Cerpen #61: “JAUH DIBANDING SEKARANG”

Aku terbangun dari tidurku, lalu aku duduk dan menggosok mataku hingga kesadaranku sudah sepenuhnya kembali. Tunggu! Kenapa keras sekali? Bukankah aku semalam tidur di kasur yang sangat empuk. Aku melihat ke segala arah, semua serba putih dan tak ada apa-apa di sini. Sebenarnya aku berada di mana?! Ini bukan kamarku, ini seperti rumah Patrick yang ada di kartun Spongbob.

 

Bedanya di sini semua serba putih, angin kencang seolah menembus kulitku yang hanya memakai baju lengan pendek. Takut? Tentu saja, siapa yang tak takut bangun tidur sudah berada di tempat seperti ini. Dengan susah payah aku berdiri, tubuhku gemetar bagai disengat listrik. Tak ada yang bisa aku lihat selain warna putih dan lampu yang ada di atas.

 

Aku berjalan maju, namun setelah lama berjalan mengapa aku seperti berputar-putar dan tak menemukan sebuah ujung atau pintu. Ruangan ini benar-benar berbentuk bulat dengan pinggirannya yang rata. Suara benda diseret mengagetkan diriku, dapat mataku lihat jika ada orang berjalan ke arahku. Seketika senyumku mengembang, jadi di sini aku tak sendiri pikirku.

 

“Selamat datang.”

 

Tunggu-tunggu, kenapa suara itu sama sekali tak mencerminkan suara seseorang? Bahkan cara berjalannya pun aneh, dia berkedip lambat seperti orang yang mengantuk. Tatapannya tertuju ke arahku seperti seorang yang ingin mengintimidasi.

 

“Kamu orang kan?” tanyaku takut-takut.

 

“Bukan! Saya seorang Robot. Panggil saya Guteo! Siapa nama kamu?”

 

“Pa-panggil aku Lily,” jawabku terbata-bata.

 

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, jadi dia Robot? Aku sama sekali tak percaya, wajahnya saja mirip dengan manusia. Hingga tiba-tiba robot itu memberikan aku sebuah baju yang dia ambil dari belakang tubuhnya.

 

“Untuk apa?” tanyaku tak paham.

 

“Pakai saja. Saya akan mengajakmu berkeliling,” ucap Guteo.

 

Aku mengangguk paham dan memakai baju itu. Bajunya mirip seperti seorang Astronot, di kepalaku juga ada tudung berbentuk bulat. Jadi kepalaku berada di dalam tudung itu, intinya pakaian yang aku kenakan sama persis dengan Astronot. Aku juga bisa melihat keadaan luar sebab ada kaca yang membungkus kepalaku.

 

“Mengapa aku harus memakai tudung ini?” tanyaku.

 

“Di luar oksigen tak ada,” jawab Guteo lengkap dengan logat seperti seorang robot.

 

“Hahahaha mana mungkin tak ada oksigen,” ucapku tertawa. Bagiku omongan Guteo hanya bualan semata, tak ada oksigen? Yang benar saja, apakah Guteo berpikir jika ini berada di luar angkasa.

 

“Kamu berada di dalam laut,” ujar Guteo dengan kepala menoleh ke arahku.

 

“Dipikir dongeng apa? Kalau di dalam laut pasti bajuku basah dan aku nggak bisa nafas,” sahutku.

 

Tiba-tiba saja Guteo pergi lebih dahulu, dengan susah payah aku mengikutinya. Kakiku mencoba melangkah keluar dari ruangan seperti kapsul ini, aku baru menyadari jika Guteo tak berjalan. Robot itu terbang, kakinya hanya berjarak 10 cm dari lantai. Hingga kini aku dan Guteo berdiri di depan sebuah pintu berwarna coklat. Aku terkejut kala Guteo melepaskan bajunya, lagi-lagi mulutnya menganga melihatnya.

 

Guteo benar-benar robot, mempunyai dua tangan dan kaki. Kepala yang kupikir sama denganku ternyata salah, kepala Guteo berbentuk kotak. Jemarinya pun ada, bahkan seumur hidup aku baru pertama kali melihat robot seperti ini. Guteo pintar, dia selalu menjawab pertanyaanku. Sekarang baju milik Guteo dibawa oleh keranjang yang bisa jalan sendiri.

 

“Jangan membuka kaca kalau sudah berada di darat,” titah Guteo.

 

“Iya,” jawabku cepat.

 

Pintu terbuka, terlihat sebuah ruangan b

Yang hanya mampu diisi 4 orang saja. Ruangan itu seperti sebuah lift? Aku pun masuk menyusul Guteo, pintu kembali tertutup. Aku benar-benar tak bisa mendengarkan suara dari luar selain suara milik Guteo. Mungkin karena baju besar yang aku kenakan, sejauh ini aku tak merasakan sesak di dalam. Malahan nafasku merasa enak, seperti memakai masker oksigen.

 

Pintu terbuka, tubuhku gemetar, kini di depanku hamparan laut yang luas dan aku berdiri di tengah-tengahnya. Omongan Guteo benar adanya, di sini ramai aku pun berdiri di ruangan terbuka berbentuk persegi berwarna silver. Aku memberanikan diri melihat ke segala arah. Banyak tempat mirip seperti tempat yang aku tempati ini, namun hanya ada beberapa orang saja. Mereka tampak terbiasa berdiri di pinggir, apakah mereka tak takut jatuh ke laut? Apalagi tempat ini tak ada pembatasnya.

 

“Tutup mata kamu Lily. Akan aku bawa dirimu ke darat,” perintah Guteo yang langsung diriku laksanakan.

 

Aku langsung menutup mata, sedikit aku merasakan tubuhku yang berbalut baju tebal dan bervolume itu dipegang oleh Guteo. Hingga aku merasakan kakiku tak berpijak, mataku sama sekali tak berani terbuka. Beberapa detik kemudian kakiku sudah kembali berpijak, aku membuka mata atas perintah Guteo. Pemandangan pertama yang aku lihat ialah gedung-gedung yang tingginya berkali-kali lipat mengalahkan Burj Khalifa sampai-sampai puncak gedung itu tak terlihat tertutup oleh awan. Bukan awan putih yang biasanya aku lihat, namun awan berwarna abu-abu bercampur dengan hitam.

 

“Dalam generasi kamu pasti tak ada gedung seperti ini,” ucap Guteo.

 

“Se– sebenarnya a–aku berada di mana?” tanyaku terbata-bata.

 

“Kamu berada di bumi,” jawab Guteo.

 

“Bumi yang aku tempati tak seperti ini,” bantahku cepat.

 

Kepala? Guteo menoleh ke arahku. “Kamu adalah manusia di bumi 100 tahun yang lalu. Jadi kamu bisa menyimpulkan ini keadaan bumi 100 tahun setelah masa kamu,” jawab Guteo.

 

Aku terdiam, jadi aku berada dimasa depan? Bagaimana bisa, ini seperti mimpi. Aku sekarang bisa melihat keadaan bumi 100 tahun ke depan seperti apa. Sangat jauh jika dibandingkan dengan keadaan bumi pada masaku. Aku sama sekali tak menemukan keberadaan burung, tak ada rumah yang berdiri di atas tanah. Yang ada hanyalah gedung-gedung yang tinggi, mereka seolah berlomba-lomba untuk menyentuh langit. Aku pun berjalan dengan mata melihat ke sekeliling, lama berkeliling aku sama sekali tak menemukan pohon besar untuk berteduh.

 

Akubpun melihat sebuah bangku, bentuknya lumayan berbeda dengan bangku yang ada di jamanku dulu. Aku pun ingin duduk, namun Guteo malah menghadangku. Mataku melihat ke arah Guteo seolah meminta penjelasan mengapa Robot itu menghalangiku untuk duduk. Sebenarnya aku capek, mungkin duduk bisa membuat capekku hilang.

 

“Sebelum duduk kita harus bayar terlebih dahulu,” ujar Guteo seraya melakukan kegiatan yang aku sendiri tak tahu apa itu.

 

“Duduk bayar? Astaga, bagaimana bisa?” batinku menjerit.

 

Guteo tampak menyentuh-nyentuh sebuah layar seperti tablet yang berada di ujung bangku. Tak lama bangku itu mengeluarkan benda seperti karpet berbulu, sebenarnya aku sedikit takut melihat benda ini. Semua yang ada di sini serba canggih dan sangat sulit untuk dinalar.

 

“Kamu tak duduk?” tanyaku kepada Guteo yang dijawab gelengan oleh Robot itu.

 

Satu hal yang aku tahu, duduk di sini membayar sekitar 35 dollar. Aku hampir tak percaya, namun Guteo memberikan bukti pembayarannya kepadaku. Duduk saja seharga daging sapi, dan satu fakta lagi jika jaman Guteo ini memakai transaksi berupa dollar. Semua serba Robot yang sangat pintar seperti Guteo, bahkan manusia sudah berteman baik dengan para Robot itu.

 

“Tugas manusia apa?” tanyaku kepo.

 

“Mereka tetap bekerja. Tak ada lagi rakyat miskin, semua sudah maju. Banyak sekali orang yang mempunyai mobil dan tak ada lagi pengemis atau orang jahat,” jawab Guteo.

 

“Bukankah banyak mobil akan membuat pencemaran udara?” tanyaku.

 

“Kamu memang benar. Oksigen tak lagi bisa dihirup oleh manusia, udara di dunia sangat kotor. Banyak pabrik yang membuang limbah mereka seperti asap ke udara dan air,” ungkap Guteo.

 

“Bisa kamu ceritakan tentang keadaan bumi?” tanyaku, aku sangat ingin tahu bagaimana keadaan bumi 100 tahun setelah massaku.

 

“Orang-orang terdahulu tak akan bisa bernafas jika berada di sini dan harus memakai kostum seperti kamu. Semua orang cerdas karena memakai lensa mata yang disematkan kecerdasan buatan. Gedung dalam lautan masih dikembangkan oleh para ilmuwan, sebab populasi manusia meningkat dan darat sudah tak mencukupi menampung keberadaan manusia dan robot sekaligus,” ungkap Guteo.

 

Lagi-lagi aku tak bisa berkata-kata, ini benar-benar gila dan sulit untuk dipercaya namun ini fakta. Udara sudah tercemar, itu ulah manusia B. Mereka menganggap sepele masalah krisis iklim, dan sekarang benar-benar terjadi. Aku tak habis pikir jika ada lensa mata yang bisa membuat manusia cerdas. Teknologi ini benar-benar di luar akal sehat, jadi teknologi di massaku tak ada apa-apanya dengan ini.

 

“Manusia sudah bisa membuat daging palsu yang rasanya mirip dengan yang asli, sebab daging hewan tak mampu menutupi kebutuhan semua manusia. Para petani tak lagi berpanas-panasan, mereka bertani dalam ruangan berteknologi tinggi,” jelas Guteo.

 

“Sama sekali tak ada pohon?” tanyaku lagi.

 

“Ada di dalam Museum. Pohon yang diawetkan, manusia sudah mencoba menanam pohon namun tak bisa hidup dan layu sebab kotornya udara bumi ini. Manusia sekarang bisa bernafas karena baru lahir sudah dipasang alat khusus dan itu yang mengerjakan robot bukan dokter,” jelas Guteo.

 

“Hewan-hewan yang pada jamanku langka seperti Harimau, Singa masih ada?” tanyaku.

 

“Tidak ada, semua sudah mati karena manusia mempergunakannya sebagai bahan penelitian dan percobaan. Setelah berhasil mereka mengaplikasikannya kepada manusia,” jawab Guteo.

 

Benar-benar di luar akalku, tak ada pohon dan tak ada hewan yang dilindungi. Semua pekerjaan diambil alih oleh robot, pantas saja terdapat rumah di bawah laut saking padatnya daratan bumi ini. Semua orang berjalan dengan memegang HP, aku sama sekali tak mendengar percakapan. Mereka terlalu fokus dengan gadget masing-masing, yang terdengar hanya bunyi kendaraan dan juga pesawat yang saling bersahutan. Kostum robotik berkekuatan tinggi, udara semakin panas namun berkat teknologi tubuh manusia menerima krisis iklim ini dengan baik.

 

“Manusia juga menciptakan nano bot berukuran sangat kecil untuk mendeteksi viru ini100Semakin lama virus-virus bervariasi begitu juga dengan teknologi,” kata Guteo.

 

Tiba-tiba aku merasakan ada gempa bumi yang sangat dahsyat. Tubuhku oleng ke samping, aku pun tak bisa berdiri sebab masih mengenakan kostum. Perlahan-lahan mataku tertutup, aku melihat gedung-gedung itu jatuh dan mengeluarkan api. Seketika semua gelap, aku pun kembali bangun dan melihat bajuku. Huft sepertinya aku bermimpi pergi ke dunia 100 tahun mendatang.

 

Mimpiku seperti nyata, dan aku seolah-olah berbicara dengan robot bernama Guteo itu. Apakah ini gambaran keadaan bumi 100 tahun mendatang? Jika iya itu sangat seram, dan mulai sekarang ia berjanji akan membuang sampah pada tempatnya. Aku yang biasanya tak abai terhadap lingkungan kini akan abai, aku akan mewariskan bumi yang indah, asri, tenang dan aman kepada anak cucuku kelak. Aku ingin mereka merasakan menghirup udara bebas dari tanpa campuran bahan kimia. Itulah janjiku sekarang, dan aku akan merubah pola pikir manusia jika krisis iklim itu benar-benar terjadi karena ulah manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *