Cerpen #62: “Cakrawala”

Tanah cokelat yang biasa aku pijak kini tak lagi terlihat, tertutup banjir air mata yang membasahi telapak kaki hingga lututku. Tak hanya manusia, cakrawala pun merintih, bumi dan lautan kini ikut menangis. Sawah-sawah dan rerumputan pun telah tiada, tak lagi kuat hidup di tanah panas ini. Bahkan rembulan pun tak mau menampakkan dirinya di antara langit merah keabu-abuan. Berdiri di bawah bayang-bayang bintang bagai cerita dongeng semata.

Sudah tidak aku ingat lagi sejak kapan burung-burung berhenti berkicau dan asap-asap hitam mulai menggantikan awan menutupi langit di atas. Yang tersisa di pikiranku kini hanya tinggallah sebuah pertanyaan, untuk mentari yang tak berhenti memancarkan panas, atau pun untuk semua yang menyebabkan hal ini terjadi, “Kapan derita ini berakhir?”

Rasanya baru kemarin aku berlari di antara rerumputan hijau yang bergoyang, namun kini aku harus mendaki pegunungan untuk menuju pengungsian. “Semuanya, segera pergi!” teriak salah seorang warga, “Tinggalkan saja barang-barang di rumah! Bawa pakaian dan makanan saja, cepat!”

Air sudah hampir menutupi atap rumah. Orang-orang panik menyelamatkan keluarga dan nyawa mereka. Sudah tak peduli lagi dengan buku-buku pelajaran di rumah atau pun barang-barang di gudang yang tak sempat dibersihkan.

Rumah-rumah telah tertelan air tepat setahun setelah terbakarnya paru-paru dunia ini. Air bersih menjadi sulit dicari. Sandang, pangan, dan papan pun direnggut, hampir tidak ada yang tersisa dari diriku kini selain tubuhku yang masih hidup, belum mati kelaparan.

“Maaa.. Aku lapar,” ujar salah seorang anak kecil yang ikut dalam pengungsian ini. Tak hanya satu dua anak yang menangis dari tadi, baik itu karena lapar atau pun lelah. Meski kami berbagi, makanan tetap tidak cukup untuk mengisi seluruh lambung yang ada di sini. Belum lagi terik matahari yang menguras seluruh keringat orang-orang.

“Kasihan anak zaman sekarang,”  bisik salah seorang warga padaku, “jangankan menempuh pendidikan, untuk bertahan hidup saja sudah susah. Mereka juga tidak bisa bermain di alam bebas layaknya masa kecil kita dulu.” Aku hanya mengangguk sambil meratapi nasib generasi kini.

Kini mentari telah tenggelam dan malam telah tiba menggantikannya. Sebuah tempat yang tidak begitu besar untuk menampung seluruh warga telah terlihat. Lumayan kumuh dan sempit. Segera aku gelar kardus untuk alas tidurku. Namun aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak hal yang aku pikirkan membuatku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengikuti angin.

“Bumi ini benar-benar telah berubah,” bisikku pelan pada angin yang berhembus malam itu. Bukan pemandangan indah yang terlihat dari atas sini, melainkan gedung-gedung dan rumah-rumah kami yang telah tenggelam. “Apakah ini karma untuk kami?”

Beberapa tahun yang lalu bintang-bintang masih terlihat indah dan rembulan masih tersenyum girang di atas sana. Jangkrik-jangkrik masih bernyanyi di antara rerumputan hijau dan kunang-kunang masih menari  di antara udara dingin, mengisi kesunyian dan gelapnya malam kala itu. Bumi begitu indah ketika mentari terbit di antara pegunungan dan kicauan para burung yang menyambut datangnya pagi.

Ketika berjalan di pagi hari, saat masih sedikit kendaraan yang lewat, dedaunan pun bergoyang meneteskan embun seiring dengan kaki yang dilangkahkan. Keindahan yang membuat tak hanya diriku lalai hingga menyakiti biosfer ini. Membakar sampah-sampah, mengendarai kendaraan bermotor terus menerus, lupa tak menutup pintu kulkas, tak mau merawat pohon-pohon, dan masih banyak lagi.

“Maafkan aku wahai tanah temapatku lahir, dan langit tempat sang rembulan dan mentari singgah,” bisikku makin pelan dengan nada yang sangat sedih, penuh dengan penyesalan, apalagi setelah mengingat bumi di masa lalu yang jauh berbeda dengan bumi di saat ini.

Pernah di suatu hari aku bermimpi. Di tengah padang rumput yang luas, aku mendapati sebuh surat terbang ke arahku. Aku ambil surat itu dan kemudian aku melihat berbagai hal mengerikan. Hutan dan perkebunan terbakar, banjir menggenang sepanjang hari, tak ada atap tuk berteduh, dan banyak orang mati kelaparan. Terlambat aku menyadari hingga hal itu menjadi nyata kini. “Andai aku bisa mengulang waktu,” pikirku.

“Pak,” tegur salah seorang padaku yang tengah melamuni nasib, “sudah larut malam, sebaiknya segera tidur.”

“Iya Pak, setelah ini,” jawabku. Anak-anak masih banyak yang menangis, beberapa orang juga merintih kesakitan. Tak ada yang bisa kami harapkan dari pemerintah yang saat ini pun tak punya jalan keluar. Hanya tinggal menunggu waktu hingga bumi beserta isinya hancur tak bersisa. Sebelum memejamkan mata di ujung hari ini, aku pun mengambil selembar kertas putih sisa bungkus makanan dan sebuah pena yang sempat aku bawa dari rumah. Segera aku duduk bersandar sebuah pohon besar di dekatku dan mulai menuliskan ssebuah surat.

“Untuk diriku di masa lalu, atau siapa pun yang menerima surat ini. Mungkin 1 tahun lagi, atau bahkan 1 jam setelah ini, tak ada yang tahu kapan panas mentari akan membakar bumi ini dan kapan air laut akan menenggelamkan dunia ini. Untuk kalian yang masih memiliki kesempatan. Jagalah bumi kalian, tempat kalian berlari, tertawa, dan bersenda gurau, tempat kalian tertidur dengan lelap di bawah naungan cakrawala ini. Jangan biarkan bumi ini merintih dan menangis. Sebab semua akan kembali pada kalian. Tertanda kami, dari masa dep-“

Angin pun berhembus kencang, menerbangkan kertas yang belum selesai aku tulis itu. Memang konyol untuk berharap bahwa surat itu dapat menembus kepulan asap tebal di atas langit sana dan melintasi roda waktu. Namun hanyalah tersisa harapan tempat kami bergantung untuk saat ini. Sekali lagi, “Kapan derita ini berakhir?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *