita.. dimulai dr diri sndri..

  27. Perlu cerita gni di sounding sejak dini ke anak2 juga. Tamparan juga buat aku, yg blm bnyak bisa bntu bumi kita. Good story writernim. D tunggu cerita menarik lainnya

  28. bagus bgt mbak!! pengingat buat kita buat terus jaga bumi ini biar anak cucu bisa ngerasain bumi yg aman. terimakasih remindernya mbak

  29. Ceritanya menarik. Semoga bisa menjadi tamparan buat generasi muda. Yuk kita mulai bersama menjaga lingkungan untuk anak cucu kita kelak 🤗

  30. Penulis sangat pintar mendeskripsikan alur cerita, membawa emosi pembaca seolah2 berada disana.. pesannya juga ngena banget bahwa peduli yang hanya sekadar argumen sudah banyak… Tapi peduli yang sebenarnya kan pada perbuatan.. dimulai dari diri sendiri lalu akan menular ke orang lain karena peduli lingkungan itu harus berkelanjutan terus dan terus.. semangat…

    1. Cerpen ini mengingatkan saya kepada narasi yg dibacakan Najwa Shihab tentang semesta di tahun 2050. Semesta yg kian rapuh akibat tangan2 penduduknya sendiri. Pemikiran penulis tajam dan kritis, membuat pembaca mau tidak mau ikut gusar akan kondisi alamnya saat ini. Terima kasih telah berbagi. Semoga menginspirasi.

  31. Ceritanya ringan dan penuh makna..
    Relate banget sama keadaan bumi sekarang.
    Yuk! Jaga bumi kita. Seperti pesan authornya, “Mulai dari hal-hal kecil; buang sampah pada tempatnya, menanam pohon dan sadar untuk mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan pribadi”. Dan semua itu bisa dimulai dari diri sendiri.😊

  32. Ceritanya bagus, sesuai dengan yg kita alami skrg. Mudah2an kita bisa lbh menjaga bumi ya. Skrg lagi sebel liat bukit2 dikeruk, haduhh jadi curhat 😁. Terima kasih untuk cerita yang penuh makna 👍

  33. Keren banget cerpennya. Bisa jadi pengetahuan buat anak anak sekarang kalau bumi kita sebenernya sangat indah. Jadi anak anak ga hanya tau main HP aja

  34. Interesting topic sangat relate dan harus disuarakan ke seluruh anak cucu agar memiliki mindset untuk menjaga lingkungan

  35. Ceritanya menarik banget 🤩 reminder buat kita semua, yuk bisa yukkk dimulai dari diri kita sendiri 👍🏻

  36. Ceritany singkat, jelas dan padat. Ringan tp syarat makna. Self reminder!
    Diawali diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Kita hanya bisa berusaha menyuarakan apa yg ada.

  37. relate bgt sm kehidupan sekarang. semoga pesannya sampai kepada para pembaca, terutama diri sendiri utk betapa pentingnya menjaga alam dan lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *